
Hari pertama Rania di apartemen Radit, dia habiskan untuk membersihkan seluruh ruangan dan mencuci. Radit bilang dia akan pulang saat jam makan siang. Dan Rania sudah menyiapkan masakan untuk Radit makan siang.
Saat Rania sedang asik bersih-bersih, tiba-tiba bel apartemen berbunyi dengan tergesa Rania membuka pintu.
"Kamu siapa?" tanya Feli.
"Saya Rania nona, saya bekerja di apartemen ini," jelas Rania dengan gugup.
Feli terus menatap Rania dari atas sampai bawah. "Aku gak percaya, jangan... Jangan kamu pacarnya Radit?" tanya Feli memincingkan matanya.
Rania menggeleng panik. "Bukan nona," elak Rania.
"Lalu?" Feli menaikan sebelah alisnya.
Tak lama Yudis pun datang. "Sayang aku bilang tunggu aku, kenapa ditinggal?" tanya Yudis.
"Aku gak sabar pengen ketemu Radit," jawab Feli manja. merangkul lengan Yudis dan masuk ke dalam melewati Rania dan menghiraukannya, ibaratnya dunia seperti milik berdua yang lain mah ngontrak.
"Tapi mas Radit tidak ada," terang Rania, dia memutuskan untuk memanggil mas saja. Karena Radit tidak suka dipanggil tuan.
"Mas," ulang Yudis dan Feli, mereka mengulum senyum merasa lucu.
"Gak apa-apa, kita akan menunggu dia sampai datang." Ucap Feli.
"Maafkan istri saya," ucap Yudis.
"Tidak masalah." Rania tersenyum pada Yudis, kemudian dia membuatkan minum untuk Feli dan Yudis.
"Silahkan diminum."
"Terima kasih," ucap Feli dan Yudis.
Rania melanjutkan pekerjaannya, dia tidak merasa terganggu dengan sepasang suami istri yang sedang bercanda tersebut. Sepuluh menit kemudian bel apartemen berbunyi lagi, Rania membukakan pintu.
"Kamu siapa?" tanya Hana.
Pertanyaan yang sama, yang ditanyakan kepada Rania.
"Katanya dia pembantu Radit," sahut Feli dari dalam.
"Pembantu, cantik gini? Masa sih? Gue gak yakin." Kata Hana.
Sementara itu kedua anak Hana, sudah menerobos masuk.
"Anti Feli, uncle Yudis." Pekik Liana dan Devara, langsung memeluk Yudia dan Feli.
Hana datang bersama Indra yang hanya mengangantar saja dan si kembar, tak lupa Gemy dan Anisa yang sejak tadi berdiri dibelakang Hana. Jangan lupakan si ceriwis Keanu.
"Onty." Pekik Keanu. Keanu berlari pada Feli tapi langsung di tahan oleh Yudis. Yudis khawatir karena kandungan Feli masih rentan.
"Keanu sayang, hati-hati." Anisa memperingati Keanu yang akan menubruk tubuh Feli.
"Maaf bunda," kata Keanu.
"Gak apa-apa sayang, lain kali jangan gitu yah. Kan di perutnya onty Fei ada baby sayang," jelas Gemy, dia mencoba menjelaskan dengan lemah lembut.
Keanu mengangguk saja, kemudian dia berlari ke tempat bermain yang Radit sediakan bersama Devara dan Liana. Alasannya agar nanti para bocil sudah agak besar tidak mengganggu kegiatan orang tuanya.
Sementara itu Rania hanya mendengarkan saja dari dapur, sambil membuatkan minuman dan menyiapkan cemilan untuk mereka.
****
Beberapa jam kemudian Radit sudah pulang dan membulatkan kedua matanya, dia begitu terkejut atas kedatangan sahabat-sahabatnya yang tanpa pemberitahuan sama sekali.
"Ngapain lo semua ada disini?" tanya Radit.
"Tuh maunya bumil," tunjuk Hana pada Feli, yang sedang makan buah-buahan.
"Sory Dit, Feli merengek ingin ke apartemen lo," jelas Yudis.
"It's oke, gue paham moodnya ibu hamil gimana. Indra kemana?" tanya Radit.
"Dia balik lagi ke kantor, ada kerjaan yang gak bisa ditinggal. Lagian gue gak repot jaga mereka karena pembantu lo bantuin gue jaga Ana," jelas Hana.
