Still Love You

Still Love You
Part.48


__ADS_3

Dua hari berlalu, hari ke tiga Liana dan Justine di Lembang. Justine berhasil menemukan tempat yang strategis untuk usaha barunya, yaitu cafe.


Dua hari pula, foto Indra dan Dalia terus Hana dapat dari si nomor tak di kenal. Dan sudah dua hari pula Indra pulang saat dirinya tengah tidur, namun Hana tak pernah bertanya dari mana dia.


"Hari ini pulang malam lagi?" tanya Hana, dia menatap Indra yang sedang mengeringkan rambutnya dan belum memakai pakaian.


"Gak tahu, liat saja nanti. Kenapa?"


Hana memeluk Indra dari belakang, dia membelai dada Indra membuat Indra memejamkan matanya.


"Aku rindu," bisik Hana mencium punggung Indra.


Memang sudah lama mereka tidak melakukan hubungan suami istri, karena kesibukan Indra akhir-akhir ini. Indra melirik jam di dinding.


"Masih ada waktu, kita main sebentar yah!"


Hana pun terkekeh, dan mengiyakan ajakan Indra. Pagi itu Hana dan Indra lewati dengan berbagi peluh dan desah.


****


Pagi-pagi sekali, Liana sudah bangun Justine berjanji akan mengajaknya joging. Sekitaran kebun teh setelah dari Lembang, Justine mengajak Liana ke kebun teh dan menyewa penginapan juga.


"Lama banget sih pak!" protes Liana, saat melihat Justine baru keluar kamar.


"Maaf semalam gak bisa tidur, ibu sakit." Beritahu Justine, sebab dia sangat mencemaskan Indra yang sakit dan sedang berada di apartemennya sendiri.


"Sakit? Sakit apa?"


"Dia bilang hanya demam, siang ini kita kembali ke Jakarta," kata Justine, dan di jawab anggukan oleh Liana.


Mereka pun melakukan joging, menyusuri jalan setapak kebun teh. Memasuki pasar yang tak jauh dari kebun teh, Liana sangat antusias. Sebab banyak sekali penjual makanan tradisional yang dia inginkan.


Dengan wajah memelas pada Justine, akhirnya Liana mendapatkan jajanan tradisional yang dia ingin.


"Makasih yah pak! Udah di traktir," kekeh Liana, dia membawa banyak kantong keresek.


"Kita sarapan dulu, di sana." Tunjuk Justine, pada penjual bubur ayam.


"Ayok,"


Dengan semangat Liana melangkah menuju penjual bubur ayam, membuat Justine menggeleng. Sesederhana itu Liana bahagia begitu pikir Justine, Liana senang makan namun tubuhnya tetap langsing.


Indra yang mendapatkan Moodboster pagi hari, tersenyum cerah saat memasuki gedung Bangtan Area. Menularkan aura positif pada semua karyawannya, Indra memang selalu datang pagi untuk mengecek apa saja yang kurang, dan bahan apa saja yang habis.


"Selamat pagi pak, pagi-pagi udah senyum-senyum aja nih." Ujar Rima, Rima pun datang pagi untuk membantu mengecek kebutuhan toko dan dapur.


"Pagi Rim, iya nih dapet suntikan." Kekeh Indra, Rima pun tak sengaja menangkap tanda merah di leher Indra membuatnya mengulum senyum.


"Aku masuk dulu," pamit Indra meninggalkan Rima, yang tersenyum pada akhirnya.


"Pantes senyum-senyum, dapet jatah dari ayang." Kekeh Rima.


Tak lama, Dalia pun datang dengan tampilan super wah dan sempurnanya.


"Pak Indranya sudah datang?" tanya Dalia pada Rima.


"Sudah bu, dia ada di dalam." Kata Rima, Dalia pun mengangguk dan masuk kedalam. Setelah mendapatkan izin dari Indra.


"Dalia, silahkan duduk."


"Terima kasih,"

__ADS_1


Tak sengaja Dalia melihat tanda merah di leher Indra, membuatnya kesal. Hana sengaja meninggalkan tanda cintanya agar Dalia tahu bahwa Indra hanya miliknya, seketika mood Dalia langsung buruk, tapi dia harus bersikap profesional.


