
Waktu cuti Inayah kini telah habis, ia siap untuk praktik kembali. Tapi dia merasa kehilangan seorang sahabat yaitu dokter Lita. Dia pun tak tahu Lita ke mana, bagaimana nasibnya dan keadaannya saat ini.
Inayah mendekati Ramzi yang sedang bermain dengan twins boys mereka. Haidar dan Haidir sudah berumur 2 bulan, kini waktunya Ramzi yang akan lebih banyak untuk berkumpul dengan anak-anaknya. Karena Inayah akan semakin sibuk, tapi Inayah meminta ke pihak rumah sakit, agar jam praktiknya tidak terlalu padat. Rumah sakit pun setuju dengan permintaan Inayah daripada kehilangan dokter spesialis bedah yang kualitasnya sehebat Inayah.
"Mas, aku titip anak-anak ya, jika ada apa-apa telepon aku," ucap Inayah.
"Ya sayang, tenang aja ada aku. Aku adalah Ayah yang terbaik bagi mereka," ucap Ramzi dengan senyuman lebarnya.
"Masa? Ayah yang terbaik bagi mereka? ah yang benar?" ledek Inayah.
"Ih kamu meragukan suamimu sendiri, udah sana kamu praktik menolong banyak orang itu adalah pahala yang luar biasa untuk kamu di akhirat nanti," ucap Ramzi.
"Ya sudah aku berangkat ya Mas, assalamu'alaikum." Inayah mencium punggung tangan Ramzi tapi ketika dia ingin melangkahkan kakinya keluar kamar, Ramzi menarik tangan Inayah.
"Kamu pergi begitu saja? hanya cium punggung tanganku?" tanya Ramzi.
"Kenapa memangnya mau dicium yang lain?" tanya Inayah.
Ramzi menganggukan kepalanya, dia memejamkan matanya dan memajukan bibirnya. Inayah mengerjai Ramzi, ia gendong Haidar lalu bibir Haidar didekatkan ke bibir Ramzi. Inayah pun tertawa terbahak-bahak karena kelakuan dirimua itu lalu dia meletakkan kembali Haidar ke dalam box dan langsung keluar dari kamar. Ramzi seketika itu langsung mematung karena kelakuan Inayah dan dia pun sedikit jengkel.
"Kalau mencium Haidar dan Haidir juga sekarang aku bisa," gumam Ramzi. Ramzi malah menciumi twins boys. Twins Boy tertawa sehingga suara khas bayi tertawa terdengar, Ramzi pun seketika melupakan Inayah karena asyik bermain dengan twins boys nya.
"Jagoan Ayah yang ganteng banget seperti Ayah. Mamahmu nggak salah mencintai Ayah karena Ayah itu tampan. Jadi 'kan Haidar dan Haidir pun ikut tampan, iya 'kan ketularan wajah Ayah gitu loh." Ramzi berbicara dengan twins boys.
Begitu percaya dirinya Ramzi, sehingga menyebut dirinya itu sangat tampan di depan kedua putranya itu. Tapi memang dimata Inayah, Ramzi adalah pria yang paling tampan. Yah... karena memang Ramzi itu suaminya. Inayah tak mau memuji laki-laki lain yang bukan mahramnya yang lebih tampan dari Ramzi karena seolah-olah tidak bersyukur kepada Allah yang telah memberikan suami seperti Ramzi. Jika seorang istri tidak bersyukur dengan apa yang dimiliki maka sewaktu-waktu Allah akan mencabut rasa syukur itu dari diri seorang istri. Nauzubilahiminzalik jika ada istri yang mendapatkan hal itu.
Inayah mengendarai mobilnya sendiri karena Ramzi menjaga anak-anak mereka. Pasti Ramzi sibuk dengan 3 anak mereka, tapi Inayah pun tidak mau melewati hari-hari perkembangan anak-anaknya. Inayah mengambil jam tidak full untuk praktik setiap harinya.
Inayah membelah kota Cirebon dengan mobilnya di pagi hari. Kota Cirebon sudah mulai sedikit padat karena Inayah berangkat bersamaan dengan jam waktu orang berangkat bekerja dan anak-anak sekolah masuk. Setelah 1 jam, Inayah tiba di rumah sakit. Ia pun memarkirkan mobilnya di tempat parkiran rumah sakit. Inayah berjalan di lorong rumah sakit di sana ia melihat Syifa dan memanggilnya.
"Syifa..." teriak Inayah.
Syifa pun menoleh ke arah sumber suara, ia melihat Inayah yang melambaikan tangannya dari kejauhan dan tersenyum kepadanya. Inayah tak mau berlari karena rasa bekas caesar itu masih terasa ngilu. Ia berjalan perlahan dan Syifa pun menunggu sahabatnya itu.
"Assalamu'alaikum Syifa," ucap salam Inayah.
"Wa'alaikumsalam Ning Inayah, sudah masuk praktek ibu tiga anak ini, sudah segar nih sepertinya," ucap Syifa.
__ADS_1
"Iya dong... segar dong...masa dokter sakit sih, bagaimana ngobatin orang sakit? bagaimana sampeyan ini?" ucap Inayah.
