Still Love You

Still Love You
Part.81


__ADS_3

Saat Dalia sampai rumah, Arumi sudah menatapnya dengan tajam. Membuat Dalia heran.


"Kenapa bu?" tanya Dalia.


Plak!


"Bu," lirih Dalia, memegang pipinya yang terasa panas.


"Kenapa ibu menampar ku?" tanya Dalia.


Arumi melempar tespek ke hadapan Dalia.


"Jelaskan?"


"Ibu aku..."


"Siapa yang menghamili mu Dalia?" pekik Arumi, memegang dadanya yang terasa sesak.


Beruntung Mahesa belum pulang, jika Mahesa pulang dapat di pastikan dia akan marah besar.


Dalia tidak menjawab dia hanya menunduk, takut akan kemarahan sang ibu.


"Maafkan aku bu," lirih Dalia.


"Ibu gak butuh maaf kamu Dalia, cepat bilang siapa laki-laki itu?" bentak Arumi.


"Indra." Cicit Dalia.


"Indra? Siapa dia? Apa masih single atau punya istri?"


"Dia sudah punya istri bu, dan aku belum bertemu dengannya lagi." Jujur Dalia, memang Dalia belum bertemu dengan Indra.


"Ya Tuhan Dalia," lirih Arumi.


Arumi tiba-tiba pusing dan dadanya sesak.


"Ibu," pekik Dalia.


"Ibu gak papa? Maafkan aku bu," isak Dalia, memeluk Arumi yang terduduk di lantai.


Yang di takuti Arumi terjadi, Dalia mengulang kejadian dirinya. Apa yang harus dia lakukan? Meminta pertanggung jawaban orang itu atau membiarkan Dalia melahirkan tanpa suami?Arumi pusing benar-benar pusing.


Tak ada tempatnya mengadu, sang ibu sudah meninggal. Bercerita pada Mahesa pun dia pasti akan di marahi, Arumi bangun dari duduknya dan melangkah menuju kamarnya. Dia ingin menenangkan diri, sebelum mengambil tindakan.


"Ibu maafkan aku," lirih Dalia menatap nanar pintu yang tertutup.


Dia tahu Arumi pasti kecewa padanya, karena cinta dan obsesi ingin memiliki Indra membuat Dalia melakukan hal nekat.


****


Sementara itu Rania dan Radit sudah menitipkan Sierra dan Kaili ke rumah Feli, awalnya mereka akan berangkat malam. Namun Radit memajukannya menjadi sore, alasannya biar menikmati jalan-jalan malam bersama Rania.


"Baik-baik yah di rumah tante Feli, jangan nakal," pesan Rania pada Kaili.


"Baik Mah," ujar Kaili.


"Sie jangan adiknya yah!"

__ADS_1


"Siap Mah," ucap Sierra memeluk Rania.


"Have fun yah mah, jangan memikirkan hal-hal buruk selama di sana." Ujar Sierra.


"Iya," balas Rania.


Rania menatap Feli dan Yudis.


"Aku titip anak-anak yah Fel, Dis."


"Iya santai aja tan jangan khawatir." Sahut Darel tiba-tiba muncul di belakang Feli.


"Ya sudah kalau gitu, kita pamit dulu" ucap Radit.


Feli dan Yudis pun mengangguk, Radit dan Rania pun pergi menggunakan taxi online yang sudah di pesan Radit. Setelah taxi tak terlihat, Feli, Yudis, Darel, Sierra dan Kaili pun masuk ke dalam rumah. Kaili sangat senang karena bisa main sepuasnya bersama Elena.


Sementara itu Liana yang baru pulang dan mengantar teman-temannya, dia baru sampai di rumahnya. Liana menatap mobil yang terparkir di halaman rumahnya.


"Ada tamu?" gumamnya.


Liana pun masuk ke dalam rumah, melihat dua orang wanita yang tak di kenalinya. Namun raut wajah Hana terlihat tajam dan tak ramah, sementara Indra dia hanya diam saja.


"Dalia," lirih Liana, saat sampai di dekat kursi dua orang tamunya.


"Kamu kenal Li?" tanya Hana.


"Dia kakaknya Justine mom, anak dari Mahesa." Ujar Liana.


Hana menganggukan kepalanya saja, kemudian fokus kembali pada dua orang di hadapannya.


"Buktikan jika memang anak yang putri anda kandung, adalah anak dari suami saya. Jika benar maka, kami akan merawatnya jika salah anda akan kami laporkan pada polisi," papar Hana, saat ini dia tidak ingin gegabah apalagi menyangkut masa depan rumah tangganya dengan Indra. Hana tidak akan percaya jika tidak ada bukti, dia tidak akan lemah kali ini. Dia tidak ingin ada keretakan rumah tangga Radit dan Rania.


"Anak? Siapa yang hamil? Dalia?" batin Liana.


Arumi menarik napas secara panjang, dia menatap Hana dan Indra. Tadi saat dia berada di kamar, dia mengajak Dalia menuju rumah Indra. Dan meminta pertanggung jawabannya, namun saat sampai di rumah Indra. Yang ada Indra malah menghina sang anak, dan tak pernah merasa meniduri Dalia.


