
Pagi harinya Liana masih asik bersembunyi di balik selimut, walau Hana sudah bulak balik mengetuk pintu kamar sang anak.
"Anak itu, ini sudah jam setengah enam," omel Hana.
Hana masuk ke dalam kamar Lian, dia melihat sang anak sudah bangun dan membereskan tempat tidur.
"Pintarnya anak mommy," puji Hana.
"Iya dong Lian gitu," kekehnya.
"Cepat mandi, mommy mau siapin sarapan dulu."
"Siap mom,"
Diantara semua anaknya, hanya Lian yang menurut. Tidak tahu kalau dia dewasa nanti apa akan susah seperti kedua kakaknya?
Setelah memastikan Devara bangun, Hana menuju kamarnya dimana Indra sedang memasang kemeja berwarna putih.
"Anak-anak udah bangun?" tanya Indra yang sedang mengancingkan kemejanya, lalu Hana mengambil alih membantu sang suami.
"Dua sudah bangun, putri mu yang belum. Dia jadi anak gadis gak ada rajinnya bangun pagi yah!" omel Hana, membuat Indra tertawa.
"Bukannya kamu dulu saat masih gadis gitu yah?" tanya Indra, membuat Hana mencubit perut Indra.
"Engga yah, aku gitu kalo abis nonton drakor atau engga curhat sama Feli," ujar Hana.
"Hari ini kan, hari pertama Liana magang sayang. Seenggaknya jangan sampai dia telat ke kantor, perusahaan Wijaya kan lumayan dari rumah kita," kata Hana.
"Wijaya?" gumam Indra. "Itu bukannya perusahaan milik Mahesa Wijaya yah? Yang anaknya teman Rumi sama Keanu!"
"Iya kali, aku gak tau," Hana mengedikan bahunya, setelah selesai memasang dasi untuk Indra Hana membawa tas dan jas Indra ke bawah.
"Kamu bangunin anak mu sana," titah Hana.
"Iya."
Indra menuju kamar Liana, yang terhalang satu kamar. Dia mengetuk pintu kamar, dan di buka oleh Liana.
"Papah," ucapnya terkejut.
"Baru bangun?" tanyanya menggelengkan kepala.
"Iya," Liana terkekeh.
"Cepat siap-siap, perusahaan Wijaya jauh dari rumah. Kenapa kamu gak ikut magang di tempat uncle Radit atau uncle Gemy?" tanya Indra masuk ke kamar sang anak, setelah Liana mengizinkannya masuk.
Saat pertama masuk ke kamar anak gadisnya, Indra di buat takjub sebab Liana anak yang rapih dan kamarnya selalu wangi. Kamar tersebut hasil dekorasi Liana sendiri, poster-poster idol K-pop dan pernak-perniknya tersusun rapih di tempat khusus.
"Pengen cari suasana baru aja, lagian aku bosen ketemu uncel-uncle itu terus." Ujar Liana tertawa.
"Kamu nih, ayok cepat mandi. Biar papah antar."
"Gak perlu pah," tolak Liana cepat.
"Gak ada bantahan sayang," ucap Indra tegas. "Papah tunggu di bawah," sambung Indra, keluar dari kamar sang anak.
Liana menghembuskan nafasnya secara pelan, dia memutuskan untuk mandi agar tak telat. Beberapa menit kemudian, Liana turun ke lantai bawah menuju ruang makan. Sudah ada Devara dan Lian yang sudah rapih, papahnya yang sedang membaca berita online tak lupa sang mommy yang sedang menata makanan di meja di bantu asisten rumah tangga.
"Ayok sarapan, nona manis sudah turun," sindir Hana.
Membuat Liana cemberut.
"Mommy."
Mereka pun sarapan dengan nasi goreng seafood kesukaan mereka semua, tak lupa juga Hana menyiapkan makan siang untuk semua keluarganya. Sebab mereka tak pernah makan di luar.
"Kami pamit mom," ucap Devara dan Lian.
"Iya hati-hati," balas Hana.
"Kita juga pamit sayang, kamu hari ini mau ke toko bunga?" tanya Indra memakai jasnya di bantu Hana.
"Iya, habis itu ke rumah Feli." Kata Hana, dan Indra mengangguk saja.
Indra mencium kening Hana, dan Hana mencium punggung tangan Indra. Biasanya mereka selalu berciuman, tapi ada Liana di depannya.
"Liana papah tunggu di mobil."
"Iya pah," balas Liana.
Liana selalu melihat kemesraan papah dan mommy-nya, dari mereka kecil sampai sekarang tak pernah Indra berbuat kasar. Jika marah pun hanya sebentar lalu baikan, ahh Liana pun ingin suami seperti papahnya.
