
Tak terasa kini sudah dua tahun Feli dan Yudis menikah dan mereka masih belum dikarunia seorang anak, sedangkan Hana melahirkan putri dan putra pertamanya. Ya Hana melahirkan bayi kembar laki-laki dan perempuan yang di beri nama Liana Dewi Hermawan, sedangkan untuk laki-laki diberi nama Devara Hermawan. Dan berusia satu tahun sedang aktif-aktifnya.
Untuk baby Keanu usianya sudah memasuki dua tahun lebih dia sekarang sudah bisa berjalan dengan lancar, membuat repot Gemy dan Anisa, sedangkan Feli menjadi onty favoritnya Keanu. Mengalahkan Radit, yang sebelumnya menjadi uncle kesayangan Keanu.
Untuk kejutan yang akan Yudis berikan semuanya batal, karena pada saat itu mereka mengetahui kehamilan Hana yang rentan dan harus bedrest membuat Yudis membatalkan hadiah liburannya. Dan membuat Feli antara senang dan kesal, senangnya dia bisa berlibur bersama Yudis hanya berdua. Kesalnya tiket liburan yang harganya tidak murah jadi sia-sia.
"Sayang hari ini kita jadikan?" tanya Yudis.
"Iya," jawab Feli ragu.
Yudis mendekati Feli dan mengelus pundaknya. "Jangan sedih, kalo gagal kita coba lagi aja. Kan prosesnya enak," goda Yudis sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Kamu mesum ihh," kesal Feli. "Sudah mau dua tahun, aku belum hamil juga. Kalo hamil pun aku selalu keguguran," keluh Feli.
Yudis memeluk Feli dia mencoba menenangkan Feli, saat pertama kali dia dinyatakan hamil namun beberapa minggu kemudian keguguran Feli merasa terpukul dan sedih, sampai dia mengurung diri di kamar dan tak mau makan. Sampai bunda Nia, mommy Melati, Anisa dan Hana membujuk Feli dan memberi pengertian pada Feli hingga akhirnya dia mau untuk keluar kamar.
"Ya sudah jadi kita ke dokter atau tidak?"
Feli menghembuskan nafasnya secara kasar, dia memejamkan matanya dan menggeleng dia tidak mau kecewa lagi.
"Antar aku ke rumah Hana saja, aku merindukan Ana dan Devara." Kata Feli, dan di jawab anggukan oleh Yudis.
Berpuluh menit kemudian, Feli sudah sampai di rumah Hana.
"Nanti aku jemput." Yudis mencium kening Feli, dia tahu Feli sedang sedih.
Saat Feli akan turun, Yudis menggenggam tangan Feli. "Jangan sedih lagi, aku sayang sama kamu dan tidak akan pernah meninggalkanmu."
Feli pun memeluk Yudis dengan mata berkaca-kaca. "Terima kasih, kamu selalu ada untukku."
Yudis melerai pelukan Feli, menghapus jejak air mata dipipi Feli. "Dari dulu sampai sekarang, aku selalu ada untukmu. Jadi jangan pernah dengarkan apa yang orang katakan, ok."
Feli pun mengangguk sebagai jawaban. "Kalo gitu aku turun dulu, kamu hati-hati dijalan."
"Iya." Balas Yudis.
Feli pun menunggu sampai mobil Yudis hilang dari pandangannya, setelah mobil Yudis tak terlihat Feli berjalan menuju rumah Hana. Dia sudah memberitahu Hana terlebih dulu bahwa dia akan berkunjung.
Feli masuk setelah di bukakan pintu oleh asisten Hana yang bernama Linda, dan membawa Feli ke ruang main anak. Saat tiba Feli melihat si kembar sedang main bola.
"Anti Feli," pekik si kembar.
"Hai sayang, anti kangen banget," ucapnya, memeluk si kembar.
"Aku juga anti," kata Liana berbicara khas balita, yang selalu membuatnya gemas.
Liana dan Devara berebut untuk duduk di pangkuan Feli, membuat Feli tertawa.
"Jangan rebutan dong," ujar Feli.
"Aku dulu."
"Engga aku dulu," balas Devara sengit.
"Udah-udah, liat anti bawa apa?" tunjuknya pada paper bag yang berisi mainan.
"Wah mainan," seru si kembar.
"Kita main sama-sama ya," katanya.
Feli dan si kembar pun bermain bersama, sisi keibuan Feli selalu muncul saat bersama anak-anak. Bahkan Feli selalu berhasil menenangkan Keanu yang rewel.
"Fel, udah lama?" tanya Hana membawa dua botol susu.
"Baru aja ko, ampun anak lo. Masih dot," kekeh Feli.
"Iya mereka ngedot kuat, makan juga," ujar Hana.
"Pantes berat," kekeh Feli.
