Still Love You

Still Love You
Part.79


__ADS_3

Keesokan paginya, semua orang kembali ke aktifitas seperti biasa. Yudis dan Feli pun akan kembali ke kediaman mereka sambil mengantar Elena ke sekolah, karena gadis kecil tersebut tidak ingin di antar oleh sang kakak.


Darel pun terpaksa pergi menggunakan ojek online, sebab mobilnya di pakai oleh Feli dan Yudis.


"Lagian, kamu kenapa gak bareng sama ka Darel aja sih?" tanya Yudis.


"Gak mau, nanti mommy pergi lagi. Aku kangen sama mommy," balas Elena, dia sedang bermanja-manja pada Feli bersama sang adik.


"Kamu kangen sama mommy aja? Sama daddy engga?"


"Kangen juga sih, tapi lebih kangen sama mommy." Jawab Elena mantap, membuat Feli tertawa melihat wajah masam Yudis.


"Ayok turun, sudah sampai." Ujar Yudis.


"Mommy aku sekolah dulu,"


Elena mencium pipi Feli, kemudian dia memeluk Feli dengan erat seolah takut Feli pergi.


"Udah sayang, mommy gak akan kemana-mana. Mommy janji nanti mommy jemput," ujar Feli mencoba melepas pelukan Elena.


"Janji yah?"


"Iya."


"Ayok cepat El," ucap Yudis, yang sudah membuka pintu mobil.


Elena pun mencium kembali Feli dan sang adik yang sedang tertidur, kemudian dia turun di antar oleh Yudis ke depan kelas. Yudis pun mencium pipi sang anak.


"Jangan nakal, dengerin apa kata guru. Dan yang rajin belajarnya yah!" nasehat Yudis.


"Baik dad, bye daddy."


Elena pun memberikan ciuman jarak jauh pada Yudis membuatnya tersenyum, Yudis menatap Elena yang berjalan bersama temannya.


Saat akan keluar Yudis berpapasan dengan Rania yang mengantar Kaili sekolah.


"Rania," sapa Yudis.


"Yudis, sudah pulang? Feli mana?" tanya Rania.


"Sudah Ran, dia ada di mobil." Jawab Yudis.


"Ohh ya Dis, nanti tolong kasih tau Feli, aku mau ke rumah." Pesan Rania.


"Iya, ya sudah aku permisi Ran."


Rania pun hanya mengangguk sebagai jawaban, Rania pun mengayunkan langkahnya menuju kelas Kaili. Sebenarnya Rania enggan mengantar Kaili, pasti akan bertemu dengan Hana. Tapi dia belum melihat Hana dan mudah-mudahan tak bertemu dengan Hana.


"Tadi aku ketemu Rania, katanya dia mau kerumah," beritahu Yudis setelah masuk mobil.


"Iya aku tau, dia sudah chat tadi malam," kata Feli.


Yudis pun melajukan mobilnya menuju rumah mereka, hari ini Yudis belum masuk ke kantor. Dia akan masuk keesokan harinya, untuk Diana ibunya Sarah dia selalu mengirim pesan untuk bertemu. Tapi Yudis tidak membalas pesan tersebut, karena dia tidak ingin ada masalah dengan Feli.


****


Sedangkan di perusahaan Wijaya, pagi ini Justine tidak menjemput Liana karena ada meeting pagi-pagi dengan klien penting. Dan Vano sudah mewanti-wanti, agar Justine tidak datang terlambat.


"Maafkan aku, aku janji akan menjemput mu." Ucap Justine pada Liana di sebrang telepon.


"Ya gak papa, aku gak masalah. Devara kan mengantar ku,"

__ADS_1


"Ya bagus, asal jangan Rumi saja. Dia suka sama kamu makanya jangan terlalu ramah sama Rumi," ketus Justine, Liana tertawa merasa lucu pada Justine yang cemburu.


"Engga akan, ka Rumi sedang berada di luar negeri." Ucap Liana.


"Kok kamu tau sayang?" tanya Justine curiga.


