Still Love You

Still Love You
Part.75


__ADS_3

Arumi datang dengan segelas teh hangat, yang sudah di campur madu dan jahe. Membuat Dalia terkejut.


"Ibu bikin kaget aja," keluh Dalia.


"Kamu melamun?"


"Eh i-itu, engga kok bu." Ucap Dalia kikuk.


"Ya sudah, ini minum. Nanti ibu pijat agar enakan," ujar Arumi.


"Ya bu, makasih."


Dalia meminum teh tersebut, sambil menikmati pijatan Arumi. Sejenak dia memandang wajah Arumi, yang tidak muda lagi. Walau begitu dia terlihat masih cantik. Bahkan jika dia keluar bersama sang ibu, banyak yang mengira dia adik kakak.


Dalia tau pasti Arumi akan kecewa, jika tau dia sedang hamil di luar pernikahan.


"Maafkan aku bu," batin Dalia, ada rasa sesal di hatinya. Tapi keegoisan dan keinginannya lebih besar.


"Kenapa kamu menatap ibu seperti itu?" tanya Arumi.


"Tidak apa-apa, ibu. Kalo punya cucu nanti jadi nenek muda," kekeh Dalia.


"Kami ini, kamu nikah juga belum masa punya cucu sih! Ada-ada aja deh!"


Arumi pun melanjutkan memijat Dalia, berharap dia sembuh. Sementara itu, Liana dan Justine sudah sampai di Bangtan Area.


"Nanti makan siang aku jemput," kata Justine.

__ADS_1


"Iya," balas Liana.


Saat Liana akan turun dari mobil, Justine menahan lengannya.


"Apa lagi?"


Cup! Mata Liana melebar sempurna, dia sungguh terkejut akan kecupan singkat di pipinya.


"Justine," desis Liana wajahnya sudah memerah, justru membuat Liana semakin menggemaskan di mata Justine.


Dengan tergesa Liana pun turun dari mobil Justine, Justine yang melihat itu pun terkekeh saja merasa lucu akan sikap Liana.


Justine pun melajukan mobilnya, meninggalkan halaman gedung Bangtan Area. Sementara Liana yang melihat Justine sudah menjauh, menghela napas lega. Dia memegang pipi yang telah di cium Justine, walau pipi tapi itu membuat Liana berdebat. Liana yang tak pernah pacaran.


"Hey!"


"Maaf lagian dari tadi aku panggil juga, tapi kamu malah asik liatin mobil yang baru pergi. Siapa memang dia? Ahh... Jangan-jangan pacar kamu yah?" goda Rima.


"Ish... Apaan sih mbak," ucap Liana tersipu malu, dia pun menunduk untuk menyembunyikan rona merah di wajahnya.


"Halah... Buktinya itu pipi murah, ciee...."


Tak hentinya Rima menggoda Liana.


"Mbak udah ahh, aku malu." Protes Liana, Liana pun mengayunkan kakinya menuju lift. Dan di ikuti oleh Rima.


Dalia sendiri, dia diam-diam menuju ke sebuah klinik bersalin. Tak peduli jika nanti ayahnya akan menegur dirinya, Dalia pun ikut mengantri bersama ibu-ibu muda lainnya. Mereka di temani oleh suami mereka, membuat Dalia merasa iri.

__ADS_1


Dalia juga menginginkan seseorang yang menemaninya, yaitu Indra. Dalia tersenyum tipis membayangkan itu semua.


"Indra." Gumamnya.


Beberapa puluh menit kemudian, nama Dalia pun sudah di panggil. Dia pun dengan segera masuk ke ruangan Dokter, dan melakukan tensi dan penimbangan berat badan.


Kemudian Dalia berbaring di ranjang untuk melakukan USG, Dalia pun menatap layar di depannya, dia tak mengerti namun Dokter dengan sabar menjelaskan.


"Usia kandungannya, kurang lebih empat minggu nyonya." Ujar Dokter yang bernama Raihana.


Dalia pun hanya bisa mengangguk saja sebagai jawaban, ada rasa bahagia dan hangat dalam hatinya. Saat tahu di dalam rahimnya tumbuh calon manusia.


Dalia mendengarkan penjelasan dari Dokter, setelah melakukan USG. Dia pun di beri vitamin dan obat anti mual, jika mual Dalia akan kembali lagi jika usia kandungannya berusia enam belas minggu.


Dalia pun mengucapkan terima kasih pada Dokter, dia pun langsung menuju bagian apotek untuk menebus vitamin terlebih dulu


Saat menunggu dia menatap foto hasil USG di tangannya.


"Ayah mu pasti senang sayang," gumamnya.


Walau Dalia tahu, bahwa anak yang dia kandung adalah anak Sam. Tapi Dalia selalu berharap Indra lah yang menjadi ayahnya.


"Tunggu sana kejutan dari ku Indra," ucapnya tersenyum menyeringai.


Semoga suka 💞


Maaf typo

__ADS_1


__ADS_2