
Berbeda di Korea, berbeda pula di Jakarta. Liana yang dinyatakan hamil pun tak bisa ikut bersama keluarganya mengunjungi Feli, padahal dia ingin sekali pergi ke sana.
"Nanti jika kehamilan mu sudah kuat, kita pergi ke Korea atau ke Negara mana pun yang kamu mau sayang," ujar Justine, yang masih setia membujuk Liana.
"Tapikan aku juga mau bersama-sama, bareng mereka!" kesal Liana.
"Sudahlah sayang, nanti kita babymoon ke Korea atau kamu mau lahiran di sana?" usul Justine.
Liana melirik Justine, ide melahirkan di Korea tidaklah buruk. Dengan semangat Liana menganggukan kepalanya.
"Kalau perlu kita tinggal di sana saja selama dua bulan," cetus Liana, membuat Justine memincingkan matanya.
"Baiklah nyonya Wijaya," pasrah Justine, agak sedikit menyesal mengusulkan untuk melahirkan di sana.
Indira yang mendengar percakapan antara anak dan menantunya hanya tersenyum saja, dia bersyukur kini Justine mendapatkan kebahagiaan dengan orang yang dia cintai. Indira pun mencoba untuk berdamai dengan masa lalunya, seperti Justine yang mau menerima kembali Arumi dan Mahesa.
Sementara itu Dalia dan Sam menikmati romansa pengantin baru, mereka sedang menikmati liburannya di Bali tanpa Keiyona. Karena oma Widi ingin menghabiskan waktu bersama cicit pertamanya tersebut.
"Kamu gak KB kan sayang?" tanya Sam.
"Engga, memang kenapa?"
"Kalau kamu hamil lagi gimana?"
"Ya gak papa dong, itu rezeki kita punya anak lagi." Ujar Dalia tersenyum, kini mereka tengah bersantai di balkon kamar hotel.
Dalia memeluk Sam dengan erat, sangat merasa beruntung di cintai oleh seseorang. Dari pada kita mencintai orang lain.
"Sayang apa kita tak meminta restu ibu mu?" tanya Dalia.
"Nanti saja, saat kamu hamil," kekeh Sam.
__ADS_1
"Ish... Kamu," kesal Dalia.
"Kayanya kamu harus minta maaf sama Indra dan keluarganya sayang!"
"Memang harus? Aku malu buat ketemu Indra, apalagi Hana. Aku sudah menyakitinya," tutur Dalia.
"Maka dari itu, kamu harus meminta maaf. Lebih baik berdamai dengan mereka, itu akan membuat mu lega sayang." Cetus Sam.
"Baiklah, tapi nanti saja jika kita ke Jakarta." Kekeh Dalia.
Sam pun mengajak Dalia masuk kamar.
"Mau apa sih? Ini masih siang tau," omel Dalia.
"Aku gak peduli mau pagi, siang atau malam. Aku mau kita punya anak laki-laki," ujar Sam, membuat Dalia terkekeh.
Dalia pun mengeratkan pelukannya pada Sam, dan mereka pun melakukan penyatuan siang itu juga.
Di kediaman Sarah, kini dua belah pihak keluarga Reno dan Sarah tengah merencanakan pernikahan anak-anak mereka. Orang tua Sarah tak mempermasalahkan anak mereka yang menikah dengan Sarah, yang statusnya janda anak dua.
Malah mereka bahagia karena memiliki cucu yang sudah besar, bahkan Selin lebih dekat kepada ibunya Reno. Sementara Karenza tidak mempermasalahkan itu semua, asal sang ibu bahagia dia pun ikut bahagia.
Reno sempat memiliki kisah asmara yang kurang beruntung, dia di tinggal menikah oleh kekasihnya. Dari dulu sang ibu Mira selalu menjodohkan Reno dengan anak dari teman bu Mira, tapi Reno selalu menolak.
"Terima kasih bu Mira, pak Yuda. Mau menerima putri saya dan kedua cucu kami," ujar Imam ayah Sarah.
"Tidak masalah, yang penting kebahagian Reno dan Sarah akan kami utamakan. Reno anak ku satu-satunya," jelas pak Yuda.
Dan mereka bahagia akan bertambahnya keluarga baru, awalnya Reno pun tak menyangka akan jatuh cinta pada Sarah. Si nona menyebalkan, mungkin ini yang di namakan benci jadi cinta.
"Nanti kita minta maaf pada tuan Yudis, dan nyonya Feli." Kata Reno.
__ADS_1
"Iya, aku juga gak enak. Udah buat mereka retak," balas Sarah.
Reno menggengam tangan Sarah, dan menatapnya lekat.
"Aku janji akan berusaha membahagiakan kamu, dan kedua anak-anak mu Sarah." Papar Reno, membuat Sarah tersenyum.
"Gak usah janji, lebih baik kamu buktikan. Dan aku harap, jika kita punya anak. Kamu jangan pernah berubah sama Karen dan terutama pada Selin," ucap Sarah pelan.
"Sayang ku pada Selin dan Karen, akan sama dan tak pernah berubah." Balas Reno.
"Ayah," pekik Selin, dia pun menghamburkan diri memeluk Reno.
"Hai cantik! Gimana? Seru mainnya?" tanya Reno.
"Seru sekali, ka Karen ajak aku main sepuasnya." Cerita Selin.
"Oh.. dan aku juga, di beliin baju buat ke acara pesta pernikahan kalian nanti." Sambungnya lagi.
"Wahh... Ayah udah gak sabar liat kamu jadi kaya princess," cetus Reno.
"Kamu pasti lebih cantik dari pada bunda sayang," ujar Reno menatap Sarah.
Sarah yang terus memperhatikan interaksi Reno dan Selin, sementara Karen bersama para orang tua di ruang tamu dan terlihat akrab pula. Dia merasa bersyukur bisa kembali dalam hidup Yudis, untuk menemukan cintanya kembali.
Dan Sarah merasa bersyukur, atas kebahagiaan yang datang padanya. Jika nanti Feli dan Yudis pulang ke Indonesia, dia berniat ingin meminta maaf pada mereka. Bahkan kini Reno pun di beri jabatan penting di perusahaan Darwin, namun tetap dalam pengawasan Yudis.
tbc..
Semoga suka 💞 maaf typo.
Lagi gak ada ide buat cerita Darel, aku ragu buat bikin endingnya.
__ADS_1