
Matahari menampakkan sinarnya tapi pemuda pelajar yang ingin ke kota telah menunggu paman He di jalan. Mereka harus pergi pagi-pagi jika ingin tiba di kota tidak terlalu siang.
"Apa kita kepagian? Kenapa paman He belum datang?" tanya Bai Qiao cemberut. Dia hari ini memakai pakaian yang tidak terlalu tebal jadi dia merasakan dinginnya pagi.
"Sepertinya begitu. Kita datang lebih awal."Jawab Ruan Miao.
"Kak Ruan, Paman He siapa?" tanya Jiang Yi.
"Pemilik gerobak yang akan kita naiki ke kota." Li Feng menjawab pertanyaan Jiang Yi.
Jiang Yi menatap Li Feng yang menjawab, dia mengangguk.
"bukannya semalam sudah aku beritahu." Ruan Miao mencubit wajah Jiang Yi dengan pelan. Gemas dengan tingkahnya.
"hehehe aku lupa." Jiang Yi menyeringai denga polos. Tadi malam dia tidak memperhatikan obrolan ketika dia tau akan ke kota. Dia hanya memikirkan hal untuk dibeli nanti.
"Kamu bukan lupa tapi tidak di dengar. Terlalu senang pergi ke kota."
"Maaf kak ruan. Kakak benar aku terlalu senang sampai tidak memperhatikan. Janji ga begitu lagi." Jiang Yi memeluk tangan Ruan Miao dan berkata dengan nada imut.
"Baik, baik." Ruan Miao mengelus rambut Jiang Yi.
Yang lain hanya memperhatikan tingkah mereka dengan menghela nafas.
"Apa kalian menunggu lama?" paman He duduk di gerobak sapi memandang pemuda pelajar.
"Tidak paman He. Terimakasih mau mengantar kami." Li Feng berucap kepada dengan ramah.
"Tidak apa-apa. Lagipula kalian membayarku. Hahaha." Zhao He tertawa dengan riang.
"Cepat naik. Kita harus cepat berangkat."
Pemuda pelajar naik ke gerobak, tempat gerobak cukup untuk mereka. Li Feng duduk bersama dengan paman He yang berada di kursi depan supir, Zhao He mengendalikan sapi.
Gerobak mulai berjalan menyusuri jalan dengan pelan. Jalan yang tidak rata membuat pergegerakan sapi lambat karena harus menarik gerobak.
"Pelajar Li, nanti paman jempu jam berapa?" tanya Zhao He.
"Paman bisa jemput pukul 2 siang."
"Cukup sore."
"AH, begini paman He. Ada pemuda pelajar yang baru datang jadi kami ingin mengenalkan kota sebentar. Agar mereka tidak tersesat nantinya." Jelas Li Feng.
"Tidak apa-apa. Paman sedang tidak sibuk jadi kamu bisa bersenang-senang."
"terimakasih paman."
__ADS_1
Tak terasa perjalan mereka akhirnya sampai tujuan.
"Terimakasih Paman He telah mengantar kami." Pemuda pelajar mengucapkan terimakasih kepada paman He.
"Iya, sama-sama."
"Pelajar Li, pulang nanti kamu tunggu disini." Zhao He berucap pada Li Feng.
"Baik paman. Hati-hati dijalan."
"Iya, selamat bersenang-senang." Paman He pergi kembali ke desa. Dia akan mengantar yang lain.
Xu Mo menutup mulutnya menahan rasa mual yang dia alami. Dia tidak terbiasa dengan jalan yang bergelombang itu. Rasanya dia mengalami penyiksaan yang Panjang.
"Kamu lemah."ucap Shen Yan
"Mana mungkin aku lemah?! Jangan-" Xu Mo kembali menutup mulutnya rasanya dia akan memuntahak sarapan yang dia makan tadi jika melanjutkan berbicara.
Jiang Yi juga mengalami hal yang sma menahan rasa pusing yang dia alami menaiki gerobak sapi. Tidak menyangka dia akan mengalami mabuk kendaraan.
"kamu tidak apa-apa?" Ruan Miao menepuk Pundak Jiang Yip pelan.
"Tidak apa-apa. Aku hanya tidak terbiasa." Jiang Yi tersenyum. Berusaha memberikan wajah yang terbaik bahwa dia tidak apa-apa.
"Jangan dipaksakan. Kita istirahat dulu." Li Feng mengintruksi mereka untuk beristirahat dulu sebelum melanjutkan membeli keperluan melihat keadaan mereka yang memprihatinkan.
"Terimakasih, pelajar Li"
"Aku tidak menyangka naik gerobak aku mengalami mabuk kendaraan." Jiang Yi berucap dengan Lelah.
"Bukannya kamu ketika ke desa naik gerobak?" tanya bai qioa bingung.
Jiang Yi membeku.
