
...Karena hidup dan mati adalah satu, sama seperti sungai dan laut adalah satu." - Kalil Gibran...
Jenazah Daniel dan Ailee sudah di kebumikan, Akira hanya diam saja dalam pelukan Feli. Dia tak memiliki keluarga lain selain orang tuanya, karena Ailee dan Daniel tak pernah membawa Akira ke keluarganya yang lain.
Di samping Akira ada Darel yang terus setia di sisinya, dan tak pernah meninggalkannya.
"Kamu yang sabar yah! Aku akan selalu ada untuk mu," ujar Darel.
Tepat pukul tiga sore, satu persatu orang yang berada di pemakaman melangkah meninggalkan tempat peristirahatan Ailee dan Daniel.
"Ayok kita pulang!" ajak Darel.
"Kamu duluan aja Rel, aku masih mau disini."
"Akira lebih baik kita pulang dulu, besok kita ke sini lagi." Bujuk Feli.
"Tidak tante, aku mau disini. Tante dan om bisa pulang kasian Alana dan Elena," papar Akira.
Dengan terpaksa Darel pun meminta Feli dan Yudis untuk pulang, dia akan menemani Akira di sini.
Satu jam berlalu Akira hanya duduk, menatap sendu foto kedua orang tuanya. Darel pun sudah merasa khawatir, sebab Akira sudah nampak pucat.
"Akira melupakan obatnya," gumam Darel.
"Ayok pulang! Kamu harus minum obat Ra," pinta Darel.
"Biar aku disini Rel, aku bisa pulang ke rumah ku sendiri. Sekarang mommy dan Daddy tidak akan pernah kembali, dan gak mungkin aku terus di rumah mu." Tutur Akira.
"Tidak Akira, kamu akan tetap di rumah ku apa pun yang terjadi." Tegas Darel.
"Aku sudah janji pada mommy dan daddy mu," lanjutnya lagi.
Akira melirik Darel sekilas, dan menatap kembali foto orang tuanya.
"Aku pulang dulu mom, dad." Katanya dengan lirih.
Akira pun sudah memutuskan untuk hidupnya, dia akan keluar dari rumah Feli. Dia tak mau terlalu banyak merepotkan orang lain, termasuk keluarga Darel.
***
"Sierra, papah gak izinin kamu yah!" omel Radit.
"Papah please, aku udah dewasa." Rengek Sierra.
Kini Sierra sedang mempersiapkan untuk keberangkatannya ke Korea dengan Devara besok, dari mana Radit tahu? Ya jelas dari Indra, Indra dan Radit layaknya soulmate sejati yang susah di pisahkan.
Sierra pun tak bisa marah pada Indra, jika marah Sierra takut Indra membatalkan kepergiaannya.
"Ya udah, kalo papah gak izinin aku. Aku bakal mogok bicara sama papah," ancamnya.
"Orang dimana-mana itu mogok makan, lah ini mogok bicara."
"Biarin," ketus Sierra.
Sierra pun keluar dari kamarnya, dia akan mengadu pada Rania. Sesampainya di lantai satu, Sierra menuju ruang tengah dimana Sierra tengah bersama adiknya Kaili.
"Mamah," rengek Sierra.
"Liat papah nyebelin," kesalnya, menatap Radit yang sudah duduk di samping Rania.
"Aku gak salah kan? Aku gak izinin Sierra pergi, lagian untuk apa dia ke Korea? Kamu mau ngejar Darel?" tebak Radit.
"Bu-bukan, aku cuma mau ketemu aja. Ya sekalian liburan sih!" ujar Sierra mengedikan bahunya, padahal libur kuliah masih lama dan Sierra sudah meminta izin.
__ADS_1
"Sudah-sudah, dari pada kamu khawatir. Lebih baik kita pergi saja sekeluarga," usul Rania, yang sudah lelah mendengarkan perdebatan antara anak dan ayah tersebut.
"Setuju," pekik Radit.
"Mamah," protes Sierra, tak setuju dengan usul Rania.
"Asik," seru Kaili.
"Aku bisa ketemu sama Elena dong pah?" tanya Kaili.
"Iya sayang," sahut Rania.
"Halah itu mah papah aja mau ketemu tante Feli," cibir Sierra.
Radit memutar bola mata malas, dia akan mengurus semua keberangkatannya jalur orang dalam. Agar besok mereka pergi bersama Devara, mau tak mau Sierra pun pasrah pergi bersama keluarganya.
Keesokan harinya, Radit dan sekeluarga bertolak ke Korea bersama Indra, Devara, Hana dan Lian. Membuat Sierra cemberut. Karena dia hanya ingin sendiri.
"Maunya sendiri malah rombongan," kesalnya dalam hati.
Dia menatap Devara yang tersenyum sambil menggaruk rambutnya yang tak gatal, Devara tahu bahwa Sierra pasti kesal.
Di dalam pesawat, Sierra sungguh tak sabar untuk bertemu Darel. Yang bahkan Darel sendiri tak ingat padanya, dia sibuk membujuk Akira untuk tetap di rumahnya.
"Akira," panggil Darel.
"Iya Rel?"
Akira sedang memasukan baju-bajunya ke dalam koper.
"Pikirkan baik-baik Ra, aku gak mau kamu kenapa-kenapa tinggal sendiri di rumah mu!"
Akira menatap wajah tampan Darel, entah kapan cinta itu hadir dia pun tak tahu. Akira tetap pada pendiriannya akan pergi dari rumah Darel. Dia tahu bahwa Feli pun awalnya menolak dirinya, dan juga Akira tidak mau merepotkan keluarga Darel lagi.
