
Waktu menunjukan pukul sepuluh malam, Alana dan Elena sudah tertidur. Namun Feli tak bisa tidur, akibat perkataan Darel, Feli duduk termenung di balkon kamarnya. Dia membuka sedikit pintu balkon, membuat Yudis pun terbangun karena angin berhembus.
Yudis meraba sisinya, namun kosong.
"Kemana Feli?" gumamnya.
Yudis pun turun, dan melihat pintu balkon sedikit terbuka. Dia melihat Feli yang berwajah murung.
"Mom," panggil Yudis.
Feli melirik sekilas dan tersenyum.
"Kenapa hem? Ada masalah?"
"Tidak ada, aku baik-baik saja sayang."
"Bohong! Aku tahu kamu sayang, kamu pasti ada masalah kan? Sama Darel?" tebak Yudis.
"Iya," balas Feli.
Yudis pun duduk di sisi Feli, dan memeluk sang istri untuk bersandar di dadanya.
"Tadi siang saat orang tua Akira pulang, Darel mengancam akan meninggalkan kita." Jujur Feli.
"Darel berubah! Hanya karena aku tak memberi restu padanya, hanya karena Akira. Dia akan pergi dari rumah ini," lanjutnya lagi, dengan setia Yudis mendengarkan curhatan hati Feli.
Yudis memeluk Feli dengan erat, dan mengusap punggungnya untuk menenangkan Feli yang terisak.
"Sudah, kita terima saja Akira. Setelah itu kita beri pengertian pada Darel, kamu dan Darel sama memiliki sifat yang egois," kekeh Yudis, membuat Feli cemberut dan mencubit perutnya.
Yudis hanya meringis, dan mengajak Feli tidur kembali.
"Darel tidak berubah, jiwa mudanya selalu saja ingin mencoba hal yang baru. Dia baru saja jatuh cinta sayang," kata Yudis, kini Feli dan Yudis sedang berbaring saling memeluk.
"Dan mana mungkin Darel jauh dari mu, kamu tahu saat dia kecil. Kamu pergi ke depan pun Darel nangisnya histeris banget," cerita Yudis sambil tertawa dan Feli pun ikut tertawa.
"Lebih baik sekarang kamu tidur, aku gak mau kamu sakit sayang." Ujar Yudis, dan Feli pun mengangguk.
****
Pagi harinya, sesuai janji Daniel dan Ailee. Akira di antar ke rumah Darel.
"Mom, aku gak enak sama tante Feli." Lirih Akira.
"Jangan khawatir sayang, kamu pasti baik-baik saja. Mommy yakin Feli akan menerima mu," tutur Ailee, mengusap lembut rambut sang anak.
"Tapi mom, aku ikut saja yah!" rengek Akira.
"Tidak sayang, kamu belum sembuh betul."
"Akira mommy dan daddy hanya sebentar, nanti kami akan kembali lagi menjemput mu. Oke!" Daniel mencoba menenangkan sang anak.
"Lihat Darel sudah menunggu di depan pintu," kata Daniel.
Akira melirik Darel yang tersenyum manis.
"Baiklah." Lirih Akira.
Akira pun turun bersama Ailee, sementara Daniel membawakan barang-barang Akira. Ailee memeluk erat sang anak, dan memandangnya lama mencium kening Akira lama. Seolah esok mereka tak akan bertemu, padahal bisa saja lewat video call.
"Belum juga pergi, tapi mommy sudah sangat merindukan mu sayang." Isak Ailee.
Entah mengapa beberapa hari terakhir Ailee selalu bermimpi, berjauhan dengan Akira. Tapi Daniel selalu menenangkannya, bahwa itu hanya bunga tidur.
"Sudah sayang, nanti kita ketinggalan pesawat." Ucap Daniel mengingatkan.
"Nyonya Feli, tuan Yudis. Kami titip anak kami, kami meninggalkan mobil untuknya berpergian." Ujar Daniel, Feli dan Yudis pun mengangguk sebagai jawaban.
