Still Love You

Still Love You
Part.54


__ADS_3

Sierra sudah sampai di halaman rumah, dan mengetuk pintu rumahnya berharap sang ibu pulang ke rumah. Namun kondisi rumah yang gelap, menandakan tidak ada orang.


"Sepertinya rumah mu sepi Sie," kata Darel.


Sierra mencoba mengetuk pintu berharap Rania, kembali ke rumah. Di rumah Radit tidak ada pembantu yang menginap, dan selalu pulang setiap pekerjaan rumah beres. Masak pun kebanyakan Rania yang memasak.


"Aku khawatir Rel, mamah sama Kaili..." Sierra sudah mulai berkaca-kaca, tak melanjutkan ucapannya.


Sierra mencoba menghubungi nomor Rania, namun nomor tersebut tidak bisa di hubungi.


"Gak bisa di hubungi," keluh Sierra.


"Lalu gimana? Mau ikut gue ke rumah atau lo, tunggu di sini?"


"Aku tunggu di sini saja," putus Sierra.


"Ya sudah, gue temenin." Sierra pun mengangguk, dia tak memegang kunci cadangan.


Di tempat berbeda Rania dan Kaili, tepat pukul delapan malam baru saja sampai di rumah milik orang tua Eli dan Rania, setahun yang lalu rumah ini selesai di renovasi oleh Eli sang kakak. Radit tak tahu dimana alamat rumah ini, sebab Rania selalu pergi sendiri ke sini.


"Kita mau ke rumah, tante Eli yah?" tanya Kaili.


"Iya," jawabnya pelan.


"Kenapa kita, gak pulang ke rumah saja Mah?"


Namun Rania tak menanggapi ucapan sang anak, dia mengetuk pintu rumah Eli. Tak membutuhkan waktu lama, pintu rumah terbuka. Nampak lah Eli, dengan balutan gamis dan hijab.


"Rania? Ayok masuk," ajak Eli.


Kini Eli sudah berubah, dia menjadi baik. Semenjak ketahuan oleh istri sah dari laki-laki yang berkencan dengannya dan Eli hamil, dan tak meminta tanggung jawab, sebab dia pun ragu siapa ayahnya. Eli memutuskan untuk berhenti jadi pemuas nafsu orang-orang kaya. Dan kini, dia hidup berdua bersama sang anak yang sudah duduk di bangku SMP.


"Ada masalah?" tanya Eli, setelah menaruh gelas di meja. Pasalnya tak biasanya Rania datang malam-malam.


"Tidak ada, aku hanya ingin disini dulu. Kebetulan Sierra dan mas Radit sedang berada di luar, jadi aku kesepian," bohong Rania.


"Ohh.. Tapi, kamu yakin lagi gak ada masalah?"


"Engga,"


"Ya sudah, bentar yah kaka lagi masak. Kamu istirahat saja dulu,"


"Iya ka."


"Tante Rania," pekik seorang gadis berusia tiga belas tahun.


"Zara," seru Rania, memeluk keponakannya tersebut.

__ADS_1


"Zara kangen tahu, sama tante dan ka Sierra." Ujarnya antusias.


"Kenapa kamu gak main ke rumah tante?"


"Malu, kata ibu. Gak boleh sering-sering," kekeh Zara.


"Ibu kamu tuh ya, ada-ada saja."


"Ka Sierra mana? Hai Kai," sapanya pada Kaili, yang tengah asik dengan cemilannya.


"Ka Sierra sedang ada acara, jadi dia tak ikut." Bohong Rania lagi, sebenarnya Rania tak ingin Eli tahu permasalahannya.


Eli pun memanggil mereka untuk makan malam terlebih dulu, dan Zara menyerahkan hasil penjualan cemilan milik sang ibu. Mereka pun makan dengan menu sederhana, namun Kaili begitu suka.


"Anak mu Ran, kok suka sih makanan kampung," kekeh Eli.


