
Setiap ujian dalam hidupmu bisa membuatmu pedih atau menjadikanmu orang yang lebih baik.
Setelah panggilannya di putuskan secara sepihak, Justine langsung mengeraskan wajahnya. Dia pun bersiap pergi menemui Dalia, Justine yang masih dalam pengawasan Sam pun mengetahui itu semua.
Saat melihat Justine turun, Sam melihat wajah kemarahan Justine. Membuat Sam khawatir, setelah mobil Justine pergi Sam pun mengikutinya.
Seharian Sam mencari pekerjaan kesana kemari, namun sulit menemukannya. Tak butuh waktu lama, Justine dan Sam sudah sampai di perumahan tempat Dalia tinggal.
Justine dengan mudah masuk, sedangkan Sam hanya bisa menunggu di depan rumah. Tapi rasa khawatir yang hinggap padanya membuatnya nekat menerobos masuk.
Dan benar saat masuk Justine sudah marah-marah, dan mencaci maki Arumi.
"Dasar wanita murahan, anak dan ibu sama saja. Penghancur rumah tangga orang lain." Pekik Justine.
"Justine tenang dulu nak, kamu kenapa? Kenapa kamu marah pada ibu?" tanya Arumi, Arumi belum tahu bahwa Liana dan Justine memiliki hubungan.
Justine tersenyum sinis menatap Arumi.
"Kamu masih bertanya? Aku kenapa?" bentak Justine.
"Gara-gara anak sialan mu, hubungan ku berakhir." Teriak Justine.
"Hubungan apa? Siapa kekasih kamu?" Arumi masih mencoba bertanya dengan lembut.
"Kamu tidak perlu tahu, sekarang mana anak sialan mu?"
Justine pun berjalan menuju lantai dua, kamar dimana Dalia berada. Sesampainya di lantai dua, Justine mencoba mendobrak pintu kamar Dalia.
"Dalia buka sialan, wanita ****** buka," teriak Justine.
Dalia yang berada di kamar pun, merasa ketakutan. Saat Justine sibuk mendobrak pintu kamar Dalia, tiba-tiba Mahesa sudah pulang dan terkejut melihat kekacauan di rumahnya.
"Ada apa ini?"
Mahesa pun mendengar teriakan sang anak, dan permohonan Arumi di lantai dua. Karena pintu tak tertutup, dengan mudah Sam masuk dia benar-benar khawatir pada Dalia.
Justine berhasil mendobrak pintu Dalia, Dalia meringkuk di pojokan karena takut.
"Sini kamu," bentak Justine, dia menyeret Dalia dengan menjambak rambutnya.
Plak!
Plak!
Justine menampar Dalia kiri dan kanan, membuat Arumi menjerit. Dalia memegang kedua pipinya yang terasa panas, namun rambutnya pun terasa sakit.
__ADS_1
"Jangan Justine, kakak mu sedang hamil." Mohon Arumi.
"Ha-hamil?" tanya Mahesa terkejut.
"Ma-mas," lirih Arumi melihat ke arah Mahesa.
"Lihat anak kesayangan mu, sudah melempar wajah mu dengan kotoran tuan Mahesa." Tekan Justine menatap tajam sang ayah.
"Tidak ayah, Justine bohong." Kilah Dalia dengan terisak.
Mahesa menghampiri Dalia, dan menambah cap lima jari di pipinya. Membuatnya terdiam dia tak menyangka ayah yang begitu dia sayangi, tega menamparnya.
"Siapa ayahnya?" tanya Mahesa dingin.
"I-Indra," jawab Dalia takut.
"Liat Arumi dia persis seperti diri mu di masa lalu, dia akan mengulang kembali apa yang pernah kamu lakukan. Pada rumah tangga ku dengan Indira," desis Mahesa.
Justine mengerutkan keningnya dia menatap sang ayah dengan bingung.
"Apa maksudnya? Mengulang kembali yang Arumi lakukan? Dalia bukan anak kandung ayah?" tanya Justine dalam hati.
Arumi mendekati Mahesa, dia memeluk kaki Mahesa.
"Aku mohon mas, jangan bongkar itu semua. Kasian Dalia dia sedang hamil," ungkap Arumi.
Sebagai lelaki Mahesa memang lemah, cinta yang membuatnya lemah. Cinta ya cinta yang membuatnya lemah.
"Baiklah, tapi dengan satu syarat!" ucap Mahesa.
"Apa syaratnya?" tanya Arumi.
"Gugurkan kandungan itu, dan minta maaf pada keluarga Indra." Ujar Mahesa.
Membuat Dalia menggeleng dengan perkataan Mahesa.
"Aku gak mau ayah, aku gak mau." Jerit Dalia.
"Aku mencintainya ayah, aku mencintainya." Marah Dalia.
Dalia memukul Justine, dan menggigit tangan Justine.
"Akhhh... Kurang ajar kamu," bentak Justine.
Justine mendorong Dalia sehingga terlentang.
__ADS_1
"Akan aku singkirkan anak haram mu itu," pekik Justine.
"Justine jangan," teriak Arumi.
Dalia menjerit dan menutup mata, namun dia mengenai punggung Sam. Yang melindungi Dalia sesuai janjinya, sakit tapi dia tak peduli.
"Siapa kamu?" tanya Justine.
"Saya Sam, ayah dari bayi yang di kandung Dalia. Saya mohon jangan lenyap kan dia," mohon Sam.
"Sam," lirih Dalia.
"Aku akan bertanggung jawab dengan anak itu, setelah anak itu lahir. Aku akan membawanya," sambung Sam lagi.
Dalia menggeleng dia tidak mau.
"Aku gak mau Sam, aku gak mau. Aku mau sama Indra," rengek Dalia.
Sam tak menghiraukan rengekan Dalia, dia berlutut dan mengatupkan kedua tangannya pada Arumi dan Mahesa.
"Saya mohon tuan, nyonya."
"Saya melakukan ini, atas permintaan Dalia untuk menjebak tuan Indra. Dan saya menyanggupinya tapi pada saat saya mengetahui Dalia hamil, saya jatuh cinta pada bayi yang ada dalam kandungan Dalia." Ungkap Sam, Sam pun terpaksa menceritakan itu semua.
Membuat Dalia menggeleng, dan air mata terus mengalir.
"Baiklah aku setuju," putus Arumi menatap Mahesa yang mengangguk.
Mahesa pun meninggalkan kamar Dalia, dia memutuskan menuju ruang kerjanya. Justine pun mengikuti langkah Mahesa, dia ingin bertanya.
"Ibu jahat," ucap Dalia menatap kosong langit-langit kamar.
"Nak ini semua ibu lakukan untuk mu, yang terbaik untuk mu." Lirih Arumi.
Sam membantu Dalia bangun, dan mendudukkannya di kasur.
"Pergi kamu Sam, pergi dasar pengkhianat miskin." Caci Dalia membuat hati Sam sakit.
"Dalia," tegur Arumi.
"Maafkan anak ku nak Sam," sesal Arumi.
"Tidak apa-apa nyonya, kalau begitu saya permisi. Saya titip kandungan Dalia," ujar Sam.
Sam pun melangkah meninggalkan kamar Dalia, dia menatap Dalia yang menangis kemudian benar-benar pergi. Sam akan melamar Dalia dan menikahinya sampai anak itu lahir, setelah itu dia akan bercerai dengan Dalia. Sam hanya butuh anaknya, tapi jika Dalia bisa menerimanya dia pun bersyukur.
__ADS_1
Semoga suka 💞
Sat set ya gak akan ada masalah buat Indra dan Hana, tinggal si Sarah 🌚