Salah Lamar

Salah Lamar
Bucin


__ADS_3

Inayah membulatkan matanya karena Ramzi terus saja mencium Inayah. Dia mendorong tubuh Ramzi sampai Ramzi tersungkur terjatuh.


"Mas, mesum banget sih. Main nyosor aja kamu seperti bebek," ucap Inayah.


"Nyosor kamu itu halal, kamu 'kan istri aku. Tapi ini aku sakit jadinya, kamu main dorong aja." Ramzi memegang bokongnya yang sakit akibat terjatuh.


Inayah mendekati Ramzi, ia membantu Ramzi untuk bangun.


"Sakit banget Mas? maaf yah," ucap Inayah.


"Kalau yang dorong istri tercantikku tidak apa-apa," ucap Ramzi.


"Ih, kamu ngegombal terus Mas," ucap Inayah.


"Aku pulang boleh ke rumah Abi dan Ummi. Aku sudah 2 minggu tinggal di sini," ucap Ramzi.


"Aku ikut Mas, masa kamu pulang aku ndak ikut sih. Aku kangen sama Ummi," ucap Inayah.


"Kamu jangan ikut dulu, kata kamu masih sakit. Nanti jalan kamu ndak seperti biasa Ummi tanya bagaimana?" tanya Ramzi.


"Yah sudah kamu pulangnya pas aku sudah bisa jalan." Pinta Inayah sambil memegang lengan Ramzi agar tidak pulang ke rumah Ummi.


"Kamu ndak mau di tinggal aku, karena kamu akan kangen yah, atau gak mau tidur sendirian?" tanya Ramzi.


"Ih Mas, yah gak enak aja. Nanti disangkanya sama Ummi, aku dan kamu bertengkar lagi," ucap Inayah.


"Yah sudah, aku akan atur kepulangan ke pesantren Abi. Kamu kira-kira kapan sembuh nya? kita baru sekali menikmati ibadah di atas awan." Ramzi mendekat kepada Inayah dan menggenggam tangan Inayah.


"Sekali apaan, kamu semalam berulang-ulang kali juga,"ucap Inayah, sambil cemberut mengatakan itu.


"Duh istriku, wajahmu cemberut seperti itu aku makin gemes," ucap Ramzi.


Percakapan di dalam kamar antara Inayah dan Ramzi membuat keduanya semakin mengetahui kepribadian mereka masing-masing. Sejak malam pertama yang mereka jalani, tali batin menjadi tercipta.


Dua hari berikutnya Inayah dan Ramzi pamit untuk pergi ke pesantren Kiai Afnan. Karena sudah lama mereka sudah berada di pesantren Kiai Amar. Kini saatnya mereka akan balik.


"Umma, Abah, Ina dan Gus Ramzi pamit yah," ucap Inayah, mencium punggung tangan Umma dan Abah, ia memeluk Umma dengan erat.


"Jika ada masalah, komunikasikan baik-baik yah. Jangan sampai diam-diaman. Umma doakan kalian baik-baik saja dan cepat kasih cucu untuk Umma dan Abah," pesan Umma, untuk Inayah.


"Insha Allah Umma, Ina minta maaf karena banyak kesalahan yang Ina perbuat. Doakan Ina selalu di dalam rumah tangga Ina ini," ucap Inayah.


"Abah maafkan Ina yah, doakan Ina selalu," ucap Inayah, sambil mencium punggung tangan Abah.

__ADS_1


"Ina, jadilah istri yang taat kepada suami, jangan membangkang," ucap Abah.


"Ramzi, jaga putri Abah. Jangan sakiti lagi hatinya. Putri Abah ini tegar terlihat tapi rapuh hatinya. Bagaimanapun suami harus menjaga hati istrinya, jika hati istri senang maka dia akan sangat berbakti kepada suaminya," sambung Abah.


"Njih Abah, Insha Allah Ramzi akan menjaga Inayah, Insha Allah...karena Ramzi sangat mencintai putri Abah ini," ucap Ramzi.


"De, Mba pergi dulu yah. Jangan bersedih, yang sudah dipanggil iklaskan karena ia sudah berada di sisi Allah. Kita yang masih hidup hanya bisa memberikan hadiah dengan doa yang kita panjatkan. De, kamu masih muda, masih cantik, move on yah. kalau ada apa-apa telepon Mba Ina. Mba sayang kamu De." Inayah memeluk Delisha dengan erat. Pelukan penuh arti karena Inayah akan meninggalkan adiknya dan tinggal bersama suaminya.


"Aku akan kangen Mba, terima kasih Mba sudah merawat aku," ucap Delisha.


Inayah dan Ramzi masuk ke dalam mobil, ada rasa sedih ketika meninggalkan keluarganya. Tapi seorang istri harus mengikuti kemanapun suami pergi. Ramzi sangat perhatian dengan Inayah, dipakaikan sabuk pengaman ketika masuk kedalam mobil. Sungguh perbuatan yang jarang Inayah dapatkan dari Ramzi semenjak dirinya menikah dengan Ramzi.


"Kita jalan yah, bismillah," ucap Ramzi, ketika menjalankan mesin mobilnya.


Inayah menarik nafas lalu menghembuskan dengan perlahan. Akhirnya Inayah pulang ke pesantren Kiai Afnan. Ramzi tak henti-henti nya tersenyum ketika melihat Inayah. Rasa orang yang jatuh cinta memang seperti itu. Sebentar-sebentar tersenyum melihat pasangannya.


