
Seperti biasanya Sarah menunggu kedatangan Diana dengan semangat empat lima, dia tidak pergi bekerja. Semua pekerjaannya di urus oleh, asisten pribadinya Nilam. Sarah akan pergi ke kantor, jika ada rapat penting saja.
Tak berapa lama, terlihat mobil sang mamah masuk ke halaman rumah. Sarah pun tersenyum senang, dia berharap ada kabar baik yang di bawa oleh mamahnya.
"Bagaimana mah? Apa Feli mau?" cerca Sarah saat Diana sudah di hadapannya.
Diana membuang napasnya secara kasar, dia tak menjawab pertanyaan sang anak. Lebih dulu melangkah ke ruang tengah, dan memanggil pelayan untuk di ambilkan minuman dingin.
"Biarkan mamah minum dulu," ujar Diana, setelah menerima minuman kaleng untuk tamu.
Diana menghabiskan minuman tersebut setengahnya, dia pun mengatur napas dan menghabiskannya lagi.
"Mamah haus atau apa sih? Sama kalengnya aja minum," cibir Sarah.
Membuat Diana melotot dan mencubit mulut Sarah.
"Mamah," pekik Sarah.
"Kamu kalo ngomong suka bener-bener yah! Mamah haus, kesana gak di kasih minum." Ketus Diana.
Sarah hanya memutar bola mata malas, dia ingin tau hasilnya. Tapi Diana malah asik dengan minumannya.
"Bagaimana mah? Ayo ceritakan!" rengek Sarah.
"Feli tidak mau," balas Diana.
"Sombong sekali dia, awas aja kalo Yudis mau nerima ku. Aku bakal bikin Yudis cerai dengan Feli," sinis Sarah.
"Jangan pede dulu, Feli dengan tegas menolak kamu menjadi madunya. Terus kalau kita macam-macam, Feli gak akan segan-segan melakukan sesuatu." Cetus Diana.
"Emang dia bisa apa sih? Cuma bisa ngeluarin anak doang kok!" ejek Sarah.
"Sarah jangan ngomong gitu," tegur Diana.
Diana tidak tahu, Feli bisa melakukan apa? Tapi dia tahu, bahwa perusahaan orang tuanya dan Gemy sangatlah besar. Dibanding perusahaan milik mereka mungkin hanya di bawahnya.
"Satu-satunya cara, kamu datang bersama Selin ke kantornya Yudis. Coba bujuk Selin dia pasti mau, bilang saja mau bertemu papah." Usul Diana yang sesat.
"Baiklah," balas Sarah.
****
Sementara itu Justine menatap Liana nanar, dia tak bisa mendekat pada kekasih yang sudah jadi mantannya tersebut. Dia hanya bisa melihat Liana tertawa lepas bersama teman-temannya.
Tadi pagi Rima datang ke perusahaan untuk meminta Sara dan Dera agar pindah ke Bangtan Area, dan Justine tidak menyulitkan mereka. Mereka pindah dengan mudah, dan membuat kedua gadis itu senang.
"Gue senang banget Li, akhirnya bisa ikut magang di sini," ujar Dera.
"Gue juga," sahut Sara.
"Iyalah," kekeh Liana.
Mereka kini ada di lantai satu, menikmati makan siang mereka. Walau ramai tapi tak masalah bagi mereka, Liana menatap keluar mobil yang dia kenal. Siapa lagi kalau bukan Justine, dia rindu ingin bertemu namun seolah ada yang menghalangi. Rindu itu hanya bisa dia tahan.
"Gimana hubungan lo, sama pak Justine?" tanya Dera menatap ke arah yang Liana lihat.
"Putus, Dalia mengaku hamil anak papah. Dan papah gak mau gue berhubungan sama keluarga mereka, sebelum Dalia melakukan tes DNA." Ungkap Liana, dia tidak ingin berbohong pada sahabat-sahabatnya tersebut.
Jika bukan mereka lalu siapa lagi, orang yang bisa di ajak bicara oleh Liana?
