
Devara tengah menatap seorang gadis yang sudah rapih, dengan satu koper bawaannya. Tadi pagi setelah suasana tegang, Devara memutuskan untuk keluar sejenak.
Dan disinilah dia sekarang, di apartemen Akira. Ya Devara menemui Akira, namun dia begitu terkejut kala mendapati fakta bahwa Akira akan pergi ke Negara asal sang ayah.
"Pikirkan baik-baik Akira," Devara masih berusaha membujuk Akira.
"Maaf ka Dev, tapi aku akan pergi. Kerabat daddy ku, mereka meminta ku untuk kembali."
Padahal yang sebenarnya, Akira ingin menjauh dari Darel. Agar perasaan itu tak muncul lebih dalam, kerabat? Setau Akira Daniel memang anak satu-satunya, dari kakek nenek sang daddy. Sementara ibunya, dia pun sama mereka anak tunggal yang tak memiliki saudara.
"Lagian aku disini pun untuk apa? Aku tidak punya siapa-siapa, dan untuk masuk ke dalam keluarga Darel pun rasanya tak mungkin. Aku akan mencari kebahagiaan ku sendiri, dan melanjutkan cita-cita ku." Papar Akira, dan Devara mengangguk saja.
Ingin sekali dia berteriak di depan Akira bahwa dia harus ada untuknya, namun Devara pun sadar dia tak bisa memaksa.
"Baiklah, jika itu membuat mu jauh lebih baik." Putus Devara
"Terima kasih ka, tolong jangan bagi tahu Darel."
"Ya," jawab Devara dengan lirih, Akira menatap Devara. Dia bisa melihat ketulusan pada Devara, tapi maaf Akira tidak memiliki rasa pada Devara.
Akira tersenyum dengan manis, membuat Devara merasakan debaran yang tak pernah dia rasakan.
"Kalau begitu, biar aku antar." Tawar Devara.
"Ehh... Jangan ka, merepotkan." Tolak Akira.
__ADS_1
"Tidak Akira, kalau kamu menolak. Aku bawa saja kamu ke Indonesia lalu aku nikahin kamu," canda Devara, membuat Akira tertawa.
"Baiklah ayok sebentar lagi pesawat ku take off," ujar Akira.
Akhirnya Devara pun mengantar Akira ke bandara, dan langsung menuju keberangkatan.
"Terima kasih," ucap Akira, sebelum masuk.
"Sama-sama,"
"Salam buat Sierra dan semuanya maaf selalu merepotkan mereka," tutur Akira tanpa menyebut Darel.
"Ya aku akan sampaikan, hati-hati yah!"
Dengan berani Devara, memeluk Akira yang sedikit tegang. Lalu Devara melepas pelukannya, dan menatap wajah cantik yang telah mencuri hatinya. Namun patah hati juga, sebelum berjuang.
***
Sementara Darel dia masih merenung, untuk memantapkan hatinya pada siapa berlabuh.
Dia menatap tempat pertama kali bertemu dengan Akira, baginya Akira memang cantik, dan pintar. Dia juga banyak bicara seperti Sierra, tapi saat itu Darel masih merasakan sesuatu untuk Sierra. Namun semuanya berubah saat Akira selalu membantunya, bahkan saat keluarganya pergi ke Indonesia. Keluarga Akira selalu meyiapkan makan untuknya.
Seiring berjalannya waktu, dia melupakan sosok Sierra. Tapi saat Sierra datang dia pun senang, tapi dia pun tak pernah melupakan Akira.
"Baiklah aku sudah tahu jawabannya," gumam Darel.
__ADS_1
Darel pun memutuskan untuk ke rumah Akira, berpuluh menit kemudian. Darel sudah sampai, dan bertanya pada penjaga rumah Akira. Namun Darel kecewa bahwa Akira sudah pergi.
"Kamu meninggalkan aku Akira?"
Darel pun menggeleng dan kecewa, kecewa pada orang rumah yang selalu menyakiti Sierra. Dan kecewa pada dirinya sendiri, karena tak peka akan perasaan wanita.
Dia pun memukul stir mobil, ingin rasanya marah. Namun tak tahu pada siapa dia harus melampiaskannya?
****
"Kenapa Dev?" tanya Hana, saat melihat sang anak murung.
"Dia sudah pergi jauh mom, dia memutuskan untuk mengubur perasaannya pada Darel." Cerita Devara.
"Akira?" tebak Hana.
"Iya, Akira mencintai Darel. Tapi perasaan Darel pun belum pasti untuk siapa? Dia plin plan mom," adu Devara.
"Jiwa muda memang begitu, kamu suka sama Akira nak?"
"Ya aku suka sama dia, pada pandangan pertama. Dia manis dan cantik." Kata Devara memuji Akira.
Hana tersenyum menatap Devara yang merasakan jatuh cinta, tapi Devara jatuh cinta pada Akira yang agamanya pun berbeda.
tbc...
__ADS_1
Selamat malam minggu semua, bentar lagi tahun 2023 nih! Terima kasih yang sudah menemani sampai sejauh ini 💜💜💜