
Seharian Liana bekerja, mulai dari toko, ikut masak sampai dia pun ikut belanja ke pasar. Sampai-sampai dia melupakan makan siangnya dan hari sudah mulai sore, dan jam kerja pun sebentar lagi.
"Huh... Lelahnya,"
Liana membuka ponselnya yang sejak tadi tak dia lihat, sepuluh pesan dari Justine dan Hana. Liana pun membalas pesan Justine dan meminta maaf karena dia sibuk seharian ini, untuk Hana dia pun membalas sebentar lagi akan pulang.
"Aku jemput," balas Justine pada pesannya.
Liana pun membereskan meja kerjanya, dia menatap foto keluarganya dari tahun ke tahun. Dan juga foto pernikahan Indra dan Hana di atas pintu masuk, foto tersebut sangat besar. Tak lupa foto sahabat-sahabatnya.
"Li, kamu mau pulang sekarang?" tanya Rima.
"Iya mbak, aku nunggu jemputan."
"Ohh... Ya sudah, aku duluan. Kalau mau nunggu di cafe saja, cafe buka sampe malam dan karyawannya di shift." Ujar Rima.
"Duluan yah!" lanjutnya lagi.
"Iya mbak," balas Liana.
Liana pun melanjutkan membereskan barang-barang yang akan dia bawa pulang, untuk di pelajari. Setelah rapih dia pun keluar dan menuju cafe, Liana menyipitkan matanya siapa menatap orang yang menunggunya.
"Ka Rumi?" gumam Liana.
Dia pun mendekat dan menepuk pundak Rumi.
"Ka Rumi, sedang apa disini?" tanya Liana, dia pun ikut duduk.
"Aku mau jemput kamu lah, memang mau apa lagi? Kalau mau makan juga ayok," ucap Rumi.
Liana menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Ka Rumi, tapi aku di jemput Justine."
"Batalkan," sahut Rumi.
"Astaga, help me!" batin Liana menjerit.
"Tapi..."
"Liana pulang sama gue," tiba-tiba Justine sudah ada di depan Rumi dan Liana.
"Gue yang duluan ke sini ko, jadi siapa cepat dia datang. Dia yang berhak antar Liana pulang," cetus Rumi.
"Gak bisa! Liana tetap pulang bareng gue, gak ada penolakan. Ayok Li," ajak Justine, dia sudah menarik tangan Liana.
"Heh... Apa-apaan lo,"
Rumi pun menarik tangan Liana, dan jadilah tarik menarik.
"Diam," pekik Liana kesal.
__ADS_1
"Aku gak mau pulang bareng kalian, aku pulang sendiri." Ketus Liana, dia pun menyentak lengan Justine dan Rumi kemudian pergi meninggalkan mereka.
"Besok-besok, gue bawa mobil sendiri." Gerutu Liana.
Rumi dan Justine pun saling menatap tajam.
"Mari kita bersaing secara sehat," celetuk Justine.
"Oke, siapa takut. satu bulan waktu kita satu bulan, buat naklukin hati Liana," ujar Rumi.
"Oke deal." Justine pun menyalami Rumi.
Rumi lebih dulu meninggalkan Bangtan Area, di susul oleh Justine. Dan Liana pun sudah tak ada di halaman parkir.
"Sial gagal lagi," kesal Justine.
****
Seharian Radit tak pergi ke kantor, dia meliburkan diri. Membuat Rania menjadi kesal, karena di ikuti oleh Radit kemana pun dia melangkah.
"Malam ini kita kencan yuk?" ajak Radit.
"Terus Kaili?"
"Sama Sierra lah, dia kan sudah dewasa."
"Gak mau, aku gak mau di titipin Kaili. Aku juga mau keluar," ketus Sierra, dia masih enggan bicara pada Radit. Bicara pun hanya singkat saja.
"Memang kamu mau kemana?" tanya Radit.
"Ya sudah, bawa sekalian adik mu. Di sana dia bisa main sama Elena," kata Radit.
"Gak mau papah," protes Sierra, kemudian dia berlalu meninggalkan kedua orang tuanya.
"Kaili ajak saja," putus Rania.
"Ya sudah deh," pasrah Radit.
Tepat pukul tujuh malam, Radit dan Rania sudah siap mereka sudah rapih. Rania terlihat cantik dengan dress berwarna biru awan, dengan motif bunga. Dan rambut di gerai, sedangkan Radit dia memakai kemeja berwarna hitam, dan jins yang senada.
"Cantiknya," puji Radit, mencium pipi Rania yang bersemu merah.
Membuat Rania mengulum senyum malu.
"Ayok," ajak Radit, Rania pun mengapit lengan Radit dan keluar bersama.
Kaili memutuskan tak ikut, karena dia akan bosan jika tak di bawa ke tempat permainan. Kaili akan ikut bersama Sierra ke rumah Darel.
"Ayok sayang papah antar," ujar Radit pada Sierra dan Kaili.
"Ayok, mamah cantik sekali." Puji Kaili.
__ADS_1
"Makasih sayang,"
"Kalo sama Sierra, pasti nyangkanya bukan ibu dan anak. Pasti adik kakak," kekeh Radit.
"Apaan sih Pah," ketus Sierra, dalam hati dia sangat senang jika mamah dan papahnya tak jadi berpisah. Mereka tetap harmonis.
Sierra memeluk Rania.
"Semoga mamah, bahagia selalu." Bisik Sierra.
Rania mengusap pipi sang anak, dan tersenyum.
"Demi kalian, mamah akan selalu bahagia." Ujar Rania.
"Ayok, nanti keburu malam." Ajak Radit.
Mereka pun pergi ke rumah Feli terlebih dulu, dan setelah itu akan pergi ke mall yang tak jauh dari rumah Feli.
****
Berpuluh menit kemudian Radit sudah sampai di rumah Feli, Radit mengetuk pintu pintu, dan kebetulan Darel yang membuka pintu.
"Om, tante," sapanya. "Ayok masuk," sambungnya kemudian.
Kebetulan sekali di rumah Feli sedang kedatangan mommy Melati, dan daddy Mike. Radit dan Rania pun langsung mencium punggung orang tua Yudis tersebut, di susul oleh Kaili dan Sierra.
"Sehat Dit?" tanya Daddy Mike.
"Sehat Dad, gimana kabar daddy? Makin tampan saja," goda Radit, membuat Feli memutar bola mata malas.
"Sehat dong, daddy harus sehat. Karena si cantik selalu ingin di gendong opah," kekeh daddy Mike.
Radit dan Rania pun mengobrol sebentar, dan menanyakan kabar mommy Melati. Setelah itu Radit dan Rania pun pamit untuk kencan, dan menitipkan Kaili.
"Lo kira, rumah gue tempat penitipan anak apa!" omel Feli.
"Udah deh Fel, bye."
"Dasar Radit," omel Feli.
"Radit benar loh Feli, kamu sama Yudis pun harus menghabiskan waktu berdua. Biar kalian makin harmonis dan lengket," ujar mommy Melati.
"Tapi mom, Alana masih kecil. Aku gak tega ninggalin dia,"
"Alah kamu, Alana sama mommy saja. Kamu tinggal stok ASI yang banyak," usul mommy Melati.
"Ya sudah nanti aku atur untuk liburan," kata Yudis.
"Aku ikut saja," pasrah Feli.
Semoga suka 💞
__ADS_1
Maaf typo
Semoga kalian gak bosen sama Gemy cs 🤧