
Zhao Hui yang keluar dari rumah berlari tak tentu arah.dia berhenti sejenak menghapus bekas air mata di pipinya. Melihat pemandangan di depannya ada danau jernih yang memasuki pandangannya tak menyangka dia berlari jauh dari rumah berhenti di danau daerah tempat dia bermain sewaktu kecil.
Melihat sekeliling danau tidak melihat seorang pun hanya dirinya yang ada disini.
"BERENGSEK, MATI SAJA KAU! DASAR ORANG TUA BANGKA KEJAM." Teriakan umpatan Zhao Hui bergema mengeluarkan rasa sesak di dada akibat perkataan neneknya.
"Uhuk..uhukk..."
Tenggorokan Zhao Hui sakit selepas berteriak dia terbatuk. Dia berjongkok memegang dadanya untuk meredakan sakit. Air mata mengalir dengan deras merasakan sakit di dadanya.
Zhao Hui kira dia tidak akan merasakan rasa sakit dengan ucapan neneknya lagi dan rasa ingin merasakan kasih sayang seorang nenek kepada cucu sudah tidak ada lagi tapi dia dia tidak mengira bahwa dia masih menyimpan harapan kosong yang tidak berarti kepada neneknya itu untuk kasih sayang yang tidak akan pernah dia rasakan.
Seharusnya dia sudah tau bahwa neneknya hanya mengutamakan keluarga paman pertamanya. Apalagi untuk Zhao Wei yang dia benci itu.
Kenapa nenek memanjakan Zhao Wei sedemikian rupa sedangkan untuk cucu perempuan lainnya hanya begitu saja?
Seperti selama dia memberi makan dan tempat tinggal untuk hidup dia tidak peduli dengan yang lain.
Benar. Neneknya itu orang kejam seharusnya dia memahami itu ketika adik laki-lakinya lahir secara prematur. Sewaktu itu dia melihat nenek memberikan susu formula yang dibeli ayahnya untuk memberi nutrisi karena ASI ibunya keluar hanya sedikit malah diberikan kepada Zhao Wei daripada adik laki-lakinya yang lebih membutuhkan susu tersebut. Saat ayahnya tau tentang hal itu marah dan berdebat dengan nenek. Jika bukan karena kakek mungkin ayahnya akan memiliki hubungan yang lebih buruk.
Kenapa dia malah menanyakan hal yang sudah dia tau jawabannya?
Rasa sayang pasti tidak ada untuk keluarga ayahnya. Mungkin hanya menganggap sebagai pekerja gratis.
"HAHAHA, aku tau. Seharusnya aku tau, Dasar bodoh." Zhao bergumam dengan kosong dia menampar pipinya dengan keras seakan untuk menyadarkan dirinya untuk bangun bahwa jangan berharap yang sudah tau akan seperti apa yang terjadi jika dia masih mengharapkan hal itu.
Dia pasti akan merasakan rasa kecewa, sakit hati, keputusasaan.
Zhao Hui berpikir apakah dirinya orang yang suka menyakiti dirinya sendiri. Dia menguburkan kepalanya di antara dua lututnya menyembunyikan air mata yang masih mengalir. Dia ingin berhenti menangis tapi bukannya berhenti Isak tangis mulai keluar dari mulutnya dia mengigit bibirnya meredakan tangiKui.
Bahunya bergetar ketika Zhao Hui ingin meredakan suara tangiKuinya.
__ADS_1
Matahari mulai condong kearah barat waktu akan berganti dengan malam. Zhao Hui masih berada di danau duduk dengan kosong. Dia sudah berhenti menangis, matanya merah dan mulai bengkak. Masih ada jejak air mata yang belum kering di pipinya.
"Kakak Hui, ternyata kamu disini. Aku mencari mu dari tadi." Suara laki-laki tidak membuat Zhao Hui menoleh. Dia hanya memandang air danau yang tenang tidak mempedulikan suara itu.
Zhao Kui, adik laki-laki Zhao Hui yang berumur 12 tahun duduk di samping kakak perempuannya. Dia tau kakak perempuannya mendengar suaranya walaupun seperti tidak dipedulikan kakak perempuannya yang paling memperhatikan dirinya.
"Kenapa kakak masih disini? Bukannya cepat pulang." Tanya Zhao Kui memiringkan kepalanya bertumpu pada lututnya.
Zhao Hui tidak menjawabnya hanya menatap Zhao Kui.
Zhao Kui juga tidak marah kakak perempuannya tidak menjawab pertanyaannya.
"Kakak masih marah sama perkataan nenek yang tadi. Atau sedih karena nenek tidak sayang kakak?"