"Iya, udah gak kuat gue. Kalo merek minta gendong."
__ADS_1
"Bukan lo yang gak kuat, tapi lo udah tua Hana." Ledek Feli tertawa.
"Rese lo," Hana mencubit lengan Feli.
Membuat kedua anaknya protes, dan Feli kembali tertawa.
"Anak lo belain gue Han," kekeh Feli, membuat Hana cemberut.
"Indra mana?" tanya Feli pada akhirnya.
"Kerja lah, pagi-pagi Radit udah jemput Indra. Katanya ada meeting penting sama klien," ujar Hana.
Feli pun hanya beroh saja, Hana dan Feli menemani si kembar bermain puzzel.
"Katanya Anisa juga mau kesini yah?" celetuk Hana, saat membantu Devara menyusun puzzel.
"Iyakah? Tambah seru dong kalo ada Keanu." Kekeh Feli, dia selalu tahu bahwa keponakannya dan anak-anak Hana tak pernah akur.
"Iya seru, gue pusing kalo mereka nangis barengan," ketus Hana, membuat Feli tertawa.
Setelah Anisa datang, mereka hanya mengobrol seputaran anak saja. Dan Feli hanya jadi pendengar saja walau sebenarnya hatinya sakit dan dia memutuskan bermain bersama tiga balita kesayangannya, jam makan siang pun tiba Feli berpamitan pulang lebih dulu.
"Kamu gak nunggu dulu Yudis?" tanya Anisa.
"Engga, aku udah kasih tau Yudis," kilah Feli.
"Kalo gitu, kamu hati-hati yah."
Feli hanya mengangguk sebagai jawaban, saat dia keluar bertepatan dengan datangnya taxi online yang dia pesan.
Feli lebih memilih taman untuk menenangkan dirinya, taman yang selalu dia datangi saat dia sedih.
Di taman tersebut Feli bisa menumpahkan semua kesedihannya, sahabat-sahabatnya tidak tahu saja jika banyak omongan negatif yang terarah padanya. Saat Feli datang ke pesta bersama Yudis selalu saja ada yang bilang dirinya yang bermasalah lah, inilah, itulah dan lainnya. Membuatnya sedih namun dia tidak pernah memberitahu Yudis.
Pada saat Feli asik menangis, tiba-tiba ada seseorang yang menutup matanya. Membuatnya semakin menangis, Feli tahu siapa dia.
Yudis membawa Feli dalam dekapannya, pada saat dia akan menjemput Feli. Tidak sengaja Yudis melihat Feli masuk ke dalam mobil sambil menangis, secara diam-diam mobil Yudis mengikutinya. Setelah sampai taman Yudis membiarkan Feli menangis sendiri.
Yudis mengelus punggung Feli supaya dia tenang, beberapa menit kemudian Feli sudah tenang.
"Iya." Lirih Feli, di antara isak tangis.
"Ada apa? Apa ada masalah? Atau ada yang nyakiti kamu?"
Feli hanya menggelengkan kepalanya, dia tidak ingin menceritakan masalahnya pada Yudis.
"Ya sudah jangan menangis lagi, ingat kata dokter. Kamu gak boleh stres dan banyak pikiran," ujar Yudis.
"Ayo kita pulang," sambungnya lagi.
Feli pun menurut, dia berjalan dalam dekapan Yudis. "Kita makan siang dulu, habis itu aku akan mengantarmu pulang."
"Aku mau ikut ke kantor," pinta Feli.
"Baiklah.
Yudis pun melajukan mobilnya ke restoran terdekat tapi Feli tidak mau, dia bilang pesan lewat aplikasi saja. Yudis pun menurut dan memesan makanan, beberapa menit kemudian mereka sudah sampai di perusahaan Darwin.
Yudis memperhatikan Feli yang hanya diam dan banyak melamun, tidak seperti Feli yang dulu selalu ceria dan cerewet.
"Tuan, makan siang anda baru saja sampai." Terang Reno sekretaris Yudis.
"Baiklah terima kasih."
"Ayo makan dulu, kamu dari pagi hanya makan sedikit."
Tanpa banyak bicara Feli memakan makan siang yang telah Yudis pesan, rasanya hambar dan tidak enak. Entahlah perasaan Feli sedang tidak baik-baik saja, membuatnya tidak nafsu makan ataupun berbicara.
Yudis berjongkok di depan Feli, memegang tangannya. "Sudah jangan sedih lagi, nanti kita periksa ke dokter lagi yah."
"Aku gak mau, aku takut kecewain kamu sama orang tua kamu. Kamu tahu mommy Melati pernah bilang pada Hana, bahwa dia ingin segera memiliki seorang cucu. Tapi aku tidak bisa memberikannya untuk mommy mu dalam waktu dekat," jelas Feli.
