
Di sebuah rumah sederhana seorang gadis sedang dirias, dengan wajah kusut dan sedih dia terpaksa melakukan pernikahan ini.
"Jangan terus menangis Rania, kamu liat tidak make-up kamu luntur terus," marah Eli.
"Tapi aku gak mau menikah dengan laki-laki tua itu, aku sudah punya calon suami," bentak Rania berbohong.
"Mana calon suami kamu hah!! Mana? Kalo kamu gak mau menikah sama dia, aku akan menjual kamu ke mucikari," ancam Eli.
Setelah mengatakan itu Eli pergi dari kamar Rania, Rania gadis berumur 20 tahun terpaksa harus menikah dengan laki-laki tua. Karena harus membayarkan hutang-hutang ayahnya yang sudah meninggal, wanita yang dia panggil Eli adalah kakak kandungnya. Keluarga yang dia punya satu-satunya harusnya menjaganya, tapi dia begitu jahat padanya.
Rania menatap foto kedua orang tuanya, dan mengusap foto tersebut.
"Rania harus apa? Pak, bu?"
Rania menatap jam dinding dan mengintip keadaan sekitar, belum cukup ramai tapi dia bisa kabur lewat belakang.
"Baiklah aku harus pergi dari sini, aku tidak peduli lagi. Selama ini aku selalu bekerja keras demi dia."
Rania mengganti bajunya dengan baju biasa, menghapus riasan dan mengacak-acak rambutnya yang sudah ditata sedemikian rupa. Rania memakai masker agar tak ada yang dapat mengenalinya.
Dengan pelan Rania keluar dari kamar, sebelum keluar dari kamar Rania mengatur bantal yang ditutup selimut.
Rania mendengar suara Eli yang sedang tertawa dihalaman depan, dengan pelan seperti pencuri Rania keluar dari kamar menuju dapur, setibanya dihalaman belakang Rania bernapas lega.
Kemudian dengan santainya dia bejalan melewati para tamu, sayangnya para tamu tidak ada yang menyadarinya. Setelah jauh dari rumah Rania berlari menuju jalan raya dan menaiki angkot, kemana pun angkot ini pergi dia akan ikut asal jauh dulu dari rumahnya.
Supermarket
Sedangkan Radit yang asik berbelanja kebutuhan dapur dan sehari-hari, masih asik memilah milih. Sampai dia tidak menyadari bahwa jam sudah menunjukan pukul enam sore.
Serasa sudah cukup Radit mendorong trolinya menuju kasir, setelah selesai membayar Radit memutuskan untuk pulang tidak kemana-mana dulu. Karena tidak ada yang di ajak keluar.
Saat dipertengahan jalan tak sengaja Radit menabrak seseorang yang tak lain adalah Rania, membuatnya buru-buru menepikan mobilnya. Radit turun dan melihat apakah dia baik-baik saja atau tidak?
"Astaga ada-ada saja sih," gumam Radit. "Aih mana cewek lagi."
"Mbak...mbak bangun," panggil Radit.
"Masalah besar, kenapa pake pingsan segala sih."
"Ehh lebih baik gue bawa saja ke apartemen, dari pada ke rumah sakit buang-buang duit gue aja."
Dengan terpaksa Radit membawa Rania ke apartemennya, berpuluh menit kemudian Radit sudah sampai di apartemennya. Dia meminta tolong pada satpam untuk membantunya membawa barang belanjaannya.
"Pak tolong sayang bawakan ini yah! Teman saya pingsan. Jadi saya harus menggendong teman saya," jelas Radit.
"Ou baik, mas Radit."
__ADS_1
Pak satpam dengan sigap membawakan belanjaan Radit dan menekan lift untuk Radit, sesampainya di apartemen Radit meletakan Rania di sofa.
"Makasih yah pak," ucap Radit.
"Sama-sama mas Radit, kalo gitu saya permisi," pamit pak satpam.
Setelah satpam pergi, Radit menatap Rania dari atas ke bawah. "Cantik juga."
Radit memutuskan untuk membersihkan diri, sebelum memasak untuk makan malam.
****
Setelah Radit selesai dengan ritual mandinya, dia langsung menuju dapur dan melihat gadis yang dia tolong masih tidur.
Membuat Radit berdecak. "Dari pada nungguin ni cewek bangun, lebih baik gue masak. Karena perut gue udah demo."
