
Inayah disambut dengan sukacita di rumah sakit Cirebon. Dia menjadi dokter menjadi spesialis bedah di rumah sakit itu. Para staf rumah sakit dan dokter lain di sana sangat menyanjung kepulangan Inayah karena Inayah merupakan dokter yang terhebat di rumah sakit itu, lulusan S2 Jepang.
Seperti biasa Inayah ketika bekerja, banyak pasien yang memilih dokter Inayah. Padahal Inayah saat ini menjadi dokter spesialis bedah, bukan dokter umum lagi. 2 tahun Inayah belajar di Jepang pasiennya di Cirebon masih mengenal Inayah sebagai sesosok dokter yang sangat ramah. Mereka tidak bisa melupakan dokter yang baik hati tersebut.
Inayah jika mempunyai waktu, dia berkeliling ke desa-desa untuk mengobati warga yang sakit dan tidak mampu berobat karena tidak mempunyai biaya. Kadang Inayah membawa hasil perkebunan warga yang Inayah bantu dalam pengobatan. Inayah menolak, tapi mereka memaksa karena itu sebagai ucapan terima kasih kepada dirinya.
Tak terasa sudah sebulan lamanya Inayah bekerja di rumah sakit Cirebon. Dia mendengar bahwa sahabatnya Syifa, telah kembali ke Indonesia dan menjadi dokter spesialis saraf. Inayah sangat senang karena Syifa merupakan sahabat satu-satunya. Sahabat seperjuangan untuk mendapatkan gelar spesialis, dalam ilmu kedokteran di Jepang.
Inayah langsung menyambut kedatangan sahabatnya Syifa.
"Alhamdulillah, sampeyan akhirnya balik ke Cirebon." Ucap Inaya sambil memeluk erat Syifa.
"Ya aku menunggu sertifikat dari Universitas 1 bulan kalau sampeyan enak, lulus langsung pulang ke Indonesia," ucap Syifa.
Inayah hanya tersenyum membalas ucapan Syifa.
"Anak sampean dengan siapa?" tanya Inayah.
"Anak aku dengan Abinya, suamiku hari ini masih belum masuk kerja. Aku akan mencari baby sitter. sampeyan enak anak sampeyan dengan mertua, cucu pertama paling disayang lagi. Katanya ada rencana bulan madu kedua?" tanya Syifa.
"Ya memang aku punya rencana, tapi ndak mungkin aku baru masuk kerja di rumah sakit ini masa mendadak aku minta libur untuk bulan madu. Mungkin Bulan depan, aku akan berangkat untuk bulan madu kedua," ucap Inayah.
"Bagus dong sampeyan ada program. Aku juga mau program mumpung masih muda Ning," ucap Syifa.
"Sampeyan itu beneran mau program, apa doyan?" ejek Inayah.
"Sampeyan ini! Program, 'kan aku sudah aku bilang, mumpung masih muda, masih kuat ngejennya ketika melahirkan," ucap Syifa.
"Nih aku gara-gara kemakan omongan sampean nih. Aku jadi ikutan program juga untuk anak yang kedua," protes Inayah.
"Gara-gara aku? sampeyan mau ikut ya syukur, ndak ikut program ndak apa-apa bagi aku," ucap Syifa.
"Aku mau hamil lagi ah, biar kita hamil bareng lagi seperti di Jepang hehehe," Inayah tertawa kecil.
"Ayo! siapa duluan kira-kira yang hamil anak kedua? aku atau sampeyan?" ucap Syifa menantang.
"Yang jelas, yang hamil duluan itu yang paling subur," ucap Inayah.
"Duh...duh... duh... kayaknya ada yang lagi masa subur nih, bakalan gencar nih ikhtiarnya," ejek Syifa.
"Udah ah Syifa, sampeyan jangan bahas-bahas itu terus. Kita mulai kerja, kerja... kerja..." ucap Inayah.
"Wajah sampeyan kenapa memerah Ning? aku ejek seperti itu, malu ya sampeyan?" Ucap Syifa yang mengejar langkah Inayah.
Inaya tidak menggubris Syifa, dia terus berjalan mendahului Syifa dan mereka masuk ke ruang praktik mereka masing-masing.
***
__ADS_1
Tidak terasa jam sudah menunjukkan pukul 05.00 sore, Inayah keluar dari rumah sakit karena jam praktik kerjanya sudah selesai. Ia mencari keberadaan Ramzi yang memang setiap hari menjemput Inayah ketika pulang dari rumah sakit Cirebon
Ramzi sudah menunggu di parkiran. Inayah melihat suaminya, senyum mengembang dari bibirnya. Suaminya sedang berbincang dengan satpam. Ia berlari kecil dan mendekati Ramzi.
