Salah Lamar

Salah Lamar
Baru merasakan kiss


__ADS_3

"Kamu ingin menciumku?" Pertanyaan Emi membuat Hasan salah tingkah. Hasan memang ingin mencium Emi, tapi sepertinya tempatnya tidak memungkinkan untuk melakukan itu.


"Jangan di rumah sakit. Aku malu dua kali gagal untuk mencium kamu, nanti aja tunggu kamu sehat." Emi tertawa kecil mendengar ucapan jujur Hasan.


"Kok kamu malah tertawakan aku sih?" tanya Hasan agak jengkel sedikit, karena dirinya sudah menahan malu kepada Emi.


"Kamu sini deh, aku mau bisikan sesuatu sama kamu." Emi meminta Hasan untuk mendekatinya. Hasan pun mendekati wajah Emi, tiba-tiba Emi mencium pipi Hasan. Hasan pun terbelalak matanya karena tidak menyangka Emi bisa melakukan itu.


"Aku sayang kamu, terima kasih sudah menikahi aku," bisik Emi di telinga Hasan.


Hasan yang mendengar kalimat Emi membuat hatinya berbunga-bunga. Ia pun kesal dengan dirinya sendiri. Kenapa selalu Emi yang mengungkapkan perasaannya lebih dahulu ketimbang dirinya.


"Boleh aku menciummu?" tanya Hasan tiba-tiba. Emi wajahnya tersipu malu, pipinya mulai kemerahan.


"Aku halal kamu sentuh," ucap Emi singkat penuh makna.


Emi menyuruh Hasan untuk menutup gorden di sekeliling ranjang Emi, karena untuk antisipasi jika keluarga mereka masuk tiba-tiba.


"Ini adalah first kiss ku yang akan aku lakukan," ucap Emi.


"Ini juga first kiss aku. Aku tidak pernah kiss perempuan lain selain mamahku," ucap Hasan.


Hasan wajahnya mulai semakin dekat, ia memegang pipi Emi. Emi sudah memejamkan matanya. Hasan langsung menempelkan bibirnya di bibir Emi. Emi merasa dingin ketika bibir Hasan menyentuh bibirnya. Hasan hanya diam tidak bergerak sekitar 1 menit baru Hasan menggerakkan dan memainkan bibir Emi. Emi yang merasakan itu untuk yang pertama kali ada rasa yang tidak bisa dideskripsikan. Kebahagiaan yang begitu sempurna menyerahkan first kiss nya kepada sang suami. Tanpa disadari Emi pun membalas ciuman Hasan. Mereka sudah tidak malu-malu untuk melakukan hal itu. Hasan menyessap sangat kuat, ia baru merasakan manisnya kiss dengan sang istri. Hasan melihat Emi sudah kehabisan oksigen karena ulahnya membuat first kiss yang hot. Hasan melepaskan tautan bibir mereka, ia mengelap bibir Emi yang basah dengan ibu jarinya.


"Terima kasih sayang." Hasan mencium pipi Emi. Emi menggigit bibir bawahnya karena hatinya sangatlah senang.


'Ya Allah...ternyata seperti ini rasanya di cium oleh laki-laki halalku. Baru di cium belum lagi...,' batin Emi berbicara.


Hasan melihat Emi yang diam, dia tidak bicara apa-apa. Hasan khawatir ketika ia mencium Emi tangan kanan Emi terkena, dan merasa sakit tapi dia tidak memberitahu kepadanya.


"Tangan kamu kena yah, apakah sakit?" Hasan sangat panik.


"Tidak kena Hasan tanganku, kamu menciumku dengan sangat lembut," ucap Emi dan tersenyum kepada Hasan.


"Kok gordennya ditutup ya?" Emi mendengar suara yang masuk ke dalam ruang rawat inapnya. Emi dan Hasan saling bertatapan. Mereka akan malu ketika kegiatan mereka diketahui.


"Hasan kamu bersama Emi kan?" tanya Bilah.


Hasan langsung membuka gorden dan ia melihat mamahnya dan kakaknya sudah masuk ke dalam rawat inap.

__ADS_1


"Iya Mah, aku sedang di sini terus kok, menjaga istriku," jawab Hasan.


"Ngapain kamu tutup gorden?" tanya Heelwa. Bilah langsung menyikut lengan Heelwa. Heelwa tidak paham dengan kode mamahnya.


"Nggak ada apa-apa kok Kak, hanya Emi minta ditutup gordennya karena aku tadi tidur di samping Emi, takut ada yang lihat kita malu berdua." Hasan beralasan agar Emi tidak malu.


