
"Mas makan siang dulu," panggil Haidar, Sam masih di ruang kerjanya namun berada di kamar pribadi miliknya.
Dia tak mendengarkan panggilan Haidar, dia sibuk melihat Yona yang sedang asik bermain. Dia sudah minum susu, dan berganti Diapers.
"Mas?" panggil Haidar lagi, kini dia sudah masuk ke dalam kamar.
Dan melihat sang kakak yang sedang melamun, Haidar menggeleng pelan.
"Mas? Mas," pekik Haidar pada akhirnya.
"Haidar kamu, mas gak budek yah!" omelnya.
"Iya memang, tapi kalo orang lagi galau. Parah juga yah? Suka gak denger, lupa sekitarnya juga," cibir Haidar.
Membuat Sam memutar bola mata malas.
"Kenapa sih? Mbak Dalia? Bukannya mas Sam setuju, buat di jodohin sama Sinta? Kenapa sekarang galau?" cerca Haidar.
"Dalia sudah pergi pagi tadi," cerita Sam.
"Lalu? Apa masalahnya? Toh mas Sam bukan siapa-siapanya," ucap Haidar.
"Kamu gantiin aku yah? Buat nikah sama Sinta!" celetuk Sam, membuat Haidar melotot menatap sang kakak.
"Idih ogah yah! Lebih baik aku pacaran sama anak SMA, dari pada cewek modelan Sinta," cibir Haidar.
"Jika mas cinta sama mbak Dalia, maka kejar dia. Cewek kan katanya suka di kejar dan di perjuangkan gitulah," jelas Haidar.
"Tapi ibu gimana? Kamu tau kan? Aku gak bisa menolak permintaan ibu," desah Sam.
"Halah mas udah besar kan? toh kalo langsung nikah pun gak masalah. Nanti bawa mbak Dalia kalau udah hamil lagi, aku yakin ibu gak akan menolak." Kekeh Haidar.
"Mulut mu enak banget kalo ngomong, coba kamu praktekan dulu." Kesal Sam.
Haidar beranjak dari duduknya, dan memangku sang keponakan cantik.
"Ambil keputusan sekarang mas, sebelum semuanya terlambat. Cinta itu di perjuangkan," papar Haidar.
"Ohh... Iya, makan siang ada di depan." Sambungnya lagi.
Haidar pun keluar tanpa menutup pintu, Sam pun berpikir dan membenarkan ucapan sang adik. Jika dia harus berjuang membawa restu sang ibu.
***
Di Makassar, Dalia di sambut hangat oleh sang oma yang bernama oma Widi. Oma Widi memutuskan pindah ke Makassar karena harus mengembangkan bisnisnya, dan dia merasa lega karena Arumi bersama Mahesa.
Walau dia tahu bahwa Mahesa dulu memiliki istri, tapi oma Widi tak pernah tahu bahwa Indra dan Mahesa sudah berpisah. Arumi dan oma Widi saling memberi kabar lewat sambungan video atau telepon.
"Bu, maaf kita jarang menjenguk." Ucap Arumi penuh sesal, memeluk sang ibu walau sudah senja. Oma Widi selalu menjaga pola hidup sehatnya.
"Tidak apa-apa ibu mengerti nak," balas Oma Widi.
__ADS_1
Mahesa pun mencium mertuanya, hanya tinggal oma Widi lah ibu yang dia miliki. Karena kedua orang tuanya telah meninggal karena sakit.
"Bu, sehat?" tanya Mahesa.
"Ibu sehat nak, terima kasih sudah mau menerima Arumi." Lirih oma Widi.
Mahesa mengangguk menanggapi ucapan oma Widi, sementara Dalia menatap omanya dengan penuh rindu.
"Oma gak kangen aku gitu?" celetuk Dalia.
"Cucu ku tersayang," ujar oma Widi.
Oma Widi merentangkan tangan, Dalia pun masuk kedalam pelukan oma Widi dan kembali terisak dalam pelukan wanita paruh baya tersebut.
Oma Widi menatap Arumi dan Mahesa bergantian, seolah sedang bertanya. Ada apa?
"Sudah-sudah semua akan baik-baik saja nak!" ujar oma Widi lembut.
Dalia pun melepaskan pelukannya pada sang oma, dia pun meminta izin untuk ke kamar lebih dulu.
Oma Widi memerintahkan salah satu asisten rumah tangganya, untuk mengantar Dalia ke kamarnya.
"Kenapa Dalia?" tanya oma Widi.
