Still Love You

Still Love You
Wijaya Grup


__ADS_3

Pagi hari pun tiba Liana dan Devara sudah siap untuk pergi ke kampus, mereka mengambil jurusan yang mereka suka. Hana dan Indra tak melarang anak-anaknya untuk memilih jurusan, mereka harus berkembang sesuai dengan kemampuan mereka.


"Pagi mom," sapa Liana, di susul oleh Devara.


"Pagi sayang." Balas Hana tersenyum.


"Papah mana mom?" tanya Devara.


"Papah mu, ada kerjaan tadi pagi sudah pergi ke tempatnya om Radit." Jelas Hana, di jawab anggukan oleh ke duanya.


"Kalian sarapan aja duluan yah, mommy mau liat adik kalian." Ucap Hana.


"Iya mom," jawab Liana dan Devara.


****


Di apartemen Justine, dia sudah siap dengan kemeja berwarna dongker dan celana bahan warna yang senada.  Saat keluar kamar, sang ibu Indira sudah menyiapkan sarapan untuk dirinya.


"Harusnya, ibu gak usah repot. Aku bisa di kantor nanti," ujar Justine setelah duduk di meja makan, dan meminum kopi kesukaannya.


"Ibu gak repot, malah seneng. Kamu kalau udah di kantor suka lupa waktu," balas Indira menatap Justine, yang mirip sang ayah.


Anak yang dia inginkan di awal pernikahan, namun dia hadir saat pernikahannya dengan Mahesa tak seharmonis sebelum Arumi hadir . Dan membuatnya terpisah dengan Justine selama berpuluh tahun.


Justine pun menikmati masakan Indira, yang memang dia rindukan selama ini. Setelah selesai sarapan, Justine berpamitan pada Indira.


"Aku kerja dulu, bu." Pamitnya.


"Iya, hati-hati. Nanti ibu kirim makan siang kamu yah!" ujar Indira Justine pun hanya mengangguk saja.


Tiba di gedung Wijaya Grup, Justine keluar dari mobil dengan wajah dinginnya. Meski begitu, banyak kaum Hawa yang menyukai Justine tapi Justine tak tertarik sama sekali. Bukan dia tak normal, dia normal kok hanya saja belum ada yang cocok.


Lantai sepuluh adalah lantai dimana tempatnya bekerja, sebagai wakil Direktur Wijaya. Sedangkan ruangan sang ayah ada di lantai sebelas, Justine enggan satu lantai dengan ayahnya tersebut. Karena potensi bertemu dengan Arumi dan sang kakak sangat besar, dan dia enggan itu terjadi.


Tok! Tok! Tok


"Masuk," teriak Justine dari dalam.


"Tuan, ini berkas-berkas magang mahasiswi kampus Erlangga." Ujar Vano asisten sekaligus sekretaris Justine. Entah apa tujuan bosnya ini, ingin melihat data-data mahasiswa tersebut.


"Taruh saja, nanti aku lihat."


Vano menaruh berkas-berkas mahasiswi dan mahasiswa tersebut, namun perhatiannya pada nama Liana membuatnya menunda pekerjaannya sebentar dan membaca profil milik Liana. Justine tersenyum tipis, dia memiliki ide untuk gadis cerewet yang satu ini.


"Vano tolong beritahu mahasiswi bernama Liana, suruh besok ke perusahaan kita. Dan yang lainnya terserah pihak HRD akan di tempatkan di bagian mana," papar Justine lewat sambungan telepon.


"Baik tuan," jawabnya.


****


"Liana, kok lo gak ikut magang di perusahaan sahabatnya nyokap lo sih?" tanya Dera salah satu teman Liana, yang mengajukan magang di perusahaan Wijaya juga.


"Engga ahh... Gue bosen, ketemu sama uncle Radit, uncle Gemy sama uncle Yudis. Gue mau suasana baru, biarin aja si Deva yang di sana bareng ka Keanu." Kekeh Liana.


"Tapi nih yah, kalo gue jadi lo. Gue mau masuk tuh di perusahaannya yang di kelola pak Gemy dan sepupunya itu loh, siapa tuh yang adiknya bu Feli itu loh. Lupa gue,"


"Rumi?" tebak Sara.


"Nah iya Rumi, pewaris perusahaan Winata II Grup gila gak tuh. Masih muda kaya pula," ujar Dera. "Duh... Udah punya cewek, belum ya?"


Membuat Liana memutar bola mata malas, dengan pujian terhadap adik Feli tersebut, tiap dia datang ke rumah bunda Nia pun dia selalu memasang wajah dingin.


"Ihh... Gue sih ogah, dia itu dingin dan wajahnya nyeremin," sahut Liana.


"Sembarangan lo, dia ganteng banget." Ujar Sara.


Saat mereka sedang asik mengobrol di taman kampus, tiba-tiba ponsel Liana berdering.


"Guys diem dulu, ada telepon nih dari nomor gak di kenal."


Sara dan Dera pun langsung terdiam, mereka menyimak obrolan Liana dan si penelepon.


"Siapa Na?" tanya Sara kepo.


"Dari Wijaya Grup, katanya gue bisa mulai magang besok."


