
Sebuah tractor yang berhenti di jalan dan terlihat orang yang didalam mobil melambaikan tangan.
"Siapa?" Han Jiaye yang berada di kursi penumpang bertanya pada Wei Mozun.
"orang yang perbaiki tractor tadi." Jelas Wei Mozun kepada Kaptennya. Hari ini dia mengantar kapten ke kampung halamannya tapi tractor yang dia pinjam malah mogok kapten yang tau daerah sini mencari orang yang bisa memperbaiki dia disuruh menunggu kaptennya kembali membawa montir.
Dia gelisah menunggu kaptennya yang pergi dengan perasaan tidak enak seharusnya dia yang mencari tapi karena kapten tidak ingin dia tersesat jadi kapten lah yang mencarinya. Beruntungnya Shen Yan datang dan memperbaiki tractor dengan baik. Karena ketika kapten kembali dia tidak membawa montir yang memperbaiki tractor jadi mereka bisa pergi. Dia sangat berterimakasih kepada Shen Yan.
"Terimakasih telah perbaiki traktornya tadi." Wei Mozun tersenyum cerah.
"Iya, tidak apa-apa." Shen Yan menggeleng kan kepalanya berkata tidak apa-apa.
"bawaan kalian banyak sekali. bagaimana kalian akan membawanya?" Wei Mozun melihat barang bawaannya mereka bawa.
"Iya. Kami menyewa gerobak sapi." Beritahu Shen Yan.
"Nona Jiang?" Han Jiaye yang ingin melihat orang yang memperbaiki tractor dan berterimakasih terkejut melihat Jiang Yi dan Bai Qiao.
"Tuan Han!" Jiang Yi juga terkejut melihat Han Jiaye.
"Kapten, kamu kenal?"
Wei Mozun yang mendengar ucapan Han Jiaye.
"AH, ini gadis yang aku tolong tadi."
"Oh begitu."
"Tuan Han kenapa disini?" tanya Jiang Yi.
"Aku akan pulang."
"Oh? Desa apa?"
"Desa Han. Kenapa kamu belum pulang?" giliran Han Jiaye yang bertanya.
"Aku baru saja mengambil kiriman dari orang tuaku di kantor pos. Wah desa Tuan han dekat desa Zhaojia."
"Zhaojia?"
"aku jadi pemuda pelajar di desa zhaojia" Ucap Jiang Yi.
Han Jiaye menganggukkan kepalanya mengerti. Desa zhaojia memang tetangga desa Han dan lagi di desa zhaojia ada tunangannya.
"PELAJAR LI!" seruan dari paman He dari arah berlawanan mobil menginterupsi obrolan mereka.
Zhao He baru saja akan ke tempat yang dijanjikan dia akan menjemput pemuda pelajar tapi malah berpapasan. Dia langsung memutar arah dan memarkirkan di belakang traktor
"Jemputan kami telah datang. Kalo begitu kami permisi dulu." Shen Yan berpamitan diikuti oleh yang lain.
"Wah, barang kalian banyak sekali."
Wei Mozun melihat rombongan Shen Yan yang menata barang yang mereka bawa di gerobak.
"Kapten bagaimana jika kita mengantar mereka? sepertinya dekat dengan desa kapten." bisik Wei Mozun kepada Han Jiaye. Tidak tega melihat orang yang membantunya berdesakan dengan barang-barang.
"Ya. Sepertinya mereka butuh bantuan. Kamu pergi tawari mereka." Ucap Han Jiaye.
Wei Mozun yang telah diperintahkan langsung turun dari tractor dan pergi ke tempat Shen Yan.
"Sempitnya." Keluh Bai Qiao.
"Tahan saja." -Ruan Miao.
"Permisi." Sapa Wei Mozun.
"Teman Wei ada apa?" Xu Mo bertanya kepada Wei Mozun yang menghampiri mereka.
__ADS_1
"begini, kaptenku ingin membantu kalian membawa barang bawaan kalian sampai gerbang desa zhaojia sebagai tanda terima kasih telah membantu kami." Tawar Wei Mozun.
"Ya, kalian terima saja tawarannya. Sapiku tidak akan bisa menarik kalian jika muatannya terlalu banyak." Zhao He langsung berkata. Karena sapinya telah bekerja bolak balik untuk antar jemput penumpang pasti tenaganya terkuras ditambah barang bawaan yang mereka bawa. Dia tidak yakin sapinya mampu menarik gerobak.
Li Feng tersenyum canggung. Awalnya dia ingin menolak tapi karena paman he bilang begitu dia tidak bisa berkata apa-apa.
