
Kegagalan adalah satu-satunya kesempatan untuk memulai lagi dengan lebih cerdik.
Seharian Dalia bermain bersama Yona, di ruangan Sam di temani oleh Haidar. Haidar takut sang kakak dan Dalia, melakukan kekhilafan lagi.
Saat makan siang, Dalia pun meminta izin untuk masak di dapur cafe tersebut. Dia sudah membeli bahan-bahan untuk masak, namun Sam berkata dia bisa memakai bahan yang ada di dapur. Tapi Dalia menolak, Dalia pun masak masakan yang sederhana.
Akhirnya mereka makan bertiga, saat Yona tertidur di ruangan pribadi Sam yang berada di ruangan tersebut.
"Masakan ka Dalia enak banget," puji Haidar.
"Terima kasih," balas Dalia.
"Jika kamu suka aku bisa bikinin, dan antar ke sini." sambungnya kemudian.
"Gak usah ka, ngerepotin loh!"
"Gak papa ko,"
Sam yang mendengar itu pun hanya diam saja, memang masakan Dalia tak pernah gagal baginya. Sebab dulu mereka selalu masak bersama, saat Sam menjadi asisten Dalia yang selalu mengikuti kemana pun Dalia pergi.
"Gimana mas? Enak kan masakan ka Dalia?" tanya Haidar.
"Lumayan," jawab Sam singkat, membuat Dalia sedikit kecewa akan tanggapan Sam.
Dalia pun melanjutkan kembali makan siang dengan cepat, dia takut sang anak bangun dan mencarinya. Saat mereka tengah asik makan siang, tiba-tiba pintu terbuka dan masuk lah bu Sekar yang membulatkan matanya. Melihat siapa wanita yang duduk bersama dua anaknya, bu Sekar pun menjadi marah.
"Kamu? Sedang apa kamu disini hah?" bentak bu Sekar.
"Bu aku bisa jelaskan," ucap Sam, menenangkan sang ibu.
"Jelaskan apa? Ohh... Ibu tau, alasan kamu bawa Yona ke sini. Karena kamu ingin mempertemukan Yona dengan wanita ini begitu?" hardik bu Sekar.
Dalia pun menunduk mendengar perkataan yang menyakitkan dari bu Sekar, apakah dirinya tak memiliki kesempatan?
"Maafkan saya bu? Saya akan pergi sekarang juga," cetus Dalia.
"Ya bagus pergi saja yang jauh, kalau bisa jangan pernah kamu menampakan diri mu pada anak dan cucu ku. Karena Sam akan aku jodoh kan dengan wanita yang lebih baik dari mu," terang bu Sekar panjang lebar, membuat Dalia memejamkan matanya.
"Bu sudah, ini semua salah aku. Haidar bawa ibu pulang," perintah Sam.
"Enak, aja ibu gak mau." Marah bu Sekar.
"Harusnya dia yang pergi," tunjuk bu Sekar.
"Baik bu saya akan pergi, Sam terima kasih sudah mengizinkan aku bertemu Yona. Jaga dan rawat dia baik-baik, jika dia punya ibu baru. Tolong bilang aku Dalia juga ibunya," lirih Dalia.
"Dalia." Ucap Sam.
Dalia menggeleng dia sadar akan kesalahan terbesarnya, dan dia tidak ingin membuat Sam susah dan menderita karena dirinya. Tapi jika ada kesempatan, dia tak akan pernah menyia-nyiakan kebaikan Sam dan kasih sayangnya.
"Biar aku antar ka," sahut Haidar.
"Gak usah Haidar, aku bisa pulang sendiri. Kamu di sini aja jaga Yona, maafkan saya sekali lagi bu." Mohon Dalia menatap bu Sekar yang memalingkan wajahnya.
__ADS_1
"Tapi jika ibu dan Sam, memberikan aku kesempatan aku berjanji akan menjadi baik untuk Yona dan kamu Sam. Bukankah setiap orang memiliki kesempatan? Kesempatan dalam memperbaiki diri! Aku sedang melakukannya, tapi semua itu sudah terlambat karena Yona akan menemukan ibu baru," papar Dalia, dia pun pergi meninggalkan ruangan Sam. Dalia bisa mendengar suara tangis Yona.
"Maafkan bunda nak," gumam Dalia, dia pun menangis terlebih dulu di dalam mobil.
Mulai sekarang dia akan menata hidupnya menjadi lebih baik, dan memulai hidup barunya jauh dari sang anak. Awalnya dia begitu percaya diri akan Sam yang masih mencintainya, tapi dia cukup sadar diri sekarang. Dan selalu teringat akan kesalahannya di masa lalu, kesalahannya yang hampir merusak rumah tangga orang, merenggut kebahagian seorang anak, dan mengabaikan orang yang mencintainya.
Dalia melajukan mobilnya membelah ibu kota Jakarta, hidupnya cukup kesepian selama ini. Dulu dia dan Justine adalah adik kakak yang saling menyayangi, tapi itu semua berubah saat Justine mengetahui fakta bahwa ibunya yang membuat ibu Indira pergi dari rumah. Justine pun menjauh dan dingin pada dirinya, jadilah dia mencari perhatian pada suami orang.
"Kenapa? Kenapa hidup ku seperti ini? Aku juga ingin bahagia," isak Dalia.
