
Dua hari terlewati begitu saja, hari minggu pun tiba rencana untuk kumpul keluarga yang sudah di rencanakan oleh Feli dan Hana. Di rumah Anisa, tentang pesan dan foto yang meneror Hana sudah Hana lupakan, dan akan berpikir baik pada Indra karena dia percaya Indra tak akan melakukan hal tersebut
"Liana kamu mau ke rumah, tante Anisa apa engga?" tanya Hana, mengetuk pintu kamar Liana.
Pintu pun terbuka, menampilkan Liana dengan piyama tidur dan rambut acak-acakan. Membuat Hana menggelengkan kepala.
"Anak gadis ko acak-acakan sih," omel Hana
"Nanti aku nyusul aja mom," kata Liana.
"Ya sudah, kalau gitu. Mommy, papah sama adik mu berangkat duluan. Kamu berangkat bareng Deva yah," ujar Hana.
"Iya."
****
Sementara itu di rumah Anisa, sudah mulai sibuk dengan cemilan dan hidangan untuk semua sahabatnya. Anisa memasak sendiri di temani oleh dua asisten rumah tangganya, sedangkan cemilan sebagian dia beli.
"Wah.. Pagi-pagi, udah banyak makanan. Ada acara apa bun?" tanya Keanu yang baru pulang joging.
"Biasalah kumpul sahabat, anak-anak mereka juga ikut semua. Jadi masaknya rada banyak mumpung semuanya libur juga," ujar Anisa.
Keanu pun mengangguk sebagai jawaban, dia pamit pada Anisa untuk ke kamar. Saat menaiki tangga dia memiliki ide, dia mengirim pesan pada Justine. Bahwa di rumahnya akan ada kumpul keluarga sahabat bundanya.
"Lalu hubungannya sama gue apa?" tanya Justine membalas pesan Keanu.
"Ya kali, lo mau ketemu sama si sweet corn kesayangan lo itu." Ledek Keanu.
Ya Keanu tahu, bahwa Justine menyukai Liana diam-diam. Sudah lama sebelum pertemuan mereka di bioskop tempo hari.
"Sekalian ketemu, camer." Lanjutnya lagi dengan emot tertawa.
"Rese lo, gue gak suka sama Liana. Dia itu terlalu cerewet dan bukan tipe gue," bohong Justine, padahal Liana adalah wanita idamannya.
"Serah lo lah, lo tahu uncle Rumi adiknya tante Feli dia juga suka sama Liana. Ya itu gengsi buat ngakui cinta." Kata Keanu sedikit memanasi.
Setelah mengetikan pesan tersebut, tanpa tahu Justine membalas atau tidak. Keanu meletakan ponselnya dan masuk ke kamar mandi. Dia tak peduli dengan dering ponsel yang siapa lagi pelakunya kalau bukan Justine.
"Kan pasti penasaran," kata Keanu dengan tertawa puas, di balik pintu kamar mandi.
"Selamat berjuang bro," gumamnya.
****
Di apartemen Justine yang menatap layar ponsel, pun memikirkan perkataan Justine bahwa Rumi juga menyukai Liana.
"Masa sih? Gue gak percaya, secara si Rumi sama kaya gue. Jutek sama cewek, tapi kalau itu benar maka dia jadi saingan gue."
Justine pun bersiap-siap menuju rumah Keanu, dia akan memantau Liana dan Rumi.
"Kamu mau kemana?" tanya Indira.
"Ke rumah teman bu," balas Justine.
__ADS_1
"Hati-hati." Teriak Indira, setelah pintu tertutup.
Justine melajukan mobilnya membelah jalanan ibu kota, perkataan Keanu terus membuatnya kepikiran. Entah mengapa, jalan menuju rumah Keanu terasa sangat lama. Padahal perjalananya tak memakan waktu lama.
"Astaga lama sekali," gerutunya kesal.
***
Di rumah Anisa, semua orang sudah kumpul termasuk Rumi yang tiba-tiba saja ingin ikut nimbrung bersama sahabat kakaknya tersebut.
"Uncle apa kabar?" sapa Darel, memeluk Rumi walau adik dari ibunya Rumi dan Darel jarang bertemu. Karena kesibukannya mengurus perusahaan dan bisnis lainnya milik sang bunda.
"Baik," balasnya datar.
"Ya ampun Rum, kamu masih aja datar tuh ekspresi." Kekeh Hana, sudah kembali seperti biasa.
Rumi hanya memutar bola mata malas, dia hanya duduk dan memainkan ponselnya. Melihat pasar saham Dunia. Ucapan salam terdengar memenuhi pendengaran Rumi, dia mengalihkan perhatiannya dari ponsel ke sumber suara.
Liana datang bersama Devara, dengan membawa satu kotak pizza ukuran jumbo dan kue brownies.
"Tante," sapanya pada Anisa, dan memberikan makanan tersebut pada tuan rumah.
Devara pun melakukan hal yang sama, dan menyalami para sahabat Hana yang lain. Dia pun ikut duduk dekat Rumi dan Darel yang menggoda Alana.
