
Beberapa tahun terlewati dengan indah, namun tak jarang kerikil terjal mereka lewati dalam berumah tangga. Radit dan Rania di karuniai seorang putri yang bernama Sierra Xela Nugraha sedangkan yang ke dua bernama Kaili seorang putra.
Sedangkan Darelano putra Yudis sudah berumur delapan belas tahun, akan lulus sekolah menengah atas sebentar lagi bersama Sierra. Perbedaan bulan di antara mereka membuat Radit memasukan sang anak bersama Darel, berharap Sie nama panggilannya terlindungi oleh Darel dan menjadi sahabat.
Sedangkan untuk Gemy dan Anisa mereka di karunia seorang putri yang berusia tiga tahun, bernama Charushela Anuja. Beberapa kali Anisa sempat hamil namun dia selalu keguguran sama halnya Feli dulu, tapi sekarang Feli memiliki dua anak lain selain Darel. Elena berusia delapan tahun dan Alana yang masih bayi, sedangkan Hana dan Indra memiliki satu orang putra yang bernama Lian berusia sepuluh tahun.
****
Awal Pertemuan
"Hey!! Antri dong," protes Liana.
Liana menarik ujung kemeja laki-laki yang ada di hadapannya, geram karena tak merespon Liana pun menjewer telinga laki-laki tersebut.
"Hey!! Apa-apa kamu?" protes Justine
"Kamu buta atau gimana? Gak liat apa aku yang terlebih dulu antri," marah Liana
"Maaf ya dek, saya sedang buru-buru. Teman saya sedang menunggu,"
"Dek? Enak saja, emangnya aku adik mu apa. Asal anda tahu tuan, umur saya sudah dua puluh satu tahun. Ya karena saya awet muda, banyak yang bilang seperti anak SMA," sombong Liana, membuat Justine memutar bola mata malas.
"Maaf mas, mbak. Pop corn-nya tinggal 1," beritahu pelayan.
"Buat saya aja mbak, kan saya dulu yang antri sampe 10 menit."
"Engga bisa, buat saya saja." Ucap Justine tak mau mengalah.
Pelayan tersebut bingung dan menggaruk rambutnya yang tidak gatal, jika dia membuat pop corn kembali akan memakan waktu lama.
"Sebaiknya begini saja mbak, mas. Karena sebentar lagi filmnya akan di mulai. Bagaimana jika ini untuk kalian berdua, kebetulan pop corn yang di pesan kalian sama manis." Ujar pelayan.
"Engga," jawab Justine dan Liana serempak.
Membuat si pelayan meringis.
"Lalu bagaimana? Kalau bikin lagi, gak akan keburu mbak, mas," jelasnya.
"Loh!! Li, kok lama sih," ucap Devara, saat melihat sang kakak tengah berdebat dengan Justine teman dari Keanu.
"Ka Justine," sapa Devara.
Justine tersenyum pada Devara.
"Lo kenal?" tanya Liana.
"Kenal, dia temannya ka Keanu,"
Liana hanya beroh saja, kemudian dia menggambil pop corn dan membayarnya. Pergi meninggalkan dua lelaki tersebut.
"Kebiasaan banget tuh anak," kesal Devara.
"Ayok ka, filmnya udah mau mulai tuh," ajak Devara.
Dan Justine pun mengangguk, mengikuti langkah Devara. Dan kebetulan kursi Justine, Keanu, Liana dan Devara berdekatan.
"Lili, kamu disini juga?" tanya Keanu, saat menyadari Liana disini.
"Iya ka," Liana tersenyum. "Devara yang maksa aku kesini ka, katanya pengen nonton film horor," sambungnya lagi.
Keanu hanya menganggukan kepala saja sebagai jawaban, kemudian mereka fokus pada tontonan mereka.
Liana yang dekat dengan Justine, refleks memeluk tangan Justine saat adegan hantu muncul. Membuat Justine menyunggingkan senyum.
"Hemm... Pop cornnya tidak terlalu manis, tapi lebih manis yang sedang memeluk lengan ku," gumam Justine, tapi terdengar oleh Liana.
Membuat Liana langsung melepaskan diri dari Justine, dan menatap tajam Justine, membuat Justine terkekeh.
Satu jam kemudian, film telah usai. Liana yang sepanjang film hanya bersembunyi di tangan Justine, membuat Devara terkekeh merasa lucu pada sang kakak. Bukannya dia sembunyi di lengannya, malah sembunyi di lengan orang lain.
"Lain kali, lo gak usah ajak gue," ketus Liana pada Devara, adik laknut menyebalkan sepanjang sejarah.
"Kita duluan ka," pamit Liana menarik tangan Devara, enggan berurusan dengan Justine.
__ADS_1
"Hati-hati, Li, Dev," teriak Keanu.
Dan hanya di jawab anggukan oleh Devara
"Kenapa lo, senyum-senyum? Jangan bilang lo kesambet," celetuk Keanu.
Justine memincingkan matanya dan menyenggol bahu Keanu.
"Ya kali," sahutnya. "Ayok pulang," sambungnya lagi.
"Lo gak mau mampir di cafe gue dulu?"
Justine menggeleng tanda enggan kemana-mana lagi, kemudian melanjutkan langkahnya, dan Keanu mengikuti dari belakang. Saat akan memasuki lift ponsel Keanu berdering, nama My Love A tertera di layar ponsel.
"Siapa?" tanya Justine.
"Bunda,"
"Dasar anak, mamah lo," cibir Justine terkekeh.
"Ya, bun,"
Keanu pun menerima telepon dari sang ibu, selama turun ke parkiran.
"Iya ini juga mau pulang ko, ok... Ok, bunda sayang, cantik. Bye,"
"Bunda lo, posesif banget sih Nu."
