
Semalaman Dalia tak dapat tidur, memikirkan kemungkinan Sam menikah dengan wanita lain. Membuatnya menghela napas pelan.
Dan pagi ini dia merasa sangat pusing, karena kurang tidur. Mungkin tadi dia tidur hanya satu jam saja.
Hari ini seharusnya Justine pulang, tapi dia tahu bahwa Justine akan akan datang beberapa hari lagi. Dan Dalia pun harus meminta keluar dari perusahaan Wijaya, dan meminta pada Arumi untuk mengelola usaha sang Oma yang berada di Makassar.
"Pagi sayang." Sapa Arumi.
"Pagi bu, ayah mana?"
"Ayah mu sudah berangkat, katanya ada meeting penting."
Dalia pun mengangguk, dan memulai sarapannya yang tak terlalu lapar. Dia hanya mengambil roti saja dan secangkir kopi kesukaannya, sang ibu selalu tahu apa kesukaannya.
"Hari ini aku mau ketemu Yona dulu bu, aku mau pamit sama dia sekalian." Ujar Dalia.
"Sayang!"
"Bu izinkan aku pergi sejenak bu, aku ingin menata hati ku bu. Ibu tahu, aku patah hati untuk yang ke dua kalinya."
"Dalia ibu tidak bisa jauh dari mu," jujur Arumi, selama ini dia mana pernah jauh dari sang anak.
"Ibu harus terbiasa."
"Baiklah, kamu boleh mengelola usaha oma mu yang di Makassar. Tapi kalau hati mu sembuh kamu kembali lagi ke sini, oke?" tawar Arumi.
"Kita lihat saja nanti bu, kalau aku ketemu jodoh di sana. Terpaksa aku harus mengikuti suami ku," goda Dalia.
Arumi pun tersenyum, dan mereka pun melanjutkan sarapan mereka.
Setelah sarapan Dalia berpamitan pada Arumi, sebelum pergi ke kantor. Dia akan mampir ke rumah Sam dan berpamitan, dia sudah menyiapkan hatinya untuk ini.
Berpuluh menit kemudian Dalia sudah sampai, dia melihat Yona yang sedang berjemur di halaman depan dengan Sam.
Tapi saat dia akan melangkah, tiba-tiba senyumnya surut dan langkahnya terhenti. Sesak itulah yang dia rasakan saat ini.
"Kamu kuat Dalia," gumam Dalia.
"Sam," sapa Dalia.
"Dalia."
"Aku mau melihat Yona boleh?" tanya Dalia langsung, karena dia tak ingin berlama-lama di sini.
"Boleh." Jawab Sam, menatap lekat Dalia yang enggan menatapnya.
"Siapa dia mas?" tanya Sinta, gadis yang akan di jodohkan dengan Sam.
"Ibunya Yona."
"Ohh... Wanita yang membuang kalian," sindir Sinta.
"Sinta," desis Sam.
Dalia yang mendengar sindiran dari wanita yang dia tahu, bernama Sintia tersebut hanya mengabaikannya, kemudian Dalia pun menatap Yona, yang sedang mengemut jarinya.
"Sayang, ini bunda nak!"
Yona pun tersenyum melihat Dalia di hadapannya, seolah tau Dalia ibunya. Yona langsung merentangkan tangannya, minta di gendong Dalia pun menggendongnya dan memeluknya dengan erat.
"Baik-baik sama ayah yah sayang! Ibu sayang sama Yona," ucap Dalia pada Yona, yang tersenyum dan berceloteh.
Dalia mencium Yona, sampai suara ketus Sekar terdengar membentaknya. Sakit memang, tapi dia tak peduli tak sesakit Hana saat Indra dia jebak, begitu pikir Dalia.
"Lepaskan cucu ku," pekik Sekar.
"Kamu mau bawa kabur yah?" lanjutnya lagi.
__ADS_1
Tadinya bu Sekar akan memanggil Sam dan Sinta masuk, namun dia melihat Dalia membuat Sekar meradang.