"Mana anak-anak tan?" tanya Liana pada Anisa.
"Di tempat bermain, sama Shela." Sahut Keanu, yang datang dari ruang bermain.
Lian, Elena dan Kaili sedang bermain di ruangan khusus bermain di dekat taman, tadi Keanu menemani adiknya Shela yang tak mau lepas dari dirinya. Setelah di bujuk akhirnya dia mau lepas dan di awasi oleh asisten rumah tangganya.
"Curiga apa sih?" tanya Feli kepo, sejak tadi mereka semua hanya mendengar obrolan anak muda. Jika sudah ada Liana, Devara, Darel, Keanu dan Sierra. Para orang tua hanya jadi pendengar saja.
"Ada deh, onty jangan kepo." Ujar Keanu duduk dekat Darel, dan memangku si cantik Alana.
Membuat Feli cemberut dan memutar bola mata malas, para orang tua mereka membicarakan tentang seputaran pendidikan anak dan bisnis. Yang sejujurnya membuat Liana bosan.
"Sie, kita ke taman yuk." Bisik Liana, pada Sierra. Dia merasa bosan karena membahas bisnis yang tak ada habisnya.
"Ayok."
Saat akan melangkah, Liana di kejutkan dengan ke datangan Justine. Dia membawa makanan anak-anak dan makanan untuk orang dewasa.
"Ngapain dia kesini? Memang tante Anisa mengundang dia?" gumamnya menatap Justine, yang sedang menyalami para orang tua.
Dan yang terakhir bersama para anak muda, termasuk Rumi. Liana dan Sierra hanya menatap saja.
"Siapa dia ka?"
"Bos di tempat ku magang Sie," kata Liana.
"Ganteng yah, mirip Kevin Lutlof." Puji Sierra, membuat Liana melotot.
"Ganteng dari mana? Dia itu nyebelin, kaya jelangkung tau gak dia. Datang tak di jemput pulang tak di antar, tau aja ada pesta." Cibirnya menatap Justine yang juga menatapnya.
__ADS_1
Karena di panggil oleh papahnya, Liana pun menghampiri kembali ruang tengah dan duduk di dekat Indra. Sedangkan Sierra dekat Rania.
"Sebentar yah, aku nidurin Alana dulu." Izin Feli, dan mengambil alih sang anak.
"Pak Yudis, repot yah punya bayi?" tanya Justine tiba-tiba.
"Tidak, malah menyenangkan," kata Yudis tersenyum.
Pasalnya obat dari segala lelah Yudis, adalah Alana bayi yang begitu mirip dirinya mulai mata hidung dan warna kulit. Sedangkan kedua anaknya yang lain perpaduan antara dirinya dan Feli.
"Jus jangan panggil Pak lah, kita masih muda kok." Canda Radit, membuat semua orang tertawa.
"Idih uncle Radit, kepedean amat." Cibir Liana.
"Ya gak papa dong, sirik aja sih kamu."
"Udah ahh, Sie ayok ke taman. Ngeselin ada om-om rese," ketus Liana, menarik Sierra.
"Anak lo, Dra. Nyebelin banget mirip Hana." Kekeh Radit.
"Rese lo Dit," Hana melempar Radit dengan bantal.
Mereka pun melanjutkan obrolan seru mereka, dan Anisa pun mengajak makan terlebih dulu. Semua hidangan sudah tersedia di meja, Anisa juga memerintahkan asisten rumah tangganya yang lain untuk mengantar makanan ke taman.
"Aku makan di taman juga deh tan," pinta Justine.
"Ohh... Oke, nanti tante siapkan yah."
"Kalian anak muda makan saja di taman," usul Gemy.
"Setuju dad," seru Keanu, dan langsung berlalu menuju taman mempersiapkan meja untuk menata makanan.
"Uncle Rumi mau ikut di taman atau di sini?" tanya Darel.
"Di taman saja." Balasnya datar, tanpa banyak bicara dia mengikuti Devara dan Darel yang sudah berjalan duluan.
"Feli, adik lo kenapa jadi dingin gitu sih?" tanya Radit, setelah Rumi menjauh.
"Mana gue tahu, dia anaknya jadi gak terbuka lagi sama gue dan bunda." Papar Feli, sambil menyantap makanannya.
"Makan lo banyak amat Fel, entar gendut lagi." Sindir Radit.
"Gue lagi nyusui Radit, lo kaya Rania gak pernah punya nak bayi aja. Apa jangan-jangan Rania jarang makan ya?"
"Sembarangan lo, dia malah makan tiap abis menyusui."
"Lagian gue gak masalah kok, Feli lebih berisi. Lebih enak di peluk," celetuk Yudis, membuat semua orang tertawa.
"Udah-udah kalian ini, berantem terus. Ayok lanjut makan," perintah Gemy tegas.
Mereka pun melanjutkan makan bersama, sedangkan anak-anak mereka juga makan di dampingi oleh dua orang asisten rumah tangga Anisa. Sambil menyuapi Shela makan, sedangkan si kecil Alana masih terlelap di kamar Shela.
Semoga suka 💞
__ADS_1
tbc...
Maaf typo