
Pernyataan cinta Justine membuat Liana bingung, dia sama sekali belum pernah jatuh cinta atau pacaran. Sebab Hana selalu melarang Devara atau Liana dekat dengan lawan jenis, setelah Justine mengantar Liana ke depan ruang rawat Indra. Dia pun pamit untuk pulang, karena berjanji mengantar Indira kontrol ke dokter.
"Pak Justine ini, suka banget maksa. Siapa juga yang mau jadi pacarnya." Omel Liana menghembuskan napasnya secara kasar.
Sayup-sayup dia mendengar pembicaraan orang tuanya dengan para sahabatnya, dia pun kembali menunggu di kursi tunggu.
"Liana masih disini?" tanya Feli.
"Iya tan, aku disini aja nanti malam baru pulang."
"Ohh... Ya sudah tante, ke kantin dulu."
"Iya."
Feli dan Yudis pun berjalan beriringan, Liana menatap Feli dan Yudis dan menghembuskan napasnya secara kasar. Dia akan pulang nanti, jika Devara sudah datang.
Feli dan Yudis sudah sampai di kantin, saat mereka sedang menunggu pesanan mereka dan Feli melakukan panggilan video dengan sang anak. Feli selalu begitu melakukan panggilan video dengan anak-anaknya.
"Mommy, jangan lama-lama yah!" rengek Elena.
"Iya, mommy gak akan lama kok. Bentar lagi pulang, adek mana?" tanya Feli, dia selalu rindu pada anak-anaknya.
"Ada sama ka Darel, lagi di timang-timang. Adek nangis terus gak mau bobo sama kakak," oceh Elena.
Elena pun asik bercerita pada Feli, dan Feli mendengarkan dengan tertawa. Saat tengah asik mengobrol, tiba-tiba Feli mendengar seseorang yang menyapa Yudis.
"Yudis? Ini beneran kamu?"
__ADS_1
"Iya, maaf siapa ya?"
Feli hanya memperhatikan mereka berdua, sebenarnya dia sudah tahu siapa wanita yang sedang berada di hadapan Yudis.
"Masa kamu lupa sama aku, aku Sarah Dis." Katanya Sarah pun mengabaikan Feli.
Yudia pun hanya mengangguk, tanpa berminat menanggapi Sarah. Dia melirik Feli yang masih bervideo dengan Elena.
"Mommy, kenapa diam?"
"Maaf sayang, makanan mommy sudah sampai. Jadi mommy harus makan, kamu sudah makan?"
Saat Feli bersuara, barulah Sarah diam dan menatap Feli. Yang semakin cantik dan lebih berisi setelah menikah.
"Belum mommy," jawabnya.
"Oke mommy, bye." Pamit Elena.
"Dah sayang," Feli pun mematikan sambungan video call tersebut.
Dan kini dia menatap Sarah, dari atas ke bawah.
"Hai Feli," sapa Sarah pada akhirnya.
"Hai juga... Apa kabar? Lama tidak bertemu," ucap Feli terdengar dingin.
"Baik, iya aku sibuk mengurus bisnis peninggalan suamiku." Ujar Sarah, dan Feli pun mengangguk.
__ADS_1
"Ayok," ajak Yudis.
"Kami duluan Sarah," sambung Yudis kemudian, karena pesanannya sudah jadi.
"Yudis tunggu," ucap Sarah.
Dan Yudis pun menatap Sarah, masih menggenggam tangan Feli.
"Aku minta nomor kamu boleh? Suami ku sudah tiada, dan aku bersama dua anak ku."
"Huh calon pelakor," batin Feli memutar bola mata malas.
"Buat apa?" tanya Yudis heran.
"Bukan buat apa-apa sih, siapa tahu. Nanti aku butuh bantuan kamu!"
"Gak ada, kamu udah jadi mantan." Sela Feli. "Kami duluan," ujar Feli, menarik Yudis.
"Yudis... Yudis tunggu." Teriak Sarah.
"Dasar menyebalkan," geram Sarah.
Suami Sarah memang sudah meninggal, dan dia hanya berdua bersama sang anak tinggal di rumah kedua orang taunya. Dia ingin sekali dekat dengan Yudis, berharap jadi yang kedua pun dia rela. Asal sang anak dapat perlindungan dari sosok ayah, terlebih si bungsu yang berusia lima tahun.
Semoga suka 💞
Maaf typo
__ADS_1