Malam ini Radit akan memasak tumis kangkung dan goreng ayam dan tak lupa sambalnya, selesai mencuci beras dan memasaknya. Radit mulai mengolah bahan-bahan yang sudah dia persiapkan sebelumnya. Radit memang jago memasak, karena dia jauh dari orang tua membuatnya harus bisa mandiri termasuk memasak, mencuci baju dan membereskan apartemennya.
Rania mengerjapkan matanya dia langsung bangun dengan tiba-tiba, membuatnya pusing.
"Aku dimana?"
Rania menyipitkan matanya, menatap Radit yang sedang memasak. Memang dapur Radit bisa terlihat, dari ruang tamu.
"Apa dia yang menolongku?" gumamnya.
"Bagus kamu sudah bangun," ucap Radit, mengagetkan Rania.
"Terima kasih tuan." Hanya kata itu yang bisa Rania ucapkan, dia bingung ingin bicara apa.
Radit mengerutkan keningnya, menatap Rania. Dan memberikan teh hangat untuknya.
"Terima kasih, untuk apa?"
"Anda sudah menolong saya dan membawa saya ke tempat anda," jelas Rania dan Radit pun mengangguk.
"Tidak masalah, sebagai mahluk sosial kita harus saling tolong menolong."
"Ou yah, siapa namamu?" tanya Radit.
"Rania Deswita, namaku Rania."
Radit hanya beroh saja, kemudian melanjutkan aktifitasnya di dapur.
"Aku akan membantumu," pinta Rania dan Radit mengangguk.
Rania membantu Radit memasak, beberapa menit kemudian masakan sudah selesai tinggal dihidangkan. Radit mengambil dua piring nasi.
__ADS_1
"Makanlah, aku tahu kamu belum makan."
"Terima kasih lagi."
Sedangkan di rumah Rania, pria tua bernama Nurman marah-marah pada Eli, sebab dia batal menikah dengan Rania.
"Saya tidak mau tahu, kamu harus membayar semua kerugian yang saya alami." Marah Nurman.
"Saya mohon tuan, beri saya kesempatan untuk mencari Rania," pinta Eli memohon dan bersujud di kaki Nurman.
Namun Nurman sudah marah besar, dia sudah tidak ingin menikah dengan Rania karena telah membuatnya malu. Nurman menendang Eli yang tengah menggenggam kaki Nurman, kemudian berlalu begitu saja.
"Dasar adik kurang ajar," geram Eli. "Awas saja jika aku menemukanmu, aku akan memberikanmu pelajaran." Ancam Eli.
****
Apartemen Radit
Setelah selesai makan malam Radit memutuskan duduk diruang tv, dia menunggu Rania yang sedang membersihkan bekas masak dan makan. Radit ingin mendengar penjelasan Rania.
"Jelaskan," ucap Radit setelah Rania duduk dihadapannya.
Kemudian Rania menjelaskan kenapa dirinya bisa pingsan, dengan terisak Rania menjelaskan kisah hidupnya yang sulit setelah lulus sekolah menengah pertama. Bahkan dia tidak melanjutkannya ke SMA karena harus bekerja, atas permintaan kakaknya. Dan Rania juga menceritakan tentang pernikahannya dengan pria tua, tapi dia berhasil kabur.
"Jadi kamu dipaksa menikah?" tanya Radit, Rania menjawab dengan anggukan.
"Lalu apa yang akan kamu lakukan?" tanya Radit.
"Saya tidak tahu," jawab Rania, dia juga tidak mungkin kembali kerumahnya, atau dia akan habis ditangan Eli.
"Kalo kamu mau, kamu boleh bekerja di rumah ini. Membersihkan apartemen, mencuci dan memasak seperti itu. Apa kamu bisa? Soalnya saya pulang kerja malam dan tidak sempat mengerjakan semuanya," terang Radit.
"Ya saya mau," jawab Rania cepat tanpa pikir panjang, yang terpenting dia tidak kembali ke rumahnya.
"Ya sudah kamu boleh beristirahat, kamu boleh pergunakan kamar tamu. Sebelah sana," tunjuk Radit, kemudian Radit beranjak dari duduknya berpamitan untuk ke ruang kerja.
"Terima kasih." Rania tersenyum pada Radit, walau Radit sendiri tidak melihatnya.
Rania bersyukur bisa bertemu dengan Radit, dia akan memulai hidup baru di kota ini. Bersyukur Radit memberikannya pekerjaan.
"Semangat," ucap Rania, menyemangati diri sendiri.
Semoga suka **💞
tbc...
Maaf typo**
__ADS_1