Still Love You

Still Love You
Part.88


__ADS_3

Kegalauan hati bukan hanya pada Liana dan Justine, tapi juga Feli. Dia tak selalu bisa bersama Yudis setiap saat, jika bukan karena Sarah mungkin dia tak akan bisa setenang ini.


"Nyonya, ini kotak makan siangnya." Ujar Nita pelayan yang bekerja di rumah Feli.


"Makasih mbak," ucap Feli.


Siang ini dia ingin makan siang berdua dengan Yudis, sementara kedua anaknya akan dia titipkan pada mommy Melati. Karena bunda Nia sedang berada di Singapura bersama ayah Satria.


Setelah semuanya siap, Feli pun berangkat terlebih dulu ke sekolah Elena. Dia pun bertemu dengan Rania dan Hana, walau belum akur tapi mereka berdua sudah mau duduk bersama.


Membuat Feli mengulum senyum, membuat Hana menyipitkan matanya.


"Ngapain lo senyum-senyum?" tanya Hana ketus.


"Gak papa, pengen aja sih sebelum senyum itu di larang. Dan senyum itu bagian dari ibadah," kekeh Feli, membuat Hana memutar bola mata malas.


Feli pun bergabung bersama Rania dan Hana, untuk bekal makan siang dia tak perlu khawatir. Karena kotaknya tahan panas.


"Gimana masalah lo sama Dalia?" tanya Feli, selama ini semua sahabatnya tau hanya Hana tak ingin sahabatnya ikut terlibat, selagi dia bisa menyelesaikannya.


"Udah beres, anak itu bukan anak Indra." Cerita Hana.


Feli mengangguk dan Rania pun menyimak saja, mereka mun mengobrol banyak hal. Hana pun mengutarakan maksudnya, untuk mengajak Feli memberikan modal pada usaha baru Indra.


"Tenang aja sih, nanti gue minta Rumi dan Yudis buat ngasih modal di usaha kalian yang baru." Jelas Feli.


"Makasih ya, soalnya kalo berhenti sayang juga. Soalnya udah setengah jalan, sekarang aja sedang di kerjakan Devara sama Indra," ujar Hana.


"Ya pokoknya lo tenang aja," ucap Feli.


Berpuluh menit kemudian, bel pulang sekolah pun berbunyi Elena terlihat di gandeng oleh Kaili dan Lian. Membuat Feli menggelengkan kepalanya.


"Liat anak lo Fel," kekeh Hana.


"Masih kecil, gak usah ngadi-ngadi deh lo Han!"


"Ya siapa tau, lo mau jodohin anak lo sama anak gue atau Rania."


Rania pun tertawa menanggapi ucapan Hana, dan Feli memutar bola mata malas. Pokonya Feli tidak akan menjodohkan anak-anaknya, dengan anak sahabatnya. Walau mereka ingin tapi Feli tak ingin, biarlah mereka yang menentukan cinta mereka sendiri.


"El, kita kerumah oma yah?"


"Iya mommy," balas Elena patuh, dia sibuk dengan ponsel yang di pinjamkan oleh Feli.


"Mommy nanti beliin El, ayam tepung, kentang goreng, sama corndog yah! pinta Elena yang baru ingat, dia ingin makan ayam tepung tanpa nasi.


"Iya nanti mommy beliin," ujar Feli.


Saat di pertengahan jalan, Feli mampir terlebih dulu di restauran cepat saji. Dan tak lupa dia membeli pesanan sang anak, saat dia menunggu tak sengaja matanya menangkap Yudis bersama dengan wanita yang paling dia benci. Siapa lagi kalo bukan Sarah.


"Ngapain mereka?" gumam Feli, Feli terus memperhatikan mereka dari dalam mobil.


Karena Feli memesan makanan melalui drive thru, jadi dia bisa tahu Yudis dan Sarah tanpa terlihat.


"Nyonya ini pesanannya," ucap pelayan.


Feli mengambil pesanannya, dan mengucapkan terima kasih. Kemudian dia melajukan mobilnya menuju rumah mommy Melati. Berpuluh menit kemudian, Feli sudah sampai. Dan langsung turun bersama Elena dan Alana.


"Oma." Pekik Elena, berlari menghambur memeluk mommy Melati.


"Sayang, duh oma kangen!" ucap mommy Melati.


Feli menaruh makanan pesanan Alana di meja makan, dan menaruh juga ASI yang sudah dia perah.

__ADS_1


"Aku mau nitip anak-anak mom, aku mau ke kantor Yudis buat makan siang." Ujar Feli.


"Ya sudah sini, biar mommy jaga mereka."


Mommy Melati mengambil alih Alana, kemudian Feli mengajak Elena untuk ganti baju terlebih dulu.


"Mommy pergi dulu yah, nanti mommy jemput." Ujar Feli pada Elena.


"Iya mom," balas Elena yang sudah asik dengan makanannya.


"Mom aku pergi dulu," pamit Feli mencium punggung tangan mommy Melati.


"Hati-hati nak."


"Iya mom,"


Feli melajukan mobilnya membelah ibu kota, menuju perusahaan Yudis. Kali ini dia berharap Yudis untuk jujur, berpuluh menit kemudian Feli sudah sampai dan langsung naik menuju lantai dimana Yudis berada.


"Nyonya Feli," ucap Reno terkejut.


"Yudia ada?" tanya Feli.


"I-itu tuan Yudis, sedang keluar nyonya." Ucapnya pelan.


Feli hanya menganggu.


