Salah Lamar

Salah Lamar
Kamu begitu Sempurna


__ADS_3

Setelah 10 bulan Inayah menggunakan kursi roda, hari ini dia belajar berdiri dengan memakai tongkat ketiak. Ramzi membantu Inayah untuk berdiri.


"Jika sakit jangan dipaksa yah," ujar Ramzi.


Inayah hanya menganggukan kepalanya. Ia harus berlatih 2 bulan ini, agar ketika pulang ke Indonesia dia sudah bisa berjalan. Inayah berusaha untuk berdiri, kakinya masih terasa nyeri. Hari ini dia hanya belajar untuk berdiri, mencoba untuk menyanggah beban beratnya sendiri. Keesokan harinya dia belajar berjalan. Ini yang sulit untuk Inayah, ketika berjalan kaki akan bergantian untuk melangkah. Jika kaki berdiri kekuatan untuk menyanggah tubuh 50:50 untuk masing-masing kaki, tapi ketika berjalan maka akan berbeda, setiap langkah harus menyangga berat badan 100%.


Hari kedua Inayah berlatih hanya kuat 5 langkah, itupun harus menggunakan tongkat penyangga. Inayah meringis kesakitan ketika langkah kelima. Ramzi segera membawakan kursi roda agar ia segera duduk untuk istirahat.


"Pelan-pelan saja sayang, jangan terlalu dipaksa. Sakit yah?" tanya Ramzi.


"Iya Mas sakit, terasa senat senutnya. Terima kasih yah Mas, selalu ada di samping aku," ucap Inayah.


"Jangan mengatakan terima kasih, ini sudah menjadi kewajibanku untuk menjagamu," ucap Ramzi. Ramzi membelai rambut Inayah yang panjang dan lurus.


Setiap hari Inayah berlatih untuk berjalan, langkahnya memang belum normal. Perlahan tapi pasti. 1 bulan ia belajar berjalan menggunakan tongkat, bulan berikutnya Inayah berlatih berjalan tanpa menggunakan tongkat. Hari ini ia check up kakinya, Ramzi setia menemani Inayah. Dokter menjelaskan keadaan kaki Inayah, tukang yang patah sudah membentuk tulang baru dan sudah kuat, 6 bulan berikutnya adalah operasi pembukaan pen. Dokter juga mengatakan Inayah bisa berjalan seperti biasa tapi tidak diperbolehkan untuk berlari.


Inayah sangat bersyukur, bahwa dirinya sudah bisa berjalan kembali. Kini Inayah bisa menggandeng tangan Ramzi ketika berjalan bersama, ia tampak bahagia.


"Mas, kita mampir ke apartement Syifa," pinta Inayah.


Ramzi menganggukan kepalanya dan mereka membeli beberapa buah tangan untuk diberikan kepada Syifa dan juga putra Syifa.


Ting tong


Inayah menekan tombol bel apartement Syifa dan memberi salam.


"Assalamu'alaikum," ucap Inayah.


"Waalaikumsalam," seseorang menjawab salam.


Pintu terbuka, Ahmad yang membukakan pintu.


"Ning Inayah, Gus Ramzi, mari masuk," ucap Ahmad.


"Ning, jika mau menemui Syifa ada di kamar sedang memberikan ASI," sambung Ahmad.


"Mas, aku tinggal yah. Aku ingin menemui Syifa di kamar," izin Syifa.


Ramzi menganggukan kepalanya.


Inayah berjalan menuju kamar Syifa.


Ceklek


Suara pintu terbuka.


"Assalamu'alaikum, Syifa," ucap Inayah.


"Wa'alaikumsalam, masya Allah Ning Inayah. Sampean sudah bisa berjalan normal," ucap Syifa.


"Alhamdulilah Syifa aku sudah bisa berjalan." Inayah memeluk Syifa.

__ADS_1


"Oh iya ini untuk si tampan, duh lucunya. Sudah 8 bulan 'kan usia putramu?" tanya Inayah.


Inayah memberikan paper bag kepada Syifa.


"Iya, sudah 8 bulan. Emi sudah 1 tahun yah. Mana Emi aku kangen sama dia," ucap Syifa.


"Sama Mas Ramzi di depan, aku masih belum boleh mengangkat berat-berat dahulu 2 bulan ini,"ucap Inayah.


"Kapan sampean balik ke Indonesia?" tanya Syifa.


"3 hari setelah hari kelulusan," jawab Inayah.


"Ning, aku mau tanya sama sampean," ucap Syifa.


"Tanya apa?" tanya Inayah.


"Kenapa sampean menolak beasiswa?" tanya Syifa.


"Aku memikirkan Emi, pertumbuhan perkembangan dia. Aku mau dia mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Aku bisa mengambil S3 karena Mas Ramzi mengizinkan aku, tapi aku akan kehilangan golden age Emi. Lebih baik aku kehilangan kesempatan daripada aku mengorbankan anakku," ucap Inayah.