"Bu sudah, Dalia hanya melepas rindu dengan Yona." Bela Sam.
"Sudah kamu jangan bela, wanita tak tau diri ini. Sintia bawa Yona ke dalam," titahnya.
"Ba-baik tante,"
Sinta merebut paksa Yona dengan kasar, membuat Yona menangis kemudian.
"Jangan kasar-kasar, kamu gak pantes jadi ibu untuk anak ku." Bentak Dalia, membuat Sekar meradang dan langsung menampar Dalia, membuat Dalia terdiam dan menunduk tajam.
"Diam kamu, kamu yang gak pantas jadi ibu untuk cucu ku. Kamu sudah membuang mereka, dengar wanita pelakor seperti mu tidak akan bahagia." Teriak Sekar.
Akhirnya air mata yang dia tahan, akhirnya luruh juga. Dia tak kuasa mendengar itu semua, dia tahu bahwa dia salah.
"Ibu cukup," bentak Sam.
"Kamu berani sama ibu," marah Sekar .
"Maafkan saya bu, saya hanya ingin pamit dengan Yona. Saya tidak akan membawa Yona pergi dari ayahnya," ujar Dalia memecah ketegangan.
Sekar yang mendengar itu pun sangat senang.
"Baguslah kalau begitu, tunggu apa lagi. Pergi sana," usir Sekar.
"Bu," desis Sam, dia pun merasa terkejut atas ucapan Dalia yang akan pergi.
"Saya permisi." Pamit Dalia, dia pun melangkahkan kakinya menuju mobil.
Namun Sam mencengkram lengannya.
"Kamu mau pergi kemana Dalia?" tanya Sam, yang nampak terkejut.
"Aku akan pergi ke Makassar Sam, tolong jaga Yona dengan baik. Dan kenalkan aku sebagai ibunya, jika aku bertemu dia saat dewasa nanti." Papar Dalia, dia mencoba menahan tangis.
Dalia menggeleng dan melirik pada Sekar yang sedang menatapnya tajam, dan dia juga masih bisa mendengar suara tangis Yona.
"Tidak Sam, maafkan aku. Aku harus pergi, tenangkan Yona Sam dia sedang menangis."
Setelah mengatakan itu, Dalia pun masuk kedalam mobil. Dengan cepat meninggalkan kediaman Sam.
"Dalia... Dalia, tunggu." Teriak Sam.
"Sam sudah, kamu punya Sinta yang lebih baik." Ucap Sekar, Sam pun kesal dan benar-benar benci akan situasi ini.
Jika sang ayah ada di rumah, mungkin semuanya akan baik-baik saja. Namun ayahnya tersebut sedang berada di luar kota.
Sam pun meninggalkan Sekar, yang bertolak pinggang yang sedang menatapnya tajam. Sungguh dia tak peduli, Sam pun mengambil Yona dari pangkuan Sinta.
"Yona tak nyaman, kenapa kamu terus memaksanya?" tanya Sam dingin.
"Maaf." Cicit Sinta, dia begitu takut melihat Sam yang berwajah garang.
Sam pun hanya berdecih, dan meninggalkan ruang tamu menuju kamarnya.
"Maafkan Sam ya nak," ucap Sekar.
"Iya bu gak papa kok," balas Sinta tersenyum, namun memutar bola mata malas.
Jujur Sinta memang malas berada di sini, sangat berisik oleh suara tangis Yona. Dia memang tak suka anak kecil, oleh karena itu Yona sulit dekat dengan Sinta.
Di kamar, Sam memandang Yona yang tengah tertidur. Walau dia belum mandi, Sam tahu Yona kecapaian karena menangis.
"Maafkan ayah sayang, ayah belum bisa meyakinkan nenek mu. Untuk membawa bunda mu," ucapnya pada Yona, dan mengusap pipinya.
Sam memikirkan tentang ucapan Dalia yang akan pergi.
__ADS_1
"Kenapa harus pergi?"