"Tau lah, ka Rumi kan pasang status lagi di London."


Justine pun hanya beroh saja, saat dia akan melangkah masuk ke dalam ruangannya. Dia menatap Dalia dengan penuh permusuhan, sementara Dalia tersenyum manis. Yang sesungguhnya membuat Justine muak.


"Sayang sudah dulu yah! Vano menunggu ku," ujar Justine.


Setelah mendapatkan balasan Liana, Justine pun mematikan panggilan tersebut.


"Minggir," ucap Justine dengan dingin.


"Jangan gitu dong Jus, bagaimana pun aku adalah kakak mu. Dan mungkin bakal jadi calon mertua mu," kekeh Dalia dengan pedenya.


Justine menyunggingkan senyumnya.


"Percaya diri sekali kamu Dalia, apa tadi kamu bilang? Calon mertua? Memang om Indra mau sama wanita murahan seperti mu jangan mimpi, ayok bangun nanti jatuh sakit," ejek Justine, dia pun menyingkirkan Dalia yang menghalangi jalannya.


Sebelum benar-benar masuk, Justine menatap Dalia dan tersenyum sinis.


"Sebagai karyawan biasa, harusnya kamu tidak berada di lingkungan wakil CEO." Kata Justine, dengan tajam dan tegas.


Dalia yang mendengar perkataan Justine tersebut, membuatnya geram dan kesal. Bagaimana bisa dia di usir secara tidak langsung, dia juga anak dari Mahesa bukan hanya Justine.


"Awas saja kamu," geram Dalia.


Dia pun turun kembali, menuju tempat kerjanya. Saat tiba, Dalia menatap Dera yang menatapnya juga namun dia mengacuhkannya.


Dera selalu bertukar pesan dengan Liana dan Sara, Dera merasa tak suka pada Dalia karena dia bertingkah seperti bos pada yang lain.


Dera menggelengkan kepalanya, dia langsung melakukan pekerjaannya. Dan sesekali melirik Dalia, yang fokus bekerja.


Kemudian Dera mengirim pesan, pada grup yang hanya berisikan Liana, Dera dan Sara. Yang di singkat menjadi Lidera.


****


Sedangkan Rania, dia sudah bersiap untuk pergi ke rumah Feli. Dan sudah mengirim pesan kembali, Rania pergi menggunakan motor miliknya sendiri setelah pulang dari rumah Feli, dia akan menjemput Kaili.


Berpuluh menit kemudian, Rania sudah sampai. Dan di di persilahkan masuk langsung ke dalam rumah.


"Rania, apa kabar?" tanya Feli.


"Baik," balas Rania.


"Ayok duduk, bibi udah siapin minuman dan cemilan buat kamu."


"Makasih, ngerepotin banget tau gak sih," kekeh Rania.


"Gak juga sih, bagaimana pun juga kamu dan suami nyebelin mu itu adalah sahabat ku." Ucap Feli tersenyum, entah mengapa malah semakin cantik saja.


"Kamu pulang liburan makin cantik saja," puji Rania.


"Masa sih? Kayanya masih sama aja deh!" kekeh Feli.


"Ya sudah lupakan, kita ngobrol yang lain saja." Sambungnya lagi.


Rania pun mengutarakan maksudnya, dia bertanya hotel yang nyaman yang dekat dengan tempat wisata di Bali. Dan Feli pun memberitahu Rania tempat wisata, dan hotel yang bagus serta nyaman di Bali.

__ADS_1


"Kemana Alana?" tanya Rania.


"Bersama Yudis, bentar lagi aku mau jemput Elena. Dia manja banget beberapa hari gak ketemu," ujar Feli.


"Ya sudah bersama saja, aku juga mau jemput Kaili." Kata Rania.


"Ya sudah, aku pamit dulu sama Yudis."


Rania pun mengangguk sebagai jawaban, dia pun menunggu Feli yang bersiap. Tak lama Feli pun turun.


"Ayok, kamu bareng aku aja."


"Iya."