"Anak gadis, malah melamun." Tegur Hana.
__ADS_1
"Maaf mom, aku sudah selesai." Ucap Liana, Liana mencium Hana setelah menerima kotak makan siang.
*****
Sementara itu Justine sudah sampai lima menit yang lalu, dia tidak sabar untuk bertemu Liana si gadis cerewet. Justine menatap bangunan dari atas lantai sepuluh, walau masih pukul tujuh tapi matahari sudah bersinar terang.
Tok!
Tok!
"Masuk."
"Pak Justine, pak Mahesa ingin bertemu dengan anda." Ucap sekretaris Mahesa.
"Nanti setelah jam istirahat akan saya temui," putus Justine, sudah sekian kali ayahnya tersebut menyuruhnya ke ruangan Mahesa. Namun Justine enggan ke sana.
"Baik pak," pasrah sekretaris bernama Tina.
"Duh sama-sama, gak mau ngalah susah amat," omel Tina.
"Permisi, ruangan pak Vano sebelah mana ya?" tanya Liana, saat keluar dari lift dan ketemu Tina.
"Sebelah kiri," jawabnya singkat, kemudian masuk meninggalkan lantai sepuluh.
"Dih... Dasar judes," omel Liana.
Liana berjalan ke arah kiri, yang kebetulan ruangan Vano bersebelahan dengan ruangan Justine. Liana mengetuk pintu ruangan Vano, dan menyuruhnya masuk.
"Saya Liana pak Vano," ucap Liana.
"Ohh... Ikut saya," ajaknya keluar dari ruangan.
Justine memerintahkan Vano, jika Liana datang langsung bawa ke ruangannya. Vano mengetuk pintu ruangan Justine, setelah mendapat balasan dia pun masuk.
"Pak mahasiswi magang sudah datang," beritahu Vano, Justine masih membelakangi mereka.
"Baiklah, tinggalkan saja dia di sini."
"Baik pak, kamu disini Liana. Saya permisi," pamit Vano.
Setelah Vano keluar, Justine membalikan badan dan tersenyum pada Liana yang membulatkan kedua matanya.
"Kamu," pekik Liana.
"Aku gak mau," tolak Liana.
"Ya sudah kalau gak mau tidak apa-apa, aku akan pastikan tidak ada yang mau menerima mu magang," ancam Justine, membuat Liana berdecak kesal dan terpaksa dia duduk di meja khusus untuk dirinya saja.
"Sabar cuma enam bulan ini kok," gumam Liana.
"Masa magang di perusahaan ini, satu tahun." Celetuk Justine.
"Apa? Satu tahun? Gak salah?"
"Tidak, sekarang kerjakan pekerjaan mu. Dan pelajari lebih dulu," perintah Justine.
Dengan setengah hati, Liana mempelajari terlebih dulu yang akan dia kerjakan.
*****
Sementara itu Hana yang sudah sampai di rumah Feli, setelah dari toko.
"Feli," pekik Hana. "Hai cantik, tante kangen loh. Kamu kaya orang Chinese sih nak. Mes tau," ucap Hana mencubit pelan bayi berumur tiga bulan tersebut.
Alana merentangkan tangan minta di gendong, membuat Feli tertawa.
"Kamu mau sama tante yah? Sini... Sini,"
Feli memberikan Alana pada Hana.
"Huh... Berat banget Alana, BB dia naik kemarin pas datang ke posyandu." Kata Feli.
"Ayok Han, duduk." Ajak Feli membawa Hana ke taman.
"Wah... Taman bunga lo, keren Fel. Gue suka banget bunga mawar juga berbagai warna," ucap Hana.
"Semenjak hamil Alana, sampai sekarang gue jadi suka mawar Han. Malah pernah gue makan tuh mawar putih sama merah," kekeh Feli.
"Mom," panggil Darel.
"Rel kamu gak sekolah?" tanya Hana.
"Ehh tante, sekolah cuma masuk siang aja tan." Ujar Darel mencium punggung tangan Hana.
__ADS_1
Seketika Alana tersenyum senang saat melihat sang kakak, alhasil Darel menggendong Alana dan membawanya ke kamar.
"Darel kasih dia susu ya, sudah mommy siapin di botol dekat meja makan," kata Feli, Feli selalu memerah ASI-nya jika sewaktu-waktu dia ada keperluan yang harus tak membawa Alana.
"Siap mom, kamu sama kakak. Biarkan mommy berbincang sama tante Hana." Bisiknya mencium sang adik.