"Duh mentang-mentang pengantin baru, mesraan terus. Ingat Hasan istrimu tuh lagi sakit, jangan disentuh-sentuh terus. Nanti tangannya kena. Tangan Emi kan patah, itu dia masih menggunakan pen loh," ucap Heelwa mengingatkan Hasan.


"Ih orang aku cuman tiduran, kepala aku ditaruh di atas ranjang kok. Memang Kakak pikir apa sih?" Hasan berkilah untuk ucapan Heelwa.


Emi memegang kepalanya. Hasan menyadari itu ia langsung menghampiri Emi.


"Kepala kamu sakit lagi?" Hasan tampak cemas. Emi hanya mengganggukan kepalanya. Hasan langsung menelepon Inayah, memberitahu bahwa kepala Emi merasa sakit. Inayah langsung bergegas untuk kamar rawat inap Emi. Ia memeriksa dan memberikan obat kepada Emi agar kepalanya tidak sakit.


"Hasan biarkan Emi istirahat dulu yah, mungkin itu efek dari operasi. Butuh seminggu atau dua minggu untuk pemulihan operasi tersebut," ucap Inayah.


"Iya Mah, terima kasih Mah." Inaya menepuk pundak Hasan.


"Ya sudah, aku dan Mamah kembali aja deh ke hotel. Emi juga kan mau istirahat," ucap Heelwa.


"Kak Heelwa, Mamah, maafkan aku ya. Aku bukan mengusir, tapi memang kepalaku ini sangat sakit sekali." Emi merasa tak enak dengan Heelwa dan Bilah.


"Kamu sakit sekali yah? Ya sudah kamu tidur yah aku akan di sini," ucap Hasan.


"Mas Hasan, aku mau tidur digenggam sama kamu." Hasan yang mendengar Emi memanggil dia Mas tersenyum-senyum. Ia langsung menggenggam tangan Emi. Emi langsung memejamkan matanya karena efek obat sudah bekerja, sehingga dirinya merasakan kantuk. Hasan menemani Emi ia duduk di dekat ranjang Emi. Hasan pun sudah mulai lelah dia meletakkan kepalanya di tepi ranjang sambil menggenggam tangan Emi.


***


Emi terbangun, ia sudah tidur selama kurang lebih 2 jam . Ia melihat Hasan sedang tidur sambil memegang tangannya. Emi pun tersenyum melihat Hasan yang tertidur. Ketampanannya tidak berubah ketika ia tertidur, Emi ingin membelai rambutnya, tapi tangan kanannya tidak bisa ia gerakan karena patah. Emi hanya menunggu sampai Hasan terbangun, tak lama Hasan terbangun dan menatap Emi. Ia langsung tersenyum ketika melihat Emi yang sudah terbangun.


"Kamu haus nggak?" tanya Hasan. Emi menganggukkan kepalanya, ia memang terasa haus. Tenggorokannya terasa sangat kering. Hasan pun mengambil air mineral yang sudah ada sedotan sehingga Emi meminum air itu dengan mudah.


"Kamu tahu nggak ketika kita haus itu kita perlu air. Air itu mengalir ke tenggorokan, lalu tenggorokan kita terasa segar seperti itulah kamu. Aku melihat kamu, hatiku, pikiranku, menjadi segar karena aku tahu orang yang aku cinta di hadapanku." Hasan mencium tangan Emi.


"Jari kamu mana?" tanya Emi. Hasan menunjukkan jari tangannya.


"Tahu nggak kenapa jari itu ada celahnya?" tanya Emi.


"Agar bisa mudah untuk menyentuh sesuatu." Emi menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Bukan, karena celah jari itu. Aku bisa isi dengan jari-jariku dan aku genggam erat tanganmu." Emi menyelipkan jemarinya ke sela jemari Hasan dan menggenggamnya dengan erat.


Hasan mencubit hidung Emi dengan lembut, dia sungguh sangat gemas dengan Emi. Di balik Emi yang pendiam, dia juga bisa merangkai kata-kata yang indah yang membuat Hasan tersenyum-senyum.


Bersambung


✍✍ Mari beri komen kalian yang positif di novel ini. 1 komentar kebaikan Insha Allah membawa kebaikan saya khususnya dan di diri yang membaca. Aamiin 💞


Jadilah dermawan dengan cara like, subscribe dan follow aku. Vote nya juga yah🙏🙏🙏🙏


Baca juga yuk cerita serunya




5 tahun menikah tanpa cinta (Tamat)




Salah lamar




Retak Akad Cinta (bab 1 s.d 18 nyata, fiksi dari bab 19 dst)




Dicampakkan suami setelah melahirkan



__ADS_1


Love dari author sekebon karet ❤💞


__ADS_2