
...Semilir angin malam menemani sepi...
...Berjalan menyusuri ruang kosong di sudut hati yang terasa hampa....
......................
Tepat pukul satu malam, Akira berhasil keluar dari rumah Darel. Dengan mengendap-endap, dia menatap mobil yang sudah menunggunya di depan gerbang.
Beruntung satpam tengah lengah malam ini, biasanya mereka selalu berjaga keberuntungan begitu pikir Akira.
"Mau kemana?" tanya Devara tiba-tiba, membuat Akira tersentak kaget.
Tak sengaja Devara melihat Akira yang berjalan pelan, dia akan ke dapur untuk mengambil minum.
"A-aku..."
"Maaf aku gak bisa kasih tau ka Devara, kalau begitu aku permisi. Dan jangan kasih tau Darel," ujar Akira.
"Tapi Akira..."
Belum selesai Devara berbicara, Akira sudah memotong ucapan Devara.
"Aku mohon ka," pintanya memelas.
Devara pun menghembuskan napasnya pelan.
"Baiklah, aku gak akan memberitahu Darel. Tapi aku mau tau, kamu mau pergi kemana? Ini udah malam Akira," cerca Devara.
"Aku mau pulang ke rumah ku ka, penjaga rumah udah jemput aku." Katanya pelan.
Pembicaraan Devara dan Akira pun tak luput dari perhatian Hana, Hana menerka apakah Akira pergi karena ucapan Gemy? Atau apa?
"Jangan-jangan dia dengar pembicaraan kami tadi, ahh... Itu bukan urusan ku," gumam Hana, dia pun meneruskan untuk mengambil air minum.
Malam itu Akira pun pergi dari rumah Darel, Devara sendiri berjanji untuk tak memberitahu Darel.
***
Keesokan paginya Darel memilih untuk joging dengan Sierra, karena Devara sedang malas. Bukan malas, karena lebih memikirkan keadaan Akira. Semalam dia meminta nomor ponsel Akira, namun Akira tak memberikannya. Dengan sedikit paksaan Akira pun memberikan nomor ponselnya, tapi malah tak aktif.
"Kenapa gak ikut joging?" tanya Hana, dia pun duduk di sebelah Devara.
"Lagi gak mood," jawabnya.
"Mom, kalo aku nikah sama cewek Korea gimana?"
Hana memincingkan matanya, menatap sang anak.
"Apa yang di maksud Devara itu Akira?" bisik Hana dalam hati.
"Ya gak gimana-gimana? Asal dia seiman mommy gak masalah," ujar Hana, dia tak akan mengekang anak-anaknya untuk jatuh cinta pada gadis mana pun, bahkan jika Devara menikah dengan karyawannya sendiri pun Hana tak masalah.
"Tapi kalau dia gak seiman gimana?" tanya Devara lagi.
"Entahlah mommy gak tau, yang mommy tau itu di larang dalam agama Dev. Sudahlah cari Indo aja, ribet kalo mau jenguknya nanti." Papar Hana.
Hana menepuk paha Devara, dan bangkit dari duduknya. Dia tak akan menanyakan siapa gadis tersebut, tapi dia hanya menebak jika gadis itu adalah Akira. Gadis yang di sukai oleh Darel, namun Darel sendiri masih dilema.
"Cepat mandi dulu, bentar lagi sarapan." ujar Hana.
"Iya mom," balas Devara, Devara pun menyesap kopinya.
Dia melirik ke arah sumber suara, Darel dan Sierra. Mereka asik bercanda Devara jadi bingung pada Darel tentang perasaannya pada Akira.
"Si Darel bener-bener playboy yah!" gumamnya.
Devara pun memutuskan untuk mandi saja, dari memikirkan yang tak pasti. Tapi satu yang pasti dia akan berjuang untuk mendapatkan hati Akira.
***
__ADS_1
Darel sendiri tak menyadari jika Akira belum keluar dari kamar, saat akan sarapan dan semua telah berkumpul. Darel baru menyadarinya, karena sejak tadi dia tak melihat Akira.
"Dimana Akira?" celetuk Darel.
"Mungkin masih di kamar," sahut Feli.
"Gak biasanya dia jam segini belum bangun," gumam Darel.
"Anak gadis kok malas bangun sih," cibir Radit.
"Sayang," tegur Rania.
"Kenapa? Memang benar kan? Liat anak kita, dia sudah membantu Feli di dapur. Tapi Darel tetap memilih wanita itu," ketus Radit.
"Om Radit," desis Darel.
"Dit udah, lebih baik kita mulai saja sarapannya." Ujar Yudis menengahi.
"Nanti kamu bangunkan dia setelah kita semua sarapan Rel," ujar Gemy.
"Baiklah," pasrah Darel.
Hana dan Devara saling lirik, namun mereka tetap diam. Sarapan kali ini tak seceria kemarin, karena Radit tak ingin sang anak sakit hati karena ulah Darel.
Akira yang baru tidur pukul dua dini hari pun sudah bangun, dan kepalanya terasa pusing. Dia tidak pulang ke rumah orang tuanya, melainkan ke apartemen pribadinya yang sangat privat. Bahkan mereka yang akan berkunjung harus melewati pemeriksaan terlebih dulu, diam-diam Akira membelinya saat masih duduk di bangku SMA.
"Pak jika ada yang tanya, bilang saja. Saya pergi," pesan Akira pada penjaga rumah saat setelah mengantarnya.
"Baik nona, kalau ada apa-apa. Hubungi saya," ujar penjaga rumah Akira.
"Baik pak, terima kasih."