Sam memejamkan matanya, dia menatap langit-langit kamar dan mencoba untuk tidur.
****
"Sierra?" panggil Rania.
"Iya mah? Aku udah bangun kok." Balas Sierra.
Pintu terbuka, terlihat wajah sembab Sierra dan mata bengkaknya.
"Kamu menangis?" tanya Rania.
"Abis nonton drakor mah," bohong Sierra, karena tak ingin Rania cemas.
"Benar?" selidik Rania.
"Iya."
"Aku menangisi Darel mah, aku merindukannya. Tapi dia tidak," batin Sierra mengikuti Rania ke dapur, Sierra pun membantu Rania untuk menata makanan di meja.
Beberapa menit kemudian Radit pun turun bersama Kaili, dia menatap Sierra yang sedang mengaduk minumannya.
"Pagi-pagi sudah melamun saja anak gadis, pasti rindu yang jauh di sana yah?" goda Radit.
Membuat Sierra tersadar dan melirik sebal pada Radit.
"Apaan sih papa," protes Sierra.
"Aku bukan mikirin Darel, lagi mikirin buat kuliah nanti." Ujar Sierra.
"Lagian siapa yang bilang Darel hemm?" Radit tersenyum menyeringai, menatap sang anak.
Radit tahu bahwa Sierra menyukai Darel, tapi Radit rasa akan susah. Sebab menurut Feli, Darel memiliki seorang teman perempuan.
"Sierra lupakan Darel, fokuslah pada masa depan dan cita-cita mu nak! Jika dia jodoh mu, pasti Tuhan akan mendekatkan kalian." Papar Radit.
Dia tidak ingin fokus Sierra hanya pada Darel saja, nanti dia akan meminta Feli untuk Darel menghubungi sang anak. Bukan tanpa alasan, setiap malam Radit selalu melihat Sierra memandang foto profil Darel di aplikasi hijau.
Sierra tak menjawab dia menunduk, perkataan Radit memang ada benarnya dia harus fokus untuk masa depan dan cita-citanya.
"Baik pah," balas Sierra pada akhirnya, membuat Radit tersenyum karena tak melihat wajah murung sang anak.
***
Dalia melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata, dia bisa saja membahayakan nyawanya dan pengendara lain. Namun Dalia tak peduli terus melajukan mobilnya.
Rasa sakit, menyesal dan sesak di dadanya. Seolah sulit untuk dia hilangkan, berulang kali Dalia memukul dadanya sendiri atau menyalurkan marahnya pada stir mobil membuat tangannya merah.
"Keputusan ku sudah bulat, aku akan pergi dari hidup mu Sam." Isak Dalia.
"Sam jaga Yona, aku sangat menyayanginya. Walau dulu aku sempat mengabaikannya, jangan pernah bosan untuk bilang sama Yona kalo aku adalah ibunya. Dalia adalah ibunya, dan tunjukan padanya foto aku ya Sam!
Ayah dan ibu akan menengok Yona sebulan sekali mungkin, maafkan aku sekali lagi Sam. Maaf atas semua kesalahan yang aku lakukan pada mu pada anak kita.
Aku sayang kamu Sam, bunga bermekaran di musim semi yang indah. Seindah cinta kita jika nanti bersama, jika saatnya akan tiba, sedih akan menjadi tawa, perih akan menjadi cerita, kenangan akan menjadi guru, rindu akan menjadi temu, kau dan aku akan menjadi kita.
Maafkan aku yang terlambat menyadari cinta ini Sam, terkadang aku lemah dan bodoh dalam cinta Sam. Aku tak pernah bisa membedakan cinta tulus dan obsesi."
Dalia mengirimkan chat panjang tersebut, setelah terkirim dia menonaktifkan ponselnya. Dia memejamkan matanya, mengatur pernafasannya dan kemudian melajukan mobilnya ke suatu tempat.
tbc...
Semoga suka 💞
maaf typo
__ADS_1