Still Love You

Still Love You
Bos menyebalkan


__ADS_3

Bagi semua karyawan, jika hari sudah sore adalah hal yang paling menyenangkan. Mereka bisa kembali ke rumah, atau jalan-jalan menyegarkan pikiran yang seharian berkutat dengan kertas dan komputer. Tapi ada juga yang lembur.


"Liana," pekik Sara dan Dera, saat mereka tak sengaja bertemu dengan Liana yang menunggu jemputan.


"Kalian di sini juga?"


Liana langsung menyambut pelukan dua sahabat terbaiknya tersebut, dan mereka menjadi pusat perhatian semua orang.


"Iya," jawab Dera setelah melepaskan pelukannya.


"Aku di bagian personalia Li, kalo Sara di bagian Admin," ujar Dera.


"Ohh... Ayok kita nongkrong dulu, mumpung belum terlalu sore." Ajak Liana.


"Tapi lo udah di jemput Li," tunjuk Dera pada mobil berwarna hitam yang masuk ke halaman kantor Wijaya.


"Kita minta anter aja Devara, sekalian ajak dia." Usul Liana.


"Boleh deh, hemat ongkos juga kita." Kekeh Sara.


"Ya udah ayok."


Liana menarik Dera dan Sara, mereka masuk ke kursi belakang sedangkan Liana duduk di samping Devara.


"Loh! Apa-apaan ini?" protes Devara.


"Anterin kita ke cafe dulu yah," pinta Liana.


"Please." Serua mereka bertiga membuat Devara menutup kuping.


"Iya... Iya, bawel banget kalian."


Liana, Dera dan Sara pun tertawa bahagia, mereka mulai bergosip ria di hari pertama magang.


"Gimana Li, jadi sekretarisnya pak Justine? Denger-denger dia tampan banget yah? Duh gue pengen liat orangnya," ujar Dera.


"Ganteng tapi nyebelin banget," ketus Liana.


"Memang kenapa?" sahut Devara.


"Masa dia ngasih gue kerjaan banyak banget, terus nyuruh ini lah, itu lah."


Devara tertawa melihat wajah kesal sang kakak, yang menurutnya sangat lucu. Jika dia bukan kakaknya maka dia pastikan akan jadi pacarnya.


"Rese lo, ngetawain gue." Liana mencubit perut sang adik, membuat Devara meringis.


Hening di dalam mobil, setelah pertengkaran kecil Liana dan Devara. Kedua sahabat Liana sibuk di dunia maya, sedangkan Liana sibuk dengan pikirannya untuk menghadapi hari esok.


****


Justine sendiri setelah Liana keluar dari ruangannya, dia memutuskan untuk bertemu ayahnya Mahesa. Tanpa mengetuk pintu terlebih dulu, Justine masuk kedalam ruangan sang ayah. Jika itu orang lain, mungkin Mahesa akan marah besar.


"Apa kabar nak?" tanya Mahesa basa basi, setelah melihat Justine duduk di seberangnya.


"Kabar ku baik," balasnya singkat.

__ADS_1


Mahesa menghembuskan napasnya secara kasar, salahnya juga tak bisa bersikap tegas pada pendiriannya sendiri.


"Kau tidak akan pulang ke rumah? Mamah mu, merindukan mu Justine," ujar Mahesa.


"Ibu ku hanya satu, ayah. Yaitu Indira dia ibu ku."


"Aku tau Justine, tapi tidak bisakah kamu ke rumah kami? Di sana juga rumah mu!"


"Rumah penuh luka dan juga kebohongan," ucap Justine tersenyum sinis.


"Justine, tolong lupakan semuanya. Ayah minta maaf atas kesalahan ku pada ibu mu,"


"Minta maaf padanya langsung, karena mu aku sempat benci dia."


Justine beranjak dari duduknya, dan meninggalkan ruangan sang ayah. Tanpa mendengarkan ucapan Mahesa selanjutnya.


Justine melajukan roda empatnya, menuju cafe Keanu untuk menenangkan diri. Tanpa Justine tahu Liana, Devara dan kedua sahabat Liana berada di cafe Keanu.


"Kenapa lo, bawa kita ke cafe ka Keanu sih!" protes Liana.


"Lah kenapa emang? Toh enak kita bisa minta diskon," kekeh Devara. "Udah ahh, gue mau ke tempat karaoke aja di lantai dua. Bye," pamitnya.


Devara menuju lantai dua, cafe Keanu terdiri dari tiga lantai. Dan lantai tiga untuk indoor dan tempat pesat juga bisa, cafe tersebut mengusung tema kekinian yang di minati oleh semua kalangan.


"Mau dimana nih? Lantai tiga sambil rebahan atau di pojok sana?" tanya Liana, sebab kedua sahabatnya baru pertama kali ke sini.


"Di atas aja Li, sambil rebahan. Ehh... Lumayan juga nih, dapet hotspot gratis." Kekeh Sara.


"Pesan dulu aja gimana?" tanya Dera.