"Hah? Hamil? Seriusan lo?" tanya Dera dan Sara kompak.
"Serius lah, masa gue bohong. Dan gue yakin itu bukan anak dari papah gue," yakin Liana.
"Tapi jika bukan? Bokap lo, bakal tetep ngasih restu?" tanya Dera.
"Entahlah, gue gak tau." Lirih Liana.
"Kasian banget kisah cinta lo Li," ucap Dera prihatin.
"Ya udah ayok kita makan, nanti ke buru dingin." Ajak Liana.
Justine sendiri dia memilih pulang ke apartemen, dari pada kembali ke kantornya. Dia pun sudah mengirim pesan pada Vano, untuk mengambil alih pekerjaannya.
Berpuluh menit kemudian, Justine sudah sampai. Dia membuka pintu mengabaikan panggilan Indira.
__ADS_1
"Justine kamu baik-baik saja nak?" tanya Indira.
"Aku baik-baik saja bu, hanya hati ku terluka." Curhat Justine.
"Terluka? Kenapa? Ada masalah dengan Liana?" cerca Indira.
"Kita sudah putus, dan itu karena anak kesayangan ayah." Ujar Justine.
"Dalia?"
"Iya, dia membuat masalah di keluarga Liana."
Indira mendengarkan cerita Justine, tentang semua yang dia tahu pada Indira. Bahwa kemungkinan besar, mereka tak akan pernah bisa bersama.
"Kamu yang sabar, jika jodoh maka tak akan kemana-mana. Ibu bisa liat, jika Liana juga mencintai kamu," ujar Indira menguatkan Justine.
"Maafkan ibu nak, karena ibu yang telat memberikan keturunan pada ayah mu. Mungkin semua takkan seperti ini," lirih Indira.
Justine menatap Indira, dan memeluknya dengan erat.
"Tidak bu, ibu tidak salah. Jika aku lahir cepat, mungkin aku dan Liana tidak akan bertemu." Kata Justine.
Indira akan menemui Hana, dan meminta untuk merestui hubungan anak-anak mereka.
"Kamu tenang saja nak, apa pun akan ibu lakukan untuk mu." Batin Indira.
****
Sedangkan Feli dia sudah bersiap untuk ke rumah Gemy, bersama anak-anak. Feli di antar oleh Dino.
"Nanti aku jemput mom," ujar Darel.
"Tidak sayang, nanti hubungi daddy suruh jemput mommy yah!"
"Oke, hati-hati mom."
"Iya," balas Feli.
"Kai, jangan nakal yah? Harus nurut sama tante Feli dan tante Anisa," pesan Sierra.
"Iya ka," balas Kaili.
Kaili pun mengangguk sebagai jawaban, mobil pun meninggalkan halaman rumah Feli. Kedatangan Diana membuat Feli kesal.
Berpuluh menit kemudian, Feli sudah sampai di kediaman Gemy dan Anisa.
"Kamu boleh pulang Din, nanti suami saya yang jemput." Ujar Feli.
"Baik nyonya,"
"Feli," sapa Anisa, yang sudah berada di luar bersama Shela.
"Senang banget aku di sambut kamu Nis," kekeh Feli mencium Anisa.
"Enak aja, kebetulan kali. Aku lagi nungguin Gemy, tuh Shela nangis pengen nungguin daddy pulang katanya. Tapi malah main sama Kaili dan Elena," kekeh Anisa.
"Ayok masuk," ajak Anisa kemudian, dia pun memutuskan menunggu Gemy dan Keanu di rumah saja.
"Bentar yah aku bikin minum dulu,"
"Gak usah repot-repot ahh,"
"Gak repot kok."
Anisa pun memutuskan untuk membuatkan Feli minum, walau ada pembantu tapi dia selalu membuat minum sendiri. Pembantu hanya membersihkan rumah dan mencuci piring kotor, dan mencuci baju. Sementara untuk memasak Anisa selalu ikut membantu.
"Makasih ya Nis," ucap Feli, setelah Anisa menaruh nampan berisi teh dan cemilan.