"Kalau begitu kami berterimakasih." Ucap Li Feng dengan lemah.
"A-nu, teman Wei, apa boleh anak perempuan juga ikut ke tractor?" Li Feng bertanya setelah merapikan barang ke tractor.
"iya tentu saja." Wei Mozun setuju.
"Ruan Miao, kamu dan anak perempuan yang lain naik tractor. Biar kami yang naik gerobak." Li Feng memberitahu Ruan Miao.
"Apa tuan wei setuju? Apa tidak merepotkan? Ucap Ruan Miao pelan.
"tuan wei telah setuju. Kamu cepat naik keburu sore."
"Tuan wei terimakasih mau membantu kami." Shen Yan mengucapkan terimakasih kepada Wei Mozun yang hendak naik ke kursi supir.
"tidak. aku hanya mengikuti perintah kaptenku. Dan lagi kamu juga membantuku aku sangat berterimakasih. Jika bukan karena kamu mungkin kapten akan pergi ke kampung halamannya sendiri tanpaku." Wei Mozun menepuk bahu Shen Yan.
"Ah begitu."
"sudah cepat naik gerobak mu. Sepertinya yang menjemputmu telah siap."
Setelah mendengar itu Shen Yan berpamitan dan pergi untuk duduk kembali ke gerobak.
Tractor yang ada di depan mereka juga telah pergi lebih dulu.
***
Perjalanan pulang terasa singkat, mereka telah tiba di asrama pemuda pelajar. Wei Mozun dan Han Jiaye mengantar brang mereka hanya sampai gerbang desa. Mereka harus jalan kaki ke asrama bersama ketika pemuda pelajar laki-laki telah sampai gerbang desa juga.
Shen Yan yang telah makan malam telah kembali ke kamarnya untuk membuka paket yang dikirim. Xu Mo juga mengikuti dibelakang. Mereka tidak bisa langsung membuka paket karena mereka harus memasak terlebih dahulu.
Shen Yan yang di dekati merasa rishi dan menyingkirkan Xu Mo menjauh darinya. "Menjauh Lah."
Xu Mo yang dijauhkan cemberut dan membuka yang di terimanya.
Shen Yan membuka paketnya, melihat beberapa barang didalamnya seperti selimut, makanan kering, susu bubuk, permen, amplop dan hal lain.. Shen Yan mengambil amplop dan membukanya yang berisi surat, uang 50 Yuan serta beberapa tiket.
Ada tiga surat yang dia terima. Dia mengambil salah satu surat dan membacanya. Surat itu dari kakeknya, dalam surat kakeknya menanyakan kabarnya, serta memberitahunya untuk tidak khawatir dengan yang ada di kota. Kakek juga menulis agar dirinya tidak melakukan hal-hal yang tidak perlu selama menjadi pemuda pelajar dan menunggu untuk kembali ke kota.
"Kak Yan apa yang ditulis disurat?" Xu Mo memakan permen milik Shen Yan yang tergeletak di kasur. Dia telah membuka paketnya tidak sebanyak Shen Yan tapi itu cukup untuk satu bulan selama disini.
Shen Yan menjawab dengan gumaman tidak menjawab pertanyaan Xu Mo.
Xu Mo didiamkan mencoba mengintip surat tapi kepalanya dijauhkan oleh tangan Shen Yan. Xu Mo hanya bisa berbaring di kasur saja sambil memperhatikan Shen Yan.
Dua surat yang diterima Shen Yan juga berisi hal sama, dari ayahnya sedangkan satunya dari ibunya. surat yang ditulis ibunya cukup panjang jadi dia perlu waktu untuk membacanya.
Tok Tok
Suara ketukan menghentikan Shen Yan membaca.
Xu Mo beranjak dari tempat tidur dan membuka pintu melihat orang yang berada diluar.
Li Feng yang berada di luar membuka pintu setelah mendengar jawaban dari dalam.
"Apa aku mengganggu?" tanya Li Feng melihat sepertinya dia datang tidak tepat waktu.
"Tidak, pelajar Li. Ada apa?" Xu Mo menyangkal pertanyaan Li Feng.
"Oh, begitu. Begini ada yang ingin aku diskusikan dengan kalian. Boleh aku masuk?" Jelas Li Feng.
Xu Mo menggeserkan tubuhnya memberi jalan untuk Li Feng masuk kamar. "Tentu."
__ADS_1
Li Feng yang mendapatkan persetujuan melangkah masuk kamar dan mengucapkan terimakasih.