Dalia dan Indra membahas pengeluaran untuk agen Tour and Travel, dan sudah menemukan lokasi yang cocok. Indra ingin langsung membelinya tempat tersebut, namun dia butuh dana yang besar. Dalia berjanji akan mengusahakan Wijaya Grup untuk memberikan suntikan Dana.


****


Siang harinya Liana dan Justine sudah tiba di Jakarta, mereka berangkat setelah pulang joging. Dan disinilah sekarang Liana, di kamar Indira dengan telaten dia mengurus Indira.


"Cepat sembuh tante."


"Terima kasih nak, maaf sudah merepotkan mu,"


"Tante gak repot kok, aku kasian sama pak Justine. Takut dia bingung," kekeh Liana.


Justine yang melihat kedekatan Indra dan Liana, hanya tersenyum ada yang menghangat di salah satu sudut hatinya.


"Lebih baik kamu makan dulu nak, Justine sudah memesankan makanan untuk mu."


"Baik tan, kalo ada apa-apa. Panggil kita yah!"


"Iya," jawab Indira lemah.


Indira mantap pintu yang sudah tertutup, dia berharap sang anak memiliki kesetiaan yang tinggi, terhadap pasangannya.


Pukul lima sore, Liana sudah sampai di rumahnya. Dia membawa tas punggung yang berisi baju kotor dan beberapa paper bag berisi oleh-oleh untuk Hana.


"Aku pulang," seru Liana.


"Katanya empat hari? Kok udah pulang?" tanya Hana, dari arah tangga.


"Mommy nih, bukannya seneng anaknya pulang. Ini malah kaya gak suka," Liana menekuk wajahnya, Liana pun memberikan bingkisan pada Hana.


"Apa nih? Wah... Bolu susu kesukaan mommy, makasih yah!" ucapnya senang.


"Ya." Jawab Hana.


Setelah mandi Liana istirahat dulu, sebelum makan malam. Perjalanannya terasa sangat lelah. Liana pun tanpa sadar tertidur hingga pukul sepuluh malam.


"Astaga, aku ketiduran." Ucapnya seraya bangkit, kemudian bergegas menuju kamar mandi dan turun ke ruang makan karena perutnya sangat lapar.


Saat melangkah menuju dapur, dia melihat ruang keluarga masih menyala. Liana pun melihat Hana yang sedang menangis, terlihat dari bahunya yang bergetar.


"Mommy, kenapa?"


Hana dengan segera mengusap air matanya, dan menyembunyikan ponselnya. Tapi Liana sudah melihat sekilas.


"Mommy, tidak apa-apa. Kamu mau makan?"


"Foto siapa itu mom?" tanya Liana, mengabaikan pertanyaan Hana.


"Bukan foto siapa-siapa," elaknya.


"Mom, jangan bohong sama aku. Jawab saja,"


Liana merebut ponsel Hana, kemudian melihat isi galerinya. Membuat Liana membulatkan matanya tak percaya, terdapat foto Indra dengan seorang wanita tengah tidur bersama.


"Mom ini, pasti ini bohong kan? Papah gak mungkin kaya gitu kan?"


Namun Hana diam saja, tak kuasa untuk memberikan jawaban pada sang anak.


"Mom jawab," bentak Liana.

__ADS_1


"Mommy gak tau Li, mommy gak tau ini foto benar atau hanya rekayasa!" isak Hana, nyatanya dia tak kuasa menahan tangis. Dari dulu Hana memang sangat mudah menangis.


"Maafkan aku mom, maafkan aku bentak mommy tadi."


Liana memeluk Hana, dan mencoba menenangkan Hana.


"Sudah mom, maafkan aku. Kita tunggu papah pulang, jika papah gak pulang berarti itu benar dia." Ujar Liana, Hana pun mengangguk saja.


Rasa lapar yang Liana rasa sudah hilang saat melihat, foto tak menjijikan papahnya dengan wanita lain. Jika dia tahu siapa wanita itu, mungkin saja Liana akan melabraknya. Namun foto wajah si wanita di blur, hanya foto Indra saja yang tak di blur.


Satu jam kemudian, yang di nanti pun tiba. Lantas Liana tak percaya begitu saja. Dia akan mencari tahu semuanya.


