Still Love You

Still Love You
Part.87


__ADS_3

Keesokan harinya, Liana datang bersama Dera dan Sara di antar Justine. Agar tak menimbulkan kecurigaan para gadis turun tak jauh dari halte bus Bangtan Area.


"Terima kasih," ucap Liana.


Justine hanya tersenyum saja, dia masih ingin berlama-lama dengan Liana namun dia sadar bahwa mereka harus bekerja.


Suara Dera membuat Justine kembali dari lamunannya.


"Makasih ya pak Justine," ucap Dera mewakili Sara juga.


Mereka pun bergegas turun dari mobil Justine, kemudian melangkah bersama menuju Bangtan Area.


Liana masuk ke dalam ruangannya, ternyata sudah ada Indra di sana. Indra menatap sang anak yang menunduk.


"Kamu bohong kan?"


"Maksud papah, bohong apa?"


"Kamu menginap di apartemen Justine kan Liana?" tanya Indra dengan dingin.


"Pah aku..."


"Jangan coba-coba berbohong Liana, papah tau kamu menginap di apartemen Justine. Walau di sana ada Indira, tapi papah gak yakin kalian menjaga diri." Cetus Indra.


"Pah percaya pada ku," ujar Liana.


"Papah selalu percaya pada mu, tapi bisakah kamu menjauh dari Justine?" tanya Indra.


"Baiklah pah," pasrah Liana.


"Ohh ya, siang ini hasil tes DNA itu keluar. Kamu dampingi mommy mu," pinta Indra.


Liana hanya mengangguk saja sebagai jawaban, dia menatap pintu yang tertutup Indra datang memastikan Justine tak ikut ke dalam ruangan sang anak. Mulai sekarang Bangtan Area akan di serahkan pada Liana, dan Indra akan fokus pada usaha tour and travelnya bersama Devara.


Liana menghembuskan napasnya secara pelan, sebentar lagi dia akan resmi jadi CEO Bangtan area. Membuatnya akan sulit bertemu dengan Justine.


***


"Feli sayang." Panggil Yudis.


Namun Feli masih sibuk dengan baju kerja Yudis, setelah memastikan baju suaminya siap. Feli beranjak ke kamar Darel dan Elena.


Yudis pun terus mengekor sang istri kemana pun dia melangkah.


"Kenapa kamu mengikuti ku terus Dis? Lebih baik kamu mandi, lalu bersiap!" perintah Feli.


Bukannya menurut Yudis malah mengikuti Feli ke kamar Elena, dan ternyata putrinya tersebut sudah bangun.


"Mommy, daddy." Sapa Elena riang.


"Pagi sayang." Ucap Feli mencium sang anak.


"Pagi mom, kenapa daddy di sini?" tanya Elena.


"Daddy mau di mandiin sama mommy sayang," ujar Yudis membuat Feli melotot.


"Ya ampun dad, sudah besar juga." Ketus Elena menggeleng pelan.

__ADS_1


"Elena sekarang kamu bersiap mandi yah? Mommy bakal siapkan baju mu," ujar Feli.


"Baik mom,"


"Anak pintar." Feli mengelus kepala Elena dengan sayang.


"Mommy ke kamar dulu yah? Bayi besar mau mandi," bisik Feli membuat Elena terkekeh.


Feli pun mengajak Yudis ke kamar mereka, dan menatap tajam suaminya tersebut.


"Kenapa kamu mengikuti ku terus sih? Cepat mandi," titah Feli.


"Mandiin dong mom," goda Yudis mengedipkan sebelah matanya.


Feli mencubit perut Yudis, dia masih marah karena masalah anaknya Sarah.


"Baik aku akan mandiin kamu, tapi dengan satu syarat."


"Apa syaratnya?"


"Jauhi anaknya Sarah, berhenti peduli pada mereka." Ucap Feli dengan dingin dan datar.


"Sayang aku gak bisa loh! Anak Sarah selalu merengek dan menangis di depan banyak orang," ungkap Yudis.


"Aku gak mau tau Dis, itu adalah salah satu cara mereka mendekati mu. Kalau perlu suruh Reno yang mengurus anak Sarah," cetus Feli.


"Baiklah sayang jangan marah, aku sayang kamu oke!"


Yudis memeluk Feli dan menciumnya, apa pun akan Yudis lakukan untuk Feli agar tetap di sampingnya.


Waktu begitu cepat berlalu, saat ini keluarga Indra menunggu harap-harap cemas hasil tes tersebut. Arumi, Sam dan Dalia pun baru sampai. Sam pun meminta izin, untuk bekerja setengah hari beruntung Manager cafe memberi izin. Walau sebagai gantinya besok dia harus lembur.


"Satu putri saja sudah cukup bagi Indra, dia tak memerlukan putri lainnya."


Ucapan itu terus saja terngiang dalam kepala Dalia, seolah sudah menjadi bisik-bisik yang melekat di ingatannya.


Tak lama perawat pun datang dan menyuruh mereka masuk ruangan dokter, untuk mengumumkan hasil tes tersebut.


Semua orang menunggu dengan harap-harap cemas.