"Mas, kamu kenapa sih melihat aku senyum-senyum begitu?" tanya Inayah.


"Karena kamu cantik, aku baru sadar loh. Istriku ini cantik luar dalam. Tubuhmu juga wangi, kamu sangat menjaga tubuhmu yah," ucap Ramzi.


"Mas, jangan ngomongin yang nyerempet-nyerempet deh," protes Inayah.


"Nyerempet-nyerempet apa? memangnya motor nyerempet-nyerempet segala. Aku bicara sesuai fakta kok," ucap Ramzi.


Mobil Ramzi sudah memasuki halaman pesantren, karena Ummi sudah mendapatkan kabar dari Ramzi, ia sudah lama menunggu kedatangan mantu kesayangannya itu. Baru Inayah turun dari mobil, Ummi sudah menghampiri Inayah dan dipeluk tubuh menantunya itu.


"Ya Allah, mantu kesayangan Ummi akhirnya pulang. Ummi kangen banget sama kamu. Kamu sehat Nak?" tanya Ummi Laila.


"Alhamdulilah Ummi aku sehat, Ummi bagaimana sehat? Abi sehat?" tanya Inayah.


"Alhamdulilah, Ummi dan Abi sehat walafiat," ucap Ummi.


"Ummi, maafkan Ina yah atas kejadian yang lalu," ucap Inayah, sambil memeluk Ummi dengan tangisannya.


"Kamu tidak salah, perempuan mana yang tidak sakit hati jika suaminya seperti itu. Ramzi yang salah terhadapmu. Kamu wanita yang sabar, sehingga mau menerima Ramzi kembali. Ayo masuk sayang, lebih enak bicaranya kalau kita bicara di dalam rumah," ajak Ummi Laila.


Ummi memegang tangan Inayah untuk masuk kedalam rumah, Ramzi hanya melihat istri dan Ummi.


'Yah, aku gak bisa pegang tangan Inayah. Duh Ummi kenapa mencuri Inayah dariku sih,' batin Ramzi.


Inayah menengok kebelakang, ia melihat wajah Ramzi yang lesu. Ia menatap Ramzi dan tersenyum kepada Ramzi.


'Suamiku seperti anak kecil gara-gara cinta aku. Apa karena sudah merasakan pergi ke atas awan yah? lucu juga dia kalau wajahnya seperti itu,' tanya batin Inayah.

__ADS_1


"Inayah, sini Nak, duduk dulu. Ummi baru buat kue. Kamu cobain yah," ucap Ummi Laila.


"Aku mau bereskan pakaian dulu Ummi," ucap Inayah.


"Biarkan saja Ramzi yang bawa ke kamar, aku duduk manis aja di sini. Ummi ambilkan dulu kuenya yah, soalnya Ummi buat spesial untuk kedatangan kamu pulang ke pesantren ini," ucap Ummi Laila.


Ummi Laila pergi ke dapur untuk membuat kue.


"Sayang jangan lama-lama yah sama Ummi, aku tunggu di kamar," ucap Ramzi.


"Mas, aku ndak janji. Ini tergantung Ummi, biasanya kalau Ummi sudah cerita bisa lama Mas," ucap Inayah.


Ramzi wajahnya berubah menjadi masam, karena tidak bisa berduaan dengan Inayah di kamar. Inayah berjalan mendekati Ramzi.


"Mas wajahnya jangan seperti itu, ndak sedap di pandang," ucap Inayah.


"Ndak bisa senyum aku. Aku bisa tersenyum ketika dekat dengan istriku," ucap Ramzi.


Inayah lebih mendekat ke arah Ramzi, dan mengecup pipi Ramzi.


"Sudah bisa tersenyum belum?" tanya Inayah.


"Belum bisa, kecupannya hanya pipi kiri. Pipi kanan belum," ucap Ramzi, sambil menyodorkan pipi kanannya.


Inayah mengecup kembali pipi kanan Ramzi, tapi ketika Inayah mendekat untuk mengecup, kepala Ramzi di luruskan sehingga wajah Inayah berhadapan dengan wajah Ramzi. Ramzi langsung mencium bibir Inayah. Inayah membulatkan matanya.


"Mas..." Inayah memukul dada Ramzi.


"Nah, ini yang membuat aku tersenyum," ucap Ramzi.


"Kalau di lihat Ummi bagaimana? malu aku Mas, gak ada adab cium di tempat umum. Kalau di kamar ndak apa-apa. Ndak ada yang lihat," protes Inayah.


"Ummi culik kamu, bagaimana mau kiss kamu di kamar," ucap Ramzi.


"Inayah, ini kuenya datang. Kalian sedang apa?" tanya Ummi Laila.


"A...anu Ummi, tadi Ina tanya sesuatu sama aku, yah udah aku ke kamar dulu," ucap Ramzi sambil membawa 2 koper pakaian dan meninggalkan Inayah bersama Ummi.


Inayah hanya tersenyum melihat suaminya yang gugup ketika di tanya Ummi. Rasanya terasa mimpi mempunyai suami seperti Ramzi, awal bersikap dingin tapi sekarang bersikap hangat.


'Semoga kamu tidak berubah Mas, tetap mencintai aku sampai maut memisahkan kita,' batin Inayah.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2