__ADS_1
"Rahim ku lemah Dis, setiap aku hamil pasti keguguran. Kalau pun tumbuh, pasti gak akan lama." Ungkap Feli.
Yudis memeluk Feli dengan erat, mencoba menenangkan Feli.
"Lalu pada saat aku ikut ke pesta rekan kerjamu, pada saat aku di toilet. Mereka bilang bahwa aku mandul, bahwa Yudis tidak pantas dengan aku. Kamu tampan seharusnya kamu mencari wan..."
Sebelum Feli meneruskan kata-katanya, Yudis lebih dulu menghentikan perkataan Feli. "Tidak aku tidak akan meninggalkanmu, apa pun yang terjadi aku akan tetap disisimu." Marah Yudis.
Setelah mengatakan itu Yudis pergi meninggalkan Feli sendiri emosinya memuncak, karena perkataan Feli.
"Kenapa dia berkata seperti itu?" geram Yudis.
Feli menghapus air matanya, dia ingin pergi dari sini. Tapi tidak mungkin atau semua orang akan membicarakannya, Feli memutuskan untuk beristirahat di kamar Yudis yang berada di ruangan ini. Hanya Feli dan Yudis yang tahu tempat rahasia tersebut.
Saat Yudis kembali setelah lagi menenangkan emosinya, dia tidak melihat Feli dimanapun.
"Reno apa kamu melihat Feli keluar?" tanya Yudis.
"Tidak tuan, dari tadi hanya anda yang keluar. Saya tidak melihat nona Feli," terang Reno.
"Baiklah, terima kasih."
Yudis memutuskan kembali ke ruangannya, dia ingin mengecek CCTV kemana Feli pergi. Saat Yudis sedang mengecek CCTV dia baru teringat akan ruangan pribadinya, dia berjalan menuju ruangan tersebut dan melihat Feli sedang tertidur.
Yudis menghampirinya dan melihat sisa-sisa air mata. Dan mengecup kening Feli, saat mengecup kening Feli Yudis merasa suhu berbeda dari tubuh Feli.
"Kamu demam," ucap Yudis sambil meraba kening Feli.
Feli terus saja menggumam, membuat Yudis khawatir. Yudis memutuskan membawa Feli ke klinik tempat Feli memeriksakan diri saat dia hamil.
Sesampainya di klinik tersebut Feli dibawa keruangan dokter kandungan sesuai feeling , dengan sigap dokter kandungan tersebut memeriksa Feli. Dokter tersebut pun tersenyum.
"Selamat tuan Yudis, nona Feli sedang mengandung. Dan umur kandungannya baru menginjak empat minggu," jelas dokter.
Yudis membulatkan matanya, dia tidak percaya bahwa Feli sedang mengandung.
"Benarkah?" tanya Yudis tak percaya, pantas saja Feli gampang baper dan berubah moodnya.
"Iya tuan, jangan sampai dia stres atau tertekan. Saya akan memberikan obat penguat kandungan dan jangan lupa ingatkan dia, agar tak melakukan kegiatan apa pun. Kalau perlu dia harus bed rest," terang Dokter.
"Baik dok." Yudis begitu bahagia akhirnya, kabar baik menghampiri dirinya.
"Terima kasih, dok." Lanjut Yudis, dijawab anggukan oleh dokter.
Setelah dokter keluar, Yudis menghampiri Feli yang masih betah tertidur. Yudis mencium tangan Feli.
"Akhirnya penantian kita tidak sia-sia Feli, sekarang kamu jangan sedih lagi. Aku berjanji akan menjaga kalian," ujar Yudis.
"Kalian?" ulang Feli, ternyata Feli sudah bangun sejak tadi.
"Iya kamu dan calon anak kita."
"Anak kita." Feli tidak mengerti apa yang dibicarakan Yudis.
"Iya kamu hamil sayang."
Ditengah kebingungannya, Feli baru sadar bahwa dia bukan berada di ruangan pribadi Yudis.
"A-pa aku hamil?" tanya Feli dengan mata berkaca-kaca.
"Iya kamu hamil sayang." Dengan sabar Yudis memberitahu Feli.
Feli memeluk Yudis, dia bahagia akhirnya mahluk manis dan menggemaskan akan memanggilnya mamah.
"Ini kabar bahagia, bunda sama mommy Melati pasti senang."
"Kita akan memberitahukannya, setelah kita pulang ok."
Feli pun mengangguk sebagai jawaban, akhirnya apa yang dia tunggu, yang selalu didoakan dalam sujudnya terjawab sudah. Hidup dengan orang dia cintai dan selalu bersama para sahabatnya adalah keinginannya, sampai akhir hidupnya.
Semoga suka ❤
__ADS_1
tbc..
Maaf typo