__ADS_1
"Ehh Dit, dia siapa? Calon lo yah?" tanya Hana berbisik, saat Radit duduk didekat Hana.
"Enak aja bukan," ketus Radit.
"Ngaku aja Dit, gak usah malu sama kita-kita," sahut Gemy keluar dari kamar tamu, kamar tamu di apartemen Radit ada dua. Satu yang di tempati Rania dan yang kedua, khusus untuk anak-anak tidur.
"Gue jujur apa adanya, kemarin gue gak sengaja nemu dia pingsan pas mobil gue," terang Radit.
Mereka hanya beroh saja, kemudian lanjut mengobrol kembali. "Gini nih, kalo punya temen sultan semua. Jam kerja aja mereka seenaknya pulang. Kecuali Indra dia bukan bos," batin Radit.
"Ya udah kalo gitu, gue mau mandi dulu."
"Iya." Jawab mereka serempak.
Radit berniat untuk menemui Rania yang sedang bermain bersama Liana dan Devara, karena tadi Keanu mengeluh mengantuk. Radit melihat Rania yang perhatian pada si kembar, kemudian memanggilnya.
"Rania," panggil Radit.
"Iya mas."
"Tolong kamu masakin, makanan bergizi yah jangan pake penyedap karena sahabat perempuan saya sedang mengandung. Kalo untuk kami para pria tidak masalah," beritahu Radit pada Rania, Rania pun mengangguk saja sebagai jawaban.
Setelah memberitahukan itu dan menyapa sebentar si kembar, Radit berlalu begitu saja. Dan menemui Liana dan Devara Rania tahu makanan untuk ibu hamil dan menyusui karena dia pernah bekerja di catering makanan untuk ibu hamil dan menyusui.
****
Rania begitu serius memasak, sehingga dia tidak menyadari bahwa Anisa sedang memperhatikannya.
"Ada yang bisa dibantu?" tanya Anisa.
"Ehh... Tidak ada nona, anda tunggu saja bersama yang lain."
"Jangan panggil saya nona, panggil saja Anisa."
"Baiklah Anisa." Rania tersenyum pada Anisa.
Anisa memutuskan untuk membantu Rania memasak, karena Keanu sedang tidur jadi dia bebas. Dan Gemy dia sedang asik dengan laptopnya.
"Bukan, saya pembantunya," jelas Rania.
Anisa hanya mengangguk dia tidak ingin bertanya lebih lanjut, Rania dan Anisa terlibat obrolan yang sangat seru. Sehingga tak terasa masakan pun sudah selesai.
"Terima kasih Anisa, ternyata kamu enak di ajak ngobrol."
"Sama-sama, Ran. Lain kali kalo mau cerita kamu boleh hubungi aku atau temui aku, ok."
"Oke," jawab Rania.
Rania dan Anisa meletakan masakan mereka di meja makan dan Anisa memanggil sahabat-sahabatnya. "Rania, kamu ikut makan sini."
Anisa menepuk bangku kosong di sebelahnya, Rania duduk canggung baru kali ini dia makan ramai-rami sepeti ini biasanya dia makan sendiri. Sedangkan kedua anak kembar Hana masih anteng dengan mainannya.
Mereka semua makan dengan mengobrol kan hal absurd, seperti yang mereka lakukan selama ini. Membuat Rania yang berada di tengah-tengah mereka, bisa merasakan sesuatu yang dulu pernah hilang darinya.
Tak sengaja Radit melihat mata Rania yang berkaca-kaca, tanpa Radit sadari semua sahabatnya mengerti atau mungkin terlalu peka kecuali Yudis.
"Ehh abis ini, kita mau pulang Dit," celetuk Hana.
"Indra belum jemput lo, Han."
"Gak apa-apa gue, bisa sama Feli atau Anisa."
"Ya udah terserah lo semua, dasar yah datang cuma minta makan aja," cibir Radit, membuat semaunya terkekeh.
"Ya ampun Dit, ko lo gitu sih. Gimana kalo anak gue ileran ini?" tanya Feli.
Membuat Radit memutar bola mata malas. "Udah berisik lo semua, ayo lanjut makan."
"Cie ngambek, bentar lagi bakal jinak nih sama pawang," goda Hana.
