
Orang tua kita mungkin belum setuju dengan hubungan ini, tapi itu bukan berarti aku berhenti memperjuangkan hubungan ini sampai mendapat restu mereka. Maka tunggulah aku!
Setelah perdebatan dengan sang ibu, Sam memutuskan untuk menemui Liana dan Justine. Tak sulit untuk mendapatkan alamat apartemen Justine, atau rumah Liana.
Tapi dia meyakinkan bahwa Liana bersama Justine di apartemen.
"Lo yakin mereka di sini mas?" tanya Haidar.
"Gue yakin 10000% Haidar."
"Insting pejuang cinta memang tak pernah di ragukan," cibir Haidar.
"Ya sudah, cepat masuk. Biar gue jaga Yona," sambungnya kemudian.
"Engga gue bakal bawa Yona, kemana pun gue pergi. Yona akan gue bawa," ujar Sam.
Haidar pun memutar bola mata malas, lalu turun sambil menggendong Yona. Sam pun tak kesulitan untuk masuk, dia mengaku ipar dari Justine.
Saat tiba di depan unit Justine, Sam menghembuskan napasnya secara pelan.
"Kamu siap bertemu om dan tante mu?" tanyanya pada Yona, namun Yona hanya asik dengan jarinya.
Sam menekan bel sebanyak dua kali, dan tak membutuhkan waktu lama pintu terbuka. Mendapati wanita cantik yang tentu saja tak muda lagi.
"Cari siapa?" tanya Indira.
"Saya mencari Justine dan Liana, apa mereka disini?"
"Iya mereka di sini, mari silahkan masuk!" ajak Indira, dia melirik bayi yang berada dalam gendongan Sam dan mengingatkannya pada seseorang.
Indira mempersilahkan Sam duduk, setelah memperkenalkan diri. Lalu Indira menuju kamar Justine, setelah memberitahu Indira masuk ke dapur dan membuatkan Sam minum.
"Sudah sayang ibu panggil, katanya ada yang mau ketemu." Ujar Liana, terus mendorong dada Justine.
Beruntung kamar Justine kedap suara, jadi mau Liana mendesah keras pun tak akan ada yang mendengar. Rencana mereka pun akan pindah ke perumahan.
Justine menghela napas pelan, dia pun mencium tengkuk Liana sejenak.
"Awas yah nanti setelah tamu pergi," ancam Justine, Liana hanya tertawa saja.
Justine menatap Sam yang tengah memohon padanya, Indira yang mendengar cerita Sam pun merasa iba. Dia menatap Justine dengan tatapan tajam.
"Bu sudah jangan menatap ku seperti itu," ucap Justine.
"Sudahlah Jus, kamu gak kasian sama Yona apa?" ketus Indira, dia kesal pada Justine pasalnya dia tidak memberitahukan dimana Dalia.
Indira menatap Yona yang berada dalam gendongan Liana, dia merasakan apa yang di alami oleh Dalia saat ini. Di larang bertemu anak, dan di jauhkan dari anaknya.
Mendapatkan dua tatapan tajam, Justine pun menyerah. Dia memberitahukan alamat oma Widi pada Sam.
"Terima kasih Justine, aku tahu. Kamu peduli pada Yona," ujar Sam.
Justine hanya mengangguk, dia menatap Yona. Memang dia merasa kasian pada keponakannya tersebut, tepat pukul sembilan malam. Sam berpamitan pulang.
__ADS_1
"Lebih baik aku pulang dulu, ini sudah malam. Sekali lagi terima kasih, tante, Justine, Liana." Ucap Sam.
"Tidak masalah nak," balas Indira.
"Sebentar," sahut Liana.
Liana memberikan Yona pada Sam, kemudian dia berjalan cepat ke kamar. Liana membeli banyak barang untuk Yona.
"Ini untuk keponakan tersayang ku," ujar Liana menyerahkan dua kantong paper bag.
"Wah... Terima kasih Liana, merepotkan sekali." Cetus Sam.
"Tidak apa-apa Sam, saat melahirkan aku tidak menengok jadi sekarang saja aku belikan baju dan kebutuhan Yona," kata Liana.
Sam pun berpamitan, dan di antar oleh Justine menuju lobby. Haidar menatap sang kakak, lalu membantu membawa barang-barang.
"Gimana mas?" tanya Haidar.
"Sudah dapat, dan besok aku akan berangkat ke Makassar. Doakan supaya Dalia luluh," lirih Sam.
"Dia pasti luluh mas," tutur Haidar, menenangkan sang kakak.
Malam ini Sam akan membereskan barang-barang dirinya dan Yona.
"Tunggu aku Dalia," batin Sam, menatap Yona yang terlelap di pangkuannya. Dan Sam pun harus bersabar menunggu esok pagi.