"Gak usah nanti, kita pesan lewat aplikasi nanti bakal langsung di antar lewat lift khusus karyawan." Jelas Liana.


"Jangan mimpi, dia itu ketat banget kalo urusan cewek." Kata Liana.


Mereka terus bercerita sambil menuju lantai tiga, tanpa mereka sadari Justine yang cepat sampai di Nu Cafe sudah sampai. Dan dia mengekor Liana, Justine tahu itu Liana. Namun dia membiarkan gadis itu bercerita bersama dua sahabatnya.


"Wah... Keren banget Li," puji Sara.


"Pasti kalo malam ini indah banget, cocok buat pacaran nih." Seru Dera.


Sara dan Dera menatap sekeliling, hembusan angin membuat mereka merasakan kesejukan yang haqiqi.


"Camping di sini seru nih Li," celetuk Dera.


"Boleh tuh, nanti gue kasih tau ka Keanu. Buat izinin kita camping di sini,"


"Bener ya Li!"


"Iya."


Mereka pun duduk dengan nyaman di bantalan bulat yang tersedia di sana, sesekali mereka bercanda dan tertawa.


"Ehh... Li pak Justine itu ganteng banget kah? Kata karyawan yang udah lama, dia ganteng parah." Ujar Dera.


"Beruntung lo, di spesialin sama pak Justine." Sambung Sara, di jawab anggukan Dera.

__ADS_1


"Nih yah, kata karyawan yang udah lama kerja di sana. Mereka bilang belum pernah ada tuh yang magang, sampe jadi sekretaris. Apa jangan-jangan dia suka sama lo?" tebak Dera.


"Ish... Sembarangan lo Der, gua gak akan suka sama bos nyebelin itu." Ucapnya lantang, karena hanya ada beberapa orang saja Liana bersuara keras.


"Silahkan minuman dan cakenya, selamat menikmati." Ucap pelayan.


"Makasih," balas Liana.


Justine yang mendengar ucapan Liana tersebut tersenyum miring, dia akan merencanakan sesuatu agar dia bertekuk lutut.


****


Di rumah Hana mendapat foto dari seseorang, yang memberitahu bahwa Indra tengah bersamanya. Akhir-akhir ini sering sekali nomor asing menerornya, tapi Hana tak pernah memberitahu Indra tentang semua ini. Dia tidak ingin keluarganya hancur berantakan.


"Aku gak akan percaya, Indra bukan tipe laki-laki seperti itu." Gumamnya.


"Mommy," pekik Lian, berlari menuju Hana dan memeluknya.


Hana dengan segera menyimpan ponselnya, dan memeluk sang anak.


"Kamu mandi, abis itu kita makan puding kesukaan kamu ok."


"Oke mom," balas Lian antusias.


Hana memandangi wajah Lian, yang sama persis dengan Indra. Jika memang benar Indra selingkuh maka akan seperti apa anak-anaknya nanti.


Tepat pukul lima sore, Liana dan Devara sudah sampai di rumahnya. setelah mengantar Dera dan Sara ke kostan mereka, Liana dan Devara mengucap salam dengan serempak.


"Bi, dimana mommy?" tanya Liana pada asisten rumah tangganya bernama Bi Sri.


"Di taman belakang non, bersama den Lian."


"Makasih bi," jawab Liana.


Sementara Devara sudah naik ke lantai dua, menuju kamarnya. Liana berjalan menuju taman belakang, dimana koleksi bunga Hana berada. Liana dapat melihat senyum bahagia dari Hana dan Lian, iri? Tentu saja Liana iri. Dia tidak pernah sedekat itu dengan Hana, setelah dia beranjak remaja. Hana selalu membatasi dirinya untuk dekat dengan laki-laki dan ini itu, terlalu banyak aturan membuatnya bosan dan jenuh.


"Mom aku merindukan mu," lirih Liana dalam hati.


Seolah dapat merasakan, Hana berbalik dan mendapat Liana yang tengah melamun.


"Udah pulang? Kok melamun sih! Sini duduk ada puding coklat alpukat kesukaan kamu," ujar Hana.


Liana pun mendekati Hana, dan mencicipi puding coklat alpukat dingin kesukaannya.


"Masakan mommy selalu enak," puji Liana, Hana mengusap kepala sang anak dan tersenyum.


"Aku ke kamar dulu mom, mau bersih-bersih."


"Iya," balas Hana.


Liana pun meninggalkan taman belakang, dan menuju kamarnya sendiri. Dia merebahkan tubuhnya yang lelah, bahkan pelipisnya pun kembali pening gara-gara Justine. Liana mendial nomor Radit. Tapi langsung mematikan kembali.


"Biarlah, ini jadi pengalaman ku kerja sama si bos nyebelin." Gumamnya, dia ingin mencari pengalaman baru di tempat baru walau bosnya menyebalkan.


Semoga suka 💞

__ADS_1


tbc..


Maaf typo


__ADS_2