"Aku tidak terlalu mengerti sih yang kakak rasakan sekarang. Tapi kakak yang bilang padaku untuk tidak mempedulikan ucapan nenek yang kejam dan jangan berharap untuk mendapatkan rasa sayang nenek karena itu tidak mungkin kita rasakan."
Zhao Kui mengalihkan pandangan ke arah danau. Sebenarnya dia juga sedih dan dengan kejadian tadi, neneknya benar-benar keterlaluan. Tapi jika dia ikut campur maka neneknya pasti lebih marah. Rasanya dia ingin cepat-cepat dewasa untuk mencari uang yang banyak dan keluar dari rumah membawa keluarganya sejauh mungkin dari neneknya itu. Tapi tentu tidak ada yang instan semua pasti ada proses untuk tumbuh memerlukan waktu.
"Kakak bilang kita harus kuat dengan kemampuan sendiri jangan mengandalkan orang. Ucapan itu masih tersimpan di kepalaku. Aku akan berusaha menjadi kuat dan melindungi kakak." Ucap Zhao Kui dengan semangat.
Mata Zhao Hui mulai berair lagi mendengar kalimat panjang yang di ucapkan adiknya.
"K-kakak,... aduh kena-pa kakak menangis? A-apa kakak sakit?" Zhao Kui terkejut melihat Zhao Hui menangis dia bingung harus berbuat apa.
Zhao Hui menangis karena adiknya yang telah dia rawat dari kecil sudah dewasa dan memberikan nasihat kepada dirinya. Dan membuatnya sadar bahwa dia juga pernah mengatakan hal itu kepad adiknya. Ya, sebagai kakak dia harus memberikan contoh yang baik untuk adiknya.
"A-apa ucapan ku bikin kakak sedih?" Zhao Kui bertanya dengan gugup. Dia khawatir kakaknya kenapa-kenapa.
"Kakak pipi kamu bengkak. Apa masih sakit?" Zhao Kui baru menyadari pipi kakaknya bengkak. Sepertinya tamparan yang nenek layangkan pada kakaknya keras.
Zhao Kui mengepalkan tangannya berusaha menahan amarah yang melonjak ingin rasanya dia membalas orang menyakiti kakaknya. Tapi dia harus focus mengkhawatirkan kondisi kakaknya dulu.
__ADS_1
Zhao Hui tertawa dengan ekspresi Zhao Kui. "Tidak apa-apa. kakak hanya tidak menyangka kamu sudah sedewasa ini."
"Hu'uh, benarkah?"
"benar."
"syukurlah. Tapi kak aku memang telah dewasa. Sebentar lagi aku akan masuk SMP." Zhao Kui cemberut dengan ucapan Zhao Hui.
Zhao Hui mengusap rambut Zhao Kui dengan tangannya. "Ya ya ... adik manis kakak sudah dewasa."
Zhao Kui menjauhkan kepalanya dari tangan kakaknya tidak nyaman dengan itu. "Kakak berhenti mengusap rambutku. Aku bukan anak kecil lagi."
"Di mata kakak kamu anak kecil." Zhao Hui tersenyum dengan cerah. Tidak mempedulikan Zhao Kui yang melarikan diri dari tangannya dia masih ingin mengusap rambutnya.
"Sudahlah. Mari kita pulang. Sudah sore. Ibu pasti khawatir."
Zhao Kui berdiri menepuk pantatnya membersihkan sisa debu yang menempel pada celana. Waktu sudah akan petang apalgi mereka lumayan jauh dari rumah harus segera pulang jika tidak keluarga yang dirumah khawatir. Dan lagi pasti kakak Zhi juga mencari kakak Hui mereka harus segera kembali.
"Ayo kak." Zhao Kui mengulurkan tangannya membantu Zhao Hui untuk berdiri.
"Kak kenapa diam saja? Tangan aku pegal nih."
"Aku takut nenek marah melihat kakak." Zhao Hui tidak yakin jika dia kembali neneknya pasti akan marah kembali dan suasana akan kembali runyam.
"Tidak apa-apa. Ada kakek, kakak jangan khawatir. Ayah dan ibu juga pasti akan membela kakak." Terang Zhao Kui.
Tangan Zhao Kui masih posisi yang sama masih mengulurkan tangan untuk membantu Zhao Hui berdiri. Tapi Zhao Hui masih bergeming.
"Haaa,.. Jika kakak tidak pulang kakak akan tidur dimana? Jadi ayo cepat bangun dan pulang."
Ya apa yang yang diucapkan adiknya benar jika dia tidak pulang dia akan tidur dimana Zhao Hui dengan ragu-ragu menjabat tangan Zhao Kui dan berdiri.
__ADS_1
"Begitu dong. Yuk."
Zhao Kui berjalan berdampingan dengan Zhao Hui pergi meninggalkan danau.