
aku selalu berharap pagi yang tenang, pagi dengan kicauan burung yang rasanya tak akan pernah terjadi.
"Sekar, apa kamu pernah dengar kejadian beberapa tahun yang lalu?" Tiur mendekatiku, ku picingkan mata dan juga mempersiapkan telinga.
"apa itu?"
"kamu gadis yang beruntung karena katanya si Ale dari dulu belum pernah suka sama cewek. kamu satu-satunya wanita yang bisa menaklukan nya"
aku emnepuk jidat menatap Tiur yang membautku berharap bahwa itu kabar tentang papa.
"Tiur"
"ya?"
"kamu sepertinya ada kemampuan buat jadi ratu gosip" aku beranjak dari tempat duduk dan mengambil cangkir kopi yang sudah sisa setengah.
mencoba menghirup udara pagi dengan
pemandangan yang indah, melihat bagaimana para tentara sibuk berlari secara berkelompok disekitar camp, ada yang sedang membereskan dan mengatur kayu di tempatnya, dan ada juga Ale. pria itu sedang asyik mengatur para anggotanya.
"Selamat pagi" sapa pria itu membuatku tersenyum.
"selamat pagi"
"hari ini ada kegiatan jalan santai, kamu ikut?" tanya Ale kembali.
"ikutlah, sudah sewajibnya. kamu ikut?"
"iya ikut" jawaban Ale entah emngapa membuatku tersenyum.
setelah bersiap-siap, sebagai dokter yang bertugas akan jalan santai itu aku memakai ransel dan kemudian mulai ikut barisan.
jalan memang tidak terlalu terjal, namun udara dapat dikatakan cukup segar. kami melewati satu eprkampungan yang ramah
Beberapa anak-anak yang bermain hanya dengan memakai pakaian seadanya tampak senang dan bahagia.
disini sangat berbeda dengan Jakarta yang ramai, disini mereka saling menyapa, di Jkarta mereka saling menutup mata, tak perduli dan acuh.
aku berhenti sebentar dan emnghirup udara segar, membiarkan para anggota militer berjalan lebih dulu didepanku.
mencoba mngamati bagaimana tanah dan air menyatu dan menajdi bagian dari bumi. bagaimana para manusia yang saling bergantung satu sama lain.
ibu-ibu yang menggendong anaknya sambil menimba sumur, dan ada beberapa yang memasak di atas kayu.
namun sebuah tangan membuatku berhenti.
"hati-hati nanti kamu jatuh" suara Ale membuatku terhindar dari jungkir balik dan tentunya akan memperburuk pagiku.
"terimah kasih, sudah berapa lama kamu disini?" tanyaku.
"mungkin sekitar tiga tahun, sebentar lagi masa tugasku akan berakhir"
"oh"
"disini berbeda sama ibu kota"
"bisa dikatakan seperti itu. apa yang kamu rencanakan setelah bertugas dari sini?" Ale masih berjalan disampingku.
"sebenarnya saya disuruh nikah sama mama, tapi saya gak mau"
"kenapa?"
__ADS_1
"bisa dibilang saya gak cinta"
"..."
"Ale?"
"ya?"
"apa saya bisa tanya sesuatu sama kamu?"
"bisa apa itu?"
"apa kamu pernah dengar tentang Anagar Radwa?"
"Anagar Radwa?" ulang Ale sambil menatapku
"iya Anagar Radwa"
"papaku. sudah sepuluh tahun dia menghilang lalu dinyatakan meninggal, saya hanya ingin tahu dia ada dimana. andai kata dia pun meninggal saya hanya ingin tahu dimana dia dimakamkan"
Ale menggelengkan kepalanya pelan.
"saya gak tahu, maaf"
dibalik matanya aku tau kamu menyembunyikan sesuatu. gerak gerik bibir yang sedikit bergetar membuatku ingin tahu apa yang sebenarnya kamu sembunyikan Ale?
"gak apa-apa" ucapku dan masih terus berjalan. mencari arah dimana mungkin angin akan membisikkan keberadaan papa.
ada banyak teka-teki yang ditinggalkan sudut-sudut bumi. kematian yang takw ajar, dan jejak yang ditutupi pihak berwajib. aku ingin tahu apa itu dan bagaimana itu terjadi.
hari itu diantara tenangnya hari bunyi sirine ambulance terdengar membuatku terperangah. menunggu pasien-pasien yang sedang kutunggu kedatangannya,
beberapa anggota militer yang diserang oleh kampung sebelah dengan brutal yang akan kutangani sekarang.
apakah papa mengalami hal seperti ini, apakah papa kena tembak, ataukah sebenarnya papa masih hidup. karena sampai sekarang aku masih meyakini jika papa masih hidup.
keyakinan itu yang membautku sampai disini.