"Ya namanya juga seorang ibu," sahut Keanu.
Saat tiba di parkiran, Keanu melihat Devara dan Liana sedang berkutat dengan mobil mereka.
"Kenapa Li?"
"Ehh ka, ini mobil bannya kempes." Keluh Liana.
"Sama bensin juga abis," sahut Devara.
Devara dan Liana menggaruk rambutnya yang tak gatal.
"Maaf ka," jawab mereka serempak.
"Kamu pulang bareng Justine aja, Li. Soalnya kaka sama Justine bawa motor," jelas Keanu.
"Engga, aku sama ka Keanu aja lah, pliss." Mohon Liana.
"Ya sudah, Jus kita anterin mereka dulu yah. Kasian mobilnya mogok, kalo pake taxi online udah malem. Takut ada apa-apa kasian mana masih muda lagi," canda Keanu, langsung mendapat pukulan dari Liana.
"Hey!!" protes Keanu.
"Ya udah ayo, keburu malam," sahut Justine.
Mereka pun meninggalkan basment mall, yang sudah mulai sepi. Liana dan Keanu, Devara dan Justine. Liana enggan bersama Justine karena mereka baru kenal.
Berpuluh menit kemudian, motor mereka sudah sampai di halaman rumah Liana setelah satpam membuka pagar.
"Makasih ya ka Justine, ka Keanu," ucap Devara.
Dan di jawab anggukan oleh Justine, Liana melirik sekilas Justine.
"Dasar cowok kulkas," cibirnya dalam hati.
"Ka Keanu makasih ya," ucap Liana.
"Sama-sama, ya udah kalo gitu kita pulang dulu. Salam buat tante Hana dan om Indra," ujar Keanu.
"Siap ka," sahut Devara.
Mereka pun masuk ke dalam rumah, yang sudah mulai sepi. Karena semua penghuni rumah sudah mulai terlelap.
****
Setelah mengantarkan Liana dan Devara, Justine langsung pulang ke apartemen miliknya. Saat tiba di apartemen, ponselnya kembali berdering.
__ADS_1
"Ya bu," jawabnya setelah mengucapkan salam.
"Kamu gak pulang nak?" tanya Indira di sebrang telepon.
"Aku pulang ke apartemen bu,"
"Kapan kamu mau pulang ke rumah? Kamu gak kangen sama ibu?"
"Baiklah, besok aku akan pulang."
"Justine."
"Ya."
"Maafkan ayah mu, dia sangat menyayangi mu," lirih Indira.
"Entahlah bu, ya sudah ibu harus banyak istirahat ya. Ini sudah malam,"
"Ibu sayang kamu."
"Aku juga,"
Justine pun mengakhiri panggilan bersama Indira, dia duduk di balkon apartemen menatap langit malam. Dia masih ingat bagaimana marahnya Justine pada sang ibu saat dia kecil, Justine selalu menyalahkan ibunya karena harus berpisah dengan ayahnya.
****
"Ibu jahat... Ibu jahat," pekik Justine kecil.
"Nak ibu gak jahat, kamu akan tahu kalau kamu sudah besar. Ibu mohon kamu mengerti ibu nak," pinta Indira dengan menangis.
"Ayah," teriak Justine.
Justine berlari ke arah Mahesa, dan Mahesa mengendong Justine.
"Indira aku mohon, kita bisa bicarakan ini dengan baik-baik."
"Bicara apa lagi, hah!!" marah Indira.
"Aku lelah Mahesa, aku lelah. Aku istri pertama mu bukan istri ke dua mu, harusnya saat aku tau aku hamil. Seharusnya aku pergi saja," bentak Indira.
"Indira."
"Silahkan bawa saja anak mu itu, aku tidak peduli aku akan pergi sendiri. Kamu sudah mencintai Arumi kan, hiduplah dengan dia."
Indira pun berdiri dan menyeret kopernya dengan kasar, dia berjalan cepat tanpa memperdulikan teriakan Justine dan Mahesa.
****
Justine tersadar dari lamunan masa lalunya, seharunya dia bisa melupakan itu. Tapi begitu sulit, karena dia melihat kekecewaan dan kemarahan di mata sang ibu dulu. Karena dirinya yang memilih ingin bersama sang ayah, dan tak lupa hasutan dari sang nenek.
Saat dia beranjak remaja baru lah dia paham, mengapa ibunya pergi. Dia mendengarkan cerita dari asisten rumah Mahesa, bahwa Mahesa jatuh cinta pada Arumi istri keduanya. Dan tak bisa memilih satu di antara mereka. Tapi neneknya kata, Indira mencintai pria lain jadi sang ayah memutuskan menikah lagi.
Sejak saat itu, Justine memutuskan keluar dari rumah Mahesa. Dan tinggal di apartemen dia juga mencari keberadaan Indira, sampai akhirnya dia bertemu dengan Indira di sebuah pusat perbelanjaan.
Justine memeluk Indira yang hanya diam saja, Justine bisa merasakan bahwa tubuh Indira menegang seketika.
"Maafkan aku ibu," lirih Justine.
Tapi Indira tidak menjawab, dia melepaskan pelukan Justine dan pergi meninggalkan Justine. Dia belum siap bertemu dengan sang anak.
"Maafkan aku bu, maaf. Karena keegoisan ku dulu ibu terluka," gumam Justine.
Dan kini Justine sangat membenci sang nenek, yang menyebabkan ibunya pergi.
Cuma mau kasih tau aja, kisah Gemy cs udah tamat. Ini masuk season-2 anak-anaknya Gemy cs 🤭 Tadinya mau kasih judul My Sweet Corn tapi yah gak jadi 😁
Semoga suka 💞
tbc...
Maaf typo
Jangan lupa tinggalkan jejak.
__ADS_1