Still Love You

Still Love You
pertemuan pertama


__ADS_3

aku tak pernah tahu kenapa mama paling benci seragam berwarna hijau belang2 dan juga seragam polisi.


aku tak tahu kenapa mama terlalu ketat dalam menyeleksi pria2 yang kukencani.


setelah papa menghilang dan dinyatakan meninggal mama seakan tertutup.


tapi aku justru disini, aku ingin ditempatkan di daerah perbatasan walau sebenarnya pada awalnya hanya ingin membuat mama semakin marah.


aku menolak untuk dijodohkan.


dan kemudian aku terjebak di daerah perbatasan Papua. lari dengan menerima tawaran sebagai dokter demi membantu para umat manusia.


itu hanya sebuah alasan klise.


aku hanya tak ingin bertemu dengan mama dan larut bersama rasa sedih yang sudah menahun.


###


kini aku justru terjebak di antara rerumputan menyembunyikan diri dari sebuah baku tembak sambil memegang beberapa botol obat.


"ini bala karena durhaka sama mama!"


baju putih kebanggaan ku kini entah tersangkut dimana, sudah lebih dari enam jam aku bersembunyi.


dan kemudian aku memutuskan untuk keluar sambil meraba-raba di tengah kegelapan.


ketika itu sebuah lengan menarik tubuhku hingga berguling disusul suara tembakan.


"astaga! belum selesai juga?! gila!" desisku tanpa sadar kini aku menindih seseorang.


seorang pria dengan seragam belang2 berwarna hijau kini tampak terkejut mendengar suara kesal yang tak sengaja kukeluarkan tulus dari lubuk hati paling dalam.


"maaf" ucapku duduk dan masih bersembunyi dari balik pohon.


aku meraba gelang yang diberikan papa dulu, hadiah terakhir darinya masih melingkar sempurna dan ternyata cukup kuat walau aku harus berguling di tanah dan sembunyi di antara semak-semak.


"bukan bandit kan?" aku menebak dari seragamnya. pria itu hanya terdiam sambil melihat ke arahku dengan rambut yang awut-awutan.


seharusnya aku masih tetap kelihatan cantik walau tampak awut2an seperti ini.


"pasti bukan, keliatannya kamu justru pengabdi negara" aku lega dia menemukanku.


aku lega karena pria tampan ini berada di depanku .


entah mengapa aku merasa lega melihat wajah datarmu wahai pria yang tak kukenal. walau sedari tadi kau hanya diam.


aku mengulurkan tangan yang tak dibalas. pria itu hanya tetap diam.hingga akhirnya aku menarik kembali tanganku.


namaku Sekar Wangi, dokter bedah tahun pertama yang cantik dan populer di antara para pria dan aku tak pernah ditolak seperti ini.


"namaku Sekar Wangi" kali ini tanpa berjabat tangan dan kemudian menikmati gigitan nyamuk.

__ADS_1


"sudah aman, ikuti saya dan jangan bersuara"


"bisa bicara? saya kira bisu"


kini pria itu menatapku seakan tak percaya aku dapat bercanda disituasi seperti ini.


aku bahkan penasaran dengan kematian. bagaimana rasanya dan apakah surga itu benar2 ada? apa aku bisa menemui papa di surga? dan kemudian mengadukan semua perbuatan mama termasuk memaksaku untuk dijodohkan.


"perhatikan langkahmu"


aku mengangguk dan kemudian pelan-pelan mengikutinya dari belakang.


"setelah hitungan ketiga, kita akan berlari sampai di pohon sana"


aku melihat ke arah yang ditunjuk. dan astaga ini bukan film Hollywood kenapa berasa tegang begini?


apa ini balasan dari niat baik menolong umat manusia?.


"oke" aku mengangguk setuju dan berusaha terlihat sekeren mungkin


"satu dua tiga"


kami berlari dan kemudian kakiku menyandung akar pohon hingga kembali berguling-guling di tanah.


"tidak apa-apa?" pria itu kembali membuatku merasa aman. bisa saja dia meninggalkanku dan menyelamatkan dirinya sendiri.


"gak apa-apa"


"enggak"


"kalau begitu kita harus tetap berlari"


kali ini dia menggenggam jemariku erat. dan mengajakku berlari


di pertemuan pertama aku bahkan sudah memeluknya, sudah memegang tangannya. astaga ini serial film apa?


kenapa aku tiba2 menghadapi situasi yang bahkan tak pernah aku bayangkan sebelumnya.


aku bahkan masih mendengar beberapa orang mengejar kami.


dan kemudian kami melompati sebuah pagar berkawat.


"tiarap" perintahnya.


aku merasa seperti latihan militer. kami merayap hingga masuk ke perbatasan dan area perkampungan.


pria itu bangkit berdiri dan melihat ke arahku yang sudah sangat berantakan.


dia mengangkat tanganku melihat ke arah gelang yang masih terpasang sempurna.


"ini seperti borgol yang dipasang papa. katanya biar aku gak hilang. tenang saja, merahnya bakalan hilang setelah dioles salep" aku mencoba menjelaskan. dan kemudian berpikir sambil mengerutkan keningku.

__ADS_1


"ngapain saya jelasin ke kamu?"


pria itu hanya menatapku aneh. satu pun pertanyaan tidak pernah dijawab. aku hanya bertanya sendiri dan menjawab sendiri.


tak apa. yang penting aku selamat.


"terimah kasih" ucapku sambil tersenyum.


lagi dan lagi kamu hanya terdiam membuatku gemas dan ingin sekali menyentuhmu.


toh kita tak akan berjumpa lagi bukan?


"saya kerja di rumah sakit sana" aku menunjuk bangunan tua yang jadi rumah sakit darurat di kampung itu


"dokter bedah tahun pertama" lanjutku lagi.


dan kemudian aku mulai mencari perhatianmu di menit terakhir pertemuan kita. walau sebenarnya aku mulai menyukaimu. aku tahu mustahil . mama pasti tidak akan merestui.


"ada daun di rambut kamu" kini aku mulai menyisir rambut mu sambil tersenyum penuh kemenangan.


rambutmu halus, lebat dan berwarna hitam dengan potongan pendek.


"bisa tau nama kamu siapa?"


"Ale Putra Rahardian" jawabanmu membuatku tersenyum


"tahu gak? kamu itu tipe aku banget" aku tertawa melihat ke arahmu yang masih terpaku dan terdiam.


"bercanda. udah punya istri ya?"


"belum"


"oh kalau gitu saya masuk dulu"


aku menuju ke rumah sakit dan setelah tiga langkah aku berbalik menatapmu yang masih berdiri melihat ke arahku


"oh ya, Ale. kamu ganteng" aku tersenyum sambil melambaikan tangan.


itu adalah hari pertemuan pertama kita.


apa kamu tau?


bahwa cinta pada pandangan pertama itu ternyata benar-benar ada.


buktinya kamu.


buktinya kita.


**terimah kasih sudah mau membaca cerita ku.


semoga suka**

__ADS_1


__ADS_2