
Sejak tiga puluh menit yang lalu, Rumi hanya diam tanpa banyak kata. Membuat Liana bingung mau berbicara apa?
"Astaga ka Rumi ini," desahnya frustasi.
"Ka aku lapar dan lelah, ini udah jam delapan loh! Kakak gak mau pulang apa?"
"Kenapa gak bilang, kalau lapar kita bisa makan di luar." Ujarnya enteng, membuat Liana melotot tak percaya.
Liana geram ingin rasanya mencakar wajah tampan di depannya ini, tiga puluh menit terbuang percuma. Hanya untuk saling diam, Liana menghembuskan napasnya secara pelan.
Liana menuju kamar Hana, dan meminta izin untuk keluar.
"Ayok," ajak Liana, dia sudah lebih dulu ke luar.
"Kita kemana?" tanya Rumi, setelah masuk ke dalam mobil.
"Nasi goreng pinggir jalan saja ka," beritahu Liana.
Rumi pun melaju menuju penjual nasi goreng, yang tak jauh dari rumah Liana. Seharusnya Rumi memakai motor milik Devara saja, karena jaraknya yang dekat. Tak butuh waktu lama, mereka sudah sampai dan langsung memesan nasi goreng untuk dua orang.
"Ka Rumi jauh-jauh ke rumah ku, untuk ngajak makan aja?" tanya Liana.
"Iya, memang untuk apa lagi!" jawabnya, membuat Liana menggaruk rambutnya yang tak gatal.
Hening terjadi di antara mereka, Rumi sibuk dengan ponselnya. Sedangkan Liana sibuk dengan pikirannya, Rumi sedang berbalas pesan dengan Justine. Dia ingin memanasi Justine.
****
"****, Rumi sialan. Diam-diam menghanyutkan lo yah!"
Justine terus menatap foto Liana yang polos tanpa make-up, dia terlihat cantik alami. Tak lama pesan chat dari Keanu pun masuk, dan mengejek dirinya yang kurang gercep, kalah dengan Rumi.
Justine terus mengumpat, tidak mungkin dia keluar rumah kembali sebab dia baru saja sampai. Setelah mengantar Liana, dia mengantar Indira menuju supermarket untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari.
__ADS_1
Justine memijit pelipisnya terasa pening, dia akan memikirkan cara agar Liana tak jatuh pada pesona Rumi.
"Aku harus membuatnya jatuh cinta," tekadnya kuat.
Tepat pukul sebelas malam, Indra baru sampai di kediamannya. Rumah hadiah pernikahan dari ibu mertuanya, Indra baru saja melakukan pertemuan dengan Dalia. Dia meminta bantuan Dalia, untuk mencari tempat yang akan dia sewa untuk agen Tour and Travelnya. Karena Dalia berjanji akan memberikan modal untuk Indra, padahal Gemy, Radit, Yudis bahkan Feli sekali pun mampu memberikan modal yang Indra mau.
Namun Indra tidak mau merepotkan sahabat-sahabatnya, tanpa terlibatnya mereka akan menimbulkan masalah kedepannya. Dan Indra tak memikirkan itu semua.
Saat masuk kedalam rumah, lampu kamarnya dan Hana masih menyala itu artinya Hana belum tidur.
"Sayang, kok belum tidur?" tanya Indra, setelah masuk kedalam kamar dan membuka bajunya.
"Aku nunggu kamu," balasnya. "Udah makan? Kalau belum aku siapin makan," ujar Hana.
"Sudah, lebih baik kamu istirahat saja sayang. Aku akan membersihkan diri dulu."
Indra masuk ke kamar mandi, dan melakukan ritual mandi dengan cepat. Setelah selesai dia bergabung dengan Hana yang masih menatapnya, Indra merentangkan tangannya. Meminta Hana masuk dan Hana pun menurut.
Nyaman satu kata yang bisa menggambarkan perasaannya saat ini, ingin Hana tak percaya pada foto-foto itu. Tapi Indra bukan tipe laki-laki seperti itu, Hana bertekad untuk mencari bukti tentang hubungan Indra dengan gadis tersebut.
****
"Tapi sarapan belum siap!"
"Tidak apa bu, aku bisa sarapan di luar." Ujar Justine.
"Baiklah,"
"Aku pamit bu," Justine mencium pipi Indra, dan berlalu dari apartemennya.
Dia melajukan mobilnya menuju rumah Liana, dan sekalian akan numpang sarapan. Gak tau malu memang, tapi dia tak peduli.
Empat puluh menit kemudian, Justine sudah sampai. Dia berkilah pada satpam bahwa sudah meminta izin pada Liana, dan satpam pun percaya membukakan pintu gerbang rumah itu.
__ADS_1
"Nyonya di depan ada tamu, katanya teman non Liana."
"Teman Liana, laki-laki apa perempuan bi?"
"Laki-laki nyonya,"
"Siapa yah? Ya sudah bi, panggil yang lainnya yah!" perintah Hana.
"Baik nyonya."
Hana pun melangkah ke halaman depan, bi Ema bilang laki-laki tersebut menunggu di terlas rumah.
"Loh nak Justine, ada apa pagi-pagi datang ke sini?" tanya Hana terkejut dengan kedatangan Justine.
"Saya ingin menjemput Liana tante," jawabnya jujur.
"Ohh... Mari masuk dulu, sekalian ikut sarapan." Ajak Hana.
Justine pun bersorak dalam hati, dugaannya memang benar dia akan di ajak sarapan sekalian.
"Silahkan duduk, bi Ema." Panggil Hana.
"Tolong buatkan minum yah bi! Aku ke atas dulu," pamit Hana melirik Justine, di jawab anggukan oleh Justine dan Ema.
"Mom," panggil Liana saat berpas-pasan di tangga. "Mom, benar yah? pak Justine ada di bawah?" tanya Liana.
"Iya katanya kau jemput kamu,"
"Hah?"
"Sudah sana temui dia, mommy mau liat adik dan papah mu."
Hana melanjutkan tujuannya menuju kamar suami dan anaknya, sedangkan Liana turun dengan tergesa. Bahkan rol rambut pun masih melekat di rambutnya.
__ADS_1
Semoga suka 💞
Maaf typo