Still Love You

Still Love You
Part.94


__ADS_3

Tiga bulan berlalu begitu lama bagi mereka yang saling merindu, Sierra sibuk belajar untuk lulus ke salah satu Universitas Erlangga. Salah satu Universitas ternama di Indonesia, sedangkan Darel yang jauh di sana. Belum sama sekali mendaftar, dia masih membujuk Feli untuk kembali ke Indonesia.


"Ayo lah mom, kita balik ke Jakarta. Aku mau kuliah di sana," rengek Darel, kini Darel sedang duduk berdua bersama Feli di belakang rumah mereka.


Sedangkan Yudis, dia sedang mengajak jalan-jalan kedua putrinya.


"Memang kenapa kalo di sini? Disini juga gak papa kan?"


Feli masih belum peka jika sang anak tengah jatuh cinta, membuat Darel berdecak kesal.


"Mom ayolah, nanti jika daddy di dekati cewek ular itu. Biar aku yang kasih pelajaran," tegas Darel.


"Mommy kan sudah janji, kita mau satu bulan di sini. Ini sudah lebih malah," keluh Darel, saat bersama Feli Darel bisa bersikap manja. Tapi di depan semua orang dia bersikap dingin dan acuh.


"Kapan mommy janji itu? Mommy cuma bilang kita di sini untuk waktu yang cukup lama, lagian Elena senang disini. Dia juga mau sekolah disini," ungkap Feli.


"Mommy itukan Elena, dia belum jauh dari orang yang di sayang." Ceplos Darel yang langsung membekap mulutnya, membuat Feli menyipitkan matanya.


"Jadi kamu mau balik ke Jakarta, karena gak mau jauh dari Sierra?" tebak Feli.


"Itu a-aku..."


Darel salah tingkah saat Feli menyebutkan nama Sierra.


"Duh mommy nih, bikin salting melting aja." Batin Darel, melirik Feli.


"Bukan begitu mom," sangkal Darel.


"Lalu bagaimana hem?"


Feli berusaha untuk tak tertawa lepas, melihat salah tingkah Darel. Walau dia suka dengan Sierra, Feli tak masalah Sierra anak yang baik.


"Ya sudahlah aku kuliah disini, mulai besok cari-cari Universitas yang cocok." Pasrah Darel.


Feli tersenyum dan mengusap rambut sang anak, anak yang di nantikan selama beberapa tahun setelah pernikahannya.


"Mommy gak masalah kalo kamu, ada perasaan sama Sierra Rel. Tapi kalian harus mengejar masa depan kalian dulu, cita-cita kalian dulu. Dan setelah kamu sukses maka pikirkan lah tentang cinta dan masa depan kalian, jika Sierra jodoh mu dia gak akan kemana-mana sayang." Papar Feli dengan lembut, mengusap rambut Darel lalu Feli mencium kening sang anak.


"Terima kasih mom, aku sayang mommy." Ucap Darel memeluk Feli dengan erat.


Dia akan menurut pada Feli, dia akan fokus untuk masa depannya bersama Sierra kelak.

__ADS_1


"Tunggu aku Sie, jika sudah saatnya aku akan datang pada mu." Batin Darel, masih asik memeluk Feli.


Pekikan anak kecil membuat pelukan Darel dan Feli terlepas.


"Ka Darel, itu mommy aku. Kenapa peluk-peluk sih!" protes Elena.


"Astaga El, dia juga mommy aku." Goda Darel, lalu memeluk kembali Feli.


"Daddy," rengek Elena, Yudis masuk bersama Alana yang sudah bisa mengoceh mama dan dada.


"Rel kamu nih, jangan godain adiknya kenapa sih." Omel Yudis.


"Sudah-sudah sini Elena mommy peluk juga, biar Alana sama daddy." Kata Feli, Elena menghambur ke pelukan Feli.


Yudis tersenyum menatap keluarga kecilnya, dia cukup bahagia tanpa masalah dari Sarah yang selalu datang menganggu. Menurut Reno Sarah masih mendatangi kantor, tapi daddy Mike selalu mengusirnya bahkan mengancam akan menghancurkan perusahaan ayahnya.