Darel pun duduk di sisi ranjang, meminta Akira juga duduk.
"Baiklah kalau itu mau mu, tapi ayok kita kencan." Pinta Darel, membuat Akira terkekeh.
"Ada-ada saja kamu nih, kita kan bakal ketemu lagi Rel. Aku gak akan kemana-mana kok," ujar Sierra.
"Ayo lah, kali ini saja." Pinta Darel, Akira pun mengangguk sebagai jawaban.
Akira harus meneruskan hidupnya walau tanpa kedua orang tuanya, dia memiliki segalanya peninggalan Daniel dan Ailee.
****
Selama kurang lebih tujuh jam, akhirnya Sierra dan yang lainnya sudah tiba di Bandar Udara Internasional Incheon (BUII; Hangul: 인천국제공항) (IATA: ICN, ICAO: RKSI) (Terkadang disebut dengan Bandar Udara Internasional Incheon–Seoul) adalah bandar udara terbesar di Korea Selatan dan merupakan salah satu yang terbesar di Asia.
Mereka tak memesan taxi, karena Devara sudah menyewa mobil travel yang akan membawanya ke Seodaemun-Gu, Seodaemun-Gu sendiri merupakan salah satu distrik yang terkenal di kalangan orang asing sebagai tempat tinggal.
Indra dan Radit pun tak memberitahu pada Feli bahwa mereka akan berkunjung, biarkan itu menjadi kejutan. Untuk Gemy dan Anisa, mereka sedang berada di Singapura jadi mereka tak ikut.
Sierra menatap keluar jendela dia benar-benar tak sabar untuk bertemu dengan Darel.
Berpuluh menit kemudian, mereka sudah sampai di kediaman Yudis. Mereka kagum akan desain rumah Feli dan Yudis.
"Mereka selalu berkelas," kekeh Radit.
"Jelas, mereka kaya dari orok. Gak kaya kita-kita," kekeh Indra.
"Yakin mereka ada di rumah?" tanya Hana.
"Kayanya sih ada, tapi aku gak tau." Kata Indra.
__ADS_1
Mereka pun memutuskan untuk bertanya pada penjaga rumah Feli, bahwa mereka ada di rumah. Indra pun meminta agar Feli atau Yudis keluar rumah, dan si penjaga pun melaksanakan perintah Indra.
Saat mereka menunggu, tiba-tiba mobil Darel datang dan berhenti.
"Sierra," pekik Darel.
"Darel." Sierra menghampiri Darel, dan langsung memeluknya. Semua itu tak lepas dari pandangan Akira, dari dalam mobil yang tersenyum miris.
Dia ingat beberapa jam yang lalu Darel membujuk dirinya untuk tetap berada di sisi lelaki tersebut, namun kini dia seolah lupa dengan janji itu. Tapi Akira pun sadar diri, memangnya siapa dia?
Darel pun melepaskan pelukan Sierra, dan menyalami Radit, Rania, Hana dan Indra. Dan memeluk Devara.
"Ka Liana gak ikut?" tanya Darel.
"Engga, dia lagi ngidam." Kata Hana.
"Wah... Selamat tante, sebentar lagi akan jadi nenek." Kekeh Darel.
"Terima kasih," balas Hana.
"Ayok masuk, mommy pasti senang." Darel pun mengajak mereka semua masuk, dengan menggandeng tangan Sierra dan melupakan mobilnya yang belum masuk. Karena satpam rumah sudah membukakan pintu untuk mereka semua, mungkin pikiran Darel penjaga rumah akan memasukan mobilnya.
"Kamu melupakan aku," lirih Akira, yang melihat semua orang pergi.
"Kamu harus sadar Akira, kamu hanya orang asing bagi Darel." Akira menepuk pipinya, agar sadar diri.
"Aku sendiri, benar-benar sendiri." Isak Akira kemudian, dia lebih memilih melajukan mobil Darel setelah pindah ke balik kemudi.
Penjaga yang melihat itu pun hanya bisa memberitahu Darel, namun Darel terlalu larut dalam pertemuan dengan Sierra. Membuat penjaga tersebut urung memberitahukannya pada Darel.
Feli pun merasa senang akan kedatangan sahabatnya, Lian dan Kaili pun merasa senang bisa melihat kembali Elena. Yang semakin cantik saja di mata dua bocah laki-laki tersebut.
"Ayok duduk, aku akan siapin minuman dan makanan dulu." Ujar Feli antusias.
Darel pun mengajak Sierra ke halaman belakang rumah, dan berbincang menanyakan kabar masing-masing.
"Aku ingin sekali berkenalan dengan teman mu itu Rel," kata Sierra.
"Ohh.. Akira, namanya Akira. Tapi dia dimana yah?"
"Astaga," Darel menepuk keningnya.
"Kenapa Rel?"
"Aku lupa mobil belum masuk, bentar yah! Aku ke depan dulu,"
Sierra pun mengangguk sebagai jawab, dengan langkah lebar. Darel sudah sampai di depan rumah.
"Kemana mobilnya?"
"Pak liat mobil saya?" tanya Darel.
"Mobil tuan sudah di bawa pergi nona Akira," umum penjaga tersebut.
"Astaga Akira."
Darel pun mencoba menghubungi Akira, namun ponselnya tak aktif.
tbc
Semoga suka 💞
Maaf typo, Maafkan ke plin planan Darel yah guys 😩 Jangan pernah bosan
__ADS_1