****
"Darel?" panggil Feli.
Darel hanya menoleh sekilas, dan melakukan kembali push up.
"Kamu gak dingin apa? Baru juga pukul enam ini," kata Feli.
"Engga mom," sahut Darel.
Feli pun menggeleng dan meninggalkan Darel yang sibuk olahraga, dia pun pergi ke dapur dan menyiapkan sarapan untuk keluarganya. Hari ini akan ada pihak kebersihan, yang akan datang seminggu sekali membersihkan rumah.
Darel berhenti dia pun duduk dan meminum minumannya, dia memeriksa ponselnya. Namun tak ada satu pun notif dari Akira.
"Apa dia marah? Akira bukan tipe seperti itu." Gumam Darel.
"Akira kamu baik-baik saja?"
Darel mengirim pesan pada Akira, seperti seorang kekasih yang sedang membujuk kekasihnya yang merajuk. Darel pun masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri, tak butuh waktu lama dia sudah siap dan akan pergi.
"Rel kamu gak sarapan dulu?" tanya Feli, melihat anak lelakinya sudah rapih.
"Aku sarapan di luar saja mom," sahut Darel, dia pun mencium Feli setelah berpamitan pada Yudis yang sedang menemani Alana dan Elena.
"Hati-hati," ucap Feli.
"Iya."
__ADS_1
Tujuan Darel saat ini adalah rumah Akira, dia menggunakan angkutan umum saja. Karena Darel belum mendapatkan SIM, dan juga hanya ada satu mobil itu pun milik Yudis.
Berpuluh menit kemudian Darel sudah sampai, namun Darel harus menelan kekecewaan. Bahwa Akira dan keluarganya sedang tak ada di rumah.
"Kira-kira mereka ke mana?" tanya Darel dalam bahasa Inggris, tapi penjaga rumah tersebut hanya mengerti sedikit.
Membuat Darel kesulitan, dia pun menggaruk rambutnya yang tak gatal. Berharap ada pertolongan yang menghampiri dirinya.
"Aduh bagaimana ini?" bisik Darel, di rumah Akira pun tak ada pembantu. Mereka hanya datang seminggu sekali sama seperti di rumahnya.
Darel pun melirik anak sekolahan yang melintas, dia bertanya dan beruntung dia bisa bahasa Inggris. Kemudian dia menanyakan pada penjaga rumah Akira, lalu dia menerjemahkannya.
"Oke terima kasih bantuannya," ucap Darel setelah mereka melakukan sesi jawab.
Darel pun memutuskan untuk kembali ke rumah, karena Akira sedang pergi.
"Bagaimana mom dia sudah pergi?" tanya Akira di sebrang telepon.
"Sudah Kira, Darel sudah pulang. Sepertinya dia kecewa," tutur Ailee, sejak tadi Ailee memang berada di rumah untuk membawa kebutuhan sang anak.
Tapi pada saat keluar dia melihat Darel, bertanya penjaga. Beruntung Ailee telah memberitahu penjaga bahwa mereka sedang keluar, beruntung Darel pun tak melihatnya saat akan membuka pintu lebar.
****
Dengan semangat Sam telah menyelesaikan membereskan barang-barang miliknya dan Yona, hari ini dia akan terbang menuju Makassar. Dimana Dalia berada.
"Ayok Yona, kamu sudah siap cantik?"
"Syudah ayah," jawab Sam menirukan suara anak kecil, membuatnya terkekeh sedangkan Yona tersenyum.
"Kita akan bertemu dengan bunda nak," gumam Sam.
Sam melihat ke sekeliling dan masih sepi, dia pun bersyukur karena memudahkannya untuk kabur. Dia mengetuk kamar Haidar, untuk membawa barang-barang miliknya.
"Ayok mas," ajak Haidar dengan cepat.
"Ibu dan ayah dimana?" tanya Sam.
"Mereka lagi joging, mungkin ayah mengerti kalau kamu mau kabur," kekeh Haidar, memutar bola mata malas.
Tak lama setelah keberangkatan mobil Sam, bu Sekar dan ayah Aryo. Sudah tiba di depan rumahnya, dia merasa heran karena mobil Sam pagi-pagi sudah tak ada.
"Kemana tuh anak?" gumamnya.
Bu Sekar pun masuk ke dalam rumah, dan menuju kamar Sam berada. Sekalian dia kan menemui cucu kesayangannya, saat membuka pintu. Bu Sekar terkejut, karena kamar sang anak kosong. Terlebih keperluan Yona tak ada di tempat, bu Sekar memeriksa lemari pakaian Sam.
"Samudra," pekik bu Sekar.
tbc...
Semoga suka 💞
maaf typo
__ADS_1