Tapi dasar Sarah yang bebal, dia tak memperdulikan omongan daddy Mike. Yudis duduk di dekat Feli.


"Aku cemburu sama anak-anak, mereka dapet pelukan dari kamu mom. Aku kapan?" bisik Yudis.


"Apaan sih kamu, kaya anak muda aja." Kekeh Feli.


"Daddy awas jangan deket-deket mommy," protes Elena.


Feli pun hanya mengangguk, dia akan menyekolahkan semua anak-anaknya di Korea. Dan mungkin Yudis akan membangun bisnisnya di sini.


***


Liana dan Justine sendiri menjalani hubungan secara diam-diam selama satu bulan ini. Hana dan Indra pun belum memberitahukan tentang lamaran Justine, yang sudah di ajukan oleh laki-laki itu bersama ibunya.


"Apa kita kasih tau Liana saja sayang? Kasian loh dia, pacaran sembunyi-sembunyi dari kita." Kata Hana.


"Kita kasih tau dia malam ini saja," putus Indra, tidak mungkin selamanya sang anak akan sendiri.


"Baiklah aku akan menyuruh Liana pulang cepat, dan mengundang Indira dan Justine kerumah." Ujar Hana, dan Indra pun mengangguk saja.


Sementara itu Keiyona sudah berusia Tiga bulan, tambah besar tambah cantik dan ada mirip Dalia. Selama itu juga Arumi sering mengunjungi Yona, dan mengirimkan foto menggemaskan Yona pada Dalia.


Saat Dalia menatap foto Yona, ada rasa yang tak bisa dia ungkapkan. Bohong jika tak ada rasa untuk sang anak, selama dia berada dalam kandungannya. Secara spontan Dalia selalu mengusap perutnya dengan sayang, dan ada rasa tak rela jika harus berpisah dengan sang anak.


Namun gengsi dan obsesi itu masih ada, dia sekarang jadi pendiam. Dan masih bekerja di kantor sang ayah, dan rahasia Mahesa dan Arumi pun masih tersimpan rapat.

__ADS_1


"Kamu cantik nak," gumam Dalia, tanpa sadar dia tersenyum.


Sementara usaha cafe yang Sam rintis bersama sang adik sudah mulai maju, cafe yang astetic dan mengambil tema anak muda, membuatnya di gemari oleh influencer dan juga you tuber.


Banyak anak muda yang datang ke cafe Sam, dan selalu menyiarkan secara Live di sosmed mereka masing-masih. Dan Sam pun selalu memberikan mereka gratis jika cafenya ramai, sang adik Haidar pun selalu melakukan Live di sosial medianya.


Sam pun sudah mulai berhenti dari Bangtan cafe, dan sangat di sayangkan oleh sang Manager dan rekan kerjanya. Karena kerja Sam bagus dan cekatan.


"Mas ada yang mau ketemu," teriak Haidar.


Sam pun berdiri dari duduknya, dan melangkah keluar.


"Siapa?" tanyanya.


"Gak tau cewek cantik, mirip banget sama Yona." Papar Haidar.


Deg!


Membuat Sam berdebar dan mengira-ngira siapa yang datang, apakah Dalia?


"Mana mungkin Dalia mau menemui dia," gumamnya.


"Heh mas ayok, malah melamun." Ajak Haidar.


"Iya sudah ayok."


Sam dan Haidar pun melangkah bersama menuju depan, dan benar Dalia sedang menikmati minumannya di meja yang tak jauh dari jendela.


"Tuh orangnya mirip Yona kan?"


"Dia memang ibunya Yona," lirih Sam.


"Hah? Serius?" tanya Haidar tak percaya.


"Sudah sana, kamu urus pekerjaan mas yang lain. Mas mau temui dia dulu,"


"Oke siap,"


Haidar pun pergi meninggalkan Sam, yang menghela napas secara pelan. Rasa itu bukannya hilang, malah tumbuh semakin dalam. Di tambah sang anak yang mirip dengan Dalia, semakin sulit untuk melupakan Dalia cinta pertamanya.


Semoga suka 💞

__ADS_1


Maaf typo


__ADS_2