
Pukul sepuluh malam, Eli pergi ke club tempatnya bekerja. Dia menuju ruang ganti, untuk mengganti pakaiannya walau pakaian itu sangat minim dan seksi. Tak membuat Eli risih karena dia terbiasa memakai pakaian tersebut.
Dia mengantarkan minuman ke meja atau ruangan khusus yang di pesan oleh pelanggan yang datang.
Eli duduk di dekat meja bar tender, dia menatap semua orang yang sedang berjoged, dan bercumbu. Sebenarnya dia jijik melihat itu, tapi mau bagaimana lagi.
Tatapannya tertuju pada laki-laki paruh baya berumur sekitar 40an, namun terlihat masih gagah dan tak terlihat seperti umur 40.
"Apa gue jadi sugar baby aja ya? Biar cepet lunas hutang sialan itu." Gumamnya.
Dan kebetulan tatapan laki-laki tersebut menatapnya, dan tersenyum yang di balas senyum oleh Eli. David laki-laki yang tersenyum tadi bernama David, dia berjalan menghampiri Eli..
"Hah! Dia jalan ke arah gue? Gak salah?"
"Hai! Boleh kenalan?" ucapnya di depan telinga Eli, karena suara musik yang kencang.
"Boleh," sahutnya.
"Nama saya David, kamu?"
"Saya Eliza."
"Mau temani saya? Nanti saya bayar tinggi, gimana?"
"Boleh om." sahut Eli antusias.
Eli dan David pun menuju ke lantai tiga, dimana kamar VIP berada. Dia membawa minuman anggur termahal di bar tersebut.
Setelah sampai di kamar yang telah di pesan David, mereka kini duduk di sofa sambil mengobrol. Sesekali Eli menuangkan minuman untuk David.
"Kamu minum dong sayang," pinta David.
"Engga om, aku gak minum." Tolaknya halus.
"Ayolah jangan mengecewakan aku," bujuk David.
"Baiklah."
Tanpa Eli tahu, minuman tersebut sudah di campur oleh obat perangsang. Memang setiap dia ke club selalu membawa obat perangsang, beberapa menit setelah menegak minuman tersebut Eli merasakan panas di tubuhnya. Membuat David tersenyum menyeringai.
"Kamu kenapa?" tanya David.
"Gak tau om, tiba-tiba panas banget ini." Keluhnya.
"Buka saja baju mu, biar gak panas," bisiknya.
Eli pun menurut, dia sudah dalam keadaan telanjang. Dan David menatapnya lapar.
"Ini masih panas om," keluhnya, sambil menggesekkan kedua pahanya dengan rapat. Merasakan denyut di intinya.
David membawa Eli kedalam pangkuannya, menyerang Eli dengan beringas dan tanpa ampun. Tapi Eli sangat menikmati itu semua.
****
Apartemen Radit
Waktu menunjukan pukul dua belas malam, tapi mata Rania belum mau terpejam sama sekali. Dia begitu memikirkan keadaan sang kakak, bagaimana pun perlakuannya pada dirinya. Dia tetap menyayangi Eli.
"Mudah-mudahan dia baik-baik saja," gumamnya. Rania pun mencoba memejamkan mata untuk tidur.
Keesokan paginya, Rania sudah bangun walau jam tidurnya semalam sebentar tapi dia harus menyiapkan sarapan dan baju kerja Radit.
Rania berkutat dengan alat masak, yang modern dan bagus. Tak seperti di rumahnya, di sini dia menggunakan kompor listrik. Dan perabotan yang begitu kumplit.
Rania memasak air untuk membuatkan Radit kopi, untuk sarapan dia akan membuat sandwich saja.
"Pagi," sapa Radit, dengan muka bantal walau acak-acakan Radit masih terlihat tampan.
Membuat jantung Rania berdisko ria, Rania menetralkan debaran yang dia rasa.
"Pagi mas," balasnya.
"Baru juga dua hari, masa jatuh cinta sih!" batin Rania.
"Aku akan siapkan baju mas Radit bentar lagi," ujar Rania.
"Gak apa, biar aku sendiri Ran. Kamu lanjut aja bikin sarapannya," ucap Radit, di jawab anggukan Rania.
