
Kiai Afnan berjalan di lorong rumah sakit, ia berpapasan dengan kiai Amar yang hendak ingin menjemput Inayah karena sebelumnya Inayah menelepon ingin di jemput.
"Assalamu'alaikum Kiai Amar" sapa kiai Afnan.
"Wa'alaikumsalam Kiai Afnan," ucap kiai Amar. Mereka saling berpelukan bersama.
"Inayah minta jemput, nanti sehabis antar Inayah ana akan balik lagi temenin ente jagain Ramzi," ucap kiai Amar.
"Terima kasih kiai," ucap kiai Afnan.
Merekapun berjalan beriringan menuju ruang rawat Ramzi. Tepat mereka di ruang rawat, Inayah keluar dari kamar dan berbaring di ranjang yang sedang di dorong oleh para suster. Terlihat Syifa yang menangis memandangi Inayah. Kiai Amar memanggil Syifa.
"Astagfirullah, Syifa Inayah kenapa?" tanya kiai Amar.
Syifa mematung ketika ditanya oleh kiai Amar, langkah kiai Amar pun berhenti ketika melihat pintu kamar inap Ramzi terbuka lebar, beliau melihat tubuh Ramzi yang sudah di tutup seluruhnya oleh kain putih.
"Ya Allah...Ramzi," ucap syok kiai Amar.
Kiai Afnan melihat wajah syok kiai Amar dia melangkah lebar dan masuk ke dalam ruang rawat Ramzi, ia pun melihat apa yang kiai Irfan lihat. Kiai Afnan berjalan perlahan menghampiri ranjang Ramzi, tak terasa air mata jatuh dari kelopak matanya. Kini kiai Afnan berdiri di depan jasad Ramzi. Ia membuka bagian kepala Ramzi, terlihat wajah Ramzi yang sudah tak bernyawa lagi.
"Inalilahi waina ilaihi rojiun." ucapan kiai Afnan dari bibirnya, sontak kiai Amar menundukkan kepalanya dan ikut menangis. Kiai Amar menatap putrinya yang sedang hamil besar, ia mengusap lembut kepala Inayah dan membisikkan lirih di telinga Inayah.
"Nak, Abah tahu kamu pasti kuat," bisik kiai Amar lirih.
Kiai Amar langsung menelepon keluarganya dan menceritakan semuanya. Kiai Amar menyuruh agar Delisha datang untuk menemani Inayah sedangkan ummi diperintahkan agar mengumpulkan para santri untuk mendoakan arwah Ramzi, dia juga menyuruh agar menelepon ummi Laila.
Abah Amar \= ["Abah dan Kiai Afnan akan mengurus jenazah Ramzi, tolong Umma kabarin Ummi Ramzi yah. Delisha cepatlah datang, mbakmu membutuhkanmu."]
Delisha \=["Iya Abah, Delisha dan Kak Indra langsung ke rumah sakit sekarang."]
Berita meninggalnya Ramzi tersebar sangat cepat. tergantung bendera kuning di kawasan pesantren kiai Afnan dan juga di pesantren kiai Amar. Berita duka cita ini juga terdengar dari satu masjid ke masjid yang lainnya. Para pelayat berdatangan di kedua pesantren itu. Ucapan belasungkawa atas meninggalnya Gus Ramzi berdatangan dari kalangan kiai. Berita inipun tersebar cepat kepada para rekan kerja Inayah dan juga para staff rumah sakit.
Syifa \=["Lita, sampeyan di mana?"]
Lita \=["Aku baru di dalam mobil, ingin menghidupkan mesin ini. Ada apa Syifa?"]
Syifa \=["Inayah syok, dia pingsan. Aku takut terjadi apa-apa dengan kandungannya. Suami Ning Inayah meninggal."]
Lita \=["Inalilahi waina ilaihi rojiun. Aku akan segera kesana. Kamu bawa Inayah ke ruang pemeriksaan kandungan yah."]
Syifa \=["Oke Lita."]
Syifa mendorong ranjang Inayah ke poli kandungan sesuai apa yang diminta Lita, Syifa memandangi wajah Inayah yang sangat pucat. Dia sangat khawatir akan kondisi Inayah saat ini.
***
"Kak, agak cepat jalannya. Aku sangat khawatir dengan Mbak Ina," ucap Delisha
"Sabar De, jangan sampai kita yang kecelakaan," ucap Indra yang sedang menyetir.
__ADS_1
"Ih Kak, suka sembarangan deh kalau ngomong," protes Delisha.
"Sayang, aku tahu kamu sedang khawatir kepada Mbak Inayah. Lebih baik kamu banyak berzikir dan kirim alfatihah untuk Gus Ramzi," ucap Indra.
"Aku sangat tahu Kak, bagaimana rasanya kehilangan orang yang sangat kita cintai." Delisha mengeluarkan air mata, Indra memberhentikan mobilnya sejenak, lalu ia memeluk tubuh Delisha sangat erat.
"De, jangan menangis. Calon suamimu dulu sudah tenang di sana. Sekarang ada aku, yang akan menjaga kamu. Menjadi sandaran hidupmu." Indra menghapus jejak air mata Delisha. Delisha membalas pelukan Indra.
"Terima kasih Kak, untuk hari-harimu selama ini bersamaku. Jalankan lagi Kak mobilnya, aku ingin segera menemani Mbak Ina" ucap Delisha.
