Still Love You

Still Love You
Part.55


__ADS_3

Semalam Sierra tak bisa tidur, dia baru tidur pukul dua dini hari. Dia terlalu mengkhawatirkan Rania dan Kaili, suara ketukan di pintu membuat Sierra menajamkan pendengarannya.


"Sie, udah bangun belum?" teriak Darel.


"Darel? Pagi-pagi gini ngapain dia di rumah ku?" gumam Sierra, dia bangun lalu duduk dan bersandar di kepala ranjang memijat pelipisnya yang terasa pening.


Kemudian dia menatap sekeliling, terasa berbeda dari kamarnya.


"Ini bukan kamar ku, astaga." Sierra menepuk jidatnya, dia benar-benar lupa sedang berada di rumah Darel.


Tak lama ponselnya berdering.


"Darel, ya Rel." Jawabnya di sebrang telepon.


"Lo udah bangun? Gue ketuk dari tadi juga," kesal Darel.


"Sorry, gue baru bangun. Lalu lupa kalau ini di rumah mu," kekeh Darel.


Darel berdecak di sebrang sana.


"Ya sudah, mommy nyuruh lo sarapan."


"Iya, gue bersih-bersih dulu."


Sierra pun mematikan sambungan teleponnya, dia dan Darel memang tak terlalu manis dalam berbicara sebagaimana halnya teman atau sahabat. Namun siapa yang bisa menebak suatu hari cinta bisa muncul di antara mereka, bukankah persahabatan antara perempuan dan laki-laki tak mungkin memunculkan sebuah rasa?


****


Hari minggu yang suram untuk Radit, biasanya mereka selalu menghabiskan waktu bersama di rumah. Terkadang olahraga bersama menuju taman, dan jalan-jalan ke car free day.


Semalam Radit tidur di dalam mobil, rumah yang masih sepi menandakan Rania belum juga kembali. Hari ini, dia akan kembali mencari Rania.


"Rania kamu dimana? Maafkan aku Ran!" lirihnya.


Dia pun melajukan mobilnya menuju tempat dimana Hana berada, untuk membersihkan diri dan mengganti baju. Sementara itu Rania yang berada di rumah Eli pun sudah membantu pekerjaan rumah sang kakak.


"Ini pake baju kakak saja, tapi untuk Kaili bagaimana?"


"Nanti aku beli ke pasar ka," jawabnya.


"Ya sudah biar kakak saja yang beli, kamu di rumah aja tolong bantuin Zara ya!" pintanya.


"Iya." Jawab Rania, Eli pun berangkat menuju pasar untuk membeli beberapa pasang baju keponakannya.


Dia pun sudah hapal ukuran badan Kaili, Rania pun tak lupa memberikan uang untuk Eli belanja kebutuhan dapur.


****


Sejak kedatangan Justine waktu itu, hubungan Dalia dan Mahesa merenggang. Setelah Dalia mengaku bahwa dia memang mencintai Indra.


"Mas," panggil Arumi.


Mahesa tak menyahut atau menatap Arumi, dia hanya fokus pada pekerjaannya. Walau hari minggu Mahesa membawa pekerjaannya ke rumah.


"Sampai kapan kamu akan mendiamkan aku, mas? Yang salah Dalia kan? Dia sudah mendapat hukuman dari mu, mencabut semua fasilitas yang kamu berikan." Lirih Arumi.


"Seharusnya dulu, aku tidak mendengarkan apa kata ibu ku. Untuk menikah dengan mu, aku selalu mendengarkan apa kata mu. Sampai aku mengabaikan Indira, istri yang sesungguhnya aku cintai." Papar Mahesa menatap tajam Arumi.

__ADS_1


"Mas."


"Kenapa? Kamu tak terima?"


Arumi menggeleng, matanya sudah memanas tapi sekuat tenaga iya tahan. Mahesa beranjak dari duduknya, menghampiri Arumi dan menatapnya lekat.


"Aku memang terpesona oleh mu Arumi, tapi itu membuat ku kehilangan anak ku." Ucapnya dingin.


"Kamu masih punya Dalia mas," katanya.


"Dalia bukan putri ku, Arumi." Bisik Mahesa, membuat Arumi menegang seketika.


"Tidak... Dalia putri mu Mahesa, jangan bicara sembarangan kamu!" bentak Arumi.


"Terserah apa kata mu,"


Mahesa pun meninggalkan ruang kerjanya, dia ingin pergi sejenak dari permasalahannya yang selama ini dia abaikan. Tentang semua fakta yang dia tahu beberapa tahun ini, yang membuatnya terpisah dari Indira.


****


"Kita mau kemana lagi cari mommy?" tanya Devara, setelah selesai sarapan.


"Gak tahu, aku capek dan udah males. Mommy kaya anak kecil," kesal Liana.


Lian pun keluar dari kamar, dan berlari memeluk Liana.


"Kenapa?"


"Mommy gak sayang aku yah? Apa aku nakal ka?"


"Terus mommy kemana? Kenapa belum pulang ka?" isak Lian. "Papah juga, gak sayang sama aku. Dia cuekin aku," sambungnya lagi.


Liana menghembuskan napasnya secara kasar, dia melirik Devara yang mengedikan bahunya acuh.


"Lian, papah bukan cuekin kamu. Dia habis sakit,"


"Begitu yah? Ka antar aku ke rumah Kaili," pinta Lian.


"Iya, Dev ayok."


"Gue pamit sama papah dulu,"


Devara pun menuju kamar Indra, Indra menghabiskan waktu di kamar sambil memandang foto Hana. Walau tak mendapatkan respon Indra, setidaknya Devara sudah berpamitan pada Indra.


"Ayok," ajak Devara, Liana dan Lian mengekor dari belakang.


Satu setengah jam kemudian, mereka sudah sampai di depan rumah Radit. Namun rumah tersebut tampak sepi.


"Rumahnya sepi ka, mereka pasti pergi." Kata Lian kecewa.


"Ya sudah kita ke rumah Alana saja," usul Devara.


"Ya sudah," pasrah Lian.


Mereka pun menuju rumah Feli, dan kebetulan Gemy dan Anisa pun berada di sana. Untuk membahas masalah Radit, Rania, Hana dan Indra, berpuluh menit kemudian. Liana sudah sampai di halaman rumah Feli.


"Kayanya tante Anisa sama om Gemy, ada disini juga." Kata Liana.

__ADS_1


Devara turun lebih dulu, mengajak sang adik masuk. Di ikuti oleh Liana di belakang mereka.


"Nyonya Feli, ada tamu." Kata Siti, pembantu yang sudah lama bekerja di rumah Feli. Feli tidak mempekerjakan pembantu muda atau masih single alasannya dia takut Yudis terpesona.


"Suruh mereka masuk bi," jawab Feli.


"Baik nyonya,"


Siti pun melangkah ke teras rumah, dan menyuruh mereka masuk. Wajar jika Siti tak tahu, sebab mereka selalu kumpul di rumah Gemy atau di luar rumah. Situ hanya mengenal orang tuanya saja, jika anak-anaknya belum terlalu kenal.


"Silahkan masuk, Nona Aden. Nyonya Feli ada di ruang keluarga," beritahu Siti


"Terima kasih Bi."


Liana, Devara, dan Lian pun masuk, menuju ruang keluarga.


"Kalian, tumben ke sini. Ada apa?" tanya Anisa.


Lian pun berlari menghambur memeluk Anisa, dan menangis.


"Lian kenapa?" tanyanya lembut.


"Duduk Dev, Li." Ujar Feli.


"Terima kasih tante."


Namun fokus Liana bukan pada Lian, tetapi pada Sierra yang sudah ada di rumah Feli. Dia ingin bertanya kemana Radit dan Rania, namun Liana urungkan karena tatapan tak suka di tunjukan oleh Sierra.


"Mommy pergi tante, dia gak sayang aku." Adu Lian, sambil terisak.


"Papah juga, dia mengabaikan aku. Saat aku tanya dimana mommy, papah gak jawab." Sambungnya lagi.


Membuat semua orang tua mendesah, merasa kasian pada bocah berusia sepuluh tahun tersebut.


"Sayang, mommy sama papah kamu sayang kok sama kamu. Sudah jangan sedih, lebih baik kamu main sama Alana yah!" kata Anisa mengalihkan pertanyaan.


"Baik tante," jawab Lian.


"Rel, anter Lian ke ruang bermain," titah Feli.


"Iya mom, ayok." Ajak Darel, Sierra pun mengikuti Darel dari belakang.


"Sie, aku mau bicara." kata Liana, namun Sierra menepis tangan Liana saat Liana memegang tangannya.


"Sie, kamu kenapa sih? Aku salah apa?" tanya Liana heran.


"Gak ada, kamu gak salah apa pun. Tapi aku benci pada ibu mu, tante Hana." Ucap Sierra dingin.


"Kenapa mommy? Kamu tau dimana dia?"


"Tidak," jawabnya acuh.


Sierra pun meninggalkan Liana, yang menatapnya bingung. Dia bertanya kenapa Sierra membenci Hana?


Semoga Suka 💞


Maaf typo

__ADS_1


__ADS_2