
Justine pun mencium Liana, menyesap dadanya meninggalkan tanda ke pemilikannya Kemudian dia mendorong miliknya, membuat Liana meringis. Dengan sekali hentakan Justine berhasil memasukan miliknya, walau dia mendapatkan hadiah tamparan dari Liana.
"Ma-maaf sayang," ucap Liana.
Dia refleks menampar pipi Justine, dia mencoba untuk menahan tawa di tengah rasa perih.
"Tidak apa-apa sayang," kekeh Justine melihat raut rasa bersalah di wajah sang istri.
"Anggap saja itu rasa sakit mu," lanjutnya lagi.
Justine pun kemudian mencium bibir Liana, dan mendiamkan miliknya agar terbiasa di bawah sana. Setelah Liana agak siap, dia pun memulai kembali, memompa miliknya awalnya pelan namun. Lambat laun menjadi cepat dan liar, Liana sendiri sudah mendesah tak karuan secara alamiah dia mengikuti gerak Justine.
Tak lama Liana pun mendapati orgasme ke duanya, dia menjadi lemas dan memejamkan mata menikmati gerakan milik Justine. Beberapa menit kemudian Justine pun mencapai puncaknya.
Justine pun berpindah ke samping, dan menarik Liana kedalam pelukannya. Kemudian dia mencium kening Liana, dan mengecup sekilas bibirnya.
"Terima kasih sayang dan selamat malam," ucap Justine.
Mereka pun tertidur saling memeluk erat, Liana pun sudah lelah karena Justine cukup berstamina.
****
Sementara di Korea, Darel merasa sepi karena tidak adanya orang tua dan adiknya. Jadi dia main ke rumah Akira, orang tua Akira menyambutnya dengan baik.
"Uncle, auntie." Sapa Darel.
"Hai Rel, mari masuk. Kebetulan auntie sedang memasak makan malam, makan malam lah bersama." Ujar Danie ayah Akira.
"Terima kasih uncle," ucap Darel.
Selama Feli pergi ke Indonesia, Darel tak mempermasalahkan makanan. Karena Akira selalu mengirimnya makanan saat pagi, siang sampai malam. Padahal Darel sudah menolak, karena dia bisa memasak sendiri.
"Rel sudah sampai?" tanya Akira.
Darel hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Akira, Akira meletakan dua cangkir teh dan cemilan untuk Darel dan sang ayah.
Darel dan Daniel hanya mengobrol biasa, Daniel pun ingin berkenalan dengan Yudis dan Feli. Dan ingin berkunjung ke Indonesia.
"Jika ada waktu luang uncle, aku akan ajak Akira ke Indonesia," ungkapnya jujur.
"Ya silahkan Akira sudah dewasa, seharusnya dia tinggal di apartemen. Tapi uncle tak mengizinkannya," cetus Daniel.
"Kamu tahu dia anak uncle satu-satunya," lanjut Daniel lagi, Darel pun mengangguk saja.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, semua masakan sudah siap. Darel pun di ajak untuk makan malam bersama, sekarang Darel tahu dari mana kecantikan Akira. Darel melihat auntie Ailee seperti Akira versi dewasa atau versi ibu-ibu, Darel terkekeh sendiri.
"Ayo makan, maaf Darel seadanya saja." Ujar Ailee.
"Tidak apa-apa auntie, ini lebih dari cukup."
Mereka pun makan malam bersama, Darel sudah terbiasa makan dengan sumpit. Awalnya dia kesulitan namun dia pun terbiasa, Darel menikmati makanan khas Korea yang menurutnya rasa rumahan yang cocok di lidahnya.
"Darel kemana yah? Kok dia gak bisa di hubungi sih?" keluh Feli, saat mencoba menghubungi sang anak.
"Mungkin dia sedang tidur atau makan," tebak Yudis.
Kini mereka sedang berada di rumah mommy Melati, karena mommy Melati merindukan Elena dan Alana. Mereka sedang tidur di kamar sang nenek, dan mereka juga akan di ajak jalan-jalan besok.
"Gimana keadaan Sarah?" tanya Feli penasaran.
"Entahlah aku tidak tahu, Reno bilang dia selalu datang ke kantor. Tapi Reno selalu mengusirnya," ujar Yudis.