***
Sementara di ruang poli kandungan Inayah sedang di periksa oleh dokter Lita. Dokter Lita langsung mendengarkan detak jantung bayi yang masih dalam kandungan Inayah. Di buka mata Inayah menggunakan ibu jari dan telunjuknya, ia senter pupil Inayah. Dokter Lita juga memeriksa denyut nadi serta tekanan darah Inayah. Akhir Inayah mendapatkan infusan di lengannya, ia kekurangan cairan di dalam tubuhnya dan juga dokter Lita memberikan vitamin dari dalam infusan.
Lita pun tak menyangka karena sebelumnya ia banyak berbicara dengan Inayah, tertawa bersama tapi kini Inayah begitu lemas kondisinya. Wajah Inayah terlihat terdapat bekas aliran air mata.
"Kita tunggu Infusan masuk ke tubuh Inayah, setelah sudah habis 1 kolf baru pindahkan ke ruang rawat inap," ucap Lita.
Lita mengambilkan bangku plastik untuk Syifa duduk menemani Inayah.
"Syifa duduk aja, aku juga akan tungguin Inayah," ucap Lita.
"Inayah, sangat syok. Aku tahu banget perjalanan cinta mereka. Kalah drama-drama korea, drama cinta mereka sangat menyentuh hati sih kalau aku bilang," ucap Syifa.
Lita menghela nafasnya dan mengeluarkan secara kasar.
Suara getaran handphone Syifa, Syifa melihat layar handphone dan terteran nama Delisha.
Syifa \=["Kamu langsung ke poli kandungan yah, Mbak Ina ada di sini masih pingsan."]
Delisha \=["Baik Mbak Syifa. Terima kasih."]
Tak lama Dalisha pun datang ke ruang poli kandungan. Ia mendekati Inayah dan mengelus tangan Inayah yang terasa dingin.
"Bagaimana kondisi kandungan Mbak Ina?" tanya Delisha.
"Alhamdulilah, baik," ucap Lita.
Inayah mulai membuka mata, kepalanya sedikit pusing. Ia melihat Delisha, Syifa dan Lita ada di ruang tersebut. Dia teringat dengan apa yang ia lakukan sebelumnya. Inayah duduk dan mencabut infusan dari tangannya.
"Astagfirullah Mbak, jangan seperti ini." Ucap Delisha sambil memeluk Inayah. Lita langsung menutup luka Inayah karena Inayah menarik paksa infusan.
"Lepasin Mbak, aku ingin menemui Mas Ramzi. Mas Ramzi lagi nungguin Mbak De, Mbak mau cerita tentang si kembar dalam kandungan Mbak ini," ucap Inayah.
"Mbak Istigfar Mba, jangan seperti ini. Kasian twins boys Mbak, pikirkan juga Emi. Mbak Iklasin Gus Ramzi," ucap Delisha.
"Iklasin apa sih De, suami aku ndak meninggal kok." Inayah berhenti mengucapkan kata meninggal, kemudian Inayah histeris.
"Mas Ramzi, dia masih hidup, dia ndak akan meninggalkan aku sendiri...ndak...ndak...ini semua hanya mimpi." Inayah ingin melangkah ke luar tapi Delisha menghadang. Delisha takut akan kondisi Inayah yang sangat histeris. Tapi Inayah mendorong tubuh Delisha sampai Delisha terjatuh. Dia berlari sambil memegang perutnya ke ruang rawat Ramzi, tapi Ramzi sudah tidak ada di kamar.
__ADS_1
Syifa, Lita, dan Delisha mengejar Inayah yang kala itu kondisi Inayah sangat mengkhawatirkan.
"Syifa...Mas Ramzi di mana? kok ndak ada di kamar?" tanya Inayah dengan wajah berlinang air mata.
"Ning..." Syifa mendekati Inayah.
"Mas Ramzi di mana Syifa! katakan kepadaku!" Inayah berteriak dengan suara bergetar, wajah memperlihatkan keputus asaan.
"Katakan kepadaku, dimana Mas Ramzi? kalian mau membuat aku gila?" Ucap Inayah dengan puncak emosionalnya.
"Ikut aku yuk Mba, Gus Ramzi sedang dengan Abah dan Abi," Delisha menuntun tangan Inayah. Di belakang Syifa dan Lita masih mengikuti kemana Inayah pergi.
Delisha menuntun Inayah ke ruang tempat pemandian Jenazah, Inayah memberhentikan langkahnya. Sebagai seorang dokter yang bekerja di rumah sakit ini. Dia pasti tahu ruang apa ini. Hatinya menjerit menerima kenyataan yang menyakitkan hati. Inayah masuk keruangan tersebut. Abah dan abi sedang memandikan jenazah Ramzi. Inayah melangkah dengan kaki gemetar mendekati jenazah Ramzi yang sedang di mandikan.
"Subhanallah..." ucap kiai Irfan.
"Ya Allah, Ya Rabb..." ucap kiai Afnan.
Bersambung
ββRamaikan komen karena komen kalian membuat saya sangat bersemangat untuk menulis dan ide mendadak untuk saya.
Jadilah dermawan dengan cara like, subscribe dan follow aku. Vote nya juga yahππππ
Baca juga yuk cerita serunya
5 tahun menikah tanpa cinta
Salah lamar
Retak Akad Cinta (bab 1 s.d 18 nyata, fiksi dari bab 19 dst)
Love dari author sekebon karet β€π
__ADS_1