Still Love You

Still Love You
Part.73


__ADS_3

Justine menekuk wajahnya, dan menatap tajam orang-orang yang tak jauh dari mejanya. Siapa lagi kalau bukan Devara, Keanu dan Rumi musuhnya dalam merebutkan cinta Liana.


Liana sendiri dia memijit pelipisnya yang terasa pening, dia menatap Justine yang menekukan wajahnya. Menatap datar Devara, Keanu dan Rumi.


"Astaga," batin Liana.


"Kenapa lo liatin gue gitu?" tanya Rumi buka suara.


"Gue rasanya pengen makan lo hidup-hidup," kesal Justine, menancapkan garpuh pada makanannya.


Devara dan Keanu menahan senyum, mereka tak kuasa ingin tertawa keras. Mereka pun hanya berdehem untuk menyamarkan tawa.


"Pasti ini ulah kamu kan?" tuduh Justine pada Devara.


"Kok aku sih, aku di suruh mommy dan papah ikutin kalian. Ya sudah aku ajak mereka," bohong Devara.


Justine memincingkan matanya tak percaya, namun percuma saja di usir toh mereka kekeh ingin terus di sini. Begitulah pikirnya.


"Ya sudahlah, kalian boleh disini tapi khusus untuk mu Rumi. Jauh-jauh sana," usir Justine.


"Lah! Terserah aku dong ini tempat umum," ketus Rumi.


"Sudah-sudah, ayok makan. Aku sudah lapar," kesal Liana.


Dia benar-benar kesal karena malam yang indah baginya malah gagal, sementara itu Sam yang mengikuti Justine melaporkan pada Dalia. Bahwa rencana Justine gagal untuk mengutarakan isi hatinya.


"Bagus terus awasi dia," kata Dalia.


"Siap," balas Sam.


****


Tepat pukul delapan malam, Liana sudah pulang bersama Devara. Tadi Justine memaksa untuk mengantar, tapi Rumi menahannya.


"Li udah dong, jangan marah. Gue minta maaf," ujar Devara, mengejar Liana.


"Tau ahh, gue marah sama lo." Kesal Liana, terus melangkah dengan cepat.


"Liana, sudah pulang?" tanya Hana, yang berpapasan di tangga.


"Sudah mom, gara-gara anak mommy jadi gagal kencannya." Ketus Liana, meninggalkan Hana yang menatap Devara.


"Kenapa kakak mu?"


"Tadi aku Keanu dan Rumi, menyusul ke sana mom. Kami takut Liana berbuat macam-macam. Jadi ya kita awasi," papar Devara.


"Bohong mommy, mereka ganggu aku." Pekik Liana, yang belum benar-benar masuk.


Hana menggelengkan kepala melihat tingkah laku anak-anaknya.


"Sudah sekarang kamu tidur, mommy mau ke dapur bawa air." Kata Liana.


"Iya mom, selamat malam." Ucap Devara.


"Ya selamat malam," balas Hana.


"Ada-ada saja," gumamnya, menuruni tangga.


Sementara itu Dalia masih berusaha mengirim pesan pada Indra, namun Indra tak menggubrisnya. Malah sekarang nomornya di blokir.


"Akhhh.... Menyebalkan," teriak Dalia.


"Besok aku harus menemui Indra, apa pun yang terjadi aku harus menemuinya." Tekad Dalia, walau pasti itu akan gagal.


Dua pelakor sedang beraksi ya 😅


****


Keesokan paginya Liana bermalas-malasan di dalam kamar, karena hari minggu maka tidak akan ada yang menganggu.


"Liana," panggil Devara membuka pintu.

__ADS_1


"Lo, gak sopan yah! Maen masuk aja, gimana kalo aku gak pake baju?" omel Liana.


"Halah gue gak minat sama lo, dari orok juga gue udah tau daleman lo." Kesal Devara.


Dia pun masuk ke kamar Liana dan duduk di meja rias Liana.


"Ada apa?" tanyanya ketus.


"Jalan yuk, sebagai permintaan maaf gitu."


"Ogah ahh, gue mau istirahat. Cape abis kerja dari senin sampe sabtu," ketus Liana.


"Emang gue gak cape apa? Gue juga kerja di kantor ka Keanu, mana kesana sini pula. Lah lo, tinggal duduk tanda tangan beres,"


Liana memutar bola mata malas, dengan terpaksa dia bangun dari rebahannya.


"Memang mau kemana?"


"Pantai?" katanya.


"Ya udah gue ikut, asal semua biaya makan dan jajan. Lo yang tanggung," ucap Liana, dia pun beranjak dari duduknya dan masuk kedalam kamar mandi.


Devara tersenyum masam karena permintaan sang kakak, tapi dia lakukan demi Justine. Yang memintanya membawa Liana ke pantai.


"Asem bener, gue jadi nanggung. Gue ajak Keanu aja kali yah? Ehh... Tapi kalo dia ajak uncle Rumi kan ribet juga, pasti batal lagi."


Devara pun menghembuskan napasnya secara panjang, dia menatap kamar mandi yang terdengar suara gemercik air.


"Gue tunggu di bawah Li," teriak Devara.


"Iya," balas Liana dengan teriak pula.


Sementara itu Justine sendiri, dia hanya menunggu di apartemen. Dia akan berangkat jika Devara memberitahu sudah berangkat dari rumah.


"Justine," panggil Indira.


"Ya bu?"


"Sebentar lagi bu, aku akan mendapatkan hati gadis yang aku cintai." Ungkap Justine.


"Iya kah? Siapa gadis yang beruntung, yang mendapatkan cinta anak ibu?" goda Indira.


"Rahasia, nanti jika sudah resmi aku akan memperkenalkan ibu dengannya." Ujar Justine.