"Hahaha kirain segar kemarin habis ibadah ke atas awan sama Gus Ramzi." Syifa meledek Inayah.
"Astagfirullah... mulut sampeyan Syifa, aku baru 2 bulan dicaesar pikirannya seperti itu. Masih ngilu," ucap Inayah.
"Memang suami sampeyan nggak minta? aku nggak percaya tuh Gus Ramzi kuat. Dia punya istri cantik gini, mana dia tahan nunggu," ucap Syifa.
"Stop deh sampeyan ngomongin tentang ibadah di atas awan, nanti aku sumpel mulut sampeyan dengan senter," ucap Inayah.
"Ya Allah...atut aku." Mereka pun tertawa terbahak-bahak bersama.
Syifa dan Inaya berjalan berdampingan di lorong rumah sakit menuju basecamp para dokter berkumpul, Inayah bertanya kepada Syifa.
"Syifa sampeyan beneran ndak tahu di mana dokter Lita?" tanya Inayah.
"Aku beneran ndak tahu, tiba-tiba setelah kamu pulang dari rumah sakit ini besoknya ada dokter yang menggantikan dokter Lita. Aku juga ndak tahu ke mana dia pergi, eh tapi ini ya... yang aku pernah aku lihat loh.. mergokin dokter Lita sama dokter Azril," ucap Syifa.
"Mergoki apa kamu?" tanya Inayah.
"Sepertinya mereka ada hubungan deh yang kita tidak tahu. Secret gitu...kayak dokter Lita tuh cinta gitu sama Azril terus wajah azrilnya seperti bingung gitu kayak bimbang bagaimana gitu. Aku melihat dokter Lita marah-marah sama dokter Azril, kayak marahan suami istri tau," ucap Syifa.
"Iya Ning Terima kasih sudah mengingatkan aku tentang itu," ucap Syifa.
"Iya sahabatku Syifa yang cantik, kita saling mengingatkan, itulah arti sahabat yang baik," ucap Inayah.
Mereka pun masuk ke basecamp para dokter berkumpul, karena di rumah sakit itu mempunyai 9 dokter spesialis. Inayah melihat Azril di basecamp tersebut, dia hanya melirik Azril yang wajahnya terlihat tidak semangat. Inayah sempat berpikir, apakah Azril mulai jatuh cinta kepada dokter Lita? Inayah menggelengkan kepalanya, dia tidak mau berpikir urusan orang lain. Setelah dia merapihkan dirinya, Inayah melangkahkan kakinya ke ruang praktiknya.
***
Jam praktik berjalan dengan lancar Inayah bekerja tanpa hambatan karena dia tidak mempunyai jam praktik full maka pada pukul 03.00 sore Inanyah sudah selesai untuk praktik dan dia pun ingin pulang. Inayah berpamitan dengan Syifa karena hanya Syifa dokter perempuan spesialis yang ada di rumah sakit Cirebon karena dokter Lita sudah tidak bekerja di rumah sakit ini lagi, ketika Inayah berjalan di lorong rumah sakit untuk menuju pintu luar, ia berpapasan dengan Azril. Inayah Acuh dengan Azril tapi Azril menghentikan langkah Inayah.
"Inayah Maaf, aku mau tanya aku tahu kamu dekat sama Lita 'kan, kamu tahu di mana Lita sekarang?" tanya Azril.
Inayah mengerutkan dahinya, pertanyaan Azril sungguh mencengangkan karena ia hanya tahu dari cerita Lita. Azril menolak Lita mentah-mentah, tapi ini Azril mencari Lita. Ada apa sebenarnya dengan mereka?
"Aku pun tidak tahu, waktu aku pulang ke rumah setelah melahirkan, aku hanya mendapatkan kado untuk twins boys dari Lita. Lalu sejak itu aku tidak tahu kabarnya lagi, aku telepon tapi nomornya tidak aktif. Entahlah dia di mana, aku juga kangen sama dia karena dia sahabat yang baik.
__ADS_1
"Ya sudah terima kasih, kamu mau pulang hati-hati yah...dan maafkan aku untuk sikapku selama ini. Permisi dokter Inayah, assalamu'alaikum," ucap Azril.
"Wa'alaikumsalam," ucap Inayah.
Inaya terheran dengan sikap Azril karena sikap Azril drastis berubah, karena Inayah baru tahu bahwa dokter Lita mencintai Azril tapi mereka jika bertemu seperti biasa saja, tidak terlihat seperti seorang pasangan. Inayah tak mau ambil pusing, dia langsung keluar untuk pulang ke rumah dan bertemu dengan ketiga anak-anaknya.
Kalian penasaran dengan cerita dokter Azril dan dokter Lita? temui jawabannya di aplikasi hijau beraikon pena.
Bersambung
ββRamaikan komen karena komen kalian membuat saya sangat bersemangat untuk menulis dan ide mendadak untuk saya.
Jadilah dermawan dengan cara like, subscribe dan follow aku. Vote nya juga yahππππ
Baca juga yuk cerita serunya
5 tahun menikah tanpa cinta
Salah lamar
Retak Akad Cinta (bab 1 s.d 18 nyata, fiksi dari bab 19 dst)
__ADS_1
Love dari author sekebon karet β€π