"The golden age itu masa keemasan manusia. Usia periode yang amat penting bagi seorang anak. Pendidikan pada rentang usia tersebut sangat menentukan tahap perkembangan anak selanjutnya. Masa-masa emas tersebut berada dalam rentang antara usia 0 sampai 6 tahun. Dari berbagai hasil penelitian Syifa yang aku baca, betapa pen­tingnya menanamkan nilai-nilai yang baik pada seorang anak dalam periode usia keemasan itu. Aku ingin mendidik Emi di lingkungan pesantren, mengajarkan tauhid kepada dia. Mengajarkan syariat islam," ujar Inayah.


"Menurut penelitian, kecerdasan seorang anak mencapai 50 persen pada usia 0 sampai 4 tahun. Hingga usia 8 tahun kecerdasannya meningkat sampai 80 persen, dan puncaknya yaitu 100 persen di usia 18 tahun, jadi aku ndak mau kehilangan masa emasnya Emi," ujar Inayah kembali.


"Masya Allah, sampean ibu yang hebat Ning, aku belajar sesuatu darimu hari ini," ucap Syifa.


"Sampean kapan pulang ke Indonesia?" tanya Inayah.


"Ijasahku akan keluar pas kelulusan Syifa," ucap Inayah.


"Yah sampean dapat nilai terbaik, jadi nilai sampean keluar duluan," ucap Syifa.


Inayah hanya tersenyum mendengar apa yang Syifa ucapkan.


"Aku akan bekerja di rumah sakit cirebon, aku akan mengabdi di sana," ucap Inayah.


"Ulah emosi sampean tuh, membuat perjanjian dengan rumah sakit jadi terikat 'kan," ucap Syifa.


"Hehehe ndak apa-apa, aku senang. Mau kemana lagi aku? wong rumahku di cirebon, dan membesarkan anakku di sana juga," ucap Inayah.


***


Setelah pulang dari apartement Syifa. Inayah dan Ramzi memutuskan untuk berjalan menikmati suasana Kyoto di sore hari. Mereka berjalan bergandengan tangan di sepanjang jalan menuju apartement mereka. Terlihat pasangan yang sangat serasi dan sangat bahagia.


"Sebentar lagi kita akan pulang sayang," ucap Ramzi.


"Aku kangen ummi," ucap Inayah.


"Kamu senang kita akan kembali ke Indonesia?" tanya Ramzi.


"Pertanyaan yang aneh itu Mas, yah senang lah. Walaupun tinggal di Jepang sudah 2 tahun tapi tetap Indonesia merupakan negara syurga yang tercantik di dunia," ucap Inayah.

__ADS_1


"Mau honey moon gak pas pulang ke Indonesia?" tanya Ramzi.


"Kamu sepertinya ngebet banget sih punya anak yang kedua. Emi baru umur 1 tahun Mas," ucap Inayah.


"Yah, tanya aja. Barang kali kamu berubah pikiran. Agar Emi dan adiknya bedanya gak terlalu jauh. Besar secara bersamaan, pasti seru," ucap Ramzi.


"Yakin kamu mau punya anak kedua Mas?" tanya Inayah.


"Yah punya anak 'kan harus kerja sama antara kita berdua. Kalau kamunya menunggu sampai Emi umur 3 tahun, yah ndak apa-apa sih," ucap Ramzi.


Inayah menatap wajah Ramzi dari samping, ia tersenyum.


"Kenapa kamu tersenyum?" tanya Ramzi.


"Aku mengingat ketika kamu bilang bahwa kamu tidak mencintaiku, tapi hari kamu menginginkan anak kedua dariku," ucap Inayah.


"Kamu meledek aku yah?" Ramzi mengecup pipi Inayah.


"Mas, ini di tempat umum, main nyosor aja," protes Inayah.


"Ini Jepang sayang, jalanan sepi. Ndak seperti di Indonesia jalan sore bukan udara bersih yang di hirup malah asap kenalpot," ucap Ramzi.


"Aku baru sadar ketika kamu meninggalkan aku. Kamu begitu sempurna yang Allah kirimkan untukku, kamu begitu indah yang pernah aku miliki, kamu itu begitu segala-galanya untukku," ujar Ramzi, sambil mengecup tangan Inayah.


Inayah menyandarkan kepalanya di pundak Ramzi sambil bergandengan tangan.


Bersambung


✍Ramaikan komen karena komen kalian membuat saya sangat bersemangat untuk menulis dan ide mendadak untuk saya.


Jadilah dermawan dengan cara like, subscribe dan follow aku. Vote nya juga yah


Baca juga yuk cerita serunya




5 tahun menikah tanpa cinta




Retak Akad Cinta (bab 1 s.d 18 nyata, fiksi dari bab 19 dst)




Love dari author sekebon karet ❤

__ADS_1


__ADS_2