"Bagaimana hasilnya dok?" tanya Hana memecah keheningan.


"Baiklah, menurut hasil tes menyatakan bahwa tidak ada kecocokan dengan tuan Indra. Namun kecocokan tersebut, terdapat pada tuan Sam." Jelas dokter, dokter pun menyerahkan hasil kepada Indra dan Sam.


Indra pun tersenyum lega, dan Sam tersenyum bahagia. Keinginannya akan segera tercapai, untuk memiliki sang anak.


"Dokter pasti bohong," celetuk Dalia, dengan wajah sedih dan frustasi.


"Saya tidak bohong nona Dalia, tuan Sam adalah ayah biologis dari bayi yang anda kandung." Ujar dokter.


Membuat Dalia menjambak rambutnya sendiri, dan menangis kemudian.


"Aku gak mau ibu," pekik Dalia.


"Sayang apa pun hasilnya, kamu harus terima." Imbuh Arumi menguatkan sang anak.


"Engga ibu engga," teriak Dalia.

__ADS_1


Indra, Hana dan Liana hanya memperhatikan Dalia dengan tatapan datar, mereka pun berpamitan pada dokter dan mengucapkan terima kasih.


"Indra tunggu, aku mencintai kamu Indra." Lirih Dalia.


Dia pun mengikuti Indra keluar dari ruangan dokter.


"Lepaskan Dalia, beruntung aku tidak melaporkan mu ke polisi." Desis Indra.


"Mulai sekarang kamu jangan pernah menganggu ku, dan keluarga ku paham!" tekan Indra dengan menatap tajam Dalia.


Indra pun menarik Hana dan Liana, untuk pergi dari rumah sakit tersebut. Sementara Dalia dia terus berteriak memanggil Indra, Sam pun mencoba menenangkan Dalia.


"Sudahlah Dalia, kamu masih punya aku dan ibu mu." Sam mencoba memeluk Dalia, namun Dalia mendorong Sam.


"Pergi kamu aku benci kamu, dan anak sialan ini." Pekik Dalia.


"Dalia!"


"Dalia!"


Teguran tersebut datang dari Sam dan Arumi, Sam menangkap tangan Dalia yang hampir memukul perutnya.


"Jika kamu benci anak ini, jangan melukai dia. Lahirkan dia, maka aku dan anak itu akan pergi jauh dari mu, tapi jangan pernah kamu bilang anak itu. Anak sialan Dalia," teriak Sam.


Hilang sudah kesabarannya, dia menatap Arumi yang menangis dan semua orang yang menatapnya.


"Maafkan aku tante, aku akan membawa anak ku setelah anak itu lahir." Ucap Sam kemudian dia meninggalkan rumah sakit, dengan perasaan marah.


"Sam tunggu." Teriak Arumi, tapi percuma Sam sudah tak mendengarkan dirinya.


"Sebaiknya anda bawa anak anda nyonya, jangan membuat keributan disini." Ujar satpam rumah sakit.


Arumi pun langsung membawa Dalia berdiri, dan membawanya pergi.


"Ayok kita pulang nak," lirih Arumi, menatap Dalia sedang memandang kosong.


"Aku mencintainya ibu, aku melakukan segala cara untuk mendapatkannya." Isak Dalia.


"Bahkan aku merelakan kesucian ku, untuk laki-laki lain." Cerita Dalia, dan Arumi mendengarkan saja.


Dulu dirinya pun begitu menyerahkan kehormatannya kepada sang mantan kekasih dengan mudahnya, namun apa yang di dapat? Arumi di tinggal menikah, saat dirinya saat mengandung Dalia dan nekat merusak rumah tangga Mahesa dan Indra.


"Itu bukan cinta Dalia, itu obsesi." Kata Arumi.


Dalia menggeleng dan menangis sejadi-jadinya, dia ingin Indra yang manjadi ayah untuk anak yang dia kandung. Bukan Sam meski pun anak ini adalah anak biologis Sam.


Sementara Sam dia melangkah entah kemana, kakinya membawanya pergi. Dia begitu sakit hati akan kata-kata yang Dalia lontarkan, dia boleh menghina dirinya tapi tidak dengan sang anak.


"Jika kamu gak peduli, maka biar aku yang peduli pada anak kita Dalia." Ujar Sam menatap kosong ke depan.


Bukan hanya Sam yang hatinya hancur, Liana pun begitu. Setelah dia keluar dari rumah sakit Indra dengan tegas melarangnya untuk dekat atau menemui Justine.


Liana menatap keluar jendela ruangannya, dia menatap padatnya kota Jakarta dari atas lantai empat.


Kisah cinta yang baru mekar, harus di patahkan oleh keadaan. Jika di paksa maka akan banyak yang tersakiti, entah harus apa Liana sekarang? Apa harus menggunakan hal nekat?


Dia pun menggeleng tak mungkin, yang ada Indra akan terkena serangan jantung dan Hana akan pingsan jika Justine dan Liana melakukan hal terlarang.

__ADS_1


Semoga suka 💞


Gak bisa double kya yg lain, kapasitas ku 1000 kata sisanya rebahan malas mikir 🤧


__ADS_2