"Astagfirullah Hana, apaan sih lo?" tanya Radit tidak mengerti.
Radit terus mengomel, membuat semua sahabatnya dan Rania tertawa. Radit bisa melihat senyum Rania yang manis. Begitulah Radit dia bisa jadi badut untuk orang lain yang sedih.
__ADS_1
"Apakah aku sudah jatuh cinta padanya? Masa secepat itu sih!" batin Radit, Radit terus menatap Rania yang sedang tertawa bersama Anisa.
****
Tepat pukul tiga sore, semua orang sudah meninggalkan apartemen Radit. Dan Radit mengantar Feli ke basment, membuat Radit mengomel.
"Makasih ya Dit," ucap Feli sebelum pergi.
Membuat Radit memutar bola mata malas.
"Udah sana lo, pulang bukannya istirahat malah kesana sini," omel Radit, membuat Feli tertawa.
"Lo nyebelin banget, ehh... Jangan macem-macem lo. Sama Rania, cepet halalin Dit," bisik Feli, membuat Radit mendelik tak suka.
"Udah-udah pergi lo," usir Radit kesal.
"Idih marah, ayok sayang kita pulang." Ajak Feli pada Yudis.
"Kita balik dulu Dit, thanks ya!" ucap Yudis, hanya di jawab anggukan oleh Radit.
Setelah memastikan mobil Yudis pergi, Radit kembali menuju unitnya. Saat membuka pintu, apartemennya sudah bersih dan wangi. Radit menyunggingkan senyum tipis.
"Rania, kamu istirahat aja. Aku tahu kamu pasti lelah," ujar Radit.
"Gak papa, kok mas. Aku gak lelah, malah seneng karena sahabat-sahabat mas Radit baik dan seru. Apalagi anak-anak mereka menggemaskan," papar Rania.
"Syukurlah kalo kamu nyaman sama mereka, gak mudah untuk dekat dengan mereka. Kalo lo gak gesrek juga kaya mereka," kekeh Radit.
"Aku ke kamar dulu, kamu jangan lupa istirahat ya!" ucap Radit.
"Iya mas," balas Rania.
Radit pun meninggalkan Rania, menuju kamarnya dia ingin beristirahat sebentar sebelum kembali bekerja nanti di ruang kerjanya. Rania pun tersenyum tipis, merasa bahagia berada di lingkungan Radit dengan orang-orang baik.
****
Berbeda hal dengan sang kakak Eli, dia sedang ketar-ketir bekerja. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan hutang-hutang yang di tinggalkan ayahnya.
"Rania sialan! Awas aja, kalo gue ketemu sama lo," gerutu Eli, dia sangat kesal karena dari dulu hanya Rania yang bekerja. Sedangkan dia hanya menikmati hasilnya.
Eli kini bekerja sebagai pelayan di club malam, walau penghasilannya besar dari club namun sifat boros pada dirinya sulit untuk memenuhi kebutuhan dirinya sendiri.
Saat Eli sedang bersiap-siap, dia di kejutkan dengan ketukan pintu.
"Aduh, siapa ya?"
Eli pun berjalan membuka pintu, pintu pun terbuka dan nampak lah pria tua yang akan menikahi Rania sekaligus lintah darat.
"Mana?" tanyanya.
"Saya belum dapat uangnya, pak!"
"Halah... Bohong kamu, kalau kamu gak mencicil uang itu maka bunganya akan bertambah terus," ujar Nurman.
"Jangan dong pak, nanti saya bayar bunganya aja." Protes Eli.
"Baiklah, saya akan memberi waktu satu minggu lagi. Jika tidak, maka rumah ini akan saya sita," pekik Nurman.
"Hah? Jangan... Jangan, nanti kalau di sita saya tinggal dimana?"
"Masa bodo, ayok kita pergi," ajaknya pada bodyguard bertubuh kekar dan besar.
Eli terduduk di kursi teras rumahnya, memegangi dadanya yang terasa sesak.
"Astaga, dimana aku cari uang sebanyak itu."
Eli memutuskan untuk bersiap, karena sebentar lagi club malam tersebut akan segera buka. Sekarang dia merasakan dalam tekanan, seperti Rania rasakan.
Semoga suka 💞
tbc...
Maaf typo
__ADS_1