"Assalamu'alaikum Mas." Inayah meraih tangan Ramzi dan mencium punggung tangannya.
"Wa'alaikumsalam, sudah selesai sayang?" tanya Ramzi.
"Sudah Mas, ayo kita pulang. Aku sudah kangen sama Emi," ucap Inayah.
Di dalam perjalanan menuju pesantren kiai Afnan, Ramzi menyodorkan beberapa brosur untuk bulan madu keduanya.
"Sayang ini beberapa brosur untuk bulan madu kita, kamu pilihlah. Mau di daerah mana penginapan ketika kita bulan madu di Batu Malang," ucap Ramzi.
Inayah mulai memilih brosur yang sudah diberikan oleh Ramzi.
"Ini saja Mas, dari gambarnya, aku suka dengan view hotelnya." Ucap Inayah sambil menyodorkan brosur yang ia pilih.
"Baiklah aku akan menghubungi hotelnya. Jadi bulan depan kita menginap di hotel itu oke? aku takut penuh jadi aku booking bulan ini," ucap Ramzi.
Inayah menganggukan kepalanya.
"Terima kasih Mas, i love you." Inayah mengecup pipi Ramzi.
"I love you more sayang,"ucap Ramzi.
"Loh kok Mas berhenti? 'kan masih jauh Mas," tanya Inayah.
Ramzi menyodorkan pipinya yang sebelah kanan.
"Pipi ini belum kamu cium sayang, kalau belum dicium ndak seimbang. Kiri dicium masa kananya ndak dicium," ucap Ramzi.
"Astaghfirullah Mas, kamu minta cium aja sampai berhenti di tepi jalan?" Inayah menggelengkan kepalanya.
"Aku ndak mau jalan sebelum kamu mencium pipi kananku," ucap Ramzi.
"Loh kok gitu," protes Inayah.
Ramzi menunjuk pipi kanannya dengan jari telunjuknya. Inayah tidak bisa menolak, Inayah menuruti kemauan Ramzi yaitu mencium pipi Ramzi yang kanan. Inayah mulai mendekat dan ingin mengecup pipi kanannya Ramzi, ketika sedikit lagi bibir Inayah mengenai pipi kanan Ramzi, tiba-tiba kepala Ramzi bergerak menghadap ke wajah Inayah dengan posisi lurus, sontak bibir Inayah dan bibir Ramzi menempel.
"Mas..." teriak Inayah, ia protes.
"Kamu modusnya bisa aja," sambung Inayah.
"Itu sebagai bayaram aku untuk menjemputmu sayang, jadi aku lebih semangat lagi besok ketika aku menjemputmu. Karena kamu akan melakukan hal yang sama besok," ucap Ramzi.
"Idih, siapa yang mau melakukan seperti itu lagi?" protes Inayah.
__ADS_1
"Benar nih ndak mau melakukan seperti itu lagi? rugi lho kamu... tidak mencium pria tampanmu," ucap Ramzi dengan kepercayaan dirinya.
"Astagfirullah... tinggi sekali suamiku kepercayaan dirinya?" ucap Inayah.
"Hahaha kamu baru tahu ya? memang aku tampan kok!" ucap Ramzi.
Inayah langsung memegang kedua pipi Ramzi dengan kedua tangannya lalu Inayah mencium bibir Ramzi dengan sangat mesra agar dia tidak banyak berbicara kembali.
"Aku sudah membayarmu Mas, itu sudah aku kasih spesial. Sekarang kembali jalankan mobilnya," pinta Inayah.
"Wah Istriku yang cantik ini, yang dokter, ternyata sangat hot ketika mencium suaminya," ucap Ramzi.
"Udah deh Mas, jangan ngeledek aku. Ayolah jalan, aku kangen banget sama anakku," pinta Inayah.
"Baik Bu Bos, apapun yang dikatakan Bu Bos, aku akan melaksanakannya." Ramzi mencium pipi Inayah dengan singkat.
Inaya tersenyum malu, kemudian Ramzi menjalankan mobilnya Kembali menuju pesantren kiai Afnan.
Bersambung
βRamaikan komen karena komen kalian membuat saya sangat bersemangat untuk menulis dan ide mendadak untuk saya.
Jadilah dermawan dengan cara like, subscribe dan follow aku. Vote nya juga yahππππ
Baca juga yuk cerita serunya
5 tahun menikah tanpa cinta
Salah lamar
Retak Akad Cinta (bab 1 s.d 18 nyata, fiksi dari bab 19 dst)
__ADS_1
Love dari author sekebon karet β€ππ