"Lalu bagaimana anda ke bandara?" tanya Yudis.
"Di depan taxi sudah menunggu." Sahut Ailee.
__ADS_1
"Baik-baik di sini sayang," kata Daniel, dia pun mencium sang anak dan memeluknya dengan erat.
Ailee pun memeluk Akira kembali dengan erat, dan mengusap pipinya dengan lembut.
"Mommy pergi dulu sayang," lirih Ailee.
Daniel dan Ailee pun pergi meninggalkan halaman rumah Feli, mereka menggunakan taxi yang sejak tadi mengikuti mereka ke rumah Feli.
"Semoga Akira baik-baik saja," kata Ailee, menatap Daniel yang mengangguk.
Darel menyentuh pundak Akira, yang memakai sweater rajut berwarna coklat.
"Ayok masuk!" ajak Darel, Darel pun membantu membawa koper milik Akira. Dan membawanya ke kamar tamu.
"Tante," sapa Akira, Feli pun hanya tersenyum kecil.
Sedangkan Alana merasa senang karena ada teman main.
"Lebih baik, kamu istirahat dulu Akira." Ujar Yudis.
"Baik om, terima kasih." Balas Akira.
Sesampainya di kamar, Akira menatap Darel yang membantu membereskan bajunya.
"Rel biar aku saja, masa tuan rumah yang membereskannya sih!" kekeh Akira.
"Gak papa, biar kamu gak cape."
Tak lama Darel pun sudah selesai membereskan pakaian Akira, dan menata barang pribadinya di meja rias.
Darel berjongkok di hadapan Akira, Darel tahu Akira masih pucat. Hanya saja, tertutup oleh make-upnya.
"Kalo ada apa-apa, panggil aku saja. Atau kamu bisa chat aku oke!" Ujar Darel.
"Iya Rel, makasih. Maaf aku merepotkan kamu, dan keluarga mu."
"Tidak, sudah kamu istirahat dulu. Nanti jika makan siang tiba aku akan panggil kamu," ucap Darel, Akira mengangguk saja.
Waktu menunjukan pukul lima sore, tapi kabar dari kedua orang tua Akira tak ada. Harusnya mungkin sudah sampai, begitu pikir Akira.
Namun Akira mencoba berpikir positif, bahwa orang tuanya kelelahan. Akira memutuskan untuk pergi ke dapur, membantu Feli yang sedang menyiapkan makan malam.
"Ta-tante," panggil Akira dengan gugup.
"Akira," ucap Feli tersenyum.
"Aku bantu yah?"
"Tidak usah, nanti kamu lelah."
"Tidak tan, aku baik-baik saja."
Feli menghembuskan napasnya secara pelan, dia pun mengangguk sebagai jawaban.
Akira membantu Feli memotong sayuran, ruang televisi adalah ruang tamu. Yang dekat dengan dapur, saat itu tv sedang menyala karena Alana dan Elena sedang menonton televisi.
Breaking news!
Telah terjadi kecelakaan pesawat, tujuan india. Jatuhnya pesawat di sekitaran Himalaya. Tim SAR sedang menuju ke lokasi, apakah ada korban yang selamat atau tidak? Tapi saat kita melihat gambar pesawat yang hancur, mungkin korban tidak ada yang selamat.
Himalaya adalah sebuah barisan pegunungan di Asia, yang memisahkan anak Benua India dari Dataran tinggi Tibet. Himalaya merupakan tempat gunung-gunung tertinggi di dunia, misalnya Gunung Everest dan Kangchenjunga berada. Secara etimologi, Himalaya berarti " tempat kediaman salju " dalam bahasa Sanskerta.
Akira yang mendengar berita itu pun langsung merasakan sakit di dada, dan schok. Pasalnya Akira tahu nama penerbangan Daniel dan Ailee, membuat Feli terkejut karena sesuatu yang jatuh.