"Anak lo Fel, udah mau lulus sekolah aja. Badannya juga atletis banget untuk seusianya."
"Iya dia rajin olahraga sama Yudis, betewe Liana sama Devara magang yah hari ini?"
"Iya si Liana malah milih di Wijaya, bukannya ikut sama Radit, Gemy atau Yudis kek."
"Udahlah itu hak anak-anak kita, yang penting kita dukung aja apa maunya." Ujar Feli, di jawab anggukan oleh Hana.
Mereka pun berbincang mengenang saat remaja, dan saat mereka bekerja. Lalu saat mereka menikah, dan merencanakan untuk berkumpul di rumah Gemy dan Anisa.
"Bawa anak-anak, biar seru." Kekeh Feli.
"Siap," balas Hana tertawa juga.
*****
Perusahaan Wijaya, Liana dengan wajah murungnya sangat kentara. Membuat Justine menahan senyum saat meliriknya sekilas.
"Kenapa kerjaan banyak banget, ish... Nyebelin Tuhan, tau gini lebih baik ikut sama Rumi." Kesal Liana.
"Sebentar lagi makan siang, jangan lupa pesankan saya makan." Perintah Justin, biasanya Indira akan mengirimnya makan siang. Tapi untuk kali ini dia ingin Liana yang memesankan, jadi melarang Indira mengirim.
"Baik pak," jawabnya ketus.
Liana dan Justine pun melakukan pekerjaannya kembali, satu jam kemudian. Jam makan siang Liana dengan segera memesan makanan untuk Justine, dia memesan nasi bakar cumi dan susi. Dan Justine menyuruh Liana memesan di resto depan kantor Wijaya.
"Dasar bos sialan, awas aja kalo ngerjain gue. Untung kotak makan dari rumah gue bawa," ocehnya sepanjang perjalanan menuju resto.
"Tunggu memang di sini ada susi? Ahh... Bodo amat," Liana pun memesan sesuai permintaan Justine.
Sambil menunggu masakan matang, Liana memakan bekal pemberian Hana. Sederhana tapi nikmat, mommynya pandai masak dan selalu buat dirinya nambah.
Tak membutuhkan waktu lama, pesanan Liana pun sudah siap. Dia membayar dan melihat isinya.
"Ternyata beneran ada susi, kirain si pak es bohong."
Liana pun bergegas menuju ruangan Justine yang tengah menunggu, saat masuk ke dalam lift. Seorang gadis muda dan cantik juga ikut masuk, Liana menelisik tampilan gadis tersebut dia taksir di atas pak esnya Justine.
Liana tersenyum pada gadis tersebut, tapi gadis tersebut hanya memasang wajah datarnya.
"Heh... Sombong banget nih cewek, minta di acak-acak kali." Batin Liana.
Beberapa menit kemudian, mereka sudah sampai di lantai yang sama. Liana hanya mengekor langkah gadis tersebut.
"Kenapa lam..."
Justine tak melanjutkan kata-katanya saat tahu siapa yang datang.
"Kenapa kamu di sini?"
"Aku hanya ingin bertemu dengan adik ku," balasnya dingin.
Justine menatap sang kakak anak dari Arumi dengan tajam.
"Tapi aku tidak ingin bertemu dengan mu, Dalia." Tekan Justine. "Keluar." Usirnya.
Dalia menatap tajam Justine, entah kenapa mereka menjadi musuh. Padahal dulu Justine dan Dalia saling menyayangi, Dalia melangkah melewati Liana dengan sengaja menabrak bahunya. Membuatnya hampir limbung.
"Kurang ajar," desisnya.
"Dalia," bentak Justine berteriak.
"Kenapa? Marah? Memang siapa dia?" tanya Dalia.
"Dia sekretaris ku, jangan pernah mengganggunya atau kamu tau akibatnya." Justine menatap tak kalah tajam Dalia, dan memberikan peringatan untuknya. Justine sedikit tahu karakter Dalia yang selalu mendapatkan apa yang dia mau, termasuk kasih sayang Mahesa dan neneknya ibu dari Mahesa.
"Dasar anak magang, caper."
Liana menghembuskan nafasnya secara pelan, mengapa dirinya jadi terlibat perseteruan adik kakak tersebut. Dengan kasar Liana menaruh pesanan Justine, kemudian keluar menuju pantry untuk membuat kopi dingin, yang mampu mendinginkan kepalanya yang pening.
"Baru juga setengah hari, astaga." Desahnya memijit pelipisnya yang terasa berdeyut.
Semoga Suka 💞
tbc
Maaf typo🙏
__ADS_1