"Alana sini, mau tante pangku?" tanya Anisa.
Alana pun merentangkan tangannya dan mengoceh senang.
"Ya ampun, makin berat kamu sayang! Makin cantik pula," puji Anisa mencium Alana.
"Terima kasih tante," kekeh Feli menirukan suara anak kecil.
__ADS_1
"Aku denger-denger, Radit dan Rania lagi liburan?" tanya Anisa.
"Iya, Radit bilang Rania ngambek karena liat status aku di Bali." Ujar Feli.
"Masa gitu aja ngambek sih?"
"Bukan soal itu sih, tapi Radit bilang mau liburan sama kita-kita. Dan Rania gak mau pasti kemungkinan besar bakal bertemu Hana," ungkap Feli.
"Mereka belum baikan juga?"
"Belum Rania selalu nolak buat ketemu Hana,"
Feli dan Anisa pun berbincang tentang Rania dan Hana, juga tentang anak-anak mereka. Seolah tahu Shela berlari keluar dari tempat bermain.
"Shela hati-hati jangan lari," tegur Anisa.
"Daddy sama ka Keanu sudah pulang bunda, aku gak mau ketinggalan nyambut mereka." Ucapnya antusias khas anak tiga tahun.
"Anak itu selalu menunggu Gemy dan Keanu pulang," keluh Anisa.
"Elena juga gitu kok."
"Fel, lo disini?" tanya Gemy.
"Ya mau bicara sama lo," ujar Feli.
"Oke, gue mandi dulu."
"Shela daddy mandi dulu yah? Daddy kan bau, banyak virus yang ikut jadi harus mandi." Jelas Gemy.
"Oke deh, ka Keanu juga mandi. Jangan makan dulu," perintah Shela.
"Baik nona." Balas Keanu.
Keanu dan Gemy pun menuju lantai atas bersama.
"Lama-lama Keanu mirip Gemy yah," kekeh Feli, di jawab anggukan Anisa.
Tak butuh waktu lama, Gemy sudah selesai mandi. Dan saat itu Yudis baru saja sampai di kediaman Gemy, dia akan menjemput Feli dan anak-anak.
"Apa yang mau lo bicarakan?" tanya Gemy langsung, mereka kini berada di ruang kerja Gemy.
"Soal keluarga Sarah."
"Kenapa mereka?"
"Sudah beberapa kali, Sarah dan tante Diana. Meminta gue untuk berbagi Yudis." Jujur Feli dengan datar.
"Apa? Gila tuh orang," geram Gemy.
"Gue cuma minta sama lo, buat main-main dikit sama perusahaan ayahnya Sarah. Lo tau sama perusahaannya ayahnya Sarah?" tanya Feli.
"Tau perusahaan mereka lumayan maju usahanya, mereka bergerak di bidang minuman kemasan gitu." Cetus Gemy.
Feli pun mengangguk saja sebagai jawaban, dia menatap Gemy memohon membuat Gemy memutar bola mata malas.
"Ya sudah nanti gue bantuin," putus Gemy.
"Lo emang sepupu tersayang gue." Ucap Feli.
"Ya ya ya... Gue emang baik," puji Gemy pada dirinya sendiri.
Pintu di ketuk oleh Anisa, bahwa makan malam sudah siap dan yang lain sudah menunggu. Anisa juga memberitahu bahwa ada Darel dan Sierra.
"Iya sebentar lagi aku dan Feli keluar sayang." Balas Gemy berteriak.
"Ayok kita makan dulu, habis itu gue bakal kasih tau Yudis."
"Iya."
Gemy pun keluar lebih dulu, di ikuti oleh Feli. Yudis hanya tersenyum menatap Feli, Feli pun duduk dekat Yudis dan dekat dengan Elena dan Kaili.
***
Semoga suka 💞
__ADS_1
Maaf typo
Aku agak lupa pembantu di rumah Feli dan Anisa itu, udah ada namanya atau belum soalnya yg aku ingat cuma di rumah Hana aja 😂