
Setelah menyatakan cinta, Liana pulang bersama Devara. Justine berjanji akan menjemput Liana besok.
"Dah yang jatuh cinta mah, dunia serasa milik berdua. Yang lain ngontrak," cibir Devara.
Liana yang sedang dalam dekapan Justine, pun merona menahan malu. Ingin rasanya dia menjitak Devara.
"Hati-hati di jalan yah!" ucap Liana yang sudah masuk ke dalam mobil.
"Iya, kamu juga." Balas Liana malu.
"Ayang dong kok kamu sih," ledek Justine terkekeh.
Liana menatap tajam Devara, dan mencubit pahanya. Membuat Devara meringis.
"Dev jangan ngebut," ujar Justine memperingati.
"Siap, kita duluan ka." Pamit Devara, di jawab anggukan Justine.
Justine menatap kepergian mobil Liana, menghembuskan napasnya secara perlahan. Justine berdoa semoga gak ada gangguan, dalam hubungannya dan Liana.
Satu yang membuat Justine khawatir adalah Dalia, dia takut Dalia berbuat macam-macam pada keluarga Liana. Yang akan berimbas pada hubungannya dengan Liana.
"Semoga kamu, gak macam-macam Dalia." Gumam Justine, menatap kosong ke depan.
****
Keesokan harinya Sesuai janji Justine, dia sudah ada di depan rumah Liana. Bahkan ketika matahari masih malu-malu menampakan sinarnya.
"Liana, bangun. Liat Justine udah ada di luar," teriak Hana menggedor kamar Liana.
Hana terus saja mengetuk pintu kamar Liana dengan keras, mambuat Liana yang tertidur pun perlahan bangun.
"Astaga jam berapa ini?"
Liana melirik jam dinding menunjukan pukul lima subuh.
"Aduh mom, ini masih jam lima loh! Izinkan aku tidur bentar lagi," teriak Liana.
Pasalnya tadi malam, Justine meneleponnya dan dia baru tidur pukul dua dini hari. Saking bahagianya, sampai lupa waktu.
__ADS_1
"Pokoknya, kamu bangun sekarang. Justine ada di depan," ucap Hana.
Mendengar nama Justine, membuat mata Liana terbuka sempurna.
"Justine?"
Dia pun berdiri dan keluar menuju balkon, dan benar saja. Justine sedang bersandar di samping mobilnya, yang melambaikan tangan.
"Dasar kurang kerjaan," cibir Liana.
Liana pun membuka pintu kamar, agar Hana berhenti menggedor pintu kamar.
"Aku udah bangun mom, tapi aku masih ngantuk ini." Keluh Liana.
"Temui dulu Justine, dia pagi-pagi buta sudah ada di sini. Katanya mau jemput kamu," ujar Hana.
Liana mengehela napas panjang, dan mengangguk pada Hana. Dia pun masuk kedalam kamar mandi, membiarkan pintu kamarnya terbuka.
Liana hanya mencuci muka dan menggosok gigi saja, kemudian dia turun untuk menghampiri Justine. Sementara itu Justine sudah masuk, dan menunggu Liana di ruang tamu.
Saat mendengar derap langkah, Justine pun menoleh dan mendapati Liana tanpa make-up. Benar-benar cantik alami, Justine pun tersenyum pada Liana.
"Kamu cantik sekali sayang, saat bangun tidur." Puji Justine, Liana yang mendapatkan pujian tersebut langsung tersipu dan melirik Hana yang tak jauh dari ruang tamu.
Liana pun duduk dekat Justine, dan di halangi oleh bantal sopa.
"Kenapa pagi-pagi sekali? Kamu bangun jam berapa memang?" tanya Liana.
"Aku gak tidur, soalnya kangen terus sama kamu." Justine mengedipkan matanya.
Membuat Liana membulatkan matanya, sejak kapan Justine berubah jadi genit begini? Seingat Liana dia kaku, dingin dan datar.
"Astaga, apa cinta merubah sifat seseorang?" tanyanya dalam hati, menatap Justine.
"Kenapa melihat ku seperti itu? Aku makin tampan kan?" pujinya pada diri sendiri.
Liana berdecak kesal, memutar bola mata malas. "Ish... Kepedean banget kamu."
"Kalau gitu, aku bantu mommy nyiapin sarapan dulu yah! Kamu tunggu saja disini," ujar Liana.
__ADS_1
"Baiklah," balas Justine.
Liana pun melangkahkan kakinya menuju dapur, dimana sudah ada Hana dan Ema. Liana pun membantu Hana, memasak untuk sarapan dan bekal makan siang untuk Lian dan Devara. Sementara Liana tidak membawa, semenjak dia berada di Bangtan Area.
****
Dalia merasakan tubuhnya tak baik-baik saja, apalagi perutnya seperti begah. Dan dia pun merasa pusing serta mual.
"Sepertinya aku masuk angin, beberapa hari ini. Aki gak sempat makan dan pulang malam," keluhnya.
Dalia tak sempat berpikir bahwa dia sedang hamil, karena dia terlalu memikirkan Indra yang sulit di hubungi. Dalia pun keluar dari kamar, dan mencari Arumi.
"Ibu," panggil Dalia.
"Ya sayang?"
"Bikinin aku teh hangat dong! Aku gak enak badan," ucap Dalia.
"Kamu sakit nak?" tanya Arumi khawatir, Arumi pun menghampiri Dalia dan menyentuh keningnya.
"Kamu tidak panas nak, apa yang kamu rasakan?"
"Kepala ku pusing bu, perut aga begah dikit sama aku kaya mual gitu." Keluhnya.
"Ya sudah nanti ibu bikinin teh hangat, dengan jahe campur madu. Kamu ke kamar saja," perintah Arumi.
"Iya bu."
Dalia pun meninggalkan dapur, dan kembali ke kamarnya. Dia membaringkan tubuhnya dan menatap langit-langit kamar.
"Jangan-jangan?"
Dalia pun bangkit dan mengecek kalender, dia pun menjerit tertahan dan bahagia.
"Seharusnya dua minggu lalu, sudah datang bulan kan. Apa aku hamil?" gumamnya mengusap perutnya yang masih rata.
Dalia tersenyum menyeringai, berbagai rencana akan dia lakukan untuk mendapatkan Indra. Entah di sebut apa kah ini? Cinta atau hanya sekedar obsesi saja?
Semoga suka dan selamat membaca gens 😚
__ADS_1
Minta kopinya dong 😁
Maaf typo