Still Love You

Still Love You
Part.65


__ADS_3

"Mbak Rima, katanya wanita bernama Dalia mau ke sini? Tapi dari tadi kok gak datang-datang sih!" tanya Liana, menutup pintu ruang kerjanya.


"Aku gak tau sih, biasanya dia selalu datang ke sini tiap hari." Ungkap Rima.


Tiba-tiba salah satu karyawan cafe datang, dan melapor bahwa ada seseorang yang ingin bertemu.


"Siapa? Kenapa gak buat janji dulu sama aku?" cerca Rima.


"Tidak tau mbak," jawab pegawai tersebut.


"Ya sudah kita temui saja," putus Liana, Liana pun turun lebih dulu di susul Rima dan pelayan tadi.


Saat tiba di bawah Liana menatap pria paruhbaya, yang masih tampan di usianya yang tak muda lagi. Bisa di katakan seumuran dengan kakek Satria, ayah sari Feli.


"Selamat siang tuan, ada yang bisa saya bantu?" tanya Liana sopan.


Mahesa pun berdiri, namun Liana menyuruhnya duduk kembali.


"Saya ingin bertemu dengan tuan Indra, nona. Apakah dia ada?"


"Maaf tuan, tuan Indra tidak masuk. Dan di gantikan oleh saya sementara waktu," ujar Liana.


"Baiklah, kalau boleh tau anda siapanya?"


"Saya putrinya, nama saya Liana." Liana pun mengulurkan tangannya, dan di sambut oleh Mahesa.


Sementara Rima, hanya memperhatikan dari jauh.

__ADS_1


"Kamu masih muda."


Liana hanya tersenyum, dan menatap lekat pria di depannya tersebut. Seperti mengenal wajahnya namun dimana, bahkan Liana merasa bahwa wajahnya mirip dengan Justine.


"Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu. Lain kali saya akan kembali lagi, untuk bertemu ayah anda." Papar Mahesa, dia pun berdiri dan menyalami Liana.


Mahesa pun meninggalkan Bangtan Area, Liana menatap kepergian mobil yang di kendarai Mahesa.


"Siapa?" tanya Rima.


"Gak tau, gak kenal juga. Katanya mau ketemu Papah,"


"Tapi wajahnya kaya familiar gitu," kata Liana menatap Rima.


"Sudahlah, ayok ke atas." Ajak Rima, di jawab anggukan Liana.


****


"Dalia, kamu kau kemana?" tanya Arumi, dia menatap sang anak yang sudah rapih.


"Aku mau keluar bu, aku bosan." Rengek Dalia.


"Nanti ayah mu marah Dalia,"


"Bu, aku mohon."


"Baiklah, tapi kamu pulang sebelum ayah mu datang." Ujar Arumi.

__ADS_1


"Oke," jawabnya antusias.


Arumi pun mengambil uang sebanyak sepulu lembar, dan memberikan kunci mobil dirinya. Membuat Dalia senang, ibunya yang selalu mengerti dirinya.


"Makasih bu," ucapnya mencium pipi Arumi.


"Ya, tapi jangan lupa pesan ibu."


"Iya bu,"


Arumi pun mengehela napas secara kasar, dia pun tak tega melihat Dalia selalu merengek ingin keluar, tapi dia pun tak berani membantah Mahesa. Arumi takut Mahesa meninggalkannya, setelah Dalia lahir Arumi tidak bisa memberikan Mahesa anak.


"Akhirnya aku bebas juga, rencana pertama. Aku akan mencari tahu dimana rumah Indra, astaga satu minggu tak melihatnya. Sungguh sangat menyiksa," keluh Dalia tak tau diri.


Dia tak peduli, jika mengikuti jejak sang ibu. Namun sungguh dia telah jatuh pada pesona Indra, sedangkan Sam dia masih memantau Justine di sebrang gedung Wijaya.


Justine sendiri dia sedang menatap kosong tempat biasa Liana duduki, ada perasaan takut jika Liana tahu bahwa yang merusak hubungan orang tuanya adalah kakaknya sendiri.


"Apa aku harus menyerah?"


Justine pun menghembuskan napasnya secara kasar, dia memejamkan matanya sejenak. Nanti dia akan pulang lebih dulu untuk menjemput Liana, sebelum Rumi datang terlebih dulu.


"Jatuh cinta, ternyata serumit ini." Gumamnya memejamkan mata.


Semoga suka 💞


Maaf typo

__ADS_1


__ADS_2