Mereka kini sudah duduk di ruang tamu, dengan minuman dan cemilan khas Makassar apa lagi kalau bukan pisang ijo favorit Arumi.
"Ceritanya panjang bu."
"Makanya dia ingin ke sini, dia ingin menata hatinya. Dan mencoba melupakan cintanya bu," kata Arumi dengan raut wajah khawatir.
Oma Widi pun mengangguk, dia mengerti akan kesedihan sang anak. Apalagi cucunya tersebut.
"Ya sudah biarkan dia disini, ibu yakin. Dalia akan baik-baik saja," ujar oma Widi.
"Dan kamu jangan khawatir, oma akan menyuruhnya mengelola cafe oma yang ada di sini." Sambung oma Widi.
"Iya bu."
"Lebih baik sekarang kalian istirahat dulu," perintah oma Widi.
Arumi dan Mahesa mengangguk, mereka pun meninggalkan ruang tamu. Menuju kamar yang sudah di siapkan oleh asisten oma Widi.
***
Siang itu di Korea, Feli bervideo call dengan Hana, Anisa dan Rania. Mereka melepas rindu hanya lewat panggilan video, padahal baru satu bulan yang lalu mereka bertemu.
"Feli," panggil Rania.
"Ya Ran? Ada apa?"
Rania ragu, tapi demi Sierra yang terus bersedih dia akan melakukannya.
__ADS_1
"Bisakah kamu katakan pada Darel, untuk menghubungi Sierra?" pinta Rania menunduk.
Membuat Feli tertegun sejenak, pasalnya setelah ada Akira. Darel seolah melupakan Sierra, padahal masih di ingat dengan jelas. Saat Darel ingin kembali ke Jakarta, karena dia takut Sierra tidak memiliki teman.
"Aku tahu, aku seperti tak tahu malu. Memohon pada mu Fel, tapi kasian Sierra setiap hari dia memikirkan Darel." terang Sierra.
Hening mereka pun hanya diam, begitu pula Anisa dan Hana yang saling lirik. Sementara Feli berdehem untuk mengurangi rasa canggung ini.
"Tidak apa-apa Ran, justru maafkan Darel karena melupakan Sierra. Nanti aku coba kasih tahu Darel supaya memberi kabar Sierra," ujar Feli pada akhirnya.
"Makasih Fel," ucap Rania, membuat Feli tersenyum.
"Sudah-sudah kenapa jadi melow gini sih? Lo hamil ya Ran?" tanya Hana.
"Engga lah," ketus Rania.
"Ya kan siapa tahu, soalnya lo jadi mellow tahu." Kekeh Hana.
"Ada-ada saja kamu Han," celetuk Anisa.
Mereka pun tertawa heboh, dan melanjutkan kembali obrolan mereka.
Tanpa mereka tahu, Darel berdiri di balik pintu yang terbuka. Tadinya dia akan masuk dan meminta izin pada Feli untuk keluar, namun perkataan Rania tengang Sierra membuatnya urung masuk. Darel mendengarkan semuanya, tentang Sierra yang tak pernah dia hubungi lagi.
"Maafkan aku Sie, aku gak pernah lupa." Gumam Darel, mengehela napas pelan.
Dia pun kembali ke dalam kamar, dan menghubungi Akira bahwa dia tak jadi pergi keluar. Dia akan menghubungi Sierra nanti.
Akira yang mendapat pesan dari Darel pun sedikit kecewa, karena jalan-jalan mereka batal
Tapi Akira tak mempermasalahkan itu, toh dia bukan siapa-siapa Darel.
"Sadar Akira, kamu hanya temannya." Ucap Akira menepuk pipinya.
Tapi jika mulut bisa berbohong, maka hati tidak bisa. Dia menyukai Darel, selama satu bulan bersama tak ayal membuat satu rasa itu tumbuh di hati Akira tanpa bisa dia cegah.
Dia sulit sekali mengendalikan perasaan itu, sempat terpikir untuk menjauh tapi untuk apa? Gak etis jika dia menjauh dari Darel karena cinta.
"Biarlah, biar perasaan ini hanya aku yang tahu. Jika Darel tahu aku takut dia menjauh," ujar Akira.
Dan mulai sekarang dia akan menerapkan, pemikiran untuk menjaga jarak dengan Darel sedikit demi sedikit.
tbc..
Semoga suka 💞
Maaf typo
Mau kasih visualnya Justine sama Liana
__ADS_1