"Dia semuanya suka kak,"


Zara dan Eli tertawa, melihat begitu lahapnya Kaili makan tempe goreng dengan tumis kangkung. Eli hanya bekerja sebagai buruh cuci saja, dan membuat aneka cemilan, yang di bungkus menjadi dua ribuan atau membantu tetangganya jika ada hajatan. Eli selalu menolak pemberian dari adiknya, dia sudah banyak merepotkan Rania dulu sebelum sekarang.


Setelah makan, mereka pun berbincang sebentar di ruang tamu. Dan sebelum tidur nanti, Kaili dan Rania akan membersihkan diri walau sudah sangat malam tak masalah untuk Rania.


****


Pukul sepuluh, Sierra tak mendapati kepulangan Rania. Radit yang katanya akan pulang, nyatanya tak muncul bahkan tak mengabari dirinya.


"Seharusnya, mamah gak ninggalin aku," lirihnya.


"Udah Sie jangan nangis, lebih baik lo ikut ke rumah gue aja?" tawar Darel.


Sierra pun mengangguk dia setuju ikut ke rumah Darel, dia pun beranjak dari duduknya.


"Baju gue, gimana Rel?"


"Lo tenang aja, nanti minta baju bekas mommy gue," kekeh Darel, membuat Sierra cemberut.


Mereka pun menuju mobil, yang tak jauh terparkir di depan rumah. Darel melajukan mobilnya menuju kediamannya, tak lama mobil Darel pergi. Mobil Radit pun tiba di rumahnya.


"Rania, sayang buka pintunya." Teriak Radit, namun tak ada jawaban.


"Kemana mereka?"


Radit pun mencoba menghubungi, nomor Rania. Namun tak aktif, dia pun menghubungi nomor Sierra aktif tapi tak di angkat.


"Astaga, angkat lah nak." Desah Radit frustasi.


Radit pun duduk di kursi yang ada di teras rumah, keadaan rumah yang gelap membuatnya tak takut.

__ADS_1


"Maafkan aku Rania," ucapnya.


****


Sierra dan Darel sudah sampai di rumah Feli, dia pun di sambut oleh Feli dengan tatapan tajam. Tapi tak jadi marah, saat melihat wajah sembab Sierra.


"Sie kamu kenapa? Darel jahatin kamu yah?" tebak Feli, membuat Darel melotot akan tuduhan sang ibu.


"Mommy, enak aja. Aku baik yah! Gak mungkin jahatin anak gadis," protes Darel.


"Terus? Kenapa Sierra?" tanya Feli, kini mereka sudah duduk di ruang tamu dan Feli menyuruh pelayan membawakan minum untuk Sierra.


"Tante Rania, mergoki om Radit sama tante Hana," sahut Darel.


"Apa?" pekik Feli.


"Astaga mom, biasa aja kali."


Feli melempar bantal sopa pada sang anak.


"Dimana kalian ketemu mereka?"


"Di mall tan, saat itu aku sama mamah. Jalan-jalan, saat nunggu Kaili main. Mamah gak sengaja liat papah sama tante Hana," lirih Sierra.


"Dan mamah gak ada di rumah," sambungnya lagi, Sierra pun sudah terisak.


Feli pun mendesah lelah, dan memeluk Sierra menyalurkan ketenangan untuk gadis tersebut.


"Sayang, Alana nangis. Minta Asi," teriak Yudis.


"Sebentar sayang," sahutnya.


"Sie, lebih baik kamu istirahat aja dulu. Biar besok kita bantu kamu cari mamah mu yah! Kalo belum makan, makan dulu biar Darel temenin," ujar Feli.


"Baik tan, terima kasih."


"Rel, temani dia makan." Perintah Feli.


"Iya mommy," jawab Darel.


Feli pun pergi dari ruang tamu, Darel menatap Sierra yang tengah menyusut air matanya. Darel pun berpindah dan dia duduk dekat Sierra, kemudian dia memeluknya.


"Kamu punya aku," ucapnya.


Semoga Suka 💞


Maaf typo

__ADS_1


__ADS_2