Dalia bukannya tak tahu, bahwa dia bukan anaknya Mahesa. Dia tahu hanya pura-pura tak tahu saja, biarlah ini menjadi rahasianya dari mana dia tahu semuanya ☺️
****
Liana menatap cemberut Justine yang tengah menyantap makan siangnya, ya mereka makan siang di kamar. Karena Liana mengeluh perih di pangkal pahanya, karena Justine menggempurnya habis-habisan.
"Kamu sih! Jadi Dera sama Sara gak bisa pamitan sama aku," protes Liana.
"Ya ampun sayang, besok abis pulang bulan madu. Kita bisa bertemu mereka," ujar Justine.
"Tapi.."
"Sudahlah kamu bisa video call sayang, sekarang makan aku tahu kamu lapar sayang." Goda Justine, membuat Liana memutar bola mata malas.
Dengan terpaksa dengan wajah cemberut, Liana memakan makan siangnya. Tadi Hana pun melakukan panggilan pada Liana setelah sampai di rumah, Feli dan Yudis yang pulang lebih dulu setelah makan malam dan mereka menginap di rumah mommy Melati.
Setelah makan siang, Liana pun bersantai di balkon kamar hotel. Dia bisa melihat pemandangan ibu kota dari sini, sedangkan Justine sedang mengecek beberapa pekerjaannya melalui E-mail.
Universitas Yonsei (연세대학교 (延世大學校) adalah universitas Kristen swasta yang berlokasi di Seoul, Korea Selatan. Berdiri tahun 1885, Yonsei merupakan salah satu universitas tertua di Korea Selatan, universitas swasta favorit di Korea Selatan, dan dikenal sebagai salah satu dari tiga universitas teratas di Korea.
"Maaf yah! Kamu nunggu lama." Ujar Darel.
"Gak papa Rel."
Akira tersenyum menatap Darel, yang memakai Hoodie hitam dan jeans hitam pula. Sangat tampan membuat Akira tersipu, apalagi tatapan tajam Darel yang selalu dia suka.
Bolehkah? Akira berharap dia berjodoh dengan Darel? Akira menggelengkan kepalanya, menepis semua perasaan yang dia rasakan pada Darel.
"Kenapa?" tanya Darel.
"Gak papa kok," Akira tersenyum menatap Darel, dan mengajaknya pergi sekarang.
Agar siang nanti mereka bisa berjalan-jalan terlebih dulu di sekitaran Seondaemun-gu.
Setelah sampai Darel, melakukan pendaftaran dan mengatakan. Jika berkas-berkasnya akan menyusul karena dia dari Indonesia, pihak kampus pun menerimanya membuat Darel lega.
Bukan tanpa alasan Darel di terima, itu karena Akira yang meminta kepada sang ibu. Untuk membuat Darel mudah, karena Ailee memiliki kerabat yang bekerja di Universitas tersebut.
"Kantin dulu yuk?" ajak Akira.
"Boleh."
Mereka pun menuju kantin, dan memesan makanan ringan dan minuman.
__ADS_1
"Kamu ambil jurusan apa Rel?" tanya Akira.
"Ohh.. Bisnis," jawab Darel tersenyum.
"Darel? Bisakah kau tak tersenyum? Senyum mu melemahkan aku!" batin Akira.
"Aku takut jatuh cinta pada mu Rel," lanjutnya lagi.
"Akira?" panggil Darel lembut.
"Kenapa?"
"Kamu gak dengerin aku kan?"
"Denger kok, kamu masuk fakultas bisnis." Kekeh Akira.
"Lalu?"
"Lalu apa?" tanya Akira bingung.
Darel menghembuskan napasnya secara pelan, dia menatap Akira dengan dalam membuatnya salah tingkah.
"Kamu gak dengerin aku, malah melamun pasti melamunin cowok yah?" goda Darel.
"Enak aja, bukan tau." Protes Akira.
"Ya sudah lupakan, kamu jurusan apa?"
"Aku pendidikan."
"Kenapa tidak mengambil seni atau musik? Aku rasa kamu pandai bermusik," ujar Darel.
Akira menggeleng pelan, dia menatap Darel dan meminum minumannya agar tak terlalu gugup.
"Engga aku memang suka musik, tapi aku memiliki cita-cita untuk mendirikan sebuah sekolah yang gratis untuk anak-anak yang gak mampu. Lalu aku mengajar di dalamnya," cerita Akira, menatap kosong ke depan.
Pasalnya masih ada di penjuru dunia yang hidup pas-pasanan dan pendidikan kurang, membuat Akira tergerak untuk membangun sebuah yayasan yang menaungi sekolah, panti asuhan dan lain-lainnya.
"Dulu saat aku kecil, daddy mengajak aku jalan-jalan ke pelosok. Aku melihat anak-anak belajar ke sekolah dengan menempuh jarak beribu kilo meter, mereka pantang menyerah. Tapi terkadang kita yang memiliki fasilitas lengkap selalu mengeluh malas sekolah," kekeh Akira.
Darel pun membenarkan ucapan Akira, terkadang dirinya pun selalu malas masuk sekolah. Apalagi hari senin, Darel mendengarkan cerita Akira dan cita-citanya yang mulia.
"Semoga cita-cita mu tercapai Ra." Doa Darel menatap Akira.
"Terima kasih Rel," balas Akira.
tbc..
Semoga suka 💞
**Aku mau cepet tamat, takut kalian bosen sama cerita ini jadi yang Gemy cs udah gak ada masalah ya! Tinggal Dalia, kalo Sarah nanti yah sabar 🤭 oh aku search di google yah tentang Korea ternyata pusying juga 😩
Maaf typo**
__ADS_1