Benar, Jiang Yi sebelum datang naik gerobak sapi ketika ke desa pertama kali. Tentu harus tau pengalaman menaiki gerobak sapi. Tapi dia, Jiang Yi dari jaman modern tentu belum pernah menaikinya.
Bagaimana ini? Apa mereka curiga dia bukan Jiang Yi yang asli? Apa dia disangka mata-mata?
Pikiran negative membuat Jiang Yi tidak tau harus menjawab apa.
"pelajar jiang mungkin tidak terlalu terbiasa naik gerobak. Qiao kamu bahkan lebih parah daripada yiyi sebelumnya." Ucap Li Feng
"Hei, ma-mana mu-ngkin aku begitu?" Bai Qiao menyangkal ucapan Li Feng dengan gagap. Melirik Shen Yan yang duduk berharap dia tidak mempercayai ucapan Li Feng. Walaupun apa yang di ucapkan Li Feng benar tapi dia tidak ingin dibeberkan begini.
Rasanya harga diriku mulai turun-batin Bai Qiao
Padahal Shen Yan tidak memperhatikan yang diobrolkan dia hanya menatap arah depannya. Yang namapak suasana kota yang berbeda dengan kota yang dia tinggali.
__ADS_1
"AY—ya... aku tidak terbiasa." Jiang Yi langsung setuju dengan apa yang Li Feng dengan canggung.
Semoga mereka percaya dan tidak curiga aku bukan Jiang Yi yang asli.
Ruan Miao tertawa, dia jadi mengingat kenangan yang lalu. "Ya, pelajar Li benar."
"Kak Ruan, diam. Sstt" Bai Qiao membekap mulut Ruan Miao untuk diam tidak berbicara lagi. Kenapa dilanjutkan? Apa kak ruan tidak tau aku malu.
"tidak apa-apa, qiao. Itu normal bahkan pelajar Xu begitu. Masih belum terbiasa." Ruan Miao melepaskan tangan Bai Qiao yang membekapnya dan berkata dengan nada main-main.
Bai Qiao menutup wajahnya dengan malu.
Xu Mo yang di panggil bersandar ke dinding tidak mendengar. Dia masih terlalu lelah untuk berbicara. Menatap mereka dengan kosong tidak tau kenapa mereka masih memiliki tenaga untuk berbicara.
"Xu Mo, Kau lebih baik?" Li Feng bertanya. Mereka sudah istirahat selama 10 menit dia kira itu cukup untuk mengumpulkan tenaga kembali.
"Ya lebih baik."
"kita pergi ke departemen store dulu."
"Baik."
Mereka pun pergi menuju departemen store untuk membeli keperluan. Suasana ramai terlihat dari sebuah Gedung. Akhirnya mereka tiba di Gedung departemen store yng mereka tuju.
"Aku dan yang laki-laki akan beli keperluan berpisah. Kalian beli yang kalian akan perlukan. Nanti tunggu disini setelah selesai belanja." Li Feng memberitahu Ruan Miao.
"Jangan sampai kalian tersesat dan berpisah."
"Baik."
Shen Yan dan Xu Mo pergi kedalam untuk membeli yang diperlukan untuk ke depannya. Ada beberapa barang yang mereka bawa sebelumnya akan habis jadi mereka akan membelinya.
"Kakak Yan kamu akan beli apa?" tanya Xu Mo
"Aku beli pasta gigi dulu." Shen Yan mengeluarkan kertas dari sakunya. Kertas itu berisi catatan hal yang akan dia beli.
"Wah, kakak yan teliti sekali. aku bahkan tidak menulis yang akan aku beli hanya mengingat." Xu Mo mengintip kertas yang dipegang Shen Yan ketika dia tau yang di pegang Shen catatan belanja yang akan dibeli dia jadi kagum. Memang tuan tanpa cela. Ketelitian yang membuat Xu Mo merinding, dia takkan bisa terbiasa dengan hal itu. Walaupun dia membuat hal tersebut juga dia tidak yakin dia bakal membeli yang sesuai dengan yang ditulis dirinya karena dia tau dia pasti gampang tergoda untuk membeli yang lain.
"Aku tidak ingin ada yang tertinggal. Jadi aku menulisnya. Kita tidak tau kita ke kota lagi jadi harus tidak ada yang tertinggal untuk dibeli." Shen Yan kembali melipat kertas tersebut dan memasukkan kembali ke tempat semula.
"Aku akan menyontek yang kakak yan beli." Ucap Xu Mo.
Shen Yan menatap Xu Mo yang bersemangat. Ya dia terbiasa dengan itu. Shen Yan menghembuskan nafas.
"Kenapa?" Xu Mo menggaruk kepala yang tidak gatal. Dia masih tidak terbiasa dengan tatapan Shen Yan.
"Tidak apa-apa."
__ADS_1
"Setelah beli keperluan nanti kita ke kantor pos?" Shen Yan bertanya kepada Li Feng yang berdiri disampingnya.
"Ya." Jawab Li Feng.