"Kalian belum tidur?" tanya Indra, Liana melihat raut wajah Indra yang biasa saja.


"Aku nemenin mommy, nungguin papah pulang. Kenapa pulangnya malam sekali? Memang papah dari mana?" cerca Liana, Hana hanya diam.


"Papah bertemu dengan klien sayang, memang apa lagi? Bangtan Area, sedang ramai dan banyak orang yang menikah. Memesan souvernir di toko kita," jelas Indra, dia bingung kenapa Liana bertanya seperti itu. Dia menatap Hana yang matanya sembab.


"Kamu menangis?" tanya Indra mengusap air mata di pipi Hana.


"Aku ke atas dulu, mom tanyakan pada papah."


Hana pun hanya mengangguk sebagai jawaban, di rasa Liana sudah menjauh.


"Jelaskan," Hana memperlihatkan foto Indra dan wanita tak di kenal.


"I-ini.."


Indra tak bisa menjawab, pasalnya itu memang dirinya tapi seingatnya dia tak merasa bersama wanita. Saat bangun tadi dia sendiri di kamar hotel dengan pakaian lengkap.


"Kamu gak bisa jelasin kan? Kamu selingkuh Indra," pekik Hana.


"Tidak, aku tidak selingkuh. Itu memang aku, tapi aku tidak merasa bersama seorang wanita." Jelas Indra.


"Terserah apa kata mu, aku gak suka orang yang sudah berkhianat Indra." Desis Hana meninggalkan Indra, yang mematung menatap foto yang berada di ponsel Hana.


Siapa yang melakukan ini? Indra terus mengingat kejadian tadi siang, tapi dia lupa. Setelah bertemu klien dia merasakan kantuk, kemudian Dalia membawanya ke kamar hotel. Setelah itu dia tak ingat apa pun.


"Astaga, kenapa aku gak ingat sama sekali. Delia gak mungkin melakukan itu kan?"


Indra mengacak rambutnya frustasi, dia menyusul Hana yang sudah masuk ke kamarnya. Saat masuk ke kamar, dia melihat Hana yang meringkuk di balik selimutnya.


"Sayang dengarkan aku, aku gak mungkin selingkuh. Hanya kamu yang aku cintai, apa kamu lupa bagaimana aku menahan cemburu saat kamu bermanja pada Radit? Saat kalian berpacaran, saat itu aku yang selalu menuruti perintah Radit demi kamu, apa kamu lupa saat kamu sedih aku yang selalu ada untuk kamu Hana. Mana mungkin aku mengkhianati mu," jelas Indra.


Indra mengusap rambut Hana, membuat Hana semakin terisak. Hana memang selemah ini pada hatinya, pada cintanya.


"Hana." Panggil Indra.


Hana menatap Indra, dia mencari kebohongan atau keraguan di matanya. Namun yang ada hanya cinta yang besar untuk dirinya.


"Maafkan aku, aku terlalu takut." Isak Hana.


Indra berbaring dengan masih memakai pakaian lengkap, dan memeluk Hana.


"Harusnya aku yang minta maaf, belum bisa menjadi suami yang baik untuk mu Hana, ayah yang baik untuk anak-anak. Tapi aku selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk kalian. Istri dan ketiga anak ku," papar Indra.


Hana memeluk Indra erat, jujur dia awal dia memutuskan menerima Indra yang selalu menemaninya. Sang ayah tak pernah setuju, karena Indra dari kalangan menengah, berbeda dengan Gemy dan Radit dari kalangan berada. Namun karena kegigihan Indra, dia memiliki apa yang Indra selalu cita-citakan.


Hana pun terlelap dalam dekapan Indra, dan Indra pun ikut memejamkan mata. Sementara itu Liana sangat kesal dan benci pada Indra, karena telah mengkhianati Hana.


Dia bertekad untuk mencari tahu, sebelum terlalu jauh Liana ingin menghentikan perbuatan Indra dan wanita dalam foto tersebut.

__ADS_1


"Aku memang anak yang selalu membantah, tapi aku akan selalu buat mommy senyum." Gumamnya menatap foto Hana dan Indra.


Semoga suka 💞


__ADS_2