
"Jangan mengkhawatirkan aku Darel, aku baik-baik saja. Maaf mobil mu aku bawa," ujar Akira pada chat yang di baca Darel, sudah pukul sepuluh malam namun Akira tak kunjung kembali. Membuat Darel khawatir, pasalnya obat yang harus Akira minum berada di kamar tamu.
"Kamu kenapa Rel?" tanya Sierra, Sierra merasa Darel mengabaikannya karena seorang Akira.
"Aku khawatir sama Akira, dia sedang sakit dan obatnya tertinggal." Tutur Darel.
Sierra pun mengangguk, dan ikut duduk di samping Darel. Memperhatikan para orang tua yang sedang melakukan baberquan, sementara Devara mengawasi anak-anak.
"Rel? Seberapa penting Akira untuk mu?" celetuk Sierra, dia penasaran bagaimana perasaan Darel saat ini.
Dia pun tak peduli jika hatinya sakit, dia hanya ingin tahu saja. Apakah Darel mencintai Akira atau tidak?
"Kenapa kamu bertanya seperti itu Sie? Akira adalah teman pertama ku di sini, jadi wajar kalau aku khawatir. Begitu pun saat dulu aku bersama mu," imbuh Darel.
Sierra menghela napas dengan pelan, dia dan Akira sama. Sam-sama teman Darel, Sierra pun diam tak berkomentar apa pun hanya melihat raut wajah Darel yg khawatir.
Sierra memutuskan untuk bergabung dengan yang lain, meninggalkan Darel yang jelas memiliki kepentingannya sendiri. Menyesal? Tentu saja Sierra menyesal pergi menemui Darel, tapi jika tidak menemuinya dia pun penasaran dan rasa rindunya yang mengalahkan semuanya.
Rania yang melihat itu pun hanya menghela napas pelan, dia tahu putrinya sedang patah hati.
Dulu dia sempat melarang Sierra untuk jatuh cinta dulu, dan fokus pada pendidikannya. Setelah pulang dari Korea Rania akan menasehati Sierra lagi, agar tak terlalu memikirkan lelaki dan cinta.
"Sie, ayok makan ini." Ucap Feli memberikan sosis bakar dan sea food bakar. Feli tahu bahwa Sierra sedang sedih, akibat anak bujangnya.
"Terima kasih tan," balas Sierra tersenyum.
Feli pun duduk di dekat Sierra, dan mengelus lengannya.
"Jangan sedih, maafkan anak tante. Dia lagi jatuh cinta dan jika kalian jodoh pasti akan menemui jalannya," tutur Feli, Sierra hanya tersenyum tipis.
"Darel gak salah tante, dia berhak bersama siapa pun. Termasuk sama ka Liana, tapi sayang ka Liana udah nikah," kekeh Sierra mencoba bercanda.
"Kamu bisa aja, anggap saja liburan mu ke sini karena mengunjungi tante. Bukan untuk anak tante," cetus Feli.
"Iya," balas Sierra.
Sierra pun mencoba menikmati liburannya, dan besok dia akan ikut dengan Devara pergi ke Busan.
Akira sendiri dia sedang berada di rumah orang tuanya, dia memutuskan untuk pulang setelah menepi di taman yang selalu membuatnya tenang. Dia tak enak pada keluarga Darel, dan sahabatnya jika dia ada di sana terus. Apalagi melihat kebersamaan Darel dan Sierra.
"Astaga, sadarlah Akira. Darel bukan siapa-siapa mu," tegas Akira.
Sebelum mandi Akira memasak nasi terlebih dulu, lalu Akira pergi mandi. Dia pun teringat bahwa obatnya berada di rumah Darel.
"Huh... Besok aku bawa saja, hari ini rasanya tak sopan datang malam." Gumam Akira.
__ADS_1
Beberapa menit setelah mandi, Akira pun masuk ke dapur dan membuka lemari es. Beruntung bahan makanan masih ada, dia pun memutuskan untuk membuat Bibimbap. Bibimbap sendiri adalah masakan Korea berupa semangkuk nasi putih dengan lauk di atasnya berupa sayur-sayuran, daging sapi, telur, dan saus pedas gochujang. Namanya secara harafiah berarti "nasi campur" yang berasal dari kata 비빔 dan 밥.
Akira pun merebus wortel, kol, dan sosis. Lalu dia memasak dua butir telur dan juga daging sapi. Setelah semuanya siap, Akira mencampurkan semua bahan yang telah dia masak dengan bumbu yang sudah dia siapkan pula.
Saat Akira akan memulai makan, bel pintu rumah berbunyi. Dia pun mengeryit menatap jam dinding pukul sebelas malam.