"Aku tunggu di dalam," kata Feli, tanpa menunggu jawaban Reno. Feli masuk kedalam ruangan Yudis dan duduk di kursi kebesaran Yudis.


Satu jam berlalu, Feli masih menunggu Yudis bahkan kini waktu menunjukan jam makan siang. Dia lapar, tapi rasa kecewa dan kesal menghilangkan rasa laparnya.


Feli mendengar pintu ruangan Yudis terbuka, dan dia masih setia memunggungi pintu masuk.


"Terima kasih ya ayah," ucap Selin dengan suara riang.


"Sekarang lebih baik kamu pulang Selin," perintah Yudis.


"Baik ayah, kalau gitu aku pulang. Bye,"


Selin mencium pipi Yudis, dan Sarah mengucapkan terima kasih. Walau nada suara Yudis terkesan dingin, tapi Yudis tak menghindar saat Sarah mencium pipinya.


"Sepertinya kamu menikmati sekali, berperan jadi ayahnya Selin dad." Cetus Feli dengan dingin, setelah mendengar pintu tertutup.


Barulah Feli membalikan kursinya, menatap tajam Yudis yang salah tingkah.


"Sa-sayang kamu, sejak kapan di sini?" tanya Yudis gugup.


"Satu jam yang lalu."


"Sayang aku..."


"Sudahlah, tak perlu kamu jelaskan apa pun pada ku. Aku tau semuanya," ujar Feli.


Feli berdiri dari duduknya, kemudian melangkah ingin keluar dari ruangan Yudis. Namun Yudis menahan langkahnya.


"Lepas," desis Feli.


"Sayang dengarkan aku dulu, dengarkan penjelasan ku." Mohon Yudis.


Feli menepis tangan Yudis.


"Sekarang kamu tidak punya pendirian kan? Kamu plin plan, kamu lemah." Pekik Feli.


"Sebagai seorang lelaki kamu lemah gak bisa tegas, kamu menghadirkan celah antara keutuhan rumah tangga kita. Dengan wanita ular itu Yudis," bentak Feli.

__ADS_1


"Feli dengar." Mohon Yudis.


"Dengar apa hah? Mendengarkan kamu membawa anak wanita itu ke resto cepat saji? Lalu memberikan dia hadiah begitu?"


"Feli."


"Aku tahu semuanya dan aku lihat Yudis, sekarang terserah kamu mau bagaimana terhadap Sarah. Aku sudah tidak peduli lagi," marah Feli.


Feli pun melangkahkan kaki keluar dari ruangan Yudis, dan menutup pintu dengan keras.


"Feli aku mohon dengarkan aku." Pinta Yudis, dia mengejar Feli sampai ke parkiran.


Namun Feli tak peduli dengan teriakan Yudis, dia pun pergi membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi. Air mata yang dia tahan akhirnya tumpah juga, dia pun menepikan mobilnya dan menangis tersedu-sedu. Untuk pertama kalinya setelah menikah dia menangis.


Yudis benar-benar khawatir pada Feli, dia membawa mobil dengan cepat. Kebodohannya adalah tidak bisa menolak keinginan Selin, dia tidak tega melihat rengekan Selin dan wajah memelas nya Sarah. Yudis selalu teringat dengan Elena jika melihat Selin.


"Feli maafkan aku," ucap Yudis, mengedarkan pandangannya mencari mobil Feli.


Dia pun memutuskan untuk pulang saja, dan menugaskan Reno untuk memundurkan jadwal rapat yang ada.


"Maaf tuan, nyonya Feli tidak ada di rumah. Dia bilang ingin ke kantor anda dan menitipkan anak-anak ke rumah nyonya Melati," jelas Nita pelayan di rumah Feli.


"Ya sudah terima kasih," balas Yudis.


Yudis pun melajukan mobilnya menuju rumah mommy Melati, saat sampai tak terlihat mobil Feli. Hanya ada Elena yang sedang menggambar di ruang tengah.


"Yudis dimana Feli? Alan nangis dari tadi, dan gak mau di kasih susu." Ujar mommy Melati.


"Aku gak tau mom," jawabnya lirih.


"Gak gau bagaimana? Bukannya di ke kantor mu?" pekik mommy Melati.


"Iya dia datang ke kantor, tapi dia marah dan pergi begitu saja."


Mommy Melati menghembuskan napasnya secara kasar.


"Feli seperti anak kecil, dia kabur setiap ada masalah. Apa dia lupa kalau dia punya anak kecil," omel mommy Melati, yang sesungguhnya di dengar oleh Feli.


"Mom." Tegur Yudis.


"Kenapa? Memang gitu kan? Seandainya kamu gak nikah sama Feli mungkin kamu akan bahagia," ketus mommy Melati.


"Kenapa mommy bicara seperti itu?" tanya Yudis.


"Mommy lebih setuju kamu dengan Sarah Yudis," cetus mommy Melati.


"Mom," desis Yudis.


Tiba-tiba Feli muncul dan langsung mengambil Alana, tanpa banyak kata. Membuat Yudis dan mommy Melati terkejut.


"Aku pulang dulu mom," ucap Feli.


"Elena ayok pulang," ajak Feli tanpa melihat ke arah Yudis dan mommy Melati.


"Baik mommy." Balas Elena.


"Feli tunggu."


Yudis mengejar Feli, yang sudah masuk ke dalam mobil. Yudis pun pergi tanpa berpamitan pada mommy Melati, dan melajukan mobilnya. Mommy Melati menatap sedih mobil anak dan menantunya.


"Maafkan mommy nak," lirih mommy Melati.


Semoga suka 💞

__ADS_1


Maaf typo


__ADS_2