"What? Serius lo?" seru Dera. "kok, gue sama Sara belum ada calingan yah?" tanyanya melirik Sara yang mengedikan bahu.


"Serius masa bohong sih, ya mana gue tahu. Emangnya perusahaan itu punya moyang gue apa," kekeh Liana.


"Terus kenapa wajah lo, gak bahagia?"  tanya Sara.


"Perasaan gue gak enak," ucap Liana membuat semua terkekeh.


"Nyebelin lo berdua, dah ahh gue pulang dulu. Bye," pamit Liana.


"Idih marah dia," kekeh Sara.


Liana pun berjalan menelusuri lorong kampus, keputusannya untuk magang di Wijaya Grup. Membuatnya ragu entah apa penyebabnya dia pun tak tahu.


"Apa minta sama uncle Radit aja ya? Buat urusin pindahin magang aku ke perusahaannya!"


"Liana," panggil Devara.


"Apa?" ketus Liana.

__ADS_1


"Kenapa lo? Udah di terima magang?"


"Udah."


"Dimana?"


"Wijaya Grup."


"Wijaya, kaya kenal nama itu. Lo mau kemana?"


"Pulang lah, nyiapin pakaian magang."


"Ya udah gue juga mau pulang, gak ada kelas lagi sih."


Obrolan kakak adik yang singkat itu pun usai, mereka pulang bersama. Devara akan melakukan magang di perusahaan Gemy karena dia di tunjuk untuk menjadi sekretarisnya Keanu wakil CEO.


***


Sore pun tiba, Justine memutuskan untuk langsung pulang ke apartemennya. Indira mengabari bahwa dia masih ada di apartemen sang anak.


Berpuluh menit kemudian Justine telah sampai di apartemennya, dan menemukan sang ibu sedang menonton gosip artis KDRT.


"Bu," sapa Justine mencium punggung tangan Indira.


"Bagaimana kerjaan kamu?"


"Baik, gak terlalu sibuk. Besok akan ada anak magang dari kampus Erlangga." Ujar Justine.


Indira hanya tersenyum menanggapi sang anak.


"Aku ke kamar dulu," pamitnya, di jawab anggukan Indira yang lanjut menonton acar gosip.


Saat sedang membuka pakaian kerjanya, ponsel Justine berdering grup yang berisikan Keanu, Rumi dan dirinya di buat untuk memudahkan pertemuan mereka. Rumi dan Justine seumuran mereka bertemu saat acar pesta kolega bisnis mereka.


Keanu: Ngumpul yuks, di cafe gue.


Rumi; Aku sibuk.


Justine: Liat saja nanti.


Membuat Keanu yang membaca pesan dari kedua es kutub itu pun, hanya berdecak kesal.


"Bisa-bisanya, gue dapet temen model es batu semua." Omelnya.


Keanu keluar dari kamarnya dengan pakaian santai, karena gak ada yang di ajak keluar dia menuju ruang keluarga. Dimana adiknya Shela sedang bermain.


"Kakak." Pekik Shela merentangkan tangan minta di gendong.


Saat Shela lahir, Keanu berusia dua satu tahun. Dan sekarang dia sudah berusia dua puluh empat, sedangkan sang adik tiga tahun. Karena pada saat dia sekolah dasar Anisa sempat hamil dan selalu keguguran. Saat Keanu membawa Shela ke taman, semua orang beranggapan dia adalah anaknya ketimbang adik.


"Lagi apa?"


"Nanti kaka beliin Barbie baru buat Shela yah!"


"Benelan? Asik... Makasih ka, aku sayang kakak," seru Shela memeluk erat Keanu.


"Kakak juga sayang Shela," ucap Keanu mencium sang adik.


"Udah cocok tuh punya anak," celetuk Anisa, membawa camilan untuk sang anak.


Setelah Shela lahir, dengan cara jalan operasi. Gemy memutuskan untuk melakukan KB steril saja, karena tidak ingin terjadi sesuatu pada Anisa.


"Bunda nih," protes Keanu.


"Tumben gak keluar?"


"Gak ada yang mau di ajak keluar bun, Justine sibuk. Rumi juga, dia mah workaholic," papar Keanu.


"Iya dia terlalu gila kerja, sampe lupa pacaran." Kekeh Anisa.


"Assalamualaikum," salam Gemy, yang baru pulang kerja.


"Daddy," pekik Shela, dia langsung berlari menuju Gemy dan meminta di gendong.


Gemy dan Keanu adalah laki-laki favorite Shela, kemana pun mereka pergi dia selalu ingin ikut.


"Anak daddy, udah wangi." Ucap Gemy mencium sang anak.


"Udah dong, aku kan udah mandi. Daddy yang belum," kekeh Shela.


"Iya yah! Kalau gitu, daddy mandi dulu ok, kamu main sama kakak."


"Baik daddy," ucapnya manis.


Anisa dan Gemy pun menuju kamar, setelah Anisa menitipkan Shela kepada Keanu. 


****


"Liana," panggil Hana berteriak.


"Iya mom."


Dengan tergesa Liana keluar kamar, dan menghampiri kamar Hana.


