
Cara terbaik untuk mengetahui apakah Anda bisa memercayai seseorang adalah dengan memercayai mereka.
Rania mungkin terlalu mencintai Radit, dan selalu percaya apa yang Radit katakan. Dia tidak banyak menuntut ini itu, seperti pasangan lainnya.
Hari ini entah mengapa Rania, ingin menghabiskan harinya bersama Sierra dan Kaili.
"Sie, malam minggu ini. Kamu sibuk gak?" tanya Rania.
"Engga Mah, ada apa?"
"Mamah ingin quality time sama kamu dan Kaili, sudah lama kan kita gak jalan bareng. Kamu sibuknya sama Darel," goda Rania, membuat Sierra tersipu malu.
"Ahh... Mamah ini, aku sama Darel cuma teman. Ya sudah nanti kita jalan bareng," putus Sierra, di jawab anggukan oleh Rania.
Rania pun berlalu menuju kamarnya, dia sebenarnya ingin membuang pikiran buruk tentang Radit yang jarang pulang. Pulang pun hanya mengganti baju, lalu pergi lagi.
Sedangkan Indra sudah kembali ke rumahnya, keesokan harinya, dia di paksa Gemy sembuh. Jika Gemy sudah bertindak, dia bisa apa. Saat itu juga Gemy memarahinya setelah Indra menceritakan rencananya.
"Gue gak habis pikir sama lo Dra, kenapa lo gak minta bantuan gue atau Yudis? Kita bisa ngasih duit banyak sama tempat yang strategis ke lo," ujar Gemy menahan marah.
"Dan bisa-bisanya, lo minta bantuan cewek." Ujar Gemy berdecak kesal.
"Sorry, gue gak mau repotin lo semua." Jawabnya menunduk.
"Sudahlah ini sudah terjadi, sekarang bagaimana caranya memperbaiki hubungan lo sama Hana." Ujar Feli.
"Hana juga, kaya anak kecil. Bukannya selesain masalah malah kabur entah kemana," kesal Anisa.
"Betul, Radit juga sama. Dia gak mikirin Rania sama anak-anaknya apa? Kesel gue, pengen tak hajar," geram Feli.
Tak lama Ema datang membawa minuman dan cemilan untuk tamu tuannya, sedangkan Liana dia mencari Hana ke seluruh tempat bersama Devara.
"Terima kasih," ucap Indra.
"Sama-sama tuan," balasnya.
Mereka pun terus berbincang sambil menunggu makan siang, kebetulan hari ini mereka semua libur tak masuk kantor. Feli pun menitipkan Alana dan Elena di rumah mommy Melati, sedangkan Shela di rumah bunda Nia.
****
"Dit, seharusnya lo pulang. Jangan terus nemenin gue disini! Gue bakal baik-baik aja," ujar Hana.
"Engga, gue bakal temenin lo sampai lo mau pulang," ucap Radit yang begitu kukuh pada pendiriannya.
"Tapi Dit, lo gak kasian sama Rania dan anak-anak? Anak-anak lo, pasti rindu lo Dit."
"Lo tenang aja Han, anak-anak baik-baik saja. Rania pun memahami gue,"
Hana pun menghembuskan napasnya secara pelan, dia egois memang. Dia meninggalkan anak-anaknya, tapi hatinya masih sakit. Hening untuk beberapa saat.
"Han kita jalan-jalan yuk," ajak Radit.
"Boleh, kalau gitu gue siap-siap dulu."
"Iya."
__ADS_1
Tak butuh waktu lama, Hana pun sudah siap. Untuk sesaat Radit terpesona. Sebab Hana masih terlihat seperti dulu, mereka pun menuju salah satu. Mall terbesar di kota tersebut, sementara itu Devara dan Liana sudah lelah mencari Hana.
"Mommy kemana sih? Kaya anak kecil aja tau gak," kesal Liana.
"Kita kemana lagi? Gue laper tau,"
"Kita pulang saja lah, besok kita lanjut cari mommy." Putus Liana, dan Devara pun hanya mengangguk sebagai jawaban.
Sejak dari rumah sakit, mereka belum pulang ke rumah. Indra di antar oleh Gemy dan yang lainnya pulang, sedangkan Devara dan Liana melanjutkan mencari Hana.
****
Radit dan Rani hampir datang bersamaan, namun mereka masuk lewat pintu yang berbeda. Rania membawa Kaili menuju area permainan.
"Aku seneng banget, akhirnya mamah ajak aku ke sini." Ucap Kaili antusias.
Rania hanya tersenyum, dan menciun kening Kaili. Perasaannya sungguh tak enak.