Radit pun berlalu dari dapur, membuat Rania menghembuskan napasnya lega. Radit yang berada di sekitarnya membuat hatinya berdebar, begitu kencang serasa habis berlari jauh.
__ADS_1
"Mas Radit, bisa-bisa aku jatuh cinta sama kamu," gumamnya.
Beberapa menit kemudian Radit sudah siap dengan setelan jas berwarna hitam dan celana kain senada, jangan lupa rambutnya yang selalu acak-acakan menambah kesan seksi di mata Rania.
"Sarapan sudah siap mas,"
Rania meletakan kopi Radit yang sudah hangat, sandwich dan potongan buah apel dan naga.
"Makasih Ran, kamu sarapan aja bareng aku." Kata Radit.
"Gak usah mas, makasih. Aku mau mengerjakan pekerjaan yang lain dulu," ujar Rania.
Radit pun hanya mengangguk saja, setelah selesai sarapan dia berangkat menuju perusahaannya. Walau tak sebesar milik Gemy tapi dia memiliki untung yang lumayan, tak jarang Indra pun membantunya. Walau pekerjaan tetap Indra berada di perusahaan milik Gemy.
"Aku berangkat dulu Ran, hati-hati di rumah. Kalau ada orang asing jangan di buka," nasihat Radit.
"Iya mas," teriak Rania dari arah tempat cuci baju.
Setelah mendengar pintu tertutup, Rania memegangi dadanya.
"Mas Radit udah kaya suami ku aja, pake pamit segala. Mas... Mas, nanti aku jatuh cinta gimana coba?"
Rania pun melanjutkan pekerjaannya kembali.
****
Sementara itu di sebuah kamar, Eli merasakan ngilu di seluruh tubuhnya terutama di bagian area selangkangannya yang merasa perih.
Dia mengingat percintaan panas, dengan David yang di lakukan berulang kali. Walau sudah tua tapi staminanya warbyasah, dia menatap ke samping sudah kosong hanya menemukan secarik kertas dan sejumlah uang tunai berwarna merah.
"Terima kasih atas pelayanan mu, aku tak menyangka kamu masih perawan."
Eli meremas kertas tersebut dan melemparkannya asal, dia kira bakal menjadi simpanan atau sugar baby tapi dia malah di tinggal di kamar sendiri. Ada rasa sesal dalam hatinya melakukan itu.
"Sialan, nyesel gue," umpatnya.
Dia bergegas memakai baju, dan menuju ruang ganti. Dia akan pulang dan tidur sepuasnya, saat masuk gang rumahnya dia mendengar obrolan ibu-ibu yang sedang menatap dirinya dengan tak suka. Tapi Eli tipe orang yang bodo amat, dia pun berjalan cepat menuju rumahnya, walau pangkal pahanya sakit dia tetap tahan.
****
Sementara itu di rumah orang tua Yudis, Feli yang sebelumnya muntah-muntah sekarang malah menangis. Yudis dan mommy Melati mencoba menenangkan Feli, yang moodnya berubah.
Tangis Feli pun berhenti dan menatap mommy Melati, dengan mengerjapkan matanya.
"Aku mau liburan mom," cicitnya.
"Hah? Kamu mau apa?"
"Liburan," ucapnya.
Mommy Melati menghembuskan napasnya secara kasar, menatap Yudis yang mengedikan bahunya.
"Lalu, kenapa kamu menangis?"
"Yudis gak izinin aku liburan, dia bilang banyak kerjaan dan gak bolehin aku ketemu sama idola aku mom," adunya.
"Yudis," desis mommy Melati menatap sang anak, yang meringis.
"Tapi dia mau ketemu, tujuh cowok mom. Aku gak rela lah."
"Tuh kan mom, Yudis gak mau. Dia gak sayang sama aku," isak Feli lagi.
"Sudah-sudah, nanti mommy bilang sama daddy buat izinin Yudis cuti," putus mommy Melati.
"Yudis urus semuanya, turuti apa mau istri mu. Jika tidak bertemu mereka setidaknya bawa dia ke korea," titah sang nyonya besar.