"ASTAGA!" aku menatap pundak Ale yang mengeluarkan banyak darah dan juga kepala yang dibalut oleh pihak dari tim pertolongan pertama.
dengan cekatan aku menangani Ale, karena dari antara semua Ale memiliki luka dengan presentasi terparah.
degupan jantungku tak keruan. aku mulai melakukan pertolongan pertama dan kemudian memeriksa luka yang perlu dijahit. dan juga membuka baju pria yang sedang mengerang kesakitan itu dengan gunting.
"kenapa harus pakai gunting?" tanya Tiur yang melihat kepanikan di wajahku.
"lebih mudah" jawabku singkat tak ingin menunggu lama.
mungkin ini yang ingin dihindari oleh mama.
setelah menidurkan Ale dengan suntikan dan membersihkan luka serta emlakukan pemeriksaan lengkap aku menunggunya untuk terbangun.
"apa perlu cek selengkap itu?" Tiur melihat ke arahku.
"gak tahu, aku cuma ikutin kata hati"
"kamu mulai suka sama dia?"
"sepertinya"
"terus Satria?"
__ADS_1
"aku gak pernah suka sama Satria" Tiur membelai punggunku, mencoba menenangkanku.
seragam ini membuatku bangga pada pekerjaan papa. seragam ini pula yang merenggut papa dari kami.
dan lagi, aku mencintai pria yang memakai seragam ini.
jemari Ale bergerak.
"sudah bangun?" aku berbisik di telinganya dan kemudian matanya terbuka pelan.
"kamu gak apa-apa?" aku membelai rambut Ale yang dipotong sangat pendek.
Ale diam dan menatapku.
"Sekar? apa kamu mau jadi milik saya satu-satunya?" pertanyaan Ale membautku terdiam, pertanyaan Ale membuatku tersenyum dan tertawa.
"tunggu sampai kamu sembuh"
"kalau kamu bersedia, aku akan memberikan jawaban tentang Anagar Radwa" dan semenit kemudian Ale memusnahkan senyumanku. mendengar nama papa yang justru membuatku ingin menangis.
"jadilah istriku"
aku mengerutkan kening, menatap mata Ale yang tampak begitu serius.
"menjadi istrimu bukan bahan bercandaan Ale. apa kamu tahu itu? saya gak mau jadi janda muda!"
"tapi saya diminta oleh Anagar Radwa untuk menjaga satu-satunya putrinya."
"maksud kamu?"
Ale mencoba duduk menahan rasa sakit akibat pengaruh obat bius yang mulai habis.
pria itu menarik tanganku. dan kemudian sebuah kunci kecil. pria itu memutar sebuah kenop yang ada di gelang dan membebaskanku dari gelang tersebut.
aku hanya terpana merasa terkejut. mengapa kunci itu ada di tangan Ale adalah salah satu jawaban dari rasa penasaranku .
"apa maksudnya ini?! KAMU SIAPA!" Kini aku berteriak, bulu kudukku berdiri. air mataku mulai mengalir deras.
"jadilah istriku Sekar"aku tak bisa apa-apa jika ini adalah permintaan papa. yang kau tahu untuk mengetahui semua kisah papa aku harus menjadi bagian dari hidup Ale.
"..." ada hening sebentar. aku mulai menggigit bibir bawahku dan menatap pria tampan dan berkharisma itu sejenak. mencoba memecahkan teka teki dan pesan yang coba disampaikan papa padaku melalui pria ini
dimana papa dan mengapa dia menghilang
hanya ada satu jawaban yang dapat kutemukan. dan semua itu ada pada pria ini.
pria yang akan menjadikanku miliknya satu-satunya.
apakah aku akan bahagia?
apakah aku harus menjawab ya atau tidak?
Ale masih menatapku menunggu jawabanku. dan udara seakan membeku ketika aku mulai menganggukkan kepala.
mengumpulkan kekuatan untuk menjawabnya
"baiklah jika begitu"
dan seperti itulah awal ceritaku dimulai. seperti mengulang sejarah kembali. namun dibalik kisahku aku ingin tahu apa yang sudah papa alami.
Anagar Radwa pria yang aku cintai dan mencintaiku.
__ADS_1
pria yang menciptakan ku ke dunia ini dan tentunya bersama mama.
pa .. Sekar rindu