"Ya sudah, main sana. Mamah sama ka Sie disini."
"Oke,"
Kaili pun berlari masuk ke area permainan, sedangkan Rania dan Sierra duduk melihat Kaili dari jauh.
"Kamu gak mau beli sesuatu?"
"Enggak Mah, barang ku masih banyak," kekeh Sierra.
"Masih banyak? Pasti hadiah dari Darel kan? Hayo ngaku," goda Rania.
Rania hanya menggelengkan kepala saja, melihat sang anak. Tak terasa memang Sierra sudah sebesar ini, dan sebentar lagi dia akan lulus SMA.
Saat melihat-lihat sekeliling, tiba-tiba Rania melihat Hana dan Radit yang tertawa bahagia, dan Radit pun terlihat merangkul Hana.
"Radit," lirih Rania.
Dan Sierra pun mendengarkan, Rania menyebut nama Radit.
"Papah? Dimana papah mah?"
Tanpa menjawab pertanyaan Sierra, Rania beranjak dari duduknya. Dan menghampiri Radit dan Hana, Sierra pun ikut menyusul Rania. Dengan sekuat tenaga Rania menahan air matanya.
Yang Rania tahu, bahwa Radit sibuk dengan pekerjaannya dia percaya. Dan hanya pulang untuk ganti baju, dan kembali lagi dia pun tak masalah.
Rania menghentikan gerakannya, dia urung menghampiri Radit dan Hana. Tanpa di duga, Radit mencium pipi Hana, membuat Sierra melotot. Sedangkan Rania, matanya sudah terasa panas. Dan dadanya tiba-tiba sesak.
"Papah," pekik Sierra.
Membuat semua perhatian tertuju padanya, tapi dia tak peduli.
"Rania, Sierra."
"Apa-apaan papah ini, hah? Papah selingkuh?" bentak Sierra.
Sedangkan Rania, dia hanya terpaku di belakang Sierra.
__ADS_1
"Sayang papah bisa, jelasin ini." Radit mencoba menggenggam tangan Sierra, namun Sierra menepisnya terlebih dulu.
Dan mencoba mendekati Rania, namun Sierra menahan Radit.
"Jangan coba-coba, dekati mamah. Pah," Sierra memperingati Radit.
"Gak usah di jelasin, aku sudah melihat apa yang aku lihat. Dan apa yang aku tau," lanjutnya lagi.
Sierra menatap Hana, dengan kecewa. Benci itulah satu kata untuk mereka.
"Rania," panggil Hana. "Aku bisa jelasin," sambung Hana.
Rania pun menggeleng. "Jika cinta mu belum selesai, selesaikan lah dulu. Lalu ambil keputusan selanjutnya untuk ku,"
Rania pun meninggalkan Radit dan Hana, Rania mengajak Kaili pulang.
"Tapi Mah, aku belum puas main." Rengek Kaili.
"Besok aja Kaili," ucap Rania, terus menarik Kaili.
"Rania, Kaili. Tunggu," teriak Radit.
"Papah, Mah. Itu papah, ayok kita temui papah," pinta Kaili.
"Kaili," bentak Rania.
"Kamu nurut sama mamah, ayok kita pergi."
Rania pun menggendong Kaili, yang terus berontak. Dia masuk ke dalam lift dan segera menutupnya.
"Papah mau kembali sama tante Hana? Kembalilah, kita akan baik-baik saja tanpa papah." Kata Sierra dingin, dia pun berlari menyusul Rania.
"Dit, mening lo pulang. Gue baik-baik aja."
Kata Hana khawatir.
"Gue anter lo pulang dulu,"
Radit menarik Hana, untuk pulang ke rumah rahasia. Sierra yang gagal menyusul Rania, begitu panik dan menelpon Darel.
"Rel, tolong jemput aku yah!" pintanya.
"Memang lo dimana?"
"Di Mall, yang tak jauh dari rumah Rel. Mamah pergi sama Kaili," ucapnya. "Nanti gue jelasin, tapi kamu jemput aku dulu," sambungnya lagi.
"Oke, tunggu yah!"
Sierra pun mengangguk walau Darel tak melihatnya, Radit benar-benar tega pada Rania. Selama ini dia berbohong padanya dan Rania, alasan sibuk di kantor nyatanya dia bersama Hana. Sierra belum tahu permasalahan yang terjadi.
Semoga suka 💞
Maaf typo
Terima kasih, yang masih membaca dan mendukung cerita ini. Sayang kalian banyak-banyak love sekebon 💜💜💜
__ADS_1