Still Love You

Still Love You
Part.90


__ADS_3

Lima bulan kemudian, kini usia kandungan Dalia sudah memasuki sembilan bulan. Yang selalu di tunggu Sam akan segera tiba. Sebentar lagi dia akan membawa sang anak pergi dengannya, selama kurang lebih lima bulan. Dia terus berusaha menaklukan hati Dalia, namun sayang dia tak luluh.


Dan dengan tekadnya dia akan membawa sang anak pergi.


"Apa kamu ingin sesuatu?" tanya Sam.


Dalia hanya diam menatap kosong ke depan, setelah semua terbongkar dan Indra memutus semua kerja samanya. Membuat Dalia seperti mayat hidup, dia makan hanya untuk gizi sang anak.


Sam menghembuskan napasnya secara kasar, dia pun beranjak dari duduknya dan keluar dari kamar. Minggu ini adalah minggu rawan Dalia melahirkan, dan sudah tiga hari Sam cuti.


"Dalia," panggil Sam dengan sabar.


"Aku gak mau, kenapa kamu selalu memaksa? Pergi sana!" teriak Dalia.


"Dalia bagaimana pun juga dia anak ku," ucap Sam.


"Aku gak pernah berharap kamu jadi ayah dari anak ku, aku maunya Indra. Indra," pekik Dalia.


"Cukup Dalia, itu bukan cinta. Tapi kamu hanya obsesi semata," bentak Sam.


Sam pun meninggalkan kamar Dalia, Arumi yang mendengar pertengkaran antara anak dan menantunya hanya bisa diam. Arumi pun sudah lelah untuk menasehati sang anak.


"Lihat kelakuan anak mu Arumi, karena kamu terlalu memanjakannya dan menuruti apa maunya," ucap Mahesa dengan dingin.


Arumi menunduk mendengarkan ucapan Mahesa, kenapa dia selemah ini pada Mahesa? Karena cintanya terlalu besar pada Mahesa, membuatnya tak bisa melawan.


***


Sementara itu Feli dan Yudis masih dalam mode marah, namun Feli kembali ke rumah mereka atas bujukan Darel. Selama empat bulan mereka saling diam, hanya saling sapa seperlunya.


"Sampai kapan Feli? Sampai kapan kamu mendiamkan aku seperti ini? Ini sudah hampir empat bulan!" papar Yudis menatap Feli, yang sedang membereskan kamar mereka.


Selama itu pun Yudis menghindari Sarah, dan mommy Melati membawakan calon untuk Sarah. Namun Diana menolak semua calon-calon tersebut, membuat mommy Melati pada akhirnya mengancam akan melakukan sesuatu pada mereka. Jika masih mengganggu rumah tangga Yudis.


"Feli," panggil Yudis, dia memeluk Feli dari belakang.


"Aku sayang kamu Fel, sungguh." Lirih Yudis mencium Feli.


"Aku juga sayang kamu Dis," isak Feli pada akhirnya, dia pun tersiksa mendiami Yudis selama ini.


Yudis memeluk Feli dengan erat, dia bahagia jika Feli mau bicara padanya.


"Aku tidak mau seperti ini, tapi mereka selalu mendatangi ku saat kamu pergi ke kantor. Mereka meminta mu untuk jadi ayah dari Selin," cerita Feli.


"Sekeras apa pun mereka, tapi aku tetap inginkan kamu Feli. Bukan yang lain," balas Yudis.


Yudis melepaskan pelukan Feli, dia mengusap air mata Feli.


"Kita pergi dari sini untuk sementara waktu, kita tinggal di luar negeri gimana?" usul Yudis.


"Kemana? Lalu perusahaan kamu gimana?"

__ADS_1


"Aku bisa ajuin cuti sama daddy sayang, kamu jangan khawatir. Elena juga bisa libur sekolah, dan Darel pun sudah selesai ujiannya. Kita bawa mereka semua," ujar Yudis.


"Baiklah aku akan ikut," putus Feli.


Yudis pun kembali memeluk Feli dengan erat, dia merindukan kecerewetan Feli.


Sementara itu Sam, terus membujuk Dalia untuk makan. Dalia mengeluh perutnya sakit.


"Mungkin kamu akan melahirkan?" tanya Sam, mengusap perut buncit Dalia.


"Jangan sentuh aku," sentak Dalia.


Sam pun menghembuskan napasnya secara kasar, dia memanggil Arumi untuk menemani Dalia.


"Kamu baik-baik saja nak?" tanya Arumi khawatir, menurut pemeriksaan dokter Dalia akan melahirkan dua hari lagi. Tapi sekarang dia sudah merasakan mulas.


Tapi bisa saja Dalia melahirkan hari ini, atau besok.