"Akira," pekik Feli, yang melihat Akira memegang dadanya.
"Ya Tuhan, Akira kamu kenapa?"
"Mommy, daddy." Lirih Akira pelan, kemudian Akira jatuh pingsan. Membuat panik Feli.
"Akira," pekik Feli lagi.
__ADS_1
"Akira bangun nak, bangun. Bagaimana ini?"
Feli bingung karena Darel dan Yudis belum pulang.
"Menyebalkan saat seperti ini dua laki-laki itu belum pulang," kesal Feli, dia menangis.
Feli pun mendengar kabar kecelakaan pesawat tadi, dia tak menyangka bahwa orang tua Akira jadi korban.
"Alana," panggil Feli.
"Iya mom," teriak Alana.
"Sayang tolong bawa ponsel mommy, di meja." Perintah Feli.
Alana pun menurut dan langsung memberikan ponsel Feli, Feli menelepon Yudis dengan panik dan terisak.
"Iya sayang, aku akan segera pulang!" kata Yudis di seberang telepon.
Saat di perjalanan Yudis mencoba menghubungi Darel, namun Darel tak bisa di hubungi.
***
Pov Daniel.
Hati ayah mana yang tak sakit saat melihat anaknya menderita karena penyakit sialannya, Akira putri ku satu-satunya. Karena setelah itu Ailee tak bisa mengandung lagi, karena selalu ada masalah di kehamilannya.
Hari ini aku terpaksa mengantarkan Akira ke rumah Darel walau pun berat, teman Akira yang dia kenal beberapa bulan ini. Dan sempat mengutarakan niatnya untuk melamar Akira, namun aku masih ragu untuk itu. Dan sangat jelas saat aku dan Ailee, mengunjungi rumah Darel melihat Feli menatap kami dengan tak suka.
"Sayang?" panggil ku pada Ailee, yang terus melamun.
Sebentar lagi kami akan tiba di bandara.
"Kamu baik-baik saja?"
"Entahlah, aku takut... Sangat takut," katanya dengan lirih.
Saat tiba Ailee masih tetap terpaku, di kursi dia memandang bandara dengan lekat.
"Aku takut tidak akan bisa kembali lagi," celetuk Ailee.
"Sayang!" tegur ku.
"Kamu harusnya berdoa, supaya kita selamat sampai tujuan. Dan secepatnya kembali untuk Akira, setelah urusan kita selesai. Kita akan kembali ke Negara asal ku, bagaimana?" tanya ku.
Ailee membuang napas kasar, dia pun mengedikan bahunya acuh.
Supir taxi sudah menurunkan barang bawaan kami, dan aku membayarnya kemudian mengucapkan terima kasih.
Aku melirik Ailee, yang merasa berat melangkah.
"Ayok sayang!"
"Iya,"
Ailee pun berdiri di samping Daniel, mengikuti langkah sang suami. Sebelum masuk kedalam pesawat, aku menatap Ailee yang sedang menatap kembali foto Akira. Seolah akan merekam dalam memori terdalamnya.
Kami pun sudah masuk kedalam pesawat, yang sebentar lagi akan take-off.
Beberapa menit kemudian, pesawat sudah mengudara. Tapi entah mengapa ada sesuatu yang membuat ku tak enak, aku pun menatap Ailee yang menatap keluar jendela. Awalnya aku merasakan guncangan kecil, namun lama kelamaan. Guncangan itu makin besar, membuat semua orang panik.
Aku menyuruh Ailee untuk mengencangkan sabuk, dan memakai masker yang sudah turun. Aku berdoa dalam hati semoga kami semua selamat, aku dan Ailee berpegangan tangan dengan erat dan saling menatap penuh cinta.
Hal yang aku ingat saat ini adalah Akira.
"Akira," gumam ku sebelum aku mendengar ledakan yang dahsyat.
tbc...
Semoga suka 💞
Maaf typo
__ADS_1
Gimana? Nangis gak 🤭