"Siapa yang datang malam-malam begini?" gumamnya, tapi dia tetap diam di tempat.
Takut dan penasaran juga, dia takut jika di buka adalah orang jahat. Tapi penasaran siapa yang bertamu malam-malam seperti ini.
Akira pun memberanikan diri untuk melihatnya, dia pun menarik dan menghembuskan napasnya untuk mengurangi ketakutannya.
Ckrek! Pintu terbuka.
"Darel," pekik Akira.
"Ngapain kamu ke sini Rel?" tanya Akira.
"Aku khawatir sama kamu Ra, makanya aku mutusin buat datang ke rumah mu. Aku tahu kamu sendiri di rumah," ujar Darel.
"Tapi Rel, di rumah mu kan sedang ada tamu. Kenapa kamu ninggalin mereka?" cetus Akira, dia pun mempersilahkan Darel masuk.
"Aku udah kasih tahu mommy, kalo aku mau temenin kamu."
"Tapi Rel..."
"Udah jangan tapi-tapi, aku disini bakal nemenin kamu. Dan besok kamu ikut aku ke rumah," papar Darel.
Darel pun menyerahkan obat yang dia bawa pada Akira, Akira pun tersenyum menatap Darel.
"Kamu udah makan Rel? Aku lagi bikin Bibimbap."
Akira pun mengajak Darel menuju meja makan, dan duduk berhadapan.
"Wah.. kayanya enak," kata Darel, walau dia sudah makan bersama keluarga dan sahabat-sahabat Feli.
Tapi dia akan menghargai jika Akira mengajaknya makan.
"Kamu mau? Kita makan berdua saja gimana?" tawar Akira.
"Boleh."
"Aku suapin," ucap Akira.
Mereka pun makan satu mangkok berdua, Darel tak hentinya menatap Akira. Wajah cantik alami, yang selalu menghantui dirinya akhir-akhir ini.
__ADS_1
"Kenapa melihat ku seperti itu?" tanya Akira, dia merasa risih karena Darel menatapnya dalam dan intens.
"Tidak apa, kamu cantik sekali." Puji Darel.
"Dasar tukang gombal kamu," kekeh Akira.
"Aku bukan gombal Ra, tapi aku memuji kecantikan mu. Kalo gombal gini, kamu itu ibarat bulan dan aku ibarat matahari yang tak bisa bersama. Namun sama-sama menerangi bumi di waktu yang berbeda," cetus Darel.
Membuat Akira tertawa lantang, menurutnya gombalan Darel bener-benar gak mutu sama sekali. Tapi dia suka, karena Darel berusaha membuatnya tersenyum.
Setelah makan, Darel dan Akira memutuskan untuk duduk terlebih dulu di ruang tamu sambil menonton tv.
"Kenapa tadi kamu gak ikuti aku? Malah pergi gitu aja!" omel Darel, membuat Akira meringis.
"Maaf Rel, aku gak mau ganggu waktu kamu sama teman kamu itu."
"Sierra namanya Sierra, aku akan kenalkan dia sama kamu." Ujar Darel.
"Ra? Kalo kita menikah? Kamu mau gak? Aku udah janji sama daddy dan mommy mu, untuk menjaga mu. Tapi kalo kamu disini aku di rumah! Bagaimana aku menjaga mu?" tutur Darel menatap dengan serius wajah Akira.
"Aku belum siap Darel," lirih Akira.
"Belum siap kenapa? Aku bisa mencukupi kebutuhan kamu Akira,"
"Bukan itu Rel, aku tau itu. Kamu pasti bisa membahagiakan aku, tapi gimana dengan tante Feli? Lalu Sierra? Aku tau dari awal Sierra penting untuk mu Rel, aku gak mau kaya aku merebut kamu dari dia." Jelas Akira menunduk.
Dia benar-benar tak mau di salahkan, karena dia merebut Darel dari Sierra. Apalagi jika harus di musuhi oleh Feli, Akira tak mau benar-benar tak mau.
Akira ingin dekat dengan Feli, Akira mau Feli bisa menggantikan sang ibu yang sudah pergi.
"Kamu jangan khawatir, aku bisa memberikan penjelasan pada Sierra." Kat Darel.
Akira menggeleng.
"Aku tidak bisa Rel," lirih Akira.
"Aku mau istirahat dulu, jika kamu mau tidur. Kamu bisa tidur di kamar tamu Rel," sambungnya lagi, Akira ingin mengakhiri pembicaraan dengan Darel.
Karena Darel memaksanya untuk menerima dirinya, sementara Darel menghembuskan napasnya secara kasar. Sadar atau tidak? Dia telah menyakiti dua hati sekaligus.
tbc...
Semoga suka 💞
Maaf typo
__ADS_1