"Kita ke rumah sakit saja yah?" bujuk Arumi.


"Aku gak mau ibu, aku baik-baik saja." Cetus Dalia, padahal perutnya sudah mulas mungkin dia akan melahirkan sekarang.


"Dalia ibu mohon, ibu takut terjadi sesuatu pada mu nak. Turuti apa kata ibu," mohon Arumi.


Dalia dengan keputusannya enggan ke rumah sakit, dia memilih merebahkan tubuhnya. Tapi sungguh tak enak, Arumi pun mengusap lembut perut dan punggung sang anak.


"Dalia." Lirih Arumi.


"Basah," pekik Sam.


Beruntung mereka sudah sampai di rumah sakit, tempat Dalia memeriksakan diri. Sam dengan segera memanggil suster yang membawa brankar, Dalia pun langsung di bawa ke ruang bersalin.


Dokter memeriksa jalan lahir, dan sudah bukaan empat.


"Sabar yah! Sebentar lagi," ujar dokter.


Dalia hanya bisa mengangguk saja, sesekali dia meringis menahan sakit akibat mulas.


Tepat pukul tujuh malam, Dalia melahirkan anak pertamanya berjenis kelamin perempuan. Yang sangat cantik, Dalia di temani oleh Arumi sedangkan Sam menunggu di luar bersama Mahesa.


Bagaimana pun juga, Dalia adalah anaknya walau bukan anak kandung. Jauh dari lubuk hatinya dia menyayangi Dalia.


Arumi keluar dari ruang bersalin dan menatap Sam dengan tersenyum, kemudian dia memeluk Sam.


"Selamat nak, putri mu sudah lahir." Ujar Arumi.


"Benarkah?" tanya Sam tak percaya.


"Iya, dia sedang di bersihkan. Sebentar lagi kamu boleh menemuinya," ucap Arumi, dia pun menatap Mahesa dan ragu untuk memeluk Mahesa.


Beberapa menit kemudian, suster pun mengizinkan sang ayah untuk bertemu anaknya. Sam menatap takjub pada bayi mungil, yang masih merah yang ada di hadapannya.

__ADS_1


Dia mengusap lembut pipi sang anak dengan hati-hati.


"Keiyona, nama mu Keiyona nak." Ucap Sam tersenyum.


"Selamat datang sayang," sambungnya kemudian.


Suster pun datang dan akan membawa bayi tersebut pada ibunya, untuk melakukan IMD. Sam pun mengikuti suster, menuju ruangan dimana Dalia berada.


Suster menyerahkan bayi tersebut pada Dalia, namun Dalia melengos enggan menatap sang anak. Yang wajahnya dominan Sam.


"Sayang, kasian anak mu Dalia. Dia ingin menyusu," ujar Arumi.


"Aku gak mau ibu, jauhkan anak ini." Pinta Dalia.


"Dalia aku mohon, setidaknya berikan dia ASI."


"Aku bilang gak mau ya gak mau," pekik Dalia.


Arumi membawa cucunya dan menimang bayi mungil tersebut, dia menatap sedih pada Dalia yang tak ingin melihat anaknya.


"Anaknya bisa di kasih susu formula dulu nyonya, jika nanti kondisi sang ibu baik. Boleh memberikan ASI pada anaknya," usul suster yang membawa bayi Dalia.


"Baik sus, terima kasih." Balas Sam.


Suster pun permisi keluar dari ruangan rawat Dalia, sedangkan Sam. Dia membeli keperluan untuk sang anak, tak perlu repot Sam tau semuanya karena dia selalu belajar dari internet.


Sam pun telah kembali dengan dua kantong kresek di tangannya, saat dia masuk ternyata sang anak tengah menangis.


Sam mengambil alih sang anak dari Arumi, menimang agar sang anak tenang.


"Kamu haus nak? Sabar yah Kei, ayah akan bikin susu untuk mu." Ucap Sam pada Keiyona.


"Kei? Namanya Kei?" tanya Arumi.


"Iya, lebih tepatnya Keiyona Kelana Darya." Umum Sam, membuat Arumi tersenyum.


"Nama yang bagus, ibu suka. Kamu suka kan nak?" tanya Arumi pada Dalia, namun Dalia hanya memalingkan wajahnya.


"Aku titip Yona dulu tan, aku mau mencuci botol susu dan membuatkannya susu." Ujar Sam.


Arumi pun menerima Keiyona, yang mulai tenang. Dia menatap iba cucu pertamanya, dulu dirinya tak seperti ini karena ada ibunya dan Mahesa yang selalu mendampingi dirinya dalam persalinan.


***


Semoga suka 💞


Maaf typo



Mampir di karya ku yang baru makasih 💜

__ADS_1


__ADS_2