"Jangan lupa kenalkan dia pada ayah mu," Indira mengingatkan Justine, bahwa secara tak langsung dia memiliki ayah.


Namun senyum Justine langsung pudar, dia malas sekali jika menyangkut dengan sang ayah. Apalagi jika teringat tentang, pengkhianatan Dalia.


"Sudahlah bu, aku malas membahasnya." Ucap Justine dingin.


"Sayang jangan begitu, bagaimana pun dia adalah ayah mu." Tegur Indira, bagaimana pun jahatnya Mahesa di masa lalu. Indira tetap mencintainya dia selalu berusaha untuk membenci Mahesa. Namun sulit sekali untuk di lakukannya.


Justine pun beranjak dari duduknya, dia pun masuk kedalam kamar. Tanpa bicara lagi pada Indira, Indira menatap nanar pintu yang tertutup.


"Justine," lirih Indira.


Justine pun bersiap-siap, karena Liana dan Devara sudah berangkat menuju pantai cinta.


****


Berpuluh menit kemudian, Devara dan Liana sudah sampai. Setelah memarkirkan mobil, Devara mengajak Liana berkeliling pantai. Sambil menunggu Justine sampai.


"Tempatnya seru juga, kita kesana yuk!" ajak Liana, dia melihat ayunan yang terdapat bentuk love. Jika malam lampunya akan menyala, dan akan terlihat indah.


"Fotoin yah," ucapnya antusias, menyerahkan ponselnya pada Devara.


Devara pun melakukan permintaan Liana, beberapa kali jepret dengan hasil yang bagus. Membuat Liana puas, kemudian dia pun duduk di tempat pedagang kelapa muda dan memesannya.


Sementara Devara dia memesan dua porsi bakso, dia mendapatkan pesan dari Justine, menanyakan posisinya sekarang.


"Aku berada di dekat pedagang buah kelapa, dan bakso ka." Balas Devara, dan memfoto sekitarnya.

__ADS_1


"Baiklah, aku tau."


Setelah mendapatkan pesan balasan, Devara pun kembali memakan baksonya.


"Kalian disini?" ujar Justine, yang langsung duduk di depan Devara dan Liana.


"Iya ka," balas Devara, melirik Liana sekilas.


"Ngapain ka Justine disini?" tanya Liana ketus.


"Aku juga butuh jalan-jalan Li," ucap Justine tersenyum, membuat Liana memutar bola mata malas.


"Li aku ke toilet dulu yah, bakso sama kelapa muda udah aku bayar." Ujar Devara.


"Ka Justine aku titip kakak ku yah!"


"Siap jangan khawatir,"


"Jangan lama-lama Dev," teriak Liana.


Namun Devara tak menjawab dia malah berlari, dia harus mempersiapkan makan sore romantis untuk Liana dan Justine. Sambil menikmati sunset.


"Ayok, kita jalan-jalan." Ajak Justine.


Liana pun menatap Justine dan mengangguk sebagai jawaban, mereka berjalan beriringan bergandengan tangan menyusuri bibir pantai. Ada rasa bahagia dan hangat di hati Liana, tanpa Justine sadari Liana tersenyum tipis.


Tak terasa waktu menunjukan pukul lima sore, seharian Justine mengajaknya naik perahu dan bersantai di hotel sejenak. Sedangkan Devara dia sudah selesai menata makanan untuk Justine dan Liana.


"Huff... Selesai juga akhirnya," ucap Devara menyeka keringat di dahinya.


Devara pun mengirim pesan pada Justine.


"Semua sudah siap,"


"Aku akan kesana sekarang," balas Justine.


Devara pun menunggu Justine di dekat meja, dia meminum es kelapa muda yang tadi dia beli. Tak lama Devara melihat Liana yang di tutup matanya oleh Justine, saat dekat Justine memberi isyarat untuk diam. Devara pun mengerti.


"Sebentar," ucap Justine.


"Justine kamu mau kemana? Jangan tinggalkan aku," pekik Liana panik.


"Aku tidak meninggalkan mu, aku disini."


Justine mendekati Devara dan berbisik padanya.


"Hah? Yang benar saja. Aku gak bisa nyanyi," tolak Devara berbisik.


"Ayolah, aku mohon."


"Baiklah," pasrah Devara.


Devara pun membawa gitar yang berada di mobil Justine, dia melihat Liana sudah duduk dengan wajah terkejut.


Saat Devara mendekat dan memainkan gitarnya, dia bisa melihat Liana membekap mulutnya. Dan Justine menggengam tangan Liana.


"Liana, aku mungkin bukan manusia yang romantis dan pandai berkata-kata manis. Tapi aku akan membuktikan cinta ku pada mu nyata adanya, maukah kamu jadi kekasih ku? Jika kamu nyaman, maka aku akan melamar mu pada papah Indra," ucap Justine memang tak ada romantis-romantisnya.


Di sela memetik gitar Devara mencoba menahan tawa.


"Aku masih ragu sama kamu, tapi aku lihat niat tulus dari mu. Maka aku akan menerima mu," balas Liana, akhirnya tawa Devara pecah juga melihat acar menyatakan cinta yang aneh. Membuat Liana menatapnya tajam.


"Makasih Li,"


Justine memeluk Liana, setelah membawanya berdiri. Mereka pun menikmati hidangan yang di sajikan oleh Devara, walau hanya nasi goreng seafood dan es jeruk tapi. Penyajiannya sangat istimewa, Devara benar-benar ahli dalam hal hias menghias. Dan suaranya pun lumayan merdu.


Beratapkan langit, bersaksikan senja mereka resmi menjadi sepasang kekasih.


Semoga suka 🌚


Maaf typo

__ADS_1


__ADS_2