"Tapi bagaimana cara membuktikan, bahwa anak yang di kandung Dalia adalah anak mu?" tanya Arumi menatap Hana dan Indra.


"Bisa dengan cara tes DNA, tapi harus menunggu usia kehamilan lima belas sampai dua puluh minggu," sahut Liana dengan datar, dia tak menyangka bahwa Dalia adalah orang yang hampir menghancurkan rumah tangga Hana dan Indra kakak dari Justine. Kini ada rasa kecewa pada Justine, jangan-jangan Justine tahu selama ini? Begitu pikir Liana, dia akan menanyakan pada Justine nanti.


"Apa tidak bahaya?" tanya Arumi.


"Saya tidak tahu," balas Liana masih dalam mode dinginnya.


"Dalia bisa melakukan Amniosentesis nyonya Arumi," tekan Hana.


Amniosentesis dilakukan dengan cara mengambil sampel cairan ketuban melalui jarum yang dimasukkan ke dalam perut ibu hamil. Tes ini dapat dilakukan pada usia kehamilan 15 – 20 minggu. Sama seperti pengambil sampel CVS, amniosentesis juga memiliki risiko keguguran.


"Baiklah akan saya lakukan, tapi kandungan anak saya baru beberapa minggu." Ujar Arumi.


Dalia ingin bicara, tapi remasan tangan Arumi membuatnya diam.


"Baiklah kalau begitu, kami permisi." Pamit Arumi, dia pun menarik Dalia untuk berdiri.


"Bu? Kenapa ibu setuju untuk tes DNA sih?" protes Dalia, setelah masuk ke dalam mobil.


"Itu jalan satu-satunya untuk tahu, siapa ayah dari anak yang kamu kandung Dalia." Marah Arumi.

__ADS_1


"Sudah jelas Indra, ayah dari anak yang aku kandung bu. Apa ibu meragukan ku?"


"Tidak, ibu tidak meragukan mu Dalia. Tapi ibu tidak ingin kamu salah jalan, demi obsesi mu pada Indra. Kamu menghancurkan rumah tangga orang lain," cetus Arumi.


"Ini bukan obsesi bu, aku mencintainya." Pekik Dalia.


"Aku mencintainya bu," isak Dalia.


"Kenapa kamu harus mencintai suami orang Dalia? Kenapa?" bentak Arumi.


"Sekarang kita pulang, dan ayah mu jangan sampai tahu ini semua. Jika dia tahu dia pasti marah," ujar Arumi, Dalia pun mengangguk sebagai jawaban.


Dalia pun melajukan mobilnya keluar dari halaman rumah Indra, sementara Hana, Indra dan Liana masih saja diam.


"Terima kasih kamu sudah percaya pada ku," ucap Indra memecah keheningan.


"Karena aku tidak ingin melakukan, kesalahan untuk yang kedua kalinya." Balas Hana, walau hatinya kecewa tapi dia akan bersikap dewasa.


Hana pun beranjak dari duduknya, menuju kamarnya. Membuat Indra menghembuskan napasnya secara pelan.


"Ini semua salah papah, terlalu percaya pada orang lain." Ucap Indra.


"Tidak pah, papah tidak salah. Setidaknya mommy tidak pergi meninggalkan kita lagu," ujar Liana.


"Berhentilah berhubungan dengan keluarga mereka Liana, termasuk Justine." Pinta Indra.


"Tapi pah!"


"Liana demi keluarga kita," mohon Indra.


"Baik pah," pasrah Liana, walau Liana tak ingin namun dia harus menuruti kedua orang tuanya.


Dia sayang pada Indra dan Hana, sebelum masalah ini selesai dia tidak akan menemui Justine terlebih dulu.


"Maafkan aku Justine," ujar Liana menatap notifikasi dari Justine.


Sementara itu Justine mendesah lelah, dia mengirim pesan pada Liana. Namun tak ada balasan dari sang kekasih.


"Kamu kemana Li? Kenapa mengabaikan aku?" lirih Justine.


Justine mencoba menelpon Liana, tidak di angkat. Namun panggilan berikutnya Liana mengangkat panggilan tersebut.


"Kamu dimana sayang? Udah sampai rumah?" tanya Justine.


"Sudah aku sudah di rumah, Justine aku ingin bilang sesuatu sama kamu!"


"Apa? Aku tau kamu pasti rindukan?" tanya Justine terkekeh.


"Bukan itu, tapi tentang hubungan kita. Rasanya hubungan kita tidak bisa di lanjut Jus, aku sudah tau semuanya. Tentang Dalia dan kamu yang adik kakak, papah meminta aku untuk tak berhubungan dengan mu," jelas Liana, membuat Justine terdiam.


"Dalia datang kerumah, dia mengaku hamil sama papah." Sambung Liana lagi, membuat Justine memejamkan matanya.


Tanpa menunggu jawaban Justine, Liana memutuskan panggilan begitu saja. Membuat Justine menghembuskan napasnya secara kasar, seandainya dia jujur sejak awal tentang Dalia yang merusak rumah tangga orang taunya.


Liana dan Justine sama-sama terluka, Liana yang baru saja merasakan jatuh cinta harus di patahkan oleh keadaan.


Semoga suka 💞

__ADS_1


Maaf typo


__ADS_2