"Lagian kenapa sih? Kamu mikirin dia sayang? Lebih baik kamu manjain aku saja," bisik Yudis, membuat Feli cemberut.
"Apaan sih kamu ini, gak mau kalah sama pengantin baru." Cibir Feli, Yudis pun tertawa namun dia menginginkan Feli.
"Kamu tahu sendiri kan? Di Korea kita sibuk mengurus masuknya Elena ke sekolah dasar, dan mengurus izin kita tinggal di sana." Papar Yudis.
"Beres tinggal beberapa persen lagi sih, sudahlah layani aku istri ku." Ucap Yudis mengedipkan sebelah matanya, membuat Feli memutar bola mata malas.
Namun tak ayal Feli pun melakukannya, dia melayani Yudis dengan baik dan berkali-kali. Melewati malam panjang, bersama pengantin baru.
***
Pagi harinya di kamar pengantin baru, mereka masih asik bergelung di bawah selimut. Liana yang merasakan beban berat di perutnya, melirik tangan kekar tengah memeluknya. Dia baru ingat telah melewati malam panjang dengan Justine, yang kini telah resmi menjadi suaminya.
Liana tersipu malu, teringat akan dirinya yang nakal saat dia berada di atas Justine.
"Ya ampun aku malu sekali," gumamnya menutup wajah dengan tangannya.
"Selamat pagi sayang," bisik Justine mencium tengkuk Liana.
"Sayang," rengek Liana, dia sudah lelah jika harus melayani Justine sekali lagi. Bahkan intinya masih terasa perih, ingin sekali dia meniupnya.
"Ayolah sayang, sekali saja. Aku janji habis itu kita mandi dan sarapan," bujuk Justine.
"Ya sudah," pasrah Liana.
__ADS_1
Mereka pun melakukan kembali apa yang mereka lakukan semalam.
Pagi ini Dalia bangun dengan perasaan senang, sebab Sam menjanjikan Yona di bawa ke cafe. Dia bersiap dengan cepat, takut sang anak menunggu.
"Aku bawa apa yah?" gumam Dalia sambil berpikir.
"Kalo sarapan pasti mereka sudah di rumah, ahh... Ya aku masak makan siang saja di cafe," ide Dalia.
Setelah selesai bersiap Dalia keluar dari kamar, dan bergabung di meja makan bersama Mahesa dan Arumi.
"Pagi ayah, ibu." Sapa Dalia, mencium Arumi dan Mahesa bergantian.
Arumi tersenyum menatap sang anak yang ceria, berbeda dari hari-hari sebelumnya. Dia selalu murung dan sedih, bahkan Mahesa pun sudah bosan melihat wajah Dalia yang murung.
"Kamu mau kemana Dalia?" tanya Mahesa.
"Aku mau ketemu Yona ayah," jawabnya antusias.
Mahesa mengangguk saja, kemudian dia melanjutkan sarapannya. Sebab dia ada meeting penting, menggantikan Justine yang sedang cuti menikah selama satu bulan.
Beberapa menit kemudian Mahesa telah selesai sarapan, dan berpamitan pada Arumi dan Dalia.
"Apa bu Sekar tak marah pada mu nak?" tanya Arumi setelah Mahesa benar-benar keluar.
"Aku yakin bu Sekar masih marah, tapi Sam berjanji akan membawa Yona ke kantor bu." Ucap Dalia.
"Ohh... Ibu kira kamu ke rumah Sam,"
"Engga bu, kalau gitu aku pergi dulu." Pamit Dalia, mencium Arumi.
Waktu menunjukan pukul setengah delapan, Dalia memutuskan untuk mampir ke toko bayi. Dia ingin membeli baju atau keperluan untuk Yona, karena pada saat sampai di cafe Sam belum datang dan cafe masih tutup.
Tepat pukul delapan Dalia selesai belanja, dan langsung menuju cafe Sam.
"Baru buka," gumam Dalia, dia melirik ke parkiran mobil milik Sam. Namun sayang mobil tersebut belum juga sampai.
"Semoga Sam menepati janjinya." Lirih Dalia.
**Tbc.
Semoga Suka 💞
Maaf typo**
__ADS_1