"Baik mom," pasrah Yudis.
Membuat Feli senang, dan memeluk mommy Melati. Membuat Yudis memutar bola mata malas, setiap hari ada saja drama ngidam Feli. Yang terkadang membuat Yudis lelah, tapi ini semua dia lakukan untuk sang anak yang di kandung Feli.
Yudis mengutus asisten pribadinya, Setya untuk mengurus kepergiannya ke Korea.
"Sayang, aku pergi dulu ke kantor yah! Cuma bentar ko."
"Iya, tapi anterin aku ke rumah Hana dulu," pinta Feli manja.
"Iya."
Feli dan Yudis pun menuju rumah Hana, berpuluh menit kemudian dia sudah sampai di rumah Hana.
__ADS_1
"Anti Feli," pekik si kembar, yang sedang menemani Hana menyiram tanaman.
"Tumben lo, ke sini?"
"Ya elah, pelit banget sih lo."
"Hana, aku titip Feli bentar yah." Ucap Yudis.
"Iya Dis, santai aja."
"Aku pergi dulu sayang," ucap Yudis mencium kening Feli.
"Aduh baper deh gue," protes Hana berpura-pura.
"Kembar uncle pergi dulu, jagain anti Feli ok!"
"Siap uncle," seru Liana dan Devara.
Yudis pun meninggalkan rumah Hana, setelah memastikan mobil Yudis tak terlihat. Hana mengajak Feli dan anak kembarnya masuk.
"Gue mau ke Korea Han," cerita Feli.
"Korea? Mau apa lo ke Korea?" tanya Hana, setelah memastikan kedua anaknya anteng di area bermain.
"Mau ketemu BTS lah, mau apa lagi memang," kekeh Feli.
"Dasar lo, mana mungkin ketemu sama mereka. Secara jadwal mereka sibuk," ujar Hana.
"Lo tuh yah, yang penting gue ke Korea."
Feli tertawa, membuat Hana cemberut.
"Lo sih enak, suami lo bos. Lah Indra kan bukan bos," ucapnya cemberut.
"Sory... Sory," ucapnya sesal.
"Gak papa, santai aja. Lagian gue gak mood buat liburan,"
"Lo hamil lagi Han?"
"Sembarangan aja, gue pake kontrasepsi yah."
Mereka pun mengobrol tentang anak, dan kelakuan Indra saat Hana melahirkan dan ngidam. Tak lupa Hana dan Feli pun menggosipkan Rania, yang Radit sebut pembantu tapi tak seperti pembantu.
"Gue yakin, Radit sama Rania bakal saling suka." Ucap Hana.
"Feeling gue juga gitu sih, Rania lemah lembut kaya Anisa. Cocok sama si Radit yang bar-bar dan sad boy," kekeh Feli.
"Nanti kita ke apartemennya lagi yuk, seru kumpul di sana." Usul Hana.
"Boleh tuh."
Hana dan Feli pun tertawa.
****
Rania yang merasa bosan di apartemen, setelah semua pekerjaannya beres memutuskan untuk menonton tv saja. Ponselnya berdering ada pesan masuk dari Radit.
Radit memasukan Rania ke grup, Cool and rich squad.
Feli: Selamat datang Rania, di grup gesrek. Mudah-mudahan kamu sefrekuensi sama kita.
Hana: Loh... Loh, kok lo masukin Rania Dit? Hemm... Curiga gue 🤔"
Radit: Apaan sih lo, gue kasian sama Rania. Takut dia bosan, makannya gue masukin ke grup kita. Biar lo bisa ajak dia ngobrol,"
Indra: Modus banget lo Dit.
Radit: Sialan lo, Indra gue pecat lo.
Indra : Pecat aja, gue gak takut 🤣
Gemy: Berisik lo semua, jangan ganggu gue lagi kerja.
Rania tersenyum membaca pesan dari sahabat-sahabat Radit tersebut, pesan baru datang dari nomor Anisa yang memperkenalkan dirinya. Justru Rania dan Anisa yang terlibat chat seru, menghiraukan chat grupnya tersebut.
Semoga suka 💞
tbc...
__ADS_1
Maaf typo