Shen Yan merapikan barang-barang yang berserakan agar tempat menjadi lebih luas dan rapi. Dia juga mengelar tikar di lantai dan mempersilahkan Li Feng untuk duduk.
Mereka bertiga berkumpul dilantai.
"Pelajar Li ada apa?"Tanya Shen Yan.
Li Feng menaruh barang-barang yang dia bawa di lantai. Barang yang dia bawa berupa buku-buku.
Shen Yan dan Xu Mo bingung dengan barang yang ditaruh Li Feng ini.
"Aku ingin mengajak kalian membuka pabrik di sini." Li Feng berucap dengan nada tegas.
Shen Yan mengangkat alisnya.
"Pabrik? Pabrik apa?" tanya Xu Mo bingung.
"Kalian tau, kita pergi ke desa untuk memajukan desa. Karena itu aku ingin mengajak kalian untuk membuka pabrik."
"Ah, begitu. Tapi kenapa pelajar li tidak membuka pabrik sebelum kami datang?" ucap Xu Mo bingung. Pasalnya Li Feng datang ke desa lebih dulu dari mereka tentu Li Feng bisa membuka pabrik terlebih dahulu.
"Aku pernah mengajukan kepada kapten tapi ditolak." Jawab Li Feng dengan malu.
"HAH? Kenapa?"-Xu Mo
Li Feng tersenyum canggung dan mulai menjelaskan. "Saat aku mengajukan proposal, kapten zhao bilang anggaran desa hanya sedikit untuk membuka pabrik di anggaran yang aku tulis terlalu tinggi."
"Tapi jika mengajukan lagi apa bisa diterima." Xu Mo yang mendengar penjelasan dia jadi ragu kalau mereka mengajukan pembuatan pabrik, apa kapten zhao menyetujuinya.
"sebelumnya kamu mengajukan pabrik apa?" tanya Shen Yan sambil mengambil salah satu barang yang dibawa Li Feng dan membacanya. Yang dia ambil mungkin bekas proposal yang pernah diajukan Li Feng.
"Pabrik tahu. Ini proposal yang pernah aku ajukan." Li Feng memberitahukan pabrik apa yang dia ajukan dan tunjuk pada buku yang dipegang Shen Yan proposal yang pernah dia ajukan.
Xu Mo juga menghampiri Shen Yan ingin ikut membaca proposal.
Shen Yan membaca dengan serius. Dia pernah membantu ayahnya menangani dokumen jadi dia tidak asing dengan ini.
"Proposal yang pelajar Li tulis terlalu banyak hal yang tidak perlu. Misalnya anggaran mesin penggiling. Kita bisa membuat mesin penggiling menggunakan tenaga manusia. Meskipiun memakai mesin itu lebih baik tapi modal yang dikeluarkan tentu lebih banyak. Dan banyak tulisan yang tidak perlu dipropasal pembaca akan bosan." Shen Yan menjelaskan semua kesalahan yang ada di proposal.
Li Feng mematung dengan segala ucapan Shen Yan
"Jika aku jadi klien aku juga akan menolak proposal ini." Xu Mo yang mendengar penjelasan Shen Yan dia berkata.
"Begitu." Li Feng kehilangan semangat.
"Tapi yang ditulis proposal ada benarnya. Desa zhaojia memiliki tanah yang subur jika memanfaatnya dengan maksimal kita dapat untung yang banyak." Tambah Shen Yan.
Li Feng yang mendengar itu kembali semangat. "Benarkan? Jadi kalian ingin Kerjasama denganku."
"Kenapa kami? Pelajar li bisa saja ajak yang lain." tanya Shen Yan.
Xu Mo juga menganggukkan kepalanya setuju dengan yang diucapkan Shen Yan.
"Karena hanya kalian yang bisa di ajak Kerjasama. Pemuda pelajar yang lain tidak terlalu bisa diajak Kerjasama."
Xu Mo memikirkan perilaku pemuda pelajar yang lain dan dia harus sepemikiran dengan yang Li Feng bilang. Xu Mo memandang Shen Yan ingin tau pemikirannya.
Shen Yan berpikir sejenak. "Baik. Sepertinya bisa dicoba."
"Syukurlah." Li Feng gembira dengan Shen Yan yang mau bekerja sama dengannya.
Xu Mo juga senang dengan hal itu.
"Ayo kita diskusi dulu." Shen Yan mengajak mereka berdiskusi
Malam itu mereka bertiga berdiskusi panjang untuk pembuatan pabrik.
__ADS_1