Rania pun berangkat bersama Feli dan akan ikut kembali ke rumah Feli, saat Feli pergi mobil orang tua Sarah masuk ke halaman rumah Yudis dan Feli. Satpam yang berjaga pun terkejut, dengan mobil yang menerobos masuk.


"Maaf nyonya, anda tidak ada janji." Ujar satpam yang bernama Doni, bukan satpam tapi seperti bodyguard yang menyamar jadi satpam. Dan terdapat tiga bodyguar, dua orang masih muda. Dan satu orang adalah ketuanya.


"Aku sudah buat janji dengan majikan mu," kilah Diana.


"Tidak bisa nyonya, mereka tidak mengatakan bahwa akan ada tamu. Disini peraturannya, jika ada tamu yang sudah buat janji tuan Yudis atau nyonya Feli akan memberitahu kami," jelas Doni.


Diana menatap tajam Doni, dia tidak suka ada orang yang mengatur dirinya. Sementara itu dua rekannya yang melihat dari balik pos, langsung melapor pada Yudis.


Saat Diana dan Doni berdebat, tiba-tiba Yudis muncul bersama Alana yang sudah bangun dan menangis, terlihat dari sisa air mata di pipinya. Saat di hubungi Yudis sedang memberikan ASI pada Alana.


"Ada apa ini?" tanya Yudis dingin.


"Maaf tuan, nyonya ini ingin memaksa bertemu dengan anda." Ucap Doni.


"Tante Diana, tante belum membuat janji. Maka tante tidak boleh masuk rumah ini, tante harus ikuti peraturan rumah ini." Cetus Yudis dengan datar.


"Tante sudah mengirim mu pesan Dis, tapi kamu tidak membalasnya."


"Jika aku tidak membalas, maka artinya aku tidak ingin bertemu." Ujar Yudis, yang masih menimang Alana.


"Baiklah, izinkan tante bicara di sini saja. Yudia jadilah suami Sarah, tante yakin Feli mau berbagi." Ucap Diana, membuat Yudis mengerutkan keningnya dan Doni membulatkan matanya.


"Feli tidak akan pernah mau berbagi tante," balasnya.


"Tapi kalau bukan, anakku yang mengalah. Mungkin sampai saat ini, Feli masih belum menikah." Geram Diana, pasalnya karena Yudis masih mencintai Feli. Sarah harus merelakan Yudis, Diana menyesal telah membantu Sarah melepaskan Yudis. Tapi kali ini dia akan membujuk Yudis untuk menjadi suami Sarah.


Jika perlu dia akan datang menemui Feli, dan memohon pada Feli.


"Sudahlah tante pergi saja, jawaban saya sudah bulat saya tidak akan membagi cinta saya dengan wanita lain," ujar Yudis dengan keputusannya, Yudis pun berlalu begitu saja setelah memberi perintah pada Doni.


"Yudis tunggu, jangan pergi Yudis. Kita perlu bicara." Pekik Diana.


"Sudahlah nyonya, ayo pergi dari sini. Jika tidak pergi, maka saya akan melaporkan anda ke polisi. Karena telah membuat keributan di rumah ini," ancam Doni.


Diana pun mendengus tak suka, dia melepaskan cekalan Doni begitu saja. Kemudian dia masuk ke salam mobil, menyuruh supirnya untuk pergi dari sini.


Jika meminta Yudis gagal, maka dia akan membujuk Feli.


"Sebaiknya aku temui Feli," gumam Diana dengan mengatur emosi.


Tanpa Diana tahu, Feli sudah tahu dan memantau lewat CCTV yang terhubung pada ponselnya. Dia sudah curiga saat mobil yang dia kenal masuk, saat mobilnya keluar, saat menunggu anak-anak bubar Feli pun melihat apa yang terjadi. Feli tersenyum sinis menatap kepergian mobil Diana.


"Kamu masih terus berusaha Sarah, jangan mimpi. Aku lah satu-satunya istri Yudis," gumam Feli.


Semoga suka 💞

__ADS_1


Maaf typo


__ADS_2