"Sama-sama, saya permisi dulu nona." Pamit penjaga tersebut.
"Silahkan," balas Akira.
Akira memutuskan untuk membersihkan diri, lalu dia akan sarapan di cafe bawah apartemen. Karena di apartemennya, belum tersedia bahan-bahan untuk masak.
"Semoga dengan jauh dari mu, bisa menghilangkan rasa ini." Gumam Akira.
***
Darel sendiri dia sudah mencari Akira kemana pun, namun Akira tak dia temui. Darel jadi uring-uringan, dan menyalahkan Radit.
"Kenapa kamu jadi menyalahkan aku Darel?" protes Radit tak terima di salahkan.
"Karena om gak menyukainya," ketus Darel.
"Sudah-sudah, lebih baik kamu duduk dulu Darel. Uncle ingin bertanya pada mu tentang Akira," tutur Gemy.
Darel pun menurut dia duduk di sisi Feli, yang mengusap lengannya.
"Kamu dan Akira tidak memiliki hubungan apa pun kan?" tanya Gemy.
"Kita teman dekat," balas Darel.
"Aku ingin menikahinya, tapi mommy sulit sekali memberi restu." Ketus Darel menatap Feli.
Gemy pun mengangguk paham.
"Rel kalo aku dan Feli, tak setuju bagaimana?"
"Kenapa uncle ikut campur? Aku gak peduli restu dari uncle, yang aku perlu restu dari mommy dan daddy. Bukan dari uncle Gemy atau om Radit sekali pun," tegas Darel.
"Itu penting bahkan Neni, dan opa Satria harus tau kamu dan Akira. Karena dia akan memasuki keluarga kita Darel."
"Memang kenapa? Akira jelas, dia kaya lalu apa lagi?" pekik Darel, menatap tajam Gemy.
"Oma melati dan opa Mike sudah tahu Akira, dan mereka merestuinya." Kata Darel.
__ADS_1
Gemy dan Darel sama-sama keras kepala.
"Seharusnya daddy yang menentukan, apa Akira pantas untuk ku atau tidak? Bukan uncle," tegas Darel.
"Darel sabar," tegur Feli, namun Yudis pun sudah pergi bekerja setelah sarapan. Jadi tak ada yang menangkan Darel, dan berjanji akan pulang bersama Elena.
"Aku cukup sabar mommy, seharusnya sejak beberapa bulan yang lalu. Aku sudah menikah dengan Akira, tapi demi mommy aku mengundurkan nya. Aku kira saat dia tinggal disini, mommy bisa dekat dengan Akira." Tutur Darel.
"Tapi apa? Tidak!"
Darel menggeleng kemudian dia pun meninggalkan ruang tamu, dengan kekesalan yang membuncah.
"Darel... Darel," panggil Feli, mengikuti langkah sang anak.
"Kamu mau kemana sayang?" tanya Feli.
"Biarkan aku sendiri mom, aku ingin memantapkan siapa orang yang aku cintai. Aku pun ragu antara Sierra atau Akira, tapi jujur hati ku ingin mereka berdua. Aku tahu aku egois," jelas Darel.
"Tapi aku tahu, aku harus memilih di antara mereka!" lanjutnya lagi.
"Mommy akan mendukung mu dengan siapa pun sayang, tapi jangan pergi." Lirih Feli.
"Aku ingin sendiri mom, maaf."
Setelah mengucapkan itu, Darel pun pergi menggunakan mobilnya. Tujuan dia hanya satu, yaitu rumah Akira.
Feli pun menatap kepergian mobil Darel, dia mengirim pesan pada Yudis.
"Darel marah! Dia pergi, aku gak tau dia kemana?" ucap Feli pada pesannya.
"Sudah biarkan saja Darel sendiri, biarkan dia menenangkan hatinya. Dan menentukan pada siapa, hatinya berlabuh. Jangan sampai dia salah langkah seperti aku yang pada akhirnya membuat salah satu kecewa, kamu kasih pengertian Sierra." Papar Yudis pada balasan pesan untuk Feli.
Feli menghembuskan napasnya secara pelan, dia kembali dan menatap semua orang yang sedang saling membisu.
"Sierra bisakah kita bicara berdua?" tanya Feli.
Sebelum Sierra menjawab, Gemy sudah memotong pembicaraan mereka.
"Disini saja Feli, agar kami semua dengar." Kata Gemy.
Feli pun menurut dia duduk kembali ke tempat duduknya.
"Sie, apa kamu mencintai Darel?" tanya Feli lirih.
"A-aku..."
Sierra menunduk tak mampu menjawab, dalam hati pun rasa untuk Darel sudah hilang. Saat dia melihat betapa mesranya Darel dengan Akira.
"Jawab saja sayang gak papa," bisik Rania, Sierra menatap sang ibu dan mengangguk.
"Iya," lirih Sierra pelan.
Dan Feli menarik napas dengan panjang, dan tak mengajukan pertanyaan lagi. Karena dia mendadak pusing.
"Aku istirahat dulu, nanti kita bicara lagi Sierra." Ujar Feli tak segera menjawab.
"Iya tante," balas Sierra.
"Aku istirahat dulu, kalian istirahat lah. Sebelum kita jalan-jalan,"
Feli pun pergi meninggalkan ruang tengah, membuat semua orang menghela napas mereka.
Sementara itu Devara adalah orang yang paling patah hati, dia kalah sebelum berjuang. Tapi siapa yang tahu hati, akan pada siapa berlabuh.
tbc..
Semoga suka 💞
Maaf typo beberapa bab lagi mungkin akan tamat tapi baru niat 🌚
__ADS_1