"Ada apa mommy Hana?"

__ADS_1


"Anter mommy belanja bulanan yah! Sekalian kamu awasi adik mu Lian," pintanya.


"Biasanya kan sama Deva," ucap Liana cemberut.


"Devara ke rumah Darel, papah mu. Belum pulang kerja. Bukannya kamu besok hari pertama magang kan? Udah punya baju hitam putihnya?" tanya Hana.


"Belum mom," ucap Liana tertawa.


"Kamu ini, ayok kita belanja baju sekalian. Mommy siap-siap dulu Lian udah siap dari tadi," ujar Hana.


Beberapa menit kemudian, Hana dan Lian sudah siap. Lian sangat tampan dan manis perpaduan Indra dan Hana, Hana menatap Liana dari atas kebawah.


"Mommy kenapa sih, liatin aku kaya gitu?"


"Kamu mau ke mall, pake baju gitu?" tanya Hana menunjuk baju Liana.


"Iya, emang kenapa mom? Gak boleh yah?"


"Bukan gak boleh Liana, seenggaknya kamu pake sweater atau jaket ke gitu apalah," omel Hana.


Dulu saat dia masih muda tak seperti anaknya yang satu ini, Liana terlalu cuek dengan penampilan saat akan keluar.


"Ya udah aku ganti baju dulu,"


"Bukan dari tadi sih ya, harus mommy ngomel dulu baru ganti," ketus Hana.


"Ka Lili cepetan yah!" teriak Lian.


"Iya bawel," sahut Liana.


Tak lama Liana turun dengan memakai jaket hoodie berwarna pink, dan celana bahan kulot.


"Ya sudahlah, itu lebih baik. Ayok berangkat," ajak Hana pada kedua anaknya.


Mereka menuju salah satu mall di daerah Jakarta, berpuluh menit kemudian mereka sudah sampai dan langsung menuju toko pakaian kerja.


"Emang harus yah, mom?" tanya Liana saat sedang melihat-lihat baju.


"Udah nurut aja sih ya kamu, masa mau pake kaos sama jins sih," omel Hana.


Hana pun mencarikan baju kemeja warna putih untuk perempuan, dan celana bahan. Hana juga membelikan baju untuk Devara, setelah selesai membayar Hana mengajak Liana dan Lian ke supermarket. Mereka akan berbelanja kebutuhan dapur dan sehari-hari.


"Mommy aku mau cemilan yah? Sama itu," tunjuk Lian pada minuman kemasan yang sudah lama dia inginkan.


"Boleh tapi jangan banyak-banyak," balas Hana, membuat Lian bersorak senang.


Sedangkan Liana, dia sedang melihat-lihat merek pembalut kebetulan stok pembalutnya yang tinggal sedikit.


Saat berbalik dia tak sengaja menabrak seseorang, yang akan mengambil pembalut juga.


"Maaf ... Maaf, saya gak sengaja," ucapnya menunduk.


"Kalo jalan liat-liat," balasnya dingin, merasa mengenali pemilik suara itu Liana buru-buru mengangkat wajahnya.


"Kamu," pekiknya melotot.


"Gak usah melotot, minggir." Justine mendorong tubuh Liana.


"Dasar nyebelin," omel Liana meninggalkan Justine, yang sibuk memilih pesanan sang ibu.


Liana berjalan ke tempat sayur dimana Hana berada.


"Mom udah belum?" tanyanya, setelah bertemu Justine moodnya jadi buruk entah kenapa laki-laki itu membawa pengaruh besar pada moodnya.


"Bentar, belum selesai ini."


"Mommy aku mau ayam ya, bikinin aku chiken stik," ujar Lian.


"Iya sayang, kamu mau apa Li?"


"Apa aja mom, aku kan semua di makan asal gak beracun," sahut Liana, membuat Hana memincingkan mata menatap Liana.


"Kenapa melihat ku seperti itu, mom?"


"Kamu kenapa sih? Judes gitu?"


Sebelum Liana menjawab, suara Justine menyapa Hana membuat Liana makin kesal. Sebab merasa pria kutub ini sengaja mengikutinya, padahal kan tidak begitu itu pemikiran Liana.


"Tante," sapa Justine.


"Hay! Disni juga?"


"Iya di suruh ibu belanja."


"Rajinnya," puji Hana. "Tante sih boro-boro nyuruh anak-anak, yang ada mereka selalu nolak kalo di ajak belanja selalu ada alasan," sindir Hana secara tak langsung pada Liana.


Sebab Liana tak pernah mau jika di ajak belanja, selalu saja bersama Indra atau Devara sesekali.


Justine hanya tersenyum, kemudian pamit kepada Hana.


"Liat cowok aja mau belanja, bahkan membeli pembalut untuk ibunya. Lah kamu mah di suruh beli cabe ke warung aja susahnya minta ampun," omel Hana.


"Mommy kok jadi omelin aku sih!" protesnya tak terima.


Hana pun berlalu dari tempat sayur, menuju buah tanpa mempedulikan wajah masam sang anak. Liana mendorong troli dengan setengah hati.

__